
Dokter Arga keluar dari kamar setelah memeriksa keadaan Anin. di belakangnya ada Askara yang ikut, sengaja dia panggil karena ada hal penting yang perlu dia bicarakan.
"Gimana keadaan Anin?, apa ada yang mengkhawatirkan?." tanya Askara langsung setelah mereka berada cukup jauh dari kamar tempat Anin berada.
"Keadaan Anin saat ini masih sangat lemah, efek dari hujan-hujanan di tambah tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam perutnya sejak siang. tapi bukan itu yang lebih mengkhawatirkan". dokter Arga menggantung perkataannya.
"Katakan, jangan bertele-tele". desak Askara.
"Kondisi psikis Anin jauh lebih mengkhawatirkan sekarang. Gue nggak bermaksud untuk ikut campur, tapi Gue cuman mau kasih saran, fikir baik-baik sebelum Lo semakin jauh bertindak. luka fisik mudah obati, tapi luka batin sulit untuk di sembuhkan dan akan terus membekas". tutur dokter Arga menepuk pundak Askara. mencoba memberi nasehat pada sahabatnya itu.
"Apa kondisi Anin separah itu?". tanya Askara dengan wajah datarnya.
"Belum, tapi akan berubah menjadi lebih parah kalau Lo sendiri nggak bisa mengendalikan keadaan. Anin itu sedang hamil besar, dan kondisi emosi wanita yang sedang hamil itu sangatlah mudah meluap-luap. ibaratnya, kalau Lo nyiptain satu retakan di kaca, Lo tinggal nunggu retakan lainnya buat bikin kaca itu hancur, begitupun dengan kondisi Anin saat ini. semakin Lo sering nyakitin dia, ada saatnya dia sendiri yang bakalan nyerah dan pergi". dokter Arga yang di kenal suka gonta-ganti pacar itu berujar layaknya seorang penasehat cinta. dia cukup mengerti permasalahan apa yang sedang Askara dan Anin hadapi saat ini.
Askara terdiam merenungkan apa yang di katakan oleh dokter Arga. ini semua adalah salahnya, dia yang sudah melukai Anin berkali-kali.
"Kalau gitu gue cabut dulu". pamit dokter Arga yang di angguki oleh Askara.
Setelah dokter Arga pamit, Askara kembali masuk ke dalam kamar tempat Anin berada.
"Anin belum sadar juga, Mi?." tanya Askara saat masuk.
__ADS_1
Mami Sandra menggeleng lemah tanpa menatap wajah Askara. "Sekarang kau lihat akibat dari perbuatanmu, Anin yang harus menanggung semuanya". tidak ada lagi emosi di perkataan Mami Sandra, tapi justru terdengar menyedihkan.
"Kalau tau kau akan menyakiti Anin lagi, Mami tidak akan menyuruhmu membawa dia pulang. Anin lebih baik tinggal di Bandung dan jauh darimu".
Askara berlutut dan bersimpuh setelah mendengar ucapan Maminya. "Mi, tolong jangan bicara seperti itu. aku mengaku salah dan siap menanggung semuanya". sesal Askara menggenggam kedua tangan Maminya.
"Seharusnya kau bicara seperti ini bukan pada Mami, tapi pada Anin. dia yang selama ini berdiri tegar di sampingmu meskipun kau berkali-kali menyakitinya, Askara. Mami bahkan capek melihat sikapmu selama ini, tapi Anin, dia selalu mau memaafkanmu setiap kali dia di sakiti. Anin kurang apa lagi, Askara?". air mata Mami Sandra jatuh begitu saja mengingat betapa sabarnya Anin menghadapai sikap Askara.
Anin perlahan mengerjapkan matanya sambil meringis merasakan pusing di kepalanya.
"Tante Sandra, Anin sadar". beritahu Vivi saat melihat pergerakan dari Anin.
"Anin, kau sudah sadar sayang?, ada yang sakit?". Mami Sandra bernafas lega melihat menantunya sudah siuman.
"Mi, kepalaku pusing". ujar Anin dengan suara lemas.
"Iyya sayang, kau istirahat saja. kau butuh sesuatu?".
"Aku haus, Mi". tenggorokan Anin rasanya kering keronta.
Vivi lalu bergegas menyambar air yang ada di atas nakas lalu memberikannya pada Anin.
__ADS_1
Setelah menenggak air hingga tersisa setengah, Anin kembali berbaring.
"Vi, tolong beritahu bi Ratih untuk menyiapkan makanan untuk Anin. dia belum makan sejak tadi siang". titah Mami Sandra.
"Baik, Tante". Vivi lalu menuju ke dapur.
"Anin". panggil Askara hendak meraih tangan Anin namun dengan cepat Anin menarik tangannya lalu memalingkan wajah.
"Mi, tolong suruh mas Askara keluar. aku tidak mau melihatnya ada di sini". ujar Anin dengan suara dinginnya.
"Tapi, Nin__".
"Askara, tolong jangan membantah. ikuti kemauan Anin kali ini. lebih baik kau keluar". Mami Sandra mencoba menstabilkan suasana, dia tau Anin pasti sangat kecewa dengan Askara saat ini.
"Baik, Mi". Askara memilih mengalah karena teringat perkataan dokter Arga tadi.
Dengan berat hati, Askara lalu meninggalkan Anin sesuai dengan permintaan istrinya itu.
Selepas kepergian Askara, Anin kembali menangis dalam pelukan Mami Sandra. wanita itu terisak merasakan sesak yang teramat di dadanya.
"Maafkan anak Mami, Anin". air mata Mami Sandra juga ikut jatuh karena merasa bersalah pada Anin atas semua perlakuan Askara.
__ADS_1