
Sepulang dari cafe Anin memutuskan untuk di antar Vivi ke apartemen, selain karena malas memesan taxi online mereka juga satu arah, hitung-hitung hemat ongkos biaya.
"Jadi kaki Lo kena tumpahan sup panas karena Askara?" tanya Vivi yang baru menyadari kaki Anin memerah dan sedikit bengkak saat akan keluar dari cafe.
Anin pun sepanjang perjalanan mulai menjelaskan kronologi dan bagaimana sikap manis Askara yang mengobati kakinya.
"Ya gitu lah, soalnya pak Askara muncul tiba-tiba di belakang gue, dan yang nggak terfikirkan sama sekali di gue karena dia mau ngobatin kaki gue" jelas Anin.
"Ya jelaslah dia bersikap manis ngobatin kaki Lo kan dia penyebabnya, keterlaluan aja sih kalo sampai nggak".
Vivi menanggapi meskipun tengah serius menyetir.
"Yaa setidaknya kan ada progres Vi" ucap Anin mengerucutkan bibirnya.
"Nggak usah manyung sok imut gitu deh Nin, ngeri gue liatnya hahaha"
Anin memukul lengan Vivi dengan cukup keras
"Awww..sakit Anin, tangan Lo kalo mukul kayak kuli tau nggak" gerutu Vivi mengelus lengannya, sedang tangan satunya memegang setir.
"Hehehe" cengir Anin tanpa dosa
"Nyengir lagi Lo" kesal Vivi. "Btw, kehamilan Lo udah berapa bulan Nin?"
"Masuk dua bulan sih kayaknya" jawab Anin ragu-ragu karena belum terlalu mengerti hitung-hitungan mengenai usia kandungan ibu hamil.
"Lo belum pernah periksa kandungan kan?" tanya Vivi
Anin menggeleng "Belum pernah sih, kenapa emang?"
"Gue punya ide, gimana kalo Lo ajak Askara periksa kandungan bareng Lo. gue sih sering yah denger cerita orang kalo perasaan calon orang tua itu bakalan lebih tersentuh saat denger detak jantung calon bayinya untuk yang pertama kalinya".
Anin terdiam memikirkan perkataan Vivi, dan ada benarnya juga. yang dia bingung apakah Askara mau atau tidak.
"Tapi gue nggak yakin Askara mau, secara tiap hari dia sibuk banget"
"Itu bisa di atur, nanti gue hubungin temen Tante gue yang spesialis kandungan di salah satu rumah sakit di Jakarta. nanti Lo bisa buat janji buat meriksa kandungan, baru setelah itu Lo tanya Askara kalo Lo udah buat janji sama dokter dan nggak bisa di cancel"
untuk soal merangkai rencana Vivi memang jagonya.
"Hari ini otak Lo bener-bener jalan yah" puji Anin sekaligus meledek Vivi.
"Lo muji atau menghina gue sih"
"lebih tepatnya dua-duanya sih"
lanjut keduanya menyetel musik dari lagu favorit mereka. Anin dan Vivi larut dan terbawa suasana dari lagu yang mereka setel, sesekali Anin ikut bernyanyi.
terlalu asik menyanyi sampai akhirnya suatu insiden terjadi, ban mobil Vivi tiba-tiba pecah.
Vivi sempat kewalahan mengendalikan stir karena mobil oleng di akibatkan ban mobil yang pecah.
"Nin, Lo nggak papa?" tanya Vivi khawatir saat berhasil membawa mobilnya menepi ke bahu jalan"
"Gue nggak papa Vi, Lo sendiri" tanya Anin balik
"Its oke, Lo nggak perlu khawatirin gue, justru gue khawatir sama Lo yang lagi hamil"
Vivi melepas seatbelt di ikuti Anin, keduanya keluar untuk mengecek kondisi mobil Vivi.
"Ah sialan, ban nya pake acara pecah lagi" Vivi menendang keras ban mobilnya karena kesal.
"Gimana nih Vi ,mana nggak ada bengkel lagi sekitar sini" Anin celingak celinguk mencari keberadaan bengkel tapi hasilnya nihil.
Vivi mengeluarkan ponselnya dan menelfon seseorang "Nggak aktif lagi" Vivi tambah kesal saat menelfon montir langganannya tapi nomornya tidak aktif.
"Ban serep sih ada, cuman nggak tau cara masangnya" cengir Vivi
"Adu mulut doang jagonya, masang bang serep nggak bisa" ejek Anin
"Itu mah beda cerita lagi" balas Vivi
"Kita tunggu aja dulu, barang kali ada orang lewat yang mau bantu kita" Anin pun memutuskan untuk duduk di pinggir trotoar bersama Vivi
Mobil yang di tumpangi Dito dengan Askara yang duduk di jok belakang melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan sore Jakarta. meeting yang memakan waktu kurang lebih dua jam akhirnya selesai juga.
harusnya setelah meeting Askara dan Dito balik ke kantor, namun Askara meminta di antar pulang karena badannya sangat lelah menyelesaikan kerjaan yang menumpuk hari ini di tambah meeting yang alot. lagi pula seorang boss bebas mau pulang jam berapa.
Dito memperlambat laju mobilnya saat matanya tak sengaja menangkap dua sosok wanita yang di kenalnya tengah duduk di pinggir trotoar sembari mengibas-ngibas wajah mereka.
Dito menghentikan mobil, membuat Askara yang duduk di jok belakang bersuara tapi matanya tetap fokus pada ponsel di tangannya
__ADS_1
"Kenapa berhenti ?"
"Di depan sana sepertinya nona Anin tuan dan temannya yang datang ke kantor bersama nona Anin tempo hari" ucap Dito menatap Askara dari balik kaca depan
seketika Askara mengangkat wajahnya dari ponselnya saat mendengar nama Anin di sebut.
mata Askara memicing memastikan apa orang itu benar Anin atau bukan. dan benar, Anin tengah duduk di pinggir trotoar bersama Vivi.
"sepertinya mobil mereka sedang bermasalah tuan, apa saya boleh turun untuk mengecek?" tanya Dito
"Keluarlah" ucap Askara namun dirinya tidak ikut keluar
Dito pun bergegas keluar menghampiri keduanya.
"Nona Anin" teriak Dito berlari kecil menghampiri keduanya
"sekretaris Dito?, bagaimana bi..."
ucapan Anin terpotong saat melihat Askara tiba-tiba muncul menyusul Dito yang menghampiri mereka.
"pak Askara?" beo Anin
Dito berbalik badan mengikuti arah pandang Anin, ternyata Askara juga ikut turun dari mobil.
"kalian kenapa bisa di sini?, ini kan masih jam kantor" tanya Anin lebih tepatnya pada Dito
"tuan Askara minta di antar pulang lebih awal nona" jawab Dito
Anin hanya membulatkan mulut membentuk huruf O, tanda mengerti.
"Nona Anin kenapa bisa berada di sini?"
Anin terlihat gusar, pasalnya Askara sedari tadi menatapnya tajam. dalam hati Anin yakin bahwa Askara pasti marah karena mendapati dirinya keluar apartemen tanpa berpamitan padanya.
"ban mobil Vivi tiba-tiba pecah"
Dito menatap ban belakang mobil Vivi dengan robekan yang cukup besar menganga
"apa nona Vivi bawa ban serep?"
"ada tuh di bagasi" tunjuk Vivi menggunakan dagunya.
cucuran keringat membasahi pelipis Anin, kakinya pun mulai terasa sakit, Askara memperhatikan semuanya.
"kau ikutlah pulang denganku" Askara akhirnya buka suara
Anin dan Vivi kompak menoleh, begitupun dengan Dito yang sedang mengganti ban mobil.
"tapi mobil Vivi belum selesai"
otak Vivi yang bergerak cepat bisa menjadikan moment ini untuk lebih mendekatkan Anin dan Askara.
"tidak papa Nin, kau pulanglah lebih dulu. kasian kan ibu hamil tidak boleh kecapean apalagi kakimu masih sakit"
"lalu sekretaris Dito bagaimana?" tanya Anin
"saya bisa pulang naik taxi nona, ikutlah pulang dengan tuan Askara"
Vivi berseru senang dalam hati, ternyata sekretaris Askara ini mengerti akan situasi.
"tapi beneran nggak papa kalo kalian aku tinggal duluan?" jujur Anin tak enak hati
"nggak papa, Lo balik duluan aja"
"kalo gitu gue balik yah, hati-hati yah Vi " kemudian Anin beralih pada Dito "sekretaris Dito saya duluan yah"
"Iyya nona" jawab Dito
Askara sudah berjalan lebih dulu meninggalkan Dito dan Vivi, dengan sedikit tertatih Anin berjalan menuju mobil Askara.
"lama sekali" ucap Askara saat Anin baru saja memasuki kursi penumpang samping kemudi.
"Kakiku masih sakit pak" jawab Anin seadanya
tak berniat membalas perkataan Anin, Askara sudah melakukan mobil untuk pulang ke apartemen.
kondisi canggung dapat di rasakan Anin karena ini adalah kali pertama dirinya berada di dalam satu mobil yang sama dengan Askara dan hanya berdua saja.
Anin melempar tatapannya keluar jendela mobil, tidak ada pembicaraan yang sekiranya pantas mereka bicarakan saat ini. apalagi Askara hanya diam sedari tadi dan lebih memilih fokus untuk menyetir.
sampai pada mobil yang di kendarai Askara akan melewati para pedagang jajanan kaki lima, mata Anin berbinar takkala melihat penjual asinan, somay, cilok, dan juga minuman Boba. seketika mood makannya bertambah dua kali lipat.
__ADS_1
"pak Askara tolong berhenti sebentar" teriak Anin spontan secara tiba-tiba membuat Askara mengerem mendadak, untung saja tidak ada mobil lain di belakang mereka.
"kau ini apa-apaan hah?" Askara menggeram marah karena tindakan Anin yang bisa membahayakan mereka.
Anin menyadari apa yang baru saja dirinya perbuat kemudian meminta maaf pada Askara "sorry, aku terlalu ecxited melihat banyaknya jajanan di luar sana"
Askara melihat arah pandang Anin, dia kesal karena Anin baru saja membahayakan nyawanya hanya karena makanan pinggir jalan.
"aku ingin itu, bolehkah aku turun sebentar? sudah lama aku tidak makan jajanan kaki lima" mohon Anin menampilkan wajah memelas.
"turunlah, tapi jangan lama, di sini area larang parkir"
"baiklah, aku janji tidak akan lama" ucap Anin kegirangan seperti sedang memenangkan undian berhadiah.
Anin pun turun tapi dia tidak bisa melangkah dengan cepat karena kakinya yang masih sakit.
"Dasar bocah" gumam Askara yang dapat melihat dari dalam kaca mobil Anin tengah tersenyum pada penjual dengan ramah.
tanpa sadar Askara tersenyum tipis sangat tipis.
Anin tengah sibuk memilih satu per satu jenis makanan yang akan dia beli, satu bungkus plastik somay sudah berada di tangannya tapi rasanya belum puas, Anin memutuskan pindah pada penjual asinan.
namun karena tidak hati-hati atau karena Anin yang terlalu bersemangat hingga kurang memperhatikan jalan dan menabrak seseorang.
badan Anin terhuyung ke belakang dan " Awwww.." pekik Anin kencang saat bokongnya menyentuh kerasnya jalan aspal.
Askara yang memang memperhatikan Anin sedari tadi terlihat sangat kaget saat mendapati Anin terjatuh karena di tabrak seseorang.
buru-buru Askara keluar dari mobilnya.
"maaf mbak saya tidak sengaja" ucap perempuan tersebut kemudian membantu Anin berdiri.
"tidak papa mbak, saya juga kurang memperhatikan sekeliling" jawab Anin membersihkan bokongnya yang sedikit sakit. untung saja somay di tangannya tidak jatuh
"apa kau tidak punya mata hah?" Askara sudah berdiri di samping Anin dan memarahi perempuan tersebut.
"pak Askara?" gumam Anin setengah terkejut
"sekali lagi saya minta maaf, saya betul-betul tidak sengaja" ucap perempuan itu menunduk takut karena di tatap tajam oleh Askara.
"asal kau tau, istri saya ini sedang hamil, apa permintaan maaf kamu cukup kalo sesuatu terjadi pada istri dan calon anak saya?" ucap Askara spontan yang membuat perempuan tersebut semakin takut saat tau Anin sedang hamil.
berbeda dengan Anin, dia justru sangat senang saat Askara menyebutnya istri dan juga calon anak. ribuan kupu-kupu seperti tengah beterbangan di perutnya.
"sudahlah pak Askara , semua ini sepenuhnya bukan salah mbak nya, aku juga kurang hati-hati dan tidak memperhatikan jalan"
memang benar, ini juga salah Anin karena dirinya yang kurang hati-hati.
"maafkan suami saya yah mbak, sekarang mbak bisa pergi dari sini" sebisa mungkin Anin menengahi ketegangan yang terjadi antara Askara dan perempuan tersebut. apalagi Anin dapat melihat jelas raut wajah ketakutan dari perempuan itu.
perempuan itupun berlalu meninggalkan keduanya, kini Askara beralih menatap tajam Anin
"Masuk ke mobil sekarang juga" perintah Askara penuh intimidasi
"tapi aku belum selesai belanjanya"
"aku bilang masuk ke mobil sekarang juga" kali ini ucapan Askara tidak bisa terbantahkan lagi.
dengan menahan kesal Anin pun berjalan memasuki mobil Askara.
Askara memasuki mobil dengan perasaan marah, apalagi Askara sempat menutup pintu mobil dengan keras membuat Anin berjengkit kaget.
dengan perasaan marah Askara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Anin mencengkram seatbelt sambil memejamkan mata kuat-kuat. dalam hati Anin berdoa semoga dirinya bisa selamat sampai apartemen.
mobil memasuki basement apartemen, Anin baru berani membuka mata saat mobil benar-benar berhenti.
"huuuuuhhhh" Anin menghela nafas lega karena dia sampai dengan selamat.
"jantungku hampir copot". gumam Anin memegang dadanya.
Anin beralih menatap Askara yang sudah melepas seatbeltnya tanpa menoleh atau mengucapkan sepatah kata
Askara pun turun dari mobil tanpa membuka suara, langkah lebarnya meninggalkan Anin yang masih berada di dalam mobil.
"sepertinya dia benar-benar marah" ucap Anin lalu keluar dari mobil.
sampai di dalam apartemen Anin memperhatikan sekeliling dan tidak mendapatkan kehadiran Askara.
sampai pada malam hari Anin duduk di sofa berharap Askara akan keluar dan Anin akan meminta maaf. tapi sampai larut malam pintu kamar Askara masih tertutup rapat.
mata Anin sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi, rasa kantuknya sudah tak tertahan. Anin pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya berharap besok pagi-pagi sekali bisa bertemu dengan Askara dan meminta maaf.
__ADS_1