
Anin bangun dalam keadaan kacau, matanya sembab karena menangis hampir semalaman di tambah pagi ini Dia sempat mengalami morning sickness.
Meski badannya merasa lemas, Anin tetap menjalankan perannya sebagai seorang istri, menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan Askara.
Hari ini Anin mulai bekerja lagi, seharusnya dua hari yang lalu dia masuk.
Anin sudah sarapan, Dia juga sudah siap dengan pakaiannya, sengaja bangun pagi sekali karena belum siap bertemu dengan Askara.
Sepotong sandwich Anin letakkan di atas piring untuk Askara , juga ada secarik kertas note kecil berisi permintaan maafnya.
"Selamat pagi pak Askara :) , Aku tau pak Askara marah besar padaku, Aku minta maaf atas kesalahan yang sudah ku perbuat. Sarapannya jangan lupa di makan, Aku berangkat kerja dulu"
Meski sebenarnya Anin juga sakit hati atas perlakuan Askara tapi bagaimanapun ini juga salahnya jadi Dia harus tetap meminta maaf seperti nasehat Ayahnya sewaktu hidup.
Roda motor Anin terus berputar menyusuri jalanan pagi kota Jakarta yang lengang. Ah senanngnya Anin dalam hati karena tidak harus terjebak macet.
Askara keluar dari kamarnya lengkap dengan setelan jas nya, siap berangkat ke kantor.
Kaki panjangnya melangkah ke dapur untuk mengambil air putih, tenggorokannya serasa kering.
Kening Askara berkerut melihat sarapan di atas meja dengan secarik kertas note.
Askara membaca kertas tersebut yang berisi permintaan maaf Anin, bukannya merasa luluh atau senang justru amarah dalam dirinya kembali bangkit.
Di remasnya kertas tersebut dan di lemparnya ke dalam tong sampah bersama dengan sandwich buatan Anin.
Jika Anin melihatnya, hatinya pasti merasa sedih.
Mood Askara pagi ini menjadi buruk.
Dito menyadari perubahan sikap Askara yang kembali berubah dingin.
"Dito, apa agendaku hari ini?" tanya Askara yang fokus pada tab di tangannya.
"Kita ada pertemuan di restoran cempaka tuan siang nanti" jawab Dito yang fokus menyetir.
"Baiklah" jawab Askara kembali fokus pada tab di tangannya.
Namun ponselnya tiba-tiba berdering, mau tidak mau Askara melihat siapa yang sudah menelfonnya pagi-pagi.
Menghela nafas panjang, tertera panggilan masuk dengan kontak name 'Mami', hal yang Askara hindari dua bulan terakhir ini.
Askara mematikan ponselnya.
"Telfon dari nyonya besar, tuan?" tanya Dito yang melihat raut wajah Askara.
"Hemm"
"Kenapa tuan terus menghindari telfon dari nyonya besar"
"Masih terlalu pagi untuk berdebat, kau tau sendiri kupingku rasanya panas jika mendengar celotehan mami".
"Tapi menghindar terus-menerus juga tidak baik tuan, kasihan nyonya besar"
"Nanti Dia akan berhenti sendiri Dit, tidak usah memikirkan mami ku"
Dito menggelengkan kepala, apa susahnya Askara berkata jujur pada orang tuanya jika Dia sudah menikah agar tak di teror terus-menerus, terutama oleh nyonya besar.
Sedangkan di belahan negara lain, seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik tengah menahan emosi menatap layar ponselnya.
Panggilannya lagi-lagi di abaikan oleh putra tengil semata wayangnya.
Sudah tidak terhitung ini sudah kali ke berapa Askara menolak, mengabaikan, bahkan kadang mematikan ponselnya.
"Awas darah tinggi Mami" peringat Argio, suaminya sekaligus Papi Askara.
Argio merasa prihatin melihat istrinya sudah setengah frustasi tiap kali panggilannya di tolak oleh putranya yang sedang menjalankan perusahaan di Indonesia.
"Mami nggak peduli, kalo perlu Mami sakit sekalian supaya Askara mau menjawab telfon Mami" ucap Sandra menggebu-gebu.
"Jangan terlalu menekan anak itu" Argio tau betul sifat putranya itu.
"Siapa yang menekan Askara, Pi?. anak itu sudah dalam usia yang matang sudah waktunya menikah. Aku akan semakin tua dan sampai sekarang belum juga menimang cucu, Askara itu anak kita satu-satunya" kesal Sandra
"Kau tau betul sifat anakmu itu, cobalah lebih lembut, Askara itu sebenarnya pusing mendengar celotehan Mami" Argio mencoba menenangkan istrinya.
Sandra memukul lengan suaminya kesal
"Iyya aku tau, karena Dia menuruni sifat kerasmu" Sinis Sandra pada suaminya.
Argio terkekeh melihat kekesalan istrinya "Mami usaha lagi menghubungi Askara, siapa tau Askara berubah fikiran dan mau menjawab telfon"
Sandra memutar bola mata jengah
"Bagaiman Mami mau bicara, telfon Mami selalu di abaikan, di tolak, bahkan anak itu mematikan ponselnya".
"Lalu apa rencana Mami?"
Sandra tersenyum penuh arti "Mami akan ke Indonesia, Dan tugas Papi jangan bocorkan kedatangan Mami pada Dito atau siapa pun, anak itu memang harus di beri pelajaran". ucap Sandra.
Kaki Anin melangkah ke sana kemari melayani pembeli.
Hari ini suasana toko kue Ambar ramai akan pembeli, baik pesanan take away maupun mereka yang sekedar nongkrong dan berfoto untuk di upload di media sosial.
FYI, toko tersebut juga punya coffeshop atau semacam cafe yang menjadi tongkrongan anak-anak muda jaman now.
Ambar selaku owner dan pemilik toko kue memang sengaja menciptakan suasana cozy dan instagramable sehingga membuat pengunjung nyaman dan betah.
Anin mendudukkan bokongnya di bangku kecil, meluruskan kaki dan memijitnya pelan.
__ADS_1
"Capek yah Nin?" tanya Doni teman kerjanya yang juga bertugas di dapur membuat kue, Anin hanya sesekali membantu jika tenaganya di perlukan.
Anin tersenyum "Jujur capek sih kak, tapi yah yang namanya kerja nggak ada yang nggak capek"
Doni terkekeh "Iyya juga sih, kamu belum makan siang kan?"
Anin menggeleng "Nanggung soalnya tadi banyak pembeli"
"Ke belakang sana makan siang, kerja sih kerja tapi ingat kesehatan juga" peringat Doni mengacak rambut Anin.
Doni sudah menganggap Anin seperti adik kandungnya sendiri.
"Kakak memangnya udah makan siang?"
"Belum, kamu duluan aja . kakak belum lapar. lagian pembeli juga udah nggak terlalu rame, kakak yang gantiin kamu jaga di sini sampe selesai makan siang "
"Yeehhh... sama aja itu mah, kakak nyuruh orang lain makan tapi diri sendiri nggak di perhatiin" ejek Anin.
"Bawel, sana masuk" Doni mendorong punggung pelan punggun Anin "Sebelum aku berubah fikiran nih" ancam Doni yang Anin tau hanya bercanda.
"Iyya..Iyya..bawel banget sih" pasrah Anin.
Sejujurnya Anin memang sudah sangat lapar, tapi karena harus melayani pembeli jadi sebisa mungkin dia tahan.
Padahal Anin tidak sendiri ada janin dalam perutnya "Maafin Mama yah, kamu pasti udah lapar banget kan?" Gumam Anin memasuki ruangan yang di khususkan untuk staff dan pegawai toko.
Ruangan tersebut bisa di bilang adalah basecamp karena di sana Anin juga bisa mengistirahatkan tubuhnya jika merasa lelah karena terdapat satu kasur ukuran kecil.
Di sebuah restoran mewah terlihat Askara dan Dito tengah melakukan meeting dengan seorang klien.
Askara begitu serius dan terkesan dingin jika sudah berbicara mengenai bisnis, begitupun Dito yang setia berada di sampingnya.
Restoran tersebut ramai karena memang sudah jam nya makan siang.
Sedangkan Anin sudah selesai dengan makannya, tiba-tiba Doni masuk "Anin udah selesai makan belum?" tanya Doni dengan wajah terlihat panik.
"Baru aja, kenapa? kakak juga mau makan?, kalo gitu aku ke depan yah" cerocos Anin hendak kembali keluar.
"Bukan itu"
Kening Anin berkerut "Terus?"
"Kakak bisa minta tolong nggak?"
"Asal nggak yang aneh-aneh tapi" ucap Anin memicingkan matanya.
Doni menyentil kening, walau tidak keras Anin berpura-pura mengaduh kesakitan "Aduh, kenapa keningku di sentil sih"
"Lebay .. nggak keras juga" cibir Doni.
"Cepetan bilang mau minta tolong apa" ucap Anin tidak sabaran.
"Yealahh..kirain apa.. bisa sih, asal ada tips nya" ucap Anin menaikkan turunkan alisnya.
Sudah Doni tebak, Anin ini memang sepertinya mata duitan "Kamu ini yah, Iyya nanti aku kasih tipsnya. kakak juga tau kan seharusnya ini tugasku"
Mendengar kata tips Anin segera melepas apron yang melekat di tubuhnya dengan senyum sumringah "Sini mana alamatnya"
"Nih" Doni menyerahkan secarik kertas berisi alamat orang yang memesan kue.
"Hati-hati bawa motornya" teriak Doni pada Anin yang sudah berjalan menjauh.
Anin hanya menaikkan jempolnya sebagai jawaban.
Motor Anin sampai tepat di depan restoran Cempaka, alamat yang di berikan oleh Doni tadi.
Anin memakirkan motornya kemudian turun dari motor dan melepas helmnya.
"Bener ini restorannya, mewah banget. pasti yang uang tahun anak sultan" gumam Anin, terbersit rasa iri pada mereka yang bisa merayakan hari kelahiran di tempat yang mewah dan di hadiri oleh banyak orang.
Apalah daya, Anin hanyalah anak dari keluarga sederhana, baginya bisa makan sehari-hari saja sudah sangat cukup.
Anin membawa box kue yang berukuran cukup besar memasuki restoran, menaiki anak tangga dengan hati-hati takut kue tersebut jatuh.
Matanya kesana-kemari mencari nomor meja orang yang memesan kue di tangannya , dan Anin menemukannya.
Anin berjalan menghampiri "Selamat siang" sapa Anin ramah.
"Selamat siang" balas seorang wanita paruh baya dengan penampilan elegan.
"Benar ini pesanan kue atas nama ibu Riri apriyanti?" tanya Anin memastikan.
Wanita tersebut berdiri "Dari toko Ambar cake's yah?" tanya wanita tersebut.
Anin mengangguk "Betul Bu"
"Silahkan letakkan di atas meja"
"Baik Bu" Anin meletakkan kue tersebut di atas meja kemudian berpamitan karena pembayaran sudah di lakukan via transfer lebih dulu.
Namun saat berbalik, tanpa sengaja tubuh Anin di tabrak oleh seorang wanita yang tengah bermain ponsel, sambil membawa eskrim di tangannya, pakaiannya sangatlah terbuka, kekurangan bahan fikiran Anin.
Es krim tersebut jatuh dan mengenai high heels wanita itu.
"Maafkan saya nona" buru-buru Anin meminta maaf.
"Hey kau" geram wanita itu "Kau fikir permintaan maafmu bisa membersihkan sepatuku hah?"
"Maaf, tapi nona yang menabrakku" jawab Anin tidak mau kalah.
__ADS_1
Wanita itu berdecak kesal "Berani sekali kau, bahkan gajimu sebagai pelayan di sini tidak akan bisa membeli sepatu mahalku" ucapnya sombong dan mengira Anin adalah pegawai di restoran tersebut.
"Maaf, tapi saya bukan pelayan di sini"
"What ever..sekarang berjongkok"
"Untuk apa?"
"Bersihkan sepatuku"
"Aku tidak mau" tolak Anin.
Terjadilah adu mulut antar keduanya.
Keributan yang terjadi antara Anin dan seorang wanita menyita atensi pengunjung restoran, termasuk Askara dan Dito yang tengah meeting di meja yang letaknya tidak jauh dari tempat Anin berdiri.
"Nona Anin" gumam Dito menyadari Anin dan seorang wanita tengah terlibat adu mulut.
Askara ikut memperhatikan, ternyata gadis itu
ada di sini. dan sedang terlibat keributan.
"Sir, tunggu sebentar" ucap Askara pada kliennya, dia berdiri dari duduknya membuat Dito kebingungan.
"Tuan mau kemana?" tanya Dito bingung, kemudian ikut berdiri.
"Sir, saya menyusul tuan Askara sebentar" ucapnya pada kliennya.
Ternyata Askara menghampiri Anin.
"Hemm" Askara berdehem dan berhasil menarik perhatian Anin dan juga wanita tersebut.
Anin kaget melihat Askara ada di sini, sedangkan wanita dengan pakaian kekurangan bahan yang berdiri di depan Anin menatap takjub wajah tampan Askara .
"Pak Askara kenapa bisa ada di sini?" ucap Anin pelan "Sekretaris Dito juga di sini?" ucapnya lagi saat melihat keberadaan Dito di belakang Askara .
Dito membungkuk hormat pada Anin kemudian beralih pada Askara "Tuan kembalilah ke meja, urusan nona Anin biar saya yang mengurunya" bisik Dito tepat di telinga Askara namun tidak di perdulikan.
"Ada apa ini?" tanya Askara dingin.
Wanita di depan Anin mulai melakukan playing victim "Dia menabrakku dan menjatuhkan es krim ku hingga terkena sepatuku" ucapnya dengan raut wajah sedih yang di buat-buat, menunjukkan ujung sepatunya yang kotor terkena es krim.
"Tapi kau yang menabrakku karena bermain ponsel" ucap Anin tidak mau kalah.
"Heii.. kau yang jelas-jelas sudah salah tapi tetap tidak mau mengaku. dasar wanita miskin, bahkan aku yakin walaupun kau mengumpulkan gajimu selama bertahun-tahun tidak akan mampu membeli sepatu seperti ini" ucap wanita tersebut merendahkan Anin di depan Askara dan juga di depan semua orang.
"Jaga ucapan anda nona" Dito bereaksi marah, wanita di depannya ini sudah berani menghina nyonya muda nya.
"Diam Dito" peringat Askara pada Dito agar tidak ikut campur.
"Lalu apa mau anda?" tanya Askara pada wanita itu.
Wanita tersebut tersenyum licik "Aku ingin dia meminta maaf dan berjongkok membersihkan sepatuku"
Anin dan Dito membulatkan matanya mendengar permintaan gila wanita itu sedang Askara masih tetap diam, bahkan terkesan tenang.
"Aku tidak mau, ini bukan salahku. Kau saja yang terlaku asik bermain ponsel" Tantu saja Anin tidak mau melakukannya.
"Lakukan" Askara tiba-tiba berucap, Dito dan Anin menatap tidak percaya dengan apa saja yang baru Askara katakan.
"Tapi tuu.._" Askara mengangkat tangan membuat Dito tidak melanjutkan ucapannya.
"Kau dengar bukan wanita ini menyuruhmu untuk meminta maaf dan bersihkan sepatunya, jadi lakukan" ucap Askara begitu dinginnya, bahkan dia tidak peduli bahwa Anin adalah istirnya.
Anin tidak habis fikir mendengar ucapan Askara, tadinya dia mengira kehadiran Askara akan membantunya, justru Askara ikut mempermalukannya.
Wanita di depan Anin menyeringai licik "Ayo cepat lakukan, tunggu apa lagi"
Anin menatap Askara dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. rasa sakit yang berkali-kali lipat di rasakan tepat di dadanya, tanpa di ketahui oleh semua pengunjung di restoran tersebut, wanita yang tengah hamil muda dan menjadi sumber perhatian mereka sejak tadi, justru tengah di permalukan oleh suaminya sendiri.
"Ayoo cepat lakukan...aku tidak butuh tangisanmu" Wanita tersebut kembali mendesak Anin.
Anin mengambil beberapa lembar tisu di atas meja, mulai berjongkok tepat di depan kaki wanita tersebut.
"Aku minta maaf" ucapnya kemudian mulai membersihkan sisa ice cream di atas sepatu wanita itu, air matanya jatuh ,perasaannya hancur. Askara sungguh tidak punya hati memperlakukannya seperti ini.
"Sudah..sudah..bisa-bisa sepatuku lecet karena di lap dengan tisu murahan itu" ucap wanita itu menarik kakinya kasar, niatnya memang ingin mengerjai Anin.
"Nona, mari saya bantu berdiri" ucap Dito menatap penuh iba.
Anin menolak "Tidak perlu, aku bisa berdiri sendiri" ucap Anin dengan suara parau.
Anin berdiri dari jongkoknya menatap Askara dengan perasaan penuh kecewa.
"Kau puas?" ucapnya sebelum berlalu meninggalkan mereka. Anin menghapus kasar air mata yang mengalir di pipinya, berlari meninggalkan restoran tersebut dengan perasaan hancur.
Wanita berpakaian sexy itu tersenyum puas "Terimakasih tuan sudah membantuku" ucapnya merasa di atas angin.
Askara tidak menanggapi ucapan wanita itu, dia berlalu meninggalkan tempat tersebut dan berjalan menuju mejanya.
Dito menatap wanita itu dengan tatapan tidak suka, karena dia Anin harus menanggung malu.
Askara dan Dito kembali melanjutkan meeting mereka, namun ingatan Askara kembali pada Anin yang menatapnya dengan tatapan terluka.
Ada apa ini? kenapa Dia tiba-tiba merasa iba. bukankah itu hal yang pantas di dapatkan Anin karena sudah merusak lukisan berharganya?.
Duh...Askara jahat yah.! makin penasaran nggak sama kelanjutan ceritanya?
stay trus yah.. support terus karya author, jgn lupa koment dan like .
__ADS_1
selamat berpuasa!