
Suara derap langkah kaki terdengar memenuhi lorong rumah sakit.
Tubuh Anin sudah berada di atas brankar dan di dorong oleh beberapa petugas rumah sakit.
"Anin, Lo yang kuat yah. gue yakin Lo pasti bisa bertahan" ujar Vivi di sertai tangisnya. berusaha menguatkan Anin yang sudah berbaring dengan mata terpejam di atas brankar.
"Vi, kamu yang tenang yah. kakak yakin Anin pasti kuat" ujar Doni berusaha menenangkan Vivi.
Dokter Ziva yang mendapat kabar bahwa ada pasien yang mengalami pendarahan segera menuju ke ruangan IGD.
Dokter Ziva terpaku saat melihat Anin sudah terbaring di atas brankar rumah sakit.
"Ya ampun, Anin" ucap dokter Ziva terkejut.
"Segera bawa masuk" perintah dokter Ziva pada perawat.
Perawat membawa Anin masuk ke ruang IGD untuk segera di lakukan tindakan.
"Kalian siapa?, pak Askara mana?" tanya dokter Ziva sebelum masuk, dia tidak melihat Askara.
"Saya sahabat Anin, dok. dan ini teman kerja Anin. kebetulan Anin mengalami insiden tersebut di tempat kerjanya" jelas Vivi pada dokter Ziva.
"Kalian tunggu di sini, dan tolong hubungi suami Anin. kami harap ada salah satu dari keluarga pasien yang menunggu jika sewaktu-waktu kami harus melakukan tindakan medis lanjutan" jelas dokter Ziva.
"Baik Dok, tolong usahakan yang terbaik untuk sahabat saya" ujar Vivi dengan suara tercekat.
"Itu sudah pasti, Anin adalah salah satu pasien saya juga" ungkap dokter Ziva.
Vivi merasa lega mendengar pernyataan dokter Ziva. pantas saja dokter Ziva langsung mengenali wajah Anin tadi . ternyata Anin melakukan pemeriksaan di rumah sakit ini.
Doni yang hanya diam sedari tadi, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Vi, ini sebenarnya ada apa sih?, jangan bilang kamu nyembunyiin sesuatu dari kakak" ujar Doni menuntut penjelasan.
"Kak, untuk sekarang Vivi belum bisa ngejelasin semuanya. kita tunggu Anin selesai di tanganin sama dokter dulu yah" ujar Vivi karena fikirannya fokus pada keadaan Anin.
"Ya sudah, kakak mau beli minum dulu. kamu mau nitip?"
"Boleh kak, air mineral aja".
"Oke.. kakak tinggal dulu" ujar Doni meninggalkan Vivi di depan IGD sendirian.
Selepas kepergian Doni ke kantin rumah sakit, Vivi duduk di kursi yang terdapat di lorong rumah sakit.
Vivi mengusap wajahnya, merapalkan do'a dalam hati untuk keselamatan Anin.
"Ya ampun, gue sampai lupa" ujar Vivi mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Dia harus memberitahu sekretaris Dito keadaan Anin sekarang.
Di sebuah gedung yang menjulang tinggi, tampak Askara sedang duduk di kursi kebesarannya dengan berkas-berkas yang sudah menumpuk, padahal baru tiga hari dia meninggalkan kantor.
Askara melepas kacamata yang dia gunakan, menutup kembali berkas-berkas di depannya karena merasa pusing.
"Permisi tuan" sekretaris Dito masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.
Raut wajah sekretaris Dito tampak menegang.
"Kau mulai kebiasaan Dito, masuk ke dalam ruangan ku tanpa mengetuk pintu" ujar Askara kesal.
"Maafkan saya tuan, tapi ada hal yang sangat penting yang harus saya sampaikan".
"Apa? kenapa wajahmu terlihat panik"
Sekretaris Dito menarik nafas sejenak "Nona Anin, tuan"
"Kenapa Anin?, dia membuat masalah?"
"Nona Anin pendarahan dan sekarang berada di rumah sakit, tuan" jelas sekretaris Dito.
Deg.. Tubuh Askara menegang.
"Kau jangan bercanda Dito" ujar Askara menatap tajam wajah Dito.
"Saya tidak bercanda tuan, nona Vivi baru saja mengabari saya, saya bisa mendengar suara non Vivi menahan tangis menjelaskan keadaan nona Anin".
Jantung Askara berdetak tidak karuan.
"Kita ke rumah sakit sekarang" Askara bergegas berdiri dari kursinya.
Raut wajah khawatir tercetak jelas di wajah tampan Askara.
Askara dan sekretaris Dito berjalan dengan langkah terburu-buru.
Fikiran Askara berkecamuk, dia tidak mau terjadi sesuatu pada Anin dan juga calon anaknya.
Askara memasuki mobil yang di kemudikan oleh sekretaris Dito.
"Bawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, Dito". perintah Askara.
"Tapi tuan.."
"Ckk ..kita tidak punya banyak waktu, kalau kau tidak berani , menyingkirlah. biar aku yang bawa mobil". Askara tidak bisa di ajak kompromi sekarang, fikirannya tertuju pada keadaan Anin di sana.
__ADS_1
"Tidak perlu tuan, biar saya yang menyetir"
"Kalau begitu cepatlah"
"Baik tuan"
Sekretaris Dito menambah kecepatan mobil yang dia kemudikan, membelah jalanan kota Jakarta yang tidak terlalu padat hari ini.
Askara yang duduk di kursi belakang bergerak dengan gelisah, dia kembali teringat pada kondisi Anin pagi tadi yang terlihat kurang sehat.
Mobil Ken baru saja sampai di rumah sakit, Ken turun dengan terburu-buru. dia harus mengetahui kondisi Anin sekarang.
Doni yang baru kembali dari kantin rumah sakit mengernyitkan kening melihat Ken juga berada di rumah sakit.
"Ken? ngapain di sini?" tanya Doni pada Ken.
"Anin mana, Don?" tanya Ken tidak menjawab pertanyaan Doni.
"Anin masih di IGD, kau tau dari mana Anin di rumah sakit?" tanya Doni.
"Dari Fika. terus gimana keadaan Anin sekarang?" tanya Ken dengan raut wajah khawatirnya.
"Masih di tanganin sama dokter" balas Doni.
Setelah mendengar jawaban Doni, Ken berlari kecil menuju ruang IGD, meninggalkan Doni yang terpaku.
Doni hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ken, dia kemudian ikut menyusul Ken yang sudah lebih dulu melongos pergi.
"Gimana Anin?" tanya Ken pada Vivi yang duduk di depan ruang IGD.
Vivi yang tengah menunggu tim medis menangani Anin, mengerutkan kening saat tiba-tiba mendapatkan pertanyaan dari pria yang tidak di kenalnya.
"Lo siapa?" tanya Vivi pada Ken.
"Aku Ken, teman Anin" balas Ken.
"Teman?, tapi gue nggak kenal sama Lo" ujar Vivi yang tau setiap teman Anin. karena teman Anin adalah teman Vivi juga. circle mereka sama.
"Kita memang baru kenal nggak lama ini" jelas Ken.
Vivi mengangguk saja, mungkin Anin belum sempat cerita mengenai Ken padanya.
"Duduk aja dulu, Anin masih di tanganin sama dokter di dalam" ujar Vivi.
"Iyya"
Tak lama Doni juga datang dengan sebotol air mineral di tangannya.
"Minum dulu" Doni menyodorkan air tersebut pada Vivi.
Ketiganya kembali duduk menunggu di depan ruang tindakan.
Mobil Askara baru saja sampai di parkiran rumah sakit.
Askara dan sekretaris Dito segera turun dan masuk ke dalam rumah sakit.
"Sus, di mana ruang IGD?" tanya Askara pada salah satu perawat rumah sakit.
"Bapak lurus dan belok kanan" balas sang perawat.
"Ayo Dito"
Askara menyusuri lorong rumah sakit dengan Dito di belakangnya.
Langkah Askara yang tergesa-gesa menimbulkan bunyi nyaring dari sepatu pantofel yang di gunakannya.
Vivi, Doni, dan juga Ken yang masih menunggu di depan ruang tindakan menatap kedatangan Askara dan juga sekretaris Dito dengan tatapan yang berbeda-beda.
"Askara...sekretaris Dito?" gumam Vivi melihat keduanya berjalan dengan langkah tergesa-gesa.
Sedang Ken, dia menatap kedatangan Askara dengan tatapan tajam.
"Vi, bagaimana keadaan Anin?" tanya Askara langsung pada Vivi dengan wajah cemas. Askara belum menyadari kehadiran Ken.
"Anin masih di dalam, masih di tangani sama dokter" ujar Vivi dengan raut wajah sedihnya.
Askara menghela nafas dan melonggarkan dasinya "Kenapa Anin bisa begini?" tanya Askara atas apa yang terjadi pada Anin.
"Anin abis ngangkat kardus yang berisi bahan-bahan kue yang cukup berat" jawab Vivi pelan.
"Apaaa..?" pekik Askara marah. "Kenapa kau biarkan Anin mengangkat beban yang berat, kau tau kan dia sedang hamil" bentak Askara.
Deg.. Ken yang juga berada di sana, berdiri mematung mendengar pernyataan Askara.
Anin sedang hamil? ini tidak mungkin.
Pun sama halnya dengan Doni, dia kaget mendengar pernyataan pria di depannya ini, pria yang tidak di kenalnya namun terlihat sangat khawatir dengan keadaan Anin.
"Tuan, pelankan suara tuan. ini rumah sakit" ujar sekretaris Dito, apalagi setelah melihat wajah ketakutan Vivi karena bentakan Askara.
Askara mengusap wajahnya kasar. Satu hal yang di sadari oleh Askara, ternyata Ken juga ada di sini.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Askara tidak ramah pada Ken, dia mendekat ke arah Ken dan mencekram kerah baju pria itu.
__ADS_1
Keduanya beradu tatapan sengit.
"Karena aku mengkhawatirkan Anin" jawab Ken tanpa beban.
Emosi Askara memuncak saat mendengar jawaban Ken.
"Berhenti mendekati Anin mulai sekarang, karena Anin adalah istriku". ujar Askara lantang
Ken tersenyum miring " Kau jangan mengada-ngada" ujar Ken berusaha menutupi keterkejutannya, berharap apa yang di katakan Askara tidaklah benar.
"Anin adalah istriku dan anak yang di kandung oleh Anin sekarang adalah darah dagingku" ujar Askara lantang.
"Kenapa? kau tidak percaya?" tanya Askara tersenyum miring saat wajah ken berubah datar.
Tubuh Ken mendadak kaku, rasanya seperti di hantam benda berat saat mendengar penuturan dari Askara bahwa dia adalah suami Anin.
Ken terduduk lemas, dia masih belum bisa menerima kenyataan yang baru saja di ketahuinya.
Pupus sudah harapannya untuk memiliki Anin.
"Sekarang kau tau kan, tidak seharusnya kau mendekati seorang wanita yang sudah bersuami bahkan sedang mengandung" cecar Askara semakin membuat Ken bungkam.
Suasana mendadak hening, semua larut dengan fikirannya masing-masing. terutama Ken, pandangannya lurus ke depan, hatinya mendadak sakit mengetahui bahwa Anin sudah bersuami.
Pintu ruang IGD terbuka, dokter Ziva keluar dengan atribut kedokterannya.
Semua kompak berdiri, ingin tau keadaan Anin.
"Dok, bagaimana keadaan Anin?"
"Kak, bagaimana keadaan Anin?"
Askara dan Ken bertanya secara bersamaan.
"Kakak?" ulang Askara saat Ken memanggil dokter Ziva dengan sebutan kak.
Dokter Ziva pun cukup kaget karena mendapati Ken di rumah sakit ini, apalagi Ken menanyakan keadaan Anin dengan wajah khawatirnya.
"Maaf pak Askara, Ken adalah adik saya" ujar dokter Ziva membuat semua yang ada di sana terkejut terutama Askara.
"Tapi itu tidak penting, karena sekarang ada hal yang lebih penting yang harus saya sampaikan pada pak Askara, silahkan ikut ke ruangan saya" ujar dokter Ziva, memecah suasana tegang.
"Baik Dok" ucap Askara.
"Vi, aku titip Anin sebentar" ujar Askara kemudian menyusul langkah dokter Ziva menuju ruangannya.
"Iyya" balas Vivi.
"Silahkan duduk pak Askara" ujar dokter Ziva saat sudah sampai di ruangannya.
"Bagaimana kondisi Anin dok, bagaimana dengan kandungannya?" tanya Askara tidak ingin bertele-tele.
"Pak Askara patut bersyukur karena janin di kandungan Anin bisa kami selamatkan, untung saja Anin cepat di bawa ke rumah sakit. jika saja terlambat, mungkin janinnya tidak bisa terselamatkan".
Askara menarik nafas lega mendengar pernyataan dokter Ziva.
"Hanya itu yang dokter Ziva ingin sampaikan?" tanya Askara karena ingin segera menemui Anin.
"Ada hal yang lebih penting dari itu pak Askara, ini mengenai kondisi Anin"
"Kenapa dengan kondisi Anin dok, apa ada yang mengkhawatirkan?" tanya Askara di liputi rasa cemas.
"Sepertinya Anin sering mengalami kram di perutnya dan ini adalah satu faktor yang membuat Anin mengalami pendarahan" ujar dokter Ziva.
"Anin juga menggunakan korset yang begitu ketat , saya tidak tau pasti maksud Anin menggunakan benda tersebut. tapi itu juga sangat berbahaya. ungkap dokter Ziva.
Askara jadi teringat, memang beberapa kali Anin pernah mengeluh merasakan sakit di perutnya, terutama saat mereka berada di Bali. Namun untuk penggunaan korset, itu sama sekali tidak di ketahuinya.
"Iyya dok, beberapa kali Anin memang merasakan sakit di perutnya, tapi dia selalu mengatakan bahwa itu adalah hal yang lumrah di setiap kehamilan tapi mengenai penggunaan korset, saya sendiri tidak tau". ujar Askara mengepalkan tangannya di bawah meja, mungkin saja ini siasat Anin untuk menutupi kehamilannya yang mulai membesar.
"Memang benar pak Askara, tapi kram yang terlalu sering terjadi adalah bentuk dari sebuah kontraksi , di mana janin di paksa keluar sebelum waktunya. dan itu yang sekarang terjadi pada Anin, kondisinya sangat berbahaya. apalagi pengunaan korset yang terlalu ketat semakin memperparah keadaannya".
"Bukan hanya itu, Anin sepertinya sedang stress dan banyak fikiran. kondisi psikologisnya yang tidak seimbang juga menjadi salah satu pemicu terjadinya pendarahan, tolong hal ini jangan di sepelekan. usia kandungan Anin masih sangat riskan"
Askara terdiam, mungkin ini adalah dampak dari pertengkaran mereka sehingga membebani fikiran Anin. Askara merasa sangat bersalah sekarang.
"Lakukan yang terbaik untuk Anin dan juga calon anak saya dok" mohon Askara yang di hinggapi rasa bersalah sekarang.
"Kami pasti akan melakukan yang terbaik pak Askara, tapi mengingat penyebab pendarahan Anin, mau tidak mau saat kondisinya membaik nanti, dia harus beraktifitas menggunakan kursi roda sampai keadaannya benar-benar kuat" ungkap dokter Ziva
"Kenapa begitu dok?"
"Ini untuk menghindari berbagai kemungkinan yang bisa terjadi, misalnya kembali terjadi pendarahan dan saat hal ini terjadi, kecil kemungkinan kita bisa menyelamatkan janinnya. Anin pun tidak bisa berdiri terlalu lama atau mengangkat beban yang berat, pak Askara harus memperhatikan dengan baik kondisi Anin kali ini".
Askara mendengarkan dengan seksama setiap penjelasan dokter Ziva mengenai kondisi Anin.
"Saya rasa hanya itu yang ingin saya sampaikan, pak Askara bisa kembali karena sebentar lagi Anin akan di pindahkan ke ruang rawat"
"Terima kasih dok, saya permisi".
Askara bangkit dari duduknya, meninggalkan ruangan dokter Ziva, dia ingin segera bertemu dengan Anin dan melihat langsung kondisi istri mungilnya itu.
Next.?
__ADS_1
like, komen, dan vote