
Diam-diam Askara mengambil foto Anin yang tengah asik bermain ombak di pinggir pantai.
Raut wajah ceria Anin, tak lepas dari pandangannya.
"Anin, hati-hati" peringat Askara saat Anin berlari menghindari ombak sambil tertawa, dia takut Anin terjatuh dan membahayakan kandungannya.
"Iyya mas" balas Anin berteriak.
Askara menggelangkan kepalanya melihat tingkah Anin yang seperti bocah.
"Mas, ayo sini" teriak Anin pada Askara yang hanya duduk di kursi pantai yang tak jauh darinya, mengajak pria itu ikut bermain air.
"Kau saja" balas Askara, dia hanya ingin memerhatikan Anin dari tempatnya.
Anin menyudahi bermain ombaknya karena Askara yang tidak ingin bergabung.
"Kenapa ke sini? sudah bosan bermain airnya seperti bocah SD?" ejek Askara pada Anin.
"Capek mas, gerah juga" keluh Anin karena hari sudah menjelang siang.
"Kau tunggulah di sini" ujar Askara.
"Mas mau kemana?"
"Tunggu saja, hanya sebentar" balas Askara kemudian beranjak dari duduknya.
Anin tidak banyak bertanya lagi, dia merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya untuk berfoto selfie lalu mengirimnya pada Vivi.
Namun, sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal menghentikan aktivitas Anin yang sedang memotret pemandangan pantai.
Kening Anin berkerut, kemudian dia mengangkat telefon tersebut.
"Ya, hallo?" sapa Anin saat panggilan tersambung.
"Anin, ini aku...Ken" balas orang tersebut yang ternyata adalah Ken.
"Ken?, kau dapat nomorku dari mana?" tanya Anin
"Tadi pagi aku ke toko kue, terus kata Doni kau sedang pulang ke kampung, sebelumnya aku juga minta maaf kalau sudah lancang meminta nomor telfonmu pada Doni" ujar Ken
"Tidak papa Ken, maksud aku juga nggak gitu kok"
"Oh iyya, bagaimana keadaan ibumu?" tanya Ken
Anin terdiam sebentar, pasti Doni juga memberitahu Ken, bahwa alasan dia pulang karena ibunya sedang sakit.
"Ibuku sudah baikan, secepatnya pasti sudah sembuh" Anin lagi-lagi harus berbohong.
"Syukurlah, kau kapan pulang ke Jakarta?" tanya Ken.
"Secepatnya, memangnya kenapa Ken?"
"Aku ingin kita bertemu, dan membicarakan soal kejadian di taman kemarin. itupun kalau kau tidak keberatan" ungkap Ken.
Anin tampak bimbang, sebenarnya dia belum siap jika harus bertemu Ken secepatnya ini, karena dia pun masih mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan keadaannya.
"Hallo? Anin ..? kau masih mendengarku?" seru Ken karena Anin mendadak diam.
"Ah Iyya, nanti aku cari waktu yang tepat untuk kita bertemu" balas Anin.
"Baiklah, sampaikan salam ku pada ibumu. terlfonnya aku tutup dulu, sampai bertemu nanti di Jakarta" ujar Ken di penghujung obrolan.
"Iyya"
Klik, sambungan telfon terputus.
"Dari siapa?" tanya Askara dengan suara baritonnya, mengagetkan Anin.
"Mas, sejak kapan kau berdiri di sana?" tanya Anin kaget melihat Askara sudah berdiri di belakangnya dengan dua buah es kelapa di tangannya, tenyata Askara pergi untuk membeli es kelapa muda.
"Sejak saat kau membuat janji untuk bertemu dengan seseorang saat pulang ke Jakarta nanti. apa dia pria di taman itu?" tanya Askara dengan soro mata tidak suka.
Anin diam, yang di maksud Askara pasti Ken.
"Jawab aku, Anin" ujar Askara, berusaha menahan amarahnya mengingat pria itu.
"Iyya mas" jawab Anin pelan.
"Kau masih berhubungan dengannya?" sini Askara.
"Mas, ini tidak seperti yang kau fikirkan. aku dan Ken hanya berteman lagi pula setelah pulang ke Jakarta nanti aku akan menjelaskan mengenai keadaanku agar tidak ada lagi kesalahpahaman antara aku dan Ken " ungkap Anin.
Askara menghela nafas gusar " Lalu kau akan memberi tahu dia, bahwa sekarang kau sedang hamil?"
"Memangnya sampai kapan aku bisa menutupi kehamilan ini, mas. Jujur, aku capek harus berbohong terus menerus pada semua orang apalagi pada mereka yang sudah sangat baik padaku" .
__ADS_1
"Cepat atau lambat mereka pasti akan tau, aku hanya tidak ingin membuat mereka kecewa lebih jauh lagi"
"Kau mungkin tidak pernah tau mas, setiap malam aku selalu memikirkan bagaimana cara menghadapi orang-orang terdekatku terutama ibuku, bagaimana jika akhirnya mereka tau keadaanku yang sebenarnya" ujar Anin dengan setetes air mata yang sudah membasahi pipinya.
Perasaan bersalah muncul di hati Askara setelah mendengar uneg-uneg Anin.
Askara memeluk tubuh mungil istrinya itu.
"Maafkan aku" ujar Askara.
Apa yang terjadi pada Anin, itu karena dirinya.
"Aku takut mas, aku takut untuk menghadapi kemarahan ibu dan kekecewaan orang-orang terdekat yang sudah sangat baik padaku"
Askara mengeratkan pelukannya "Kau tidak perlu takut, aku akan ada untukmu"
Anin mendongakkan kepalanya "Apa aku bisa memegang kata-kata mas Askara?" tanya Anin penuh harap. menatap dalam manik coklat Askara.
Askara mengangguk "Iyya" jawabnya "Sekarang kau habiskan minummu dulu, setelah itu kita pulang ke resort"
Anin mengangguk lemah, perasaannya sudah lebih baik sekarang.
****
Di sebuah cafe yang cukup ramai, terlihat Vivi sedang menopang dagu, menatap layar laptopnya dengan tatapan tak bersemangat.
"Kepala gue puyeng banget liat nih tugas, dari kemarin nggak selesai-selesai" ujar Vivi menggerutu, ini adalah hari kedua dia berada di cafe, mengerjakan tugas yang di berikan oleh salah satu dosennya.
"Coba aja ada Anin, pasti dari kemarin udah kelar" gumam Vivi, jika di bandingkan dengan dirinya. Anin jauh lebih pintar, bahkan sebagian tugasnya selama ini selalu di bantu oleh Anin.
"Rambut gue lama-lama bisa rontok kalo kayak gini terus" Vivi membenamkan wajahnya di meja karena merasa pusing.
Tak jauh dari tempat duduk Vivi, sekretaris Dito sedang bertemu dengan seorang klien bisnis Askara di cafe tersebut.
Sedari tadi Sekretaris Dito mencuri pandang ke arah meja Vivi yang terlihat sedang kalut.
"Saya rasa cukup meeting hari ini kita pak, untuk penandatangan kontrak kerja, bisa kita lakukan setelah tuan Askara pulang dari Bali" ujar sekretaris Dito pada pak Andre, kliennya.
"Baik sekretaris Dito, senang bekerja sama dengan perusahaan ternama seperti Wira's Grup" ujar pak Andre.
Pak Andre pun pamit lebih dulu dari cafe tersebut.
Selepas kepergian kliennya itu, sekretaris Dito berdiri dan melangkah ke arah meja yang di tempati oleh Vivi.
Vivi mengangkat wajahnya saat merasakan kehadiran seseorang.
Raut wajah Vivi bertambah masam saat melihat kehadiran sekretaris Dito di depannya.
"Kau, sedang apa kau di sini?" tanya Vivi tidak suka.
"Ini tempat umum" balas sekretaris Dito.
Vivi mendengus kesal "Aku juga tau, tapi kenapa dari luasnya Jakarta, aku harus selalu bertemu denganmu" Vivi menjadi jengkel jika mengingat di tempat makan bubur ayam.
"Itu hanya kebetulan" ujar sekretaris Dito dengan wajah datarnya.
"Kebetulan yang terlalu sering" dengus Vivi.
"Kalau begitu aku pamit, silahkan di lanjutkan kerjaannya" ujar sekretaris Dito hendak pergi.
"Eh, tunggu" tahan Vivi membuat sekretaris Dito menatapnya dengan kening berkerut.
"Kenapa?" tanya sekretaris Dito.
Wajah Vivi nampak tidak enak "Aku mau minta tolong" ujarnya
"Kau? meminta tolong? tumben" heran sekretaris Dito.
"Kalau tidak karena terpaksa, aku juga tidak mau meminta tolong padamu" sungut Vivi.
Sekretaris Dito menghela nafas "Sekarang katakan, apa yang bisa aku bantu"
Seketika Vivi tersenyum cerah.
"Aku sedang ada tugas kuliah dan harus membuat proposal bisnis, kebetulan kau kan seorang sekretaris kepercayaan Askara dan sudah lama berkecimpung di dunia bisnis, jadi sepertinya membantuku untuk membuat satu proposal bukanlah hal yang susah untukmu" ujar Vivi menampilkan senyum manisnya.
Sekretaris Dito membulatkan matanya mendengar permintaan Vivi "Kau bahkan tidak bisa membuat proposal, lalu kenapa kau kuliah" ejek sekretaris Dito.
Vivi menatap kesal sekretaris Dito "Kau berniat membantu, atau hanya ingin mengejekku?"
Dito menghela nafas berat "Baiklah aku akan membantumu, tapi ini tidak gratis" ujar sekretaris Dito.
"Iyya aku juga tau, nanti aku traktir makan lagi"
"Tidak untuk sekarang, aku akan mengambil traktiranku lain kali, jadi kau harus bersiap kapan saja" ujar sekretaris Dito.
__ADS_1
"Oke...oke.. sekarang duduklah, dan bantu aku menyelesaikan tugasku"
Sekretaris Dito pun duduk di kursi tepat di depan Vivi, dia mengambil alih laptop Vivi dan mulai mengerjakan tugas gadis itu.
Sorot mata Vivi tak lepas dari sekretaris Dito yang tengah serius mengerjakan tugas kuliahnya. Dito ini pria yang tampan namun sikapnya yang kaku dan dingin tidak ada bedanya dengan Askara.
"Selesai" ujar sekretaris Dito mengagetkan Vivi.
"Secepat itu?" tanya Vivi tidak percaya.
"Lihatlah" Dito menyerahkan laptop Vivi, untuk gadis itu periksa.
Benar saja, tugasnya sudah selesai.
"Kau ternyata pintar yah" ujar Vivi memuji sekretaris Dito.
"Kau sedang memujiku?"
Vivi sadar akan ucapannya " Maksudku" Vivi berusaha mencari alasan "Ahh..sudahlah, kenapa kau haus pujian sekali" hardik Vivi.
"Padahal kau yang memujiku" balas sekretaris Dito.
Vivi hendak membalas, tapi dering ponsel Dito menghentikannya.
"Aku harus kembali ke kantor" ujar Dito saat salah satu kliennya menelfon.
Dito berdiri dari duduknya "Aku permisi"
"Thanks yah" ujar Vivi tulus.
"Hemm"
Sekretaris Dito pun meninggalkan Vivi di cafe tersebut.
******
Hari sudah malam, Anin baru saja selesai membersihkan diri.
Saat Anin baru keluar dari ruang ganti, dia tidak mendapati keberadaan Askara.
"Mas..Mas Askara... kau di mana mas?" teriak Anin mencari keberadaan Askara.
Anin berjalan keluar kamar, dia turun untuk mengecek lantai bawah.
"Mas.... kau di mana?" lagi-lagi Anin berteriak menjelajah seluruh ruangan di lantai bawah tapi tidak juga menemukan Askara.
Gurat khawatir serta rasa takut mulai menghantui Anin saat tidak menemukan Askara di mana-mana. dia segera berlari kecil kembali ke atas kamarnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Askara.
Berkali-kali Anin mencoba menghubungi nomor Askara, tapi tidak bisa tersambung.
"Kau di mana, mas... aku takut" air mata Anin mulai menggenang.
Anin mengecek kolam renang siapa tau Askara sedang di sana, tapi nyatanya tempat itu juga kosong.
Tak lama, pintu kamar terbuka. menampilkan Askara dengan pakaian semi formalnya.
"Mas... kau dari mana saja? hiks..hiks" Anin menghambur ke pelukan Askara saat mendapati kehadiran suaminya itu.
Askara bingung melihat sikap Anin "Kau kenapa heh?" tanya Askara mengurai pelukannya.
"Aku mencari Mas Askara sampai ke seluruh ruangan resort ini, tapi mas Askara tidak ada. aku juga meneflon nomormu berkali-kali tapi tidak bisa di hubungi. aku sangat takut mas Askara kenapa-napa" ujar Anin tersedu-sedu, rasa takut dan khawatirnya membuat dia tidak bisa menahan air matanya.
Askara tersenyum lembut mendengar penjelasan Anin.
"Maafkan aku karena tidak memberi tahumu, kau sedang mandi tadi dan ponselku kehabisan daya, aku baru saja akan menchargernya" ujar Askara.
"Memangnya mas dari mana?" tanya Anin, tangisnya sudah reda.
"Secret" ujar Askara tersenyum penuh arti.
"Mas... jangan main rahasiaan, ini sama sekali tidak lucu" kesal Anin.
Askara kembali tersenyum melihat wajah manyun Anin.
"Baiklah, kau sudah siap?" tanya Askara.
"Siap?, siap untuk apa mas?"
"Ayo ikut aku"
Askara menarik tangan Anin menuruni resort, menuju suatu tempat yang di rahasiakan olehnya.
**jangan lupa like, komen, vote.
Askara mau kasih suprise buat Anin? kira-kira apa yah**?
__ADS_1