Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 69


__ADS_3

Askara mengangkat tubuh Anin ke atas tempat tidur, setelah acara makan malam terakhir bersama Mami Sandra usai. Askara segera membawa Anin ke kamarnya.


Dengan telaten Askara menarik selimut menutupi kaki Anin.


"Mas, sudah ku bilang jangan perlakuan aku seperti orang cacat seperti ini. duduk di atas kursi roda seharian saja sudah cukup membuatku merasa seperti orang lumpuh". ujar Anin merasa tidak suka saat Askara melarangnya untuk ini itu, bahkan untuk naik ke tempat tidur saja harus di angkat.


"Anin, jaga bicaramu". peringat Askara tajam saat Anin menyebut dirinya layaknya seperti orang lumpuh.


"Maka dari itu mas, biarkan aku naik ke tempat tidur sendiri, berjalan ke kamar mandi sendiri. aku yakin hal itu tidak akan membahayakan kandunganku".


"Istirahatlah". ujar Askara mengabaikan ucapan Anin.


"Mas, mau kemana?". Anin menahan tangan Askara yang hendak meninggalkannya.


"Aku mau mandi. kenapa? mau ikut?". tanya Askara genit.


"Tidak mau". balas Anin cepat.


"Jangan lama-lama, tapi". ujar Anin layaknya anak kecil. Tidak rela Askara meninggalkannya lama-lama.


"Kenapa kau manja sekali sekarang, heh?". tanya Askara mencubit pipi Anin yang mulai lebih berisi sekarang.


"Entah, aku tidak ingin jauh-jauh dari mas Askara sekarang". ungkap Anin pada perubahan dirinya selama usia kehamilannya bertambah.


"Aku hanya ke kamar mandi, tidak lama. okey?"


"Mmm... okey .tapi cium dulu". ujar Anin yang lebih berani mengekspresikan diri sekarang.


"Kau sudah lebih berani sekarang yah?". ujar Askara tersenyum melihat kelakuan Anin.


Jika tidak mengingat kondisi Anin sekarang, sudah Askara pastikan menerjang Anin tanpa ampun.


"Memangnya kenapa? mas Askara sudah tidak tahan yah?". Anin semakin gencar menggoda Askara.


"****..". umpat Askara segera mencium bibir Anin.


Askara melumatmya dengan penuh gairah. yang dia senang sekarang, Anin sudah tidak lagi pasif.


Anin terlihat begitu menikmati, begitupun dengan Askara yang kini ciumannya berubah lebih panas.


Keduanya begitu larut dalam ciuman yang begitu menggairahkan itu. wajah Askara memerah menahan gejolak di dalam dirinya.


Tapi sebelum Askara benar-benar kehilangan kendali. dia lebih dulu menyudahi ciuman panas mereka.


"Hah..hah...hah..". suara nafas Askara dan Anin tersengal-sengal.


Keduanya berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin setelah ciuman mereka terlepas.


Terlebih dengan Askara, dadanya terasa panas menahan gejolak di dalam dirinya yang segera ingin di tuntaskan.


Bahkan kini juniornya sudah menegak keras di bawah sana.


"Aku harus segera ke kamar mandi". ujar Askara ingin menuntaskan apa yang tertunda di dalam kamar mandi.


Tanpa menunggu jawaban, Askara meninggalkan Anin yang masih berusaha menetralkan deru nafasnya.


Anin sama kacaunya dengan Askara, tapi saat ini dia memang belum bisa memberikan hak Askara karena kondisinya belum memungkinkan.

__ADS_1


*****


Pagi-pagi sekali, semuanya sudah berkumpul di ruang tengah.


Bi Ratih dan Mia baru saja ikut bergabung bersama Askara dan Anin untuk melepas kepergian Sandra.


Raut sedih tercetak jelas di wajah Anin, di mana hari ini Sandra benar-benar akan meninggalkan Indonesia.


Askara sendiri sudah rapi dengan setelan jasnya, berdiri tepat di samping Anin yang duduk di kursi rodanya dengan wajah datar.


"Kau jaga diri baik-baik yah, sayang. jangan beraktifitas yang berat-berat". ucap Sandra mewanti-wanti Anin sebelum dia berangkat ke bandara.


Anin semakin sedih mendengar ucapan Sandra.


"Anin bakalan kangen banget sama Mami". ucap Anin dengan mata memerah.


"Mami juga, sayang". balas Sandra.


"Askara, jaga Anin baik-baik. jangan bikin dia stress ataupun sedih". peringat Sandra pada Askara.


"Iyya, Mi". balas Askara singkat.


"Kalau begitu Mami pamit yah, tunggu Mami balik bersama Papi Argio". Sandra mengelus lembut pipi Anin.


Anin mengangguk tersenyum, sebisa mungkin dia menahan untuk tidak menangis agar Sandra tidak merasa khawatir.


Kemudian wanita yang sebentar lagi akan menjadi Oma itu, tangannya turun mengelus perut Anin yang sudah membesar.


"Sayang, calon cucuku.. Oma pamit balik dulu yah, jangan nakal di dalam perut Mami mu. tumbuh sehat dan kuat yah, supaya kita bisa secepatnya bertemu". Sandra mengusap lembut perut Anin, membuat Anin merasa sangat beruntung di terima dengan baik oleh Mami Sandra selama ini.


"Aku sayang Oma, aku akan jadi anak baik selama di perut Mamah". ujar Anin menirukan suara anak kecil.


"Bi, barang-barang saya sudah siap semua?" tanya Sandra bersiap meninggalkan mansion.


"Sudah nyonya besar, semuanya sudah siap di dalam mobil". balas bi Ratih.


"Terimakasih bi". ucap Sandra.


"Sama-sama nyonya besar".


"Kita antar Mami ke depan". ujar Askara mendorong kursi roda Anin.


"Iyya mas".


Semuanya ikut keluar mengantar Sandra ke halaman luar mansion.


Pak Hilman sudah menunggu di luar sedari tadi.


"Mami berangkat yah" ujar Sandra sekali lagi.


"Kabari Anin kalo Mami sudah sampai". ujar Anin.


"Iyya sayang,. Askara, Mami titip Anin". pesan Sandra.


"Iyya, Mi".


Pak Hilman membukakan pintu mobil untuk Sandra.

__ADS_1


"Mari nyonya besar". ujar pak Hilman.


Sandra kemudian memasuki mobil. pak Hilman pun ikut memasuki mobil.


Mobil pun perlahan melaju meninggalkan mansion menuju bandara.


Anin menatap mobil yang membawa Sandra mulai menghilang dari pandangannya.


Sekarang, salah satu orang yang tulus memberinya kasih sayang berada jauh darinya.


Tak lama berselang setelah kepergian Mami Sandra, mobil yang di kendarai oleh Dito memasuki halaman mansion, bersiap untuk menjemput Askara.


Mobil berhenti tepat di tempat mobil yang membawa Mami Sandra terparkir tadi.


"Selamat pagi tuan, maaf sudah membuat tuan Askara menunggu di luar begini". ujar Dito tidak enak karena melihat Askara dan Anin berdiri di luar halaman mansion.


"Tidak ada yang salah dito, kebetulan kami baru saja melepas kepergian Mami Sandra ke Inggris".


Sekretaris Dito cukup kaget, pasalnya dia tidak mendengar kabar bahwa Mami Askara akan pulang.


"Maaf tuan, saya tidak mengetahui hal itu". balas Dito.


"Hemm..tidak papa".


"Anin..aku berangkat, jaga diri baik-baik di rumah". pamit Askara pada Anin.


"Iyya, mas" balas Anin


Anin mencium punggung tangan Askara, berganti dengan Askara yang mencium kening Anin cukup lama. hal yang sudah menjadi rutinisnya sekarang.


"Mia, bawa Anin masuk. jangan biarkan dia beraktifitas berat". ujar Askara pada Mia yang masih berdiri tepat di belakang mereka.


"Baik tuan". balas Mia.


"Ayo Dito".


"Mari tuan". sekretaris Dito membukakan pintu untuk Askara.


Sebelum ikut memasuki mobil, sekretaris Dito membungkuk memberi hormat pada Anin, tanda bahwa dia juga ikut berpamitan.


Mobil pun ikut melaju meninggalkan mansion, bedanya, kali ini tujuan mereka adalah ke kantor.


"Nona, ayo kita masuk". ajak Mia kini sudah berdiri di belakang kursi roda Anin.


Anin hanya termenung menatap halaman mansion yang begitu luas.


Kepergian Mami Sandra ke Inggris, serta Askara yang berangkat ke kantor sungguh membuat Anin merasa sangat kesepian.


"Mia, rasanya baru beberapa menit di tinggal Mami sandra, tapi mansion rasanya sudah sangat sepi". ujar Anin tak bersemangat.


"Iyya Nona, tapi Nona tidak perlu khawatir. saya akan selalu ada menemani Nona Anin di sini".


Anin tersenyum mendengar ucapan Mia, setidaknya masih ada Mia dan bi Ratih yang menemaninya saat Askara tidak berada di rumah.


"Kau betul Mia".


"Sekarang kita masuk yah, waktunya Nona Anin minum vitamin".

__ADS_1


"Baiklah".


Mia pun mendorong kursi roda Anin memasuki mansion.


__ADS_2