
Anin akhirnya sampai di tempat kerja meski harus melalui perdebatan panjang yang berujung terjadinya kesepakatan antara dirinya dengan Askara.
Pembeli sedang tidak seramai tadi pagi, jadi Anin memutuskan untuk istirahat dan duduk di pojok coffeshop yang masih satu lokasi dengan toko kue.
Dengan menopang dagu, Anin menatap keluar dinding kaca dengan tatapan kosong.
Pikirannya melayang entah kemana.
"Tadi pagi telat, sekarang bengong. Kamu ada masalah apa sih Nin?" celetuk Doni mengambil posisi duduk di samping Anin.
Sedari tadi Doni memperhatikan tingkah Anin yang tidak seperti biasanya.
Anin terkesiap merasakan kehadiran Doni.
"Nggak ada masalah apa-apa kok kak, mikirin kuliah aja sih, lagi banyak tugas" bohongnya, berharap Doni percaya dan tidak banyak tanya lagi.
"Tapi akhir-akhir ini kakak perhatiin kamu masuk kerja full time, terus juga biasanya jam kuliahnya selalu barengan sama Vivi, kamu bolos kuliah yah?" curiga Doni memicingkan mata membuat Anin gelalapan.
Waduh gawat !
Anin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, berfikir keras mencari alasan
Cepat Anin, cari alasan.
"Itu....anu kak..Anin kan udah naik semester jadi jadwal kuliah juga udah berubah, lagian aku sama Vivi beda jurusan jadi sekarang jam kuliah kita udah jarang ada yang barengan, kemarin tuh cuman kebetulan aja, iyaaa....cuman kebetulan aja" jawab Anin gugup, semoga saja Doni percaya.
"Oh gitu, sorry yah soalnya kakak kurang ngerti orang kuliahan sih" cengirnya menampilkan deretan gigi putihnya.
Anin mengucap syukur dalam hati, untung saja Doni mau percaya.
Ini juga salahnya karena kurang memperhatikan kebiasaannya yang masuk kerja hanya setengah hari jika sedang kuliah, namun akhir-akhir ini dia malah masuk secara full time, jelas saja membuat Doni curiga.
"Kakak tinggal dulu yah Nin, mau ngecek kue di dalam oven" ujar Doni berdiri dari duduknya.
"Iyya kak, ini Anin juga udah mau balik kerja lagi" jawab Anin melihat satu per satu pembeli mulai berdatangan.
"Ya udah, semangat yah" Doni mengepalkan tangannya tanda memberi semangat.
Anin mengulas senyum "Makasih kak" jawabnya.
Doni pun berjalan meninggalkan Anin memasuki dapur.
Sedangkan Anin kembali ke tempatnya semula dan melayani pembeli.
Sebenarnya sedari pagi saat berangkat bekerja, Anin selalu merasakan kram di perut bawahnya seperti orang yang hendak datang bulan.
Begitupun sekarang, Anin kembali merasakan kram di perut bawahnya.
Di raihnya kursi dan mendudukkan bokongnya, mengambil sebotol air putih di atas meja dan meminumnya berharap rasa sakitnya hilang.
Anin menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan, rasa sakit itu pun berangsur menghilang.
Butiran keringat menelisik keluar dari pori-pori kulitnya membuat Fika yang baru saja keluar dari dapur menatap Anin lekat
" Nin Lo nggak papa?" tanya Fika meletakkan nampan berisi kue yang baru saja keluar dari oven, menghampiri Anin yang tampak pucat.
"Gue nggak papa Fik, cuman telat sarapan aja tadi makanya maag ku kambuh, tapi sekarang udah mendingan kok" ujar Anin menenangkan Fika yang terlihat khawatir.
"Lo yakin?"
"Gue yakin, ini udah mau lanjut kerja lagi" Anin meyakinkan Fika dengan memasang senyum seceria mungkin.
"Ya udah, Lo kalo butuh apa-apa bilang ke gue atau kak Doni"
Anin mengangguk "Makasih yah"
Fika pun melanjutkan kerjanya.
Anin menguatkan dirinya, dan kembali melanjutkan kerjanya.
Bersamaan dengan itu, seorang pria berjalan memasuki toko.
Pria tersebut sedang melihat lihat deretan cake cantik yang tersusun di etalase.
Karena merasa tidak pandai dalam memilih, dia pun memutuskan untuk bertanya pada pegawai yang sedang berdiri membelakanginya.
"Maaf mbak boleh bantu saya nggak?" tanyanya meminta bantuan, membuat Anin yang sedang membereskan meja berbalik.
Pandangan mereka bertemu.
"Ken.."
__ADS_1
"Anin " seru keduanya bersamaan.
Keduanya kemudian tertawa menyadari mereka kompak menyebut nama masing-masing.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Anin.
"Aku sedang mencari kue" jawab Ken.
"Untuk pacarmu?"
"Bukan, untuk kakakku. hari ini dia ulang tahun" jawab Ken menepis perkiraan Anin.
"kamu pemilik toko ini?" tanya Ken mengira Anin pemilik toko tersebut
Anin tersenyum mendengar perkataan Ken "Bukan, aku kerja di sini"
Ken membulatkan mulut tanda sedang ber Oh ria.
"Btw, kamu lagi cari kue yang kayak gimana. ini semua kue terenak di toko kami, dan yang pasti semuanya baru saja di buat" puji Anin semangat mempromosikan kuenya.
Ken terkekeh melihat semangat Anin menawarkan kue nya "Ternyata marketingmu oke juga yah" pujinya.
"Harus dong, supaya gaji juga nambah" canda Anin, keduanya terlihat sudah akrab padahal baru ketiga kalinya bertemu itupun dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Kalo gitu aku minta tolong bantu milihin kue buat kakak aku" Ken minta bantuan Anin.
"Kakakmu cewek apa cowok" tanya Anin.
"Cewek, dia seorang dokter" jawab Ken.
Mata Anin pun berpencar memilih satu per satu kue dengan tema seperti apa yang cocok untuk kakak perempuan Ken.
"Kalo yang ini bagaimana?" tunjuk Anin pada kue dengan warna putih soft yang ia atasnya di hiasi buah strawberry utuh segar.
Simpel tapi terkesan manis.
Ken tersenyum melihat pilihan Anin "Kamu sepertinya tau selera kakakku, dia memang menyukai hal yang simple" ucap Ken.
Anin menatap tak percaya "Benarkah?" girangnya.
"Aku ambil yang itu" akhirnya pilihan Ken jatuh pada kue yang di pilih oleh Anin.
"Mau tambah tulis nama nggak?" tawar Anin .
Anin pun mengeluarkan kue tersebut, mengambil buttercream yang sudah di masukkan ke dalam plastik yang ujung runcingnya sudah digunting terlebih dahulu.
"Sekarang tulis nama kakak kamu di sini" Anin memberikan selembar kertas kecil agar Ken menulis nama kakaknya, ini untuk menghindari kesalahan penulisan huruf nantinya.
Ken pun mengambil kertas tersebut kemudian menulis nama kakaknya.
Sudah, Ken menyerahkannya pada Anin "Nih"
"Ziva Mahendra" gumam Anin memulai aktivitas write on the cake nya.
Anin melakukannya dengan wajah serius dan tenang agar tidak terjadi kesalahan dan juga agar hasil tulisannya terlihat rapi.
Ken memperhatikan dengan seksama tapi fokusnya hanya ke wajah Anin.
Matanya tak lepas dari wajah serius Anin, anak rambutnya yang tumbuh tidak beraturan menambah kesan manis di wajah Anin.
Entahlah, hati Ken merasa seperti tersengat hanya dengan memandangi wajah Anin. senyumnya pun tidak pernah luntur.
"Cantik" celetuk Ken tidak menyadari ucapannya yang keluar begitu saja.
Anin yang tengah serius tiba-tiba mengangkat kepala "Apa?" tanyanya mendengar ucapan Ken.
Ken tampak gelalapan seperti orang yang sedang tertangkap basah karena habis mencuri.
"Cantik, maksudku kuenya cantik" jawab Ken asal dengan cepat.
"Oh..aku kira apa, tunggu bentar yah ini udah mau selesai" ucapnya tidak merasa ada yang aneh pada Ken.
"Ah Iyya"
Anin pun kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
"Selesai" seru Anin meregangkan kedua tangannya.
"Udah selesai yah?" tanya Ken karena tadi memilih fokus pada ponselnya.
"Udah, nih" Anin menunjukkan hasilnya pada Ken "Gimana bagus nggak?" tanyanya meminta pendapat.
__ADS_1
"Kalau kamu yang buat pasti bagus" puji Ken membuat Anin tersipu malu.
"Mulai deh gombal" Anin memutar bola mata malas .
"Emang fakta kok" Ken tidak mau kalah.
Anin memilih tidak menanggapi, semenjak pertemuannya dengan Ken kemarin, Anin sedikit tau bahwa Ken ini ternyata juga jago gombal, hadeh.
kasian pasti pacarnya nanti. batin Anin.
Anin segera memasukkan kue tersebut ke dalam box, lanjut dengan Ken yang melakukan pembayaran.
"Semoga kakak kamu suka yah" harap Anin.
"Udah pasti sih, kan di pilihin sama cewek cantik kek kamu" gombal Ken lagi membuat Anin bergidik ngeri.
Apa Anin bilang Ken ini sepertinya titisan raja gombal.
"Aku cabut dulu yah, dan makasih udah milihin kuenya" pamit Ken dengan box berisi kue di tangannya.
Anin hanya membalas dengan anggukan, dapat di lihatnya dari dalam toko yang dominan berdinding kaca, Ken sudah melajukan mobilnya.
Hari sudah sore, Anin baru saja sampai di mansion.
badannya terasa sangat lelah.
Ia mencari keberadaan Askara namun tidak menemukannya, begitupun dengan Mami Sandra.
Tidak mau ambil pusing, Anin ingin segera memasuki kamarnya, ingin mandi dan berendam air hangat agar rasa capeknya hilang.
Memasuki kamar, Anin juga tidak melihat kehadiran Askara. kemana kira-kira.
Buru-buru Anin memasuki kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat.
Anin menanggalkan semua pakaiannya, memasukkan kedua kaki mulusnya ke dalam bathtub. perlahan membaringkan tubuhnya hingga tenggelam tertutupi busa sabun.
Anin memejamkan matanya sejenak.
"Ahh segarnya" gumamnya merasakan sensasi segar dari bau harum sabun cherry favoritnya.
Sebenarnya ia ingin berlama-lama berendam tapi takut nanti kulitnya jadi kering. akhirnya Anin memutuskan untuk menyudahi acara mandinya.
Tangan Anin meraih bathrobe berwarna putih yang menggantung kemudian mengenakannya.
Anin seperti mencari-cari sesuatu. Astaga dia lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.
Bagaimana ini? dia takut keluar hanya dengan menggunakan jubah mandi, bagaimana jika Askara sudah berada di kamar.
Anin memberanikan diri untuk keluar, ia sedikit membuka pintu kamar mandi dan menyembulkan kepalanya keluar untuk melihat suasana kamar.
Aman, Askara belum berada di kamar.
Dengan santainya Anin membuka seluruh pintu kamar mandi.
Kakinya melangkah hendak menuju walk in closet tempat pakaiannya berada.
Namun baru beberapa langkah, pintu kamar sudah terbuka dan menampilkan Askara yang berdiri dengan wajah datarnya.
Anin refleks menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
"Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk" gerutu Anin merasakan gugup berdiri di hadapan Askara hanya mengenakan jubah mandi.
"Ini kamarku kalau kau lupa, jadi untuk apa aku harus mengetuk pintu kamarku sendiri" seloroh Askara berjalan masuk.
Bodoh, Anin merutuki ucapannya sendiri.
"Tapi kan sekarang pak Askara tinggal di kamar ini tidak sendirian lagi" ucap Anin mengingatkan.
Askara duduk di sofa meneliti tubuh Anin dari bawah sampai atas.
"Kau kira aku akan tergoda dengan tubuh ratamu itu?" cemooh Askara.
Anin membulatkan matanya, apa katanya? rata?.
"Dari mana pak Askara tau kalau tubuhku rata?" tanyanya kesal masih tidak terima di katai tepos.
Seringaian licik muncul di bibir Askara "Kau lupa? kau hamil karena siapa? meskipun waktu itu aku dalam keadaan mabuk tapi aku masih bisa mengingat dengan jelas sampai sekarang setiap inci dari tubuhmu itu" jelas Askara membuat tubuh Anin menegang.
"Jangan di lihat lagi" tegur Anin pada Askara yang memandangi tubuhnya intens.
Semburat malu dan juga marah bercampur menjadi satu di wajahnya, Anin menatap nyalang Askara yang duduk santai di atas sofa.
__ADS_1
"Dasar om-om mesum" teriaknya semakin mengeratkan kedua tangannya di dadanya, berlalu memasuki walk in closet untuk berpakaian sekaligus menghilangkan rasa malunya dari wajah Askara.
Tanpa sadar Askara tertawa kecil karena telah berhasil menggoda Anin, padahal sejujurnya sedari tadi dia sedang menahan gejolak aneh dalam dirinya karena melihat Anin yang hanya mengenakan jubah mandinya.