Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 45


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu oleh Sandra akhirnya tiba juga, hari ini Anin dan Askara akan berangkat untuk babymoon ke Bali.


Walau dengan berat hati, Anin harus pergi begitupun dengan Askara. kondisi di antara keduanya belum juga membaik usai pertengkaran kemarin. karena sejak tadi pagi, Anin dan juga Askara tidak terlibat pembicaraan sama sekali.


Anin terlihat sangat cantik menggunakan dress casual selutut berwarna biru laut, dress tersebut mencetak dengan jelas perut Anin yang mulai membuncit, kali ini Anin tidak harus tersiksa menggunakan korset karena tidak akan ada yang mengenalinya.


"Wah, cantik sekali mantu Mami". puji Sandra yang sebentar lagi akan melepas Anin ke Bali.


Anin tersenyum lembut "Makasih, Mi. Mami juga selalu cantik" balas Anin memuji kecantikan mertuanya membuat Sandra tertawa ringan.


"Kalau anak Mami yang satu ini, always gantengnya". Sandra beralih pada Askara yang menggunakan pakaian santai, celana selutut dan baju kaos, simple tapi justru menambah tingkat ketampanan Askara.


Askara yang mendapatkan pujian dari Maminya hanya diam tidak berniat membuka suara.


"Anin, kamu jaga kesehatan yah. jangan terlalu capek, semua vitamin dan obat dari dokter Ziva kamu bawa kan?". tanya Sandra.


Anin mengangguk "Semuanya aku bawa kok, Mi"


"Bagus kalau begitu. dan untuk kamu Askara jaga Anin baik-baik, jangan buat dia capek dan selalu ada di samping Anin". Sandra terus mewanti-wanti Askara.


Askara memutar bola mata jengah, Maminya terlalu cerewet.


"Bisa kita berangkat sekarang?" tanya Askara sarkas.


"Tunggu dulu, Mami belum memeluk Anin" tahan Sandra yang tiba-tiba berubah jadi melow. dia akan merasa kesepian karena tidak ada Anin di mansion selama tiga hari.


"Sini sayang, Mami akan sangat merindukanmu. bersenang-senang di sana yah". Sandra memeluk tubuh Anin.


Anin membalas pelukan Sandra dengan seulas senyum "Mi, Anin cuman pergi selama 3 hari, aku juga akan merindukan Mami". ujar Anin.


Askara menatap dua wanita beda generasi di depannya dengan tatapan malas.


"Hemm.. Mau sampai kapan kalian berdua akan berpelukan terus? apa kita tidak akan berangkat?" tanya Askara jengah.


Keduanya melepas pelukan.


"Kalian berdua hati-hati". ujar Sandra


"Mami juga jaga diri baik-baik di sini". ujar Anin.


Sandra mengangguk.


Anin dan Askara kemudian meninggalkan mansion.


Keduanya di antar oleh pak Hilman ke bandara, karena Dito bertugas menggantikan Askara di kantor selama beberapa hari ke depan.


Di dalam mobil, Anin dan Askara tidak saling membuka suara. Askara lebih memilih fokus pada ponsel di tangannya, sedangkan Anin fokus menatap keluar gedung-gedung sepanjang jalan yang di lewati.


Mobil yang membawa Anin dan Askara sampai di bandara. dua orang petugas berjalan mendekat ke arah mobil, kemudian mengeluarkan koper Anin dan juga Askara.


"Silahkan tuan, pesawat sudah siap". ujar salah satu petugas yang ternyata adalah salah satu orang yang bekerja untuk Askara.

__ADS_1


"Mari Nona". ujarnya juga pada Anin.


Askara dan Anin memasuki bandara di tuntun oleh petugas tadi.


Jujur, ini kali pertama Anin akan naik pesawat apalagi di tambah dia yang takut akan ketinggian, tapi semoga saja Anin bisa melewati semua ketakutannya.


Askara berjalan di depannya dengan langkah lebar. sikap Askara seolah acuh padanya. ini bukan masuk dalam kategori babymoon ataupun honeymoon, karena Askara seolah melupakan kehadiran Anin yang sedang berjalan susah payah menyamai langkah lebarnya.


Tadinya Anin berharap tangannya akan di genggam erat sepanjang perjalanan, tapi nyatanya semua hanya angannya semata.


Terpaan angin kencang menerpa wajah Anin saat sudah sampai di landasan pacu pesawat.


Mulut Anin terbuka sempurna saat sebuah private jet bertuliskan Wira's Grup terparkir di depan matanya.


Anin masih tidak percaya, namun dia kembali pada kenyataan bahwa Askara adalah seorang pengusaha terkenal, sudah pasti membeli private jet bukanlah perkara sulit.


"Mas, kita akan naik ini?" tanya Anin ragu.


Askara yang sejak tadi hanya diam menatap Anin dari balik kacamata hitamnya.


"Iyya, memangnya kenapa?" tanya Askara balik.


"Tidak apa-apa Mas,". jawab Anin yang sebenarnya mulai merasakan ketakutan.


Petugas tadi meletakkan koper Anin dan juga Askara di bagasi pesawat.


"Semuanya sudah siap tuan" lapor petugas tersebut pada Askara.


"Hemm" singkat Askara.


Namun, satu tangan Askara terulur pada Anin.


"Pegang tanganku" ujar Askara memberikan bantuan pada Anin untuk menaiki tangga pesawat, dia tidak ingin Anin kenapa-napa.


Anin menatap tangan Askara yang terulur untuknya, dengan ragu Anin menyambut tangan Askara dengan perasaan campur aduk.


"Terima kasih mas" ujar Anin tersenyum.


Saat memasuki pesawat, Anin kembali di buat terperangah dengan mewahnya isi dari private jet milik Askara.


Anin mengikuti langkah Askara menuju kursi pesawat, mereka duduk bersebelahan.


Dengan menarik nafas serta mengucap do'a dalam hati, Anin terus memejamkan matanya saat pesawat sudah lepas landas.


Askara menyadari kegelisahan Anin yang duduk dengan gusar di sebelahnya. di lihatnya mata Anin terus terpejam dengan bulir-bulir keringat yang keluar dari jidatnya padahal AC pesawat menyala.


Aneh, batin Askara.


"Kau kenapa?" tanya Askara membuat Anin refleks membuka mata.


Wajah Anin terlihat pucat pasi, Askara menjadi panik.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" tanya Askara lagi.


"Mas, aku takut" ujar Anin lemah.


"Takut? kau takut apa?" kening Askara mengkerut.


"Aku takut ketinggian, Mas" jawab Anin mengalihkan wajahnya dari jendela pesawat, itu yang membuat Anin semakin takut karena posisi duduknya yang tepat di dekat jendela.


Askara mengerti sekarang, dia tidak tega melihat kondisi Anin.


"Kita tukar posisi" ujar Askara yang akan menempati bangku tempat Anin duduk.


Anin mengangguk lemah karena memang dia sudah tidak tahan lagi, Askara membantunya berdiri agar Anin bisa duduk di tempatnya.


Sekarang, duduk keduanya sudah berganti posisi.


"Bagaimana?, sudah lebih baik?" tanya Askara memastikan.


"Hemm" jawab Anin yang kondisinya sudah lebih baik.


Tanpa di duga oleh Anin, Askara tiba-tiba menggenggam tangannya.


"Kau bisa meremas tanganku jika masih merasa takut" ujar Askara menggenggam erat tangan Anin.


Perasaan Anin menghangat, dia menatap lekat tangan mungilnya yang membenam di balik tangan besar Askara.


Tak hanya sampai di situ, Askara juga kembali memberikan perhatian pada Anin.


"Tidurlah" ujar Askara menepuk bahunya "Kau akan melewati rasa takutmu jika tertidur, nanti aku bangunkan setelah kita sampai".


Anin merasa sifat perhatian Askara sudah kembali, mungkin itu artinya pria di sampingnya itu sudah tidak marah lagi.


"Tapi Mas, nanti badan kamu pegal-pegal" ucap Anin tidak enak.


"Lakukan saja, sebelum aku berubah fikiran".


"Baik, Mas".


Perlahan Anin merebahkan kepalanya di bahu lebar Askara. Hal pertama yang Anin rasakan adalah rasa nyaman.


Tidak menunggu lama, rasa kantuk mulai menyerang Anin. akhirnya dia tertidur dengan tangan yang masih bertaut dengan Askara. rasanya Anin tidak rela melepaskan tangan Askara.


Askara menoleh ke samping, di mana Anin sudah terlelap dengan bersandar di bahunya.


Askara membenarkan posisi kepala Anin, agar tidur gadis itu terasa nyaman. di tatapnya tangan Anin yang menggenggam erat tangannya dengan perasaan yang Askara sendiri tidak mengerti.


Berada di dekat Anin, Askara akui dia merasa nyaman. Pertengkarannya kemarin pun membuat Askara tidak betah untuk berlama-lama marah pada Anin.


Askara mencoba memahami perasaannya sendiri, apa dia sudah mulai jatuh cinta pada Anin?, walaupun di hatinya masih ada satu nama yang belum bisa dia lupakan.


**Hallo gayss ... Maaf updatenya lama

__ADS_1


part ini agak pendek yah soalnya ini juga nyuri-nyuri waktu di tengah kesibukan.


Do'ain author biar urusannya cepat selesai dan bisa update tiap hari**.


__ADS_2