
Plak!
Mami Sandra menampar keras wajah Askara, membuat suasana di mansion menjadi tegang.
Vivi yang juga ada di mansion saat ini bahkan sampai berjengkit kaget mendengar kerasnya tamparan yang berikan Mami Sandra pada Askara. dia sudah mencari Anin kemana-mana bersama dengan sekretaris Dito, tapi dia kehilangan jejak Anin jadi Vivi memutuskan untuk ikut ke mansion menunggu Anin pulang.
"Sudah berapa kali Mami peringatkan, jangan pernah berhubungan lagi dengan Dalila, tapi kenapa kau tidak pernah dengarkan perkataan Mami, Askara?". Nafas Mami Sandra memburu merasakan emosinya yang meluap-luap.
"Sekarang keberadaan Anin pun kau tidak tau di mana. di luar sana sedang hujan deras dan Anin sendirian. Mami tidak pernah tau apa yang ada di fikiranmu saat ini. Mami benar-benar muak dengan kelakauanmu, Askara". Murka Mami Sandra, dia khawatir dengan keadaan Anin di luar sana.
"Aku minta maaf, Mi". sesal Askara dengan kepala tertunduk. dia pun sangat khawatir dengan keadaan istrinya yang tengah hamil besar.
"Permintaan maafmu tidak akan mengembalikan keadaan, Askara. kalau sampai terjadi sesuatu dengan Anin di luar sana, Mami pastikan kau akan menyesal". ancam Mami Sandra tidak main-main.
Vivi yang terus menerus menghubungi nomor Anin tak kalah khawatirnya.
"Bagaimana, Vi?." tanya Mami Sandra berharap nomor Anin sudah bisa di hubungi.
__ADS_1
Vivi menggeleng dengan wajah sedihnya "Anin nggak bisa di hubungi, Tante". ujar Vivi.
Mami Sandra menjadi gusar mendengar jawaban Vivi. nomor Anin sedari tadi tidak bisa di hubungi.
"Anin, kau di mana sayang?". gumam Mami Sandra mondar-mandir sambil terus melihat ke arah pintu utama mansion.
Taxi yang di tumpangi Anin berhenti tepat di depan mansion, dia lalu turun setelah membayar.
Mobil Ken juga berhenti tidak jauh di belakang sana. dia benar-benar mengikuti Anin dan memastikan bahwa wanita itu sampai di mansion dalam keadaan baik-baik saja.
Anin berjalan memasuki mansion dengan langkah gontai karena merasa sangat lemas, jaket yang di berikan oleh Ken tadi masih melekat menutupi tubuhnya yang sudah basah kuyup.
Samar-sama Anin mendengar suara Mami Sandra yang terdengar begitu marah, entah pada siapa.
"Mi.." panggil Anin dengan suara pelannya. berdiri dengan pakaian basah, bahkan tetesan air dari pakaian yang di kenakannya membasahi lantai mansion.
"Anin". seru Mami Sandra, Vivi dan juga Askara, bersamaan dengan ambruknya tubuh Anin ke lantai.
__ADS_1
"Aniiiin". pekik Askara berlari saat melihat tubuh istrinya sudah tergelatak di atas lantai. Anin pingsan.
Askara menepuk wajah Anin yang terlihat begitu pucat dengan bibir yang sudah membiru. "Bangun, Nin. jangan buat aku khawatir". suara Askara terdengar bergetar.
"Bawa Anin ke kamar tamu". titah Mami Sandra cepat, wajahnya terlihat begitu cemas.
Askara langsung membopong tubuh Anin menuju kamar tamu karena itu adalah kamar terdekat.
"Dito, cepat kamu hubungi dokter Arga". ujar Mami Sandra.
"Baik Nyonya besar". balas sekretaris Dito.
Sesampainya di kamar tamu, Askara merebahkan tubuh Anin secara perlahan. dia merasa sangat bersalah sekarang setelah melihat kondisi Anin yang seperti ini. Anin pasti sangat kecewa padanya.
"Kau tunggu di luar, Mami mau ganti pakaian Anin bersama Vivi". seru Mami Sandra yang membawa pakaian ganti untuk Anin.
Askara menurut tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
__ADS_1