
"Nin, bangun. udah pagi". Vivi mengguncang tubuh Anin yang masih bersembunyi di balik selimut.
Anin menggeliat membuka matanya perlahan. rasanya masih mengantuk karena dia baru bisa tidur jam 2 malam. bukan hanya karena sedang banyak beban fikiran, tapi semenjak perutnya semakin membesar, Anin kesulitan mencari posisi tidur yang nyaman.
"Udah jam berapa, Vi?". tanya Anin merentangkan kedua tangannya.
"Jam 8 pagi".
"Apa?". Anin membulatkan mata sempurna. "Kok Lo baru bangunin gue, sih?, kan hari ini gue rencana mau ke rumah sakit bawain ibu sarapan". gerutu Anin turun dari tempat tidur.
"Lo mau ke mana?". tanya Vivi
"Mau ke dapur, masak. ibu pasti belum sarapan".
"Nggak usah, tadi pagi bude nelfon katanya nggak usah bawa makanan ke rumah sakit karena Askara udah pesen makanan untuk di antar ke sana setiap jam makan, baik itu sarapan, makan siang, sore, malam, pokoknya Askara udah atur semuanya. dia nggak mau Lo kecapean". jelas Vivi sesuai perintah bude Yuni.
Anin kembali duduk di tepi ranjang lalu kembali bangkit lagi. "Ya udah, kalau gitu gue mau bikin sarapan buat Mas Askara sama sekretaris Dito".
"Nggak usah, Nin". larang Vivi lagi.
Anin mengangkat satu alisnya. "Kenapa lagi?, apa Mas Askara juga pesen makanan untuk di antar ke sini?". tanya Anin sedikit kesal karena Vivi terus saja melarangnya.
Vivi bersedekap sambil bersandar di pintu. "Bukan begitu, tapi Askara dan sekretaris Dito udah nggak ada di sini". ujar Vivi sambil memainkan kuku-kukunya.
"Nggak ada gimana maksudnya?, ckk..ngomong yang jelas".
Vivi menghela nafas sejenak, mungkin Anin akan terkejut setelah mendengar penjelasannya. "Pagi-pagi banget Askara harus pergi dan berangkat ke Prancis, katanya salah satu anak perusahaannya lagi ada trouble di sana, dan Askara harus turun tangan sendiri".
Deg. jantung Anin mencolos, mengetahui Askara pergi ke Prancis tanpa pamit padanya.
"Jam berapa Mas Askara pergi?". tanya Anin di tengah-tengah keterkejutannya.
Vivi coba mengingat-ingat. "Subuh tadi, sekitar jam 5."
"Kenapa Lo nggak bangunin gue, Vi". Anin sedikit kesal, meskipun dia belum memaafkan Askara tapi penting baginya untuk melihat kepergian Askara, dan kini hatinya tiba-tiba merasa hampa.
__ADS_1
"Gimana gue mau bangunin Lo, kalo Askara sendiri yang larang buat nggak bangunin Lo. gue tau Lo baru bisa tidur jam 2 malam dan gue ngasih tau Askara, makanya dia nggak tega ganggu tidur Lo, dia cuman nitip pesan". terang Vivi.
"Kira-kira berapa lama Mas Askara di sana, Vi?". tanya Anin tak bersemangat.
"Katanya sih dua Minggu, itupun kalo masalahnya cepat selesai. dan Askara juga nitip pesan, Lo harus jaga pola makan dan istirahat yang cukup, dia bakal hubungin Lo nanti kalo udah sampe, dan satu lagi, katanya Lo di suruh balik ke Jakarta kalo ibu Lo udah sembuh". Vivi menyampaikan semua pesan yang Askara sampaikan padanya sebelum berangkat.
Anin hanya terdiam, merasakan hal aneh berkecamuk di dalam hatinya. dia masih marah pada Askara tapi dia juga merasa tiba-tiba perasaannya hampa saat tau suaminya itu akan pergi selama dua Minggu.
"Mending Lo sarapan dulu, abis itu gue anter ke rumah sakit. kebetulan gue juga harus balik ke Jakarta karena ada kuliah nanti siang". ujar Vivi yang di angguki lemah oleh Anin.
"Hemm". Anin berdiri dan melangkah tak bersemangat menuju meja makan.
****
Sejak tadi Anin hanya duduk melamun di dalam ruang rawat ibunya. sesekali mengecek ponselnya menunggu kabar dari Askara.
Bu Risa memperhatikan sikap Anin yang terlihat aneh. putrinya itu hanya duduk diam dengan memasang wajah murung, biasanya Anin akan banyak bicara, tapi kali ini lebih banyak diam.
"Anin". panggil Bu Risa.
Bu Risa menggeleng. "Tidak nak, suami kamu tidak ikut kemari?". Bu Risa mencari keberadaan menantunya.
Anin terdiam sejenak. "Tidak Bu, Mas Askara berangkat ke Prancis subuh tadi. perusahaannya di sana lagi ada masalah". terang Anin padahal dia sendiri tidak melihat suaminya berangkat.
"Prancis?". Bu Risa tertegun. "Apa suamimu sekaya itu, Nin? punya perusahaan sampai ke luar negeri segala?". tanya Bu Risa tak percaya.
"Aku tidak tau, Bu". Anin malas menanggapi terlalu jauh.
"Aku mau keluar sebentar yah, Bu. mau nyari angin segar". Anin bangkit dari duduknya.
"Iyya, nak". Bu Risa menatap kepergian Anin, mungkin penyebab putrinya itu murung dan lebih banyak diam karena Askara berangkat ke Prancis.
Di dalam pesawat, Askara terus menerus menatap foto Anin yang terdapat di dalam galeri ponselnya. dia sebenarnya berat hati untuk meninggalkan Anin dalam jangka waktu dua Minggu apalagi istrinya itu sedang hamil besar.
Saat di beritahu oleh Dito subuh tadi, Askara terus menerus menggerutu karena beritanya terlalu mendadak dan dia belum menyiapkan segala keperluannya. dan yang membuat Askara semakin kesal adalah karena dirinya tidak bisa berpamitan langsung dengan Anin. dia tidak tega membangunkan istrinya itu karena kata Vivi, Anin baru bisa tidur saat menjelang pagi.
__ADS_1
Askara bertekad untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, agar bisa kembali ke tanah air segara.
******
Sudah hampir satu bulan Anin tinggal di rumah ibunya dan selama itu pula Anin tidak pernah bertemu dengan Askara.
Askara hanya menghubungi Anin sekali itupun lewat pesan untuk mengabari bahwa dirinya sudah sampai, dan itu adalah sebulan yang lalu. karena sampai detik ini, Askara tidak pernah lagi menghubungi Anin.
Anin duduk di teras rumahnya seorang diri, berkali-kali mengecek ponselnya berharap ada kabar dari Askara. itu yang di lakukan Anin hampir setiap hari.
Namun bukan berarti Anin hanya menunggu Askara yang mengabarinya, berkali-kali dia pernah menelfon Askara tapi tidak pernah di angkat.
Bu Risa yang baru pulang dari pasar mendekati Anin yang duduk sendirian di teras rumah rumah. kondisi Bu Risa sendiri sudah lebih baik dan sudah bisa beraktifitas seperti dulu.
"Lagi mikirin apa?". tanya Bu Risa duduk di samping Anin.
"Enggak lagi mikirin apa-apa kok, Bu". bohong Anin.
Bu Risa tersenyum karena putrinya itu tidak pandai berbohong. "Kamu lagi mikirin Askara, kan?". tebak Bu Risa.
Anin diam tak menjawab.
"Kenapa kamu tidak balik ke Jakarta, nak?. sudah sebulan loh kamu di sini".
Anin menatap ibunya. "Ibu ngusir aku?, ibu nggak suka aku di sini?". wajah Anin berubah sedih.
Bu Risa menggeleng dengan cepat. "Bukan begitu maksud ibu, nak. tapi kamu ini sudah berkeluarga, kamu punya suami yang harus di urus. apa kata orang nanti kalau kamu di sini lantas suami kamu ada di Jakarta". Bu Risa coba memberi pengertian .
"Bu, aku aja nggak tau apa Mas Askara sudah ada di Jakarta atau masih di luar negeri. dia tidak pernah memberi kabar, Bu". ujar Anin tertunduk sedih.
"Mungkin suami kamu sedang sibuk, coba di hubungi lagi". saran Bu Risa.
"Nanti saja, Bu. aku mau sendiri dulu".
"Ya sudah, ibu masuk ke dalam dulu". Bu Risa beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Anin yang ingin sendirian.
__ADS_1