Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 105


__ADS_3

Askara mencari-cari keberadaan Anin tapi tidak menemukannya di mana-mana. dirinya tertidur di dalam kamar Anin tadi, dan saat bangun, dia tidak mendapati satu orang pun di dalam rumah, termasuk sekretaris Dito dan juga Vivi.


"Kau dari mana saja?". tanya Askara langsung saat melihat Anin memasuki rumah.


"Dari rumah tetangga". jawab Anin cuek.


"Ngapain?, kau habis gosip yah?." tebak Askara.


Anin mendelik. "Enak aja, aku nggak kayak gitu yah". ujarnya tak terima.


"Terus abis ngapain?". tanya Askara memasukkan kedua tangganya ke dalam celana kainnya. kemeja hitamnya tergulung hingga ke siku di tambah rambut yang acak-acakan sehabis bangun tidur membuat Anin meneguk salivanya susah payah. penampilan Askara sungguh menggoda imannya.


"Kau lihat apa?". Askara tersenyum nakal saat menyadari tatapan mata Anin.


Anin memalingkan wajahnya ke arah lain. "A-apa?, aku tidak lihat apa-apa".


Askara semakin mendekat. "Kau pasti merindukannya kan?, jujur saja, Nin. aku dengan senang hati akan memberikannya, mumpung rumah lagi sepi". goda Askara.


Anin semakin gugup. "Apa sih, nggak jelas". Anin hendak meninggalkan Askara namun tangannya dengan cepat di tarik membuatnya menabrak dada bidang Askara.


"Baiklah.. kau mungkin gengsi untuk mengakuinya, tapi aku akan jujur kalau aku benar-benar merindukanmu, Nin". Askara berbisik tepat di telinga Anin membuat tubuhnya seketika mendadak tegang.


Askara menarik pinggang Anin membuat perut buncit Anin bertemu dengan perut ratanya.


"Aku yakin, anak kita juga rindu di jenguk oleh papanya". Askara mulai di kuasai kabut gairah.


Anin menggigit bibir bawahnya, dia sekuat tenaga membentengi diri agar tidak terpengaruh oleh Askara. satu ide muncul di kepala Anin, dan..


"Aawwww." Askara refleks melepaskan tangannya dari pinggang Anin dan memegangi kakinya yang sakit karena di injak oleh Anin.


Sedangkan Anin menjadikan kesempatan itu untuk melarikan diri dari jeratan Askara.


"Awas kau, Nin. aww..". Askara meringis kesakitan, Anin menginjak kakinya begitu keras.


Askara duduk di sofa untuk mengecek kakinya.


*****


Hari sudah semakin sore, dan Askara sudah merasa sangat gerah, apalagi di rumah Anin tidak ada AC membuat dia terus berkeringat.

__ADS_1


Askara menghampiri Anin yang sedang duduk bersandar sambil berselonjor kaki di dalam kamarnya.


"Anin, aku mau mandi. kamar mandinya di mana?". tanya Askara sudah tidak tahan lagi.


"Di belakang". jawab Anin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.


"Handuk mana?". tanya Askara.


"Tuh, di lemari". tunjuk Anin lewat ekor matanya.


Askara bergegas membuka lemari, setelah mendapatkan handuk dia segera menuju kamar mandi. tapi tak lama kemudian.


"Anin". Askara kembali berteriak memanggil Anin.


Anin merasa geram dan meletakkan ponselnya secara kasar di atas tempat tidur lalu bergegas menghampiri Askara.


"Ada apa lagi sih, Mas?. berisik tau nggak". Anin menatap kesal Askara sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Ini kenapa airnya nggak jalan?, kau belum bayar listrik yah?". tanya Askara sambil memutar-mutar kerang air tapi airnya tidak keluar juga.


"Iyya kali". balas Anin cuek.


"Ya mana aku tau, mas. orang tadi pagi aku pake mandi airnya jalan kok".


"Terus, gimana dong?".


"Nggak ada jalan lain, mandinya di sumur". ujar Anin santai.


Askara membulatkan matanya sempurna. "What, sumur?". tanyanya tak percaya.


"Iyya sumur. S.U.M.U.R". jengkel Anin mengeja satu per satu hurufnya.


Anin tersenyum dalam hati, Askara pasti syok karena tidak pernah mandi di sumur.


"Yaa.. kalau nggak mau, itu sih urusan mas Askara. siap-siap aja kegerahan terus".


Askara nampak berfikir, dia juga tidak bisa tidur dengan nyenyak kalau belum mandi.


"Ya udah deh, di mana sumurnya?". putus Askara akhirnya.

__ADS_1


"Ikut aku". Anin membuka pintu belakang rumahnya yang menghubungkan dengan sumur yang di maksud.


"Sana mandi".perintah Anin menunjukkan sumurnya.


"Yakin mandinya di tempat terbuka kayak gini? nanti kalau ada yang liat gimana?". Askara menatap sekelilingnya, lokasi sumur sama sekali tidak di tutupi oleh sekat sedikitpun, meskipun tempatnya berada di belakang rumah Anin, tapi tetap saja, Askara was-was jika tiba-tiba ada orang lewat.


Anin mengedikkan bahu tidak peduli. "Itu sih tergantung mas Askara, kalau mau nimba air terus isi kolam di dalam sampai penuh, tapi yang pastinya bakalan capek sih harus bolak-balik terus". Anin memberi solusi tapi terdengar seperti bukan solusi di telinga Askara.


Askara mendengus, tidak ada pilihan lain. "Ya udah aku mandi di sini aja. tapi temenin, jangan kemana-mana. memangnya kau mau, tubuh suami mu ini di lihat secara gratis sama orang-orang yang lewat?, apalagi kalau yang lewat cewek terus ja______".


Anin membulatkan matanya.


"Stop ! nggak usah di lanjutin. Iyya biar aku temenin. puas?". Dalam hati Anin tidak rela jika tubuh suaminya di lihat oleh orang lain.


Askara tersenyum puas karena berhasil membuat Anin secara tidak langsung cemburu, dia mulai membuka kemeja hitamnya yang melekat sedari tadi di tubuhnya, kemudian di susul melepaskan celana kain menyisakan boxer hitam.


Anin dengan susah payah meneguk salivanya, saat otot-otot perut Askara terpampang nyata di depan matanya, di tambah kulit putih bersihnya semakin menggoda iman siapa saja yang melihatnya.


Askara berusaha menahan senyum, saat menyadari tatapan Anin.


"Cara ngambil airnya gimana, Nin?. sumurnya dalem banget lagi". Askara kebingungan sendiri karena jujur ini baru pertama kalinya dia mandi di sumur.


Anin berdiri dari duduknya.


"Hati-hati jalannya sayang, lantainya licin". tegur Askara saat Anin mendekat, apalagi lantai sumur terlihat ada yang sudah berlumut.


Askara mengulurkan tangannya agar di pegang oleh Anin dan di sambut baik oleh istrinya itu.


"Sini, biar aku tunjukin caranya. liat baik-baik". Anin mengambil alih alat timba dari tangan Askara.


Anin mencontohkannya pada Askara sampai pria itu mengerti cara menggunakan timba.


"Ngerti sekarang? ngerti dong, masa enggak". ujar Anin menirukan cara bicara salah satu pemeran istri yang di selingkuhi di salah satu series yang pernah dia nonton.


"Iyya, udah ngerti sayang, Makasih yah". balas Askara dengan senyum manisnya namun tidak di tanggapi oleh Anin.


Anin kembali ke posisi duduknya sambil menemani Askara mandi, meskipun suaminya itu tampak kesusahan menggunakan timba, tapi tidak ada cara lain, dari pada Askara tidak mandi sama sekali dan akhirnya dia sendiri yang akan di buat pusing.


"Ahhh...segarnya". Askara mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang setelah selesai mandi dan sudah mengganti bajunya.

__ADS_1


Walau telapak tangannya terlihat memerah karena terus menerus menarik tali timba yang kasar, tapi ternyata seru juga. ini adalah pengalaman pertamanya mandi di sumur.


__ADS_2