
Dalila mengeratkan cengkramannya pada tali tas selempang yang ia kenakan saat mendapatkan sambutan tak bersahabat dari Anin. Sebenarnya sudah lama sekali Dalila ingin menemui Anin, tapi rasa takut dan bersalah yang menahannya selama ini. tapi, Dalila tidak bisa terus menerus berdiam diri dan membiarkan kesalahpahaman menghancurkan rumahtangga Anin dan Askara.
"Anin...aku..". suara Dalila tercekat saat menyebut nama wanita yang sudah dia buat hancur rumahtangganya, bahkan ia tidak melanjutkan perkataannya karena di liputi rasa bersalah.
"Mau apa kau ke sini?". Anin kembali mengulang pertanyaannya tanpa merubah intonasi suaranya yang menyiratkan ketidaksukaannya dengan kedatangan Dalila.
"Anin, bisa kita bicara sebentar?". pinta Dalila dengan wajah penuh harap.
"Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, silahkan pergi dari sini". ketus Anin hendak menutup pintu rumahnya tapi di tahan oleh Dalila.
"Anin, tunggu sebentar! kau harus mendengarkan semua yang terjadi agar tidak ada lagi kesalahpahaman di antara aku, kau dan juga Askara".
"Memangnya apa lagi yang harus aku dengar Dalila?". suara Anin mulai meninggi, "Tidak cukupkah kalian berdua menghancurkan hidupku, sekalipun kau menjelaskan semuanya, itu sama sekali tidak akan merubah keadaan".
"Tapi Anin, setidaknya kau harus tau yang sebenarnya terjadi. aku dan Askara sama sekali tidak melakukan hal-hal seperti yang kau sangkakan selama ini".
__ADS_1
"Wanita mana yang tidak menyimpulkan hal demikian jika melihat suaminya bermalam di apartemen wanita yang belum bisa dia lupakan". ujar Anin penuh penekanan.
"Silahkan pergi dari sini, tolong jangan uji kesabaranku". Anin mengusir Dalila agar pergi dari rumahnya.
"Anin... Anin... tolong dengarkan aku sekali ini saja, aku mohon".
"Aku bilang pergi dari sini, pergiiiiiiii !". baru kali ini Anin terlihat begitu kejam hingga urat lehernya menonjol di sertai tatapan tajam tidak bersahabat kepada Dalila.
"Anin!, apa-apaan ini nak?". suara Bu Risa menarik atensi dua wanita yang saat ini saling bersitegang. Bu Risa berjalan mendekat sambil menenteng barang belanjaannya dari pasar, saat memasuki gerbang rumah tadi, Bu Risa dapat melihat dan mendengar dengan jelas teriakan Anin mengusir Dalila dengan begitu kejam, hal yang tidak pernah di lakukan oleh Anin sebelumnya pada siapapun.
"Ibu bukannya mau ikut campur nak, tapi tidak baik mengusir orang dengan cara kasar seperti tadi apalagi jika bermaksud untuk bertamu". ujar Bu Risa memperhatikan sambil memperhatikan wajah Dalila yang baru pertama kali dia lihat.
"Dia ini bukan tamu Bu. dia adalah wanita yang sudah membuat rumah tangga Anin hancur seperti sekarang, wanita ini adalah Dalila, Bu. dia Dalila". Anin menunjuk geram Dalila tepat di depan wajahnya. wanita itu berubah beringas bak bukan Anin yang terkenal dengan sikap lembutnya selama ini.
Bu Risa menutup mulut tak percaya, dia tak menyangka sama sekali bahwa wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah Dalila yang dia ketahui sebagai orang ketiga dalam hubungan anaknya, selama ini Bu Risa tidak pernah melihat secara langsung seperti apa wajah dari wanita yang hanya dia ketahui namanya itu.
__ADS_1
"B-benar kamu yang bernama Dalila?". tatapan Bu Risa berubah kecewa.
"Iyya Bu, tapi apa yang terjadi antara aku dan Askara tidak seperti yang Anin maupun ibu bayangkan. aku sengaja kemari untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi tapi Anin menolak untuk mendengarkan. aku hanya tidak ingin hidup di liputi rasa penyesalan seumur hidupku. aku ingin bertemu dengan Anin untuk yang terakhir kalinya karena setelah ini aku akan kembali ke Jerman dan mungkin tidak akan kembali lagi ke sini". tutur Dalila terlihat begitu menyesal tapi itu sama sekali tidak mampu menggoyahkan Anin.
"Aku sudah bilang aku tidak ingin mendengarkan apapun, jadi lebih baik kau pergi dari sini". usir Anin kembali, sama sekali tidak peduli bahkan setelah mendengar ungkapan Dalila yang memutuskan untuk kembali ke Jerman.
"Anin!". tegur Bu Risa lantang, "Ibu tidak membenarkan perbuatan Dalila tapi ada baiknya kau mendengarkan apa yang ingin di sampaikan oleh dia. jangan sampai ada hal yang kau sesali nantinya, belajar untuk bersikap lebih dewasa nak kau ini sudah menjadi seorang ibu".
"Bu, penjelasan apapun tidak akan pernah merubah keadaan". Anin tetap enggan menerima Dalila untuk masuk ke rumahnya.
"Tapi setidaknya kau tau yang sebenarnya terjadi, setelah itu terserah kau karena keputusan tetap ada di tanganmu. hanya saja ibu tidak ingin kau menutup telinga dari fakta yang ada. jadi biarkan Dalila masuk, ibu tidak akan mencampuri pembicaraan kalian". pungkas Bu Risa masuk ke dalam rumah lebih dulu.
Anin menatap tajam Dalila yang masih setia berdiri, "Aku beri kau waktu sepuluh menit". akhirnya Anin meredam egonya dan mendengarkan semua perkataan ibunya dengan membiarkan Dalila masuk ke dalam rumahnya.
Dalila tersenyum merekah, "Bahkan itu sudah lebih dari cukup, Nin".
__ADS_1