
Sesuai dengan permintaan Sandra untuk pindah ke mansion, Anin mulai membereskan barang-barangnya.
Hanya beberapa saja, karena sisanya nanti akan di pindahkan ke mansion oleh orang suruhan Sandra.
Saat Anin sedang sibuk beres-beres. Ponselnya yang tergeletak di atas nakas tiba-tiba berdering.
Anin mengerutkan kening, yang menelfonnya adalah nomor yang tak di kenal.
Tapi Anin tetap mengangkatnya, siapa tau penting.
"Hallo, maaf ini dengan siapa yah?" tanya Anin saat telfon sudah tersambung.
"Aniiiiiiin" teriak orang di seberang telfon.
Anin refleks menjauhkan ponsel dari telinganya yang berdengung karena teriakan orang tersebut.
Dari suaranya Anin kenal betul siapa orangnya.
"Vi, berisik tau nggak. gendang telinga gue hampir jebol" protes Anin
"Hehe..sorry, abisnya gue khawatir"
"Gue baik-baik aja, nggak ada yang perlu Lo khawatirin" jawab Anin.
Terdengar Vivi menghela nafas lega di seberang telfon.
Mendengar suara Vivi, Anin teringat sesuatu.
"Ya ampun Vi, Lo masih di luar apartement yah?" Anin baru menyadari jika Vivi juga ikut bersamanya ke apartement "Maafin gue yah Vi, tunggu yah gue keluar"
Anin panik sendiri, dia benar- benar lupa.
Dia sudah hendak keluar untuk mengecek keberadaan Vivi.
"Nggak usah, gue udah cabut dari apartement Lo. di bawa paksa sama orang" Vivi penuh penekanan di akhir katanya.
"Di bawa paksa? sama siapa?"
"Ajudan rese suami Lo" suara Vivi terdengar kesal.
Anin nampak berfikir, orang yang di maksud Vivi pasti adalah sekretaris Dito
"Jadi Lo lagi sama sekretaris Dito, terus sekretaris Dito nya mana?" tanya Anin.
"Ada nih di samping gue, lagi makan. soalnya handphone nya lagi gue pinjam buat nelfon Lo. Hp gue lowbet soalnya"
Anin tiba-tiba terkekeh.
"Kenapa Lo ketawa?" tanya Vivi mendengar suara kekehan Anin.
"Nggak, gue cuman ngerasa lucu aja. baru kali ini Gue denger Lo jalan sama cowok"
Anin tau betul sifat Vivi, sangat selektif dan lebih acuh sebenarnya dengan cowok yang terang-terangan mendekatinya.
"Ini nggak terhitung kencan yah, Gue juga nggak mau kalo nggak di ancam di turunin di tengah jalan" gerutu Vivi. sengaja mengeraskan suaranya agar Dito mendengarnya.
Anin berusaha menahan tawa, membayangkan wajah kesal Vivi.
"Tapi kalian cocok kok" Anin semakin gencar menggoda Vivi.
"Nggak" ucap Vivi dengan cepat.
"Oh ya Vi, mulai malam ini Gue udah nggak tinggal di apartement lagi" Anin hampir lupa memberitahu Vivi.
"Kenapa?, Lo di usir sama Mami nya Askara?" tanya Vivi terdengar khawatir.
"Enggak, Mami Askara ternyata malah baik banget sesuai yang di katakan sekretaris Dito. cuman Mami Askara minta Gue sama pak Askara tinggal di mansion supaya bisa lebih dekat sama ngawasin kehamilan Gue". jelas Anin.
"Ah..Syukulah. Gue jadi lega dengarnya. malah jadi lebih baik sih Nin kalo Lo tinggal di sana, siapa tau Lo bisa lebih dekat sama pak Askara".
Anin termenung, dia sendiri tidak yakin.
"Semoga yah" jawabnya.
"Ya udah telfonnya Gue tutup yah, Gue dah lega dengar Lo baik-baik aja. Yang punya handphone udah melotot nih dari tadi" fitnah Vivi.
Padahal Dito sedari tadi hanya makan dengan tenang.
"Ya udah bye"
Sambungan telfon terputus.
"Nih" Vivi menyerahkan ponsel Dito setelah selsai berbicara dengan Anin.
Dito hanya menatap ponselnya tanpa berniat mengambilnya.
Vivi jadi bingung "Kenapa nggak di ambil?" tanyanya.
Dito mengambil kasar ponselnya dari tangan Vivi "Makasih" ucapnya penuh penekanan menyindir Vivi.
Hal yang jarang di ketahui oleh orang-orang, Dito sangat tidak menyukai orang yang tidak tau cara ber terimakasih ataupun meminta maaf.
Baginya dua hal ini adalah hal dasar dalam hidup namun kadang orang berat dan gengsi mengatakannya.
Hati Vivi merasa tercubit, meski kadang sifatnya jutek tapi dia dengan cepat menyadari bahwa dia sudah berbuat salah.
"Maaf, btw Makasih yah" ucap Vivi tulus saat melihat raut wajah Dito berubah.
"Hemm" jawab Dito singkat kembali melanjutkan makannya.
Vivi merasa kikuk, perasaan bersalah menghampirinya.
Dia pun memutuskan untuk menghabiskan makanannya dan pulang ke apartementnya, ia ingin cepat-cepat mengakhiri malam ini.
Dentuman suara musik mengalun keras di dalam ruangan yang penuh dengan kerlap-kerlip lampu disko.
Bau asap rokok serta bau alkohol menusuk hidung siapapun yang masuk ke sana.
Askara baru saja sampai di sebuah bar.
"Hallo bro, kemana aja Lo baru keliatan" sapa seorang lelaki berbadan atletis saat Askara baru saja mendaratkan bokongnya di kursi bar.
Marcel adalah manager dan juga sekaligus bartender di bar tersebut.
Mereka sudah mengenal sejak lama.
Sebelum Askara mengambil alih bisnis Papi nya, hampir setiap hari Askara datang ke bar tersebut.
"Gue sibuk" jawab Askara seadanya.
__ADS_1
"Yaelah bapak CEO" gurau Marcel.
Satu gelas kaca berisikan alkohol Marcel dorong ke depan Askara tanpa di minta.
Marcel sudah hafal betul kebiasaan Askara.
Askara menenggaknya hingga habis.
"Tuang" perintah Askara pada Marcel.
Marcel meneliti, sepertinya Askara sedang ada masalah.
"Lo lagi ada masalah?" tanyanya
"Enggak, lagi banyak kerjaan aja" jelas Askara bohong.
Yang membawanya ke sini adalah karena Ingin menghindari Anin dan juga Maminya.
Sebotol alkohol sudah habis di minumnya, Askara meminta Marcel untuk memberinya sebotol lagi.
Tentu dengan senang hati Marcel melakukannya, jarang-jarang Askara datang ke bar nya setelah menjadi CEO.
Tanpa jeda, Askara menghabiskan gelas demi gelas hingga mulai membuat kepalanya terasa berat dan pusing.
Seorang wanita cantik dengan pakaian super sexy mendekati Askara yang sudah terlihat mabuk.
"Sendiri aja" ucap wanita itu merapatkan tubuhnya pada Askara.
Askara mengangkat wajahnya dengan mata yang sudah sayu.
Tiba-tiba bayangan wajah Anin yang tengah tersenyum muncul di depannya.
"Menjauh dariku" Askara mendorong wanita itu kasar, mengira dia adalah Anin.
"Aww" wanita itu mengadu kesakitan saat tubuhnya tak sengaja menubruk kursi di belakangnya.
"Hei.. kau jangan bermain kasar dengan perempuan" teriak seorang pria berbadan kekar, sepertinya dia juga pengunjung bar.
Askara menatap dengan senyum mengejek "Nggak usah ikut campur bangsat"
Pria tersebut naik pitam.
Tanpa aba-aba memberi Askara bogeman tepat di wajah. Tubuh Askara terhuyung ke belakang
Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Brengsek" teriak Askara marah.
Emosinya tak terbendung, dia menyerang balik pria tersebut. mendaratkan pukulan tepat di wajah dan perut.
Keadaan bar menjadi kacau, Askara dan pria tadi terlibat adu pukul yang tak terelakkan.
Marcel berusaha melerai, malah ikut terkena pukulan Askara.
"Arrghhh sial" ucap Marcel memegang pipinya yang terkena pukulan.
Beberapa penjaga bar pun yang ikut melerai malaj terkena pukulan Askara.
Malam ini Askara benar-benar di luar kendali.
Arga yang baru saja memasuki bar membulatkan matanya saat semua orang berkerumun di satu titik.
Dia pun penasaran, dan akhirnya mendekat.
Arga membelah kerumunan.
Matanya membulat sempurna saat melihat Askara sudah menindih tubuh seorang pria yang terkapar di lantai dan menghajarnya tanpa ampun.
Wajah Askara sudah babak belur serta banyak mengeluarkan darah segar.
Begitupun pria yang menjadi lawan Askara, luka di wajahnya bahkan lebih parah dari Askara.
Arga dengan cepat menarik tubuh Askara saat akan kembali melayangkan pukulannya.
"Berhenti, Kau bisa membunuhnya bodoh" Arga menggeram, mengunci tubuh Askara dan membawanya menyingkir dari atas tubuh pria yang sudah tampak mengenaskan.
"Lepaskan aku" Askara memberontak ingin melepaskan diri dan kembali menghajar pria yang sudah tergelatak tak berdaya.
Bugh.. Arga terpaksa menghajar Askara membuat pria itu terjatuh di atas sofa dan hilang kesadarannya.
"****" umpat Arga melihat kondisi Askara.
Arga mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang.
*****
Dito memutuskan untuk mengantar Vivi ke apartementnya setelah mereka selesai makan.
Terjadi kecanggungan di antar keduanya.
"Hemm.. Lo udah tau kalau Anin dan Askara malam ini pindah ke mansion?" tanya Vivi memecah suasana.
Dito hanya mengangguk, tadi saat dia ke toilet, Mami Askara menelfonnya.
Vivi kembali diam, tidak ada lagi pembicaraan antara keduanya.
Ponsel Dito berdering.
Kening Dito berkerut, tumben dokter Arga menghubunginya.
Dito memasang earphone di telinganya untuk mengangkat telfon
"Ya Hallo" sapa Arga saat sambungan telfon sudah terhubung.
"Ke bar Marcel sekarang juga, Askara bertengkar" tukas Arga to the point membuat Dito mengerem mendadak hingga menimbulkan bunyi decitan.
Badan Vivi terhuyung ke depan membuat jidatnya terbentur dashboard mobil karena tidak memakai seatbelt.
"Awwwww....sakit. Lo bisa bawa mobil nggak sih, kenapa nge rem mendadak" geram Vivi dengan mata berkaca-kaca.
Jidatnya terasa sangat nyeri.
Dito kaget melihat jidat Vivi yang sudah memerah.
"Aku sungguh minta maaf" sesal Dito merasa bersalah "Aku tidak sengaja" lanjutnya.
Vivi mengelus jidatnya "Lo kalo marah sama Gue, cara ngebalasnya jangan kayak gini" ujar Vivi marah.
Dito menenangkan Vivi "Sekali lagi aku minta maaf, aku baru saja mendapat telfon katanya tuan Askara bertengkar di bar" Jelas Dito membuat Vivi melupakan rasa sakit di jidatnya.
__ADS_1
"Bertengkar? kenapa bisa? bukannya Askara harusnya ikut pindah ke mansion malam ini kenapa dia bisa ada di bar?" berbagai pertanyaan muncul di kepala Vivi.
Sama hal nya dengan Dito "Aku juga tidak tau, aku harus ke sana sekarang"
"Eh.. terus Gue gimana?, jidat Gue juga" Vivi menahan Dito yang hendak melajukan mobil.
"Kau ikut aku, nanti jidatmu aku obati" seru Dito menancap gas, wajahnya terlihat khawatir.
Mobil yang di kendarai Dito sudah sampai.
Dia bergegas turun, begitupun dengan Vivi.
"Kau tunggulah di sini" perintah Dito pada Vivi agar menunggunya di luar bar.
"Gue ikut" ujar Vivi takut menunggu di luar sendirian, dia tidak pernah ke bar sebelumnya.
Dito melihat raut wajah gusar Vivi. dia pun menarik dan menggenggam tangan Vivi mengikutinya ke masuk ke dalam bar.
"Jangan di lepas" ucap Dito
Vivi menatap tangannya yang di gandeng oleh Dito.
Keduanya berjalan memasuki bar.
Bau alkohol menusuk hidung Vivi saat pertama kali menginjakkan kakinya di dalam ruangan yang penuh orang tersebut.
Suara dentuman musik mengalun begitu kerasnya memekakkan telinga.
Vivi bergidik ngeri melihat para wanita bergoyang meliukkan tubuh mereka dengan pakaian sexy yang mengekspose tubuh mereka di depan pria dengan tatapan seperti orang kelaparan.
Vivi dapat merasakan genggaman tangan Dito semakin mengerat saat mereka melalui orang-orang yang sudah mabuk.
Hatinya tiba-tiba menghangat.
Mata tajam Dito berpendar mencari keberadaan Askara dan juga dokter Arga.
Dari kejauhan Dito dapat melihat dokter Arga melambaikan tangan padanya karena untuk berteriak sekeras apapun tidak akan terdengar karena besarnya suara musik.
Dito menarik tangan Vivi, mau tidak mau Vivi mengikutinya.
Askara sudah terkapar tak sadarkan diri dengan wajah yang babak belur di atas sofa.
"Astaga" pekik Vivi kaget melihat darah yang hampir mengering memenuhi wajah tampan Askara.
"Kenapa tuan Askara bisa bertengkar?" tanya Dito pada dokter Arga.
"Aku juga tidak tau, aku baru saja memasuki bar dan melihatnya sudah menghajar orang hingga terkapar bahkan dia hampir membunuhnya" Jelas dokter Arga menatap Askara yang sudah tak sadarkan diri.
Dito menghela nafas, sepertinya Askara sedang punya masalah.
"Dokter Arga tolong bantu saya membawa tuan Askara masuk ke mobil"
Dito melepas genggaman tangannya pada Vivi.
Vivi merasa ada yang hilang saat Dito melepas genggaman di tangannya.
Namun, fokusnya kembali pada Askara yang sudah di gotong keluar oleh Dito dan juga dokter arga. Anin pasti sangat shock melihat Askara pulang wajah yang sudah babak belur.
"Vi, buka pintu belakang" perintah Dito pada Vivi agar membuka pintu mobil untuk Askara.
"Ah, tunggu" Vivi bergegas membuka pintu jok belakang.
Dito dan dokter Arga memasukkan tubuh Askara, membaringkannya dan menekuk kaki panjang Askara kemudian menutup pintu mobil.
"Terimakasih dokter Arga" ucap Dito pada dokter Arga.
"Sama-sama, gimanapun Askara juga temen gue" balas dokter Arga mengatur nafasnya karena habis membopong tubuh berat Askara.
"Kalau begitu saya pamit"
"Hati-hati, semoga Anin tidak shock melihat wajah tampan suaminya bonyok" dokter Arga menepuk bahu Dito dan berlalu kembali memasuki bar.
"Dia siapa?" tanya Anin selepas kepergian Arga.
"Dokter pribadi keluarga Askara, temen Askara juga" jawab Dito.
Vivi ingin bertanya lagi kenapa dokter Arga bisa tau Askara sudah menikah, namun urung di lakukan karena Dito sudah menyuruhnya masuk ke mobil.
"Masuklah, kita harus mengantar tuan Askara pulang ke mansion. Nona Anin pasti sudah menunggu"
"Lalu mobil Askara bagaimana?"
"Nanti orang suruhan ku akan mengambilnya"
Vivi hanya menganggukkan kepala. orang kaya memang bebas, punya ajudan maupun orang suruhan di mana-mana yang siap sedia kapan saja.
Mereka masuk ke mobil.
Vivi menatap ngeri wajah bonyok Askara yang terbaring di jok belakang.
"Anin pasti kaget banget kalo liat kondisi Askara yang kayak gini" ujarnya apalagi mengingat Anin sedang hamil muda.
"Yakin kita mau nganter Askara ke mansion?" tanya Vivi lagi lebih memastikan, dia khawatir dengan kondisi Anin.
"Hemm, luka tuan Askara harus segera di obati agar tidak terinfeksi" jawab Dito "Lagi pula sebentar lagi kita akan sampai" lanjutnya.
Mobil memasuki halaman luas mansion Askara. mata Vivi menatap takjub bangunan super mewah dan besar di depannya.
Meskipun dia terbilang orang berada tapi kekayaannya dan kekayaan yang di miliki keluarga Askara tidaklah ada apa-apanya jika di bandingkan.
Dito turun lebih dulu dan memanggil beberapa penjaga untuk mengangkat tubuh Askara keluar dari mobil.
"Ya ampun tuan Askara kenapa bisa babak belur begini" tanya salah satu penjaga saat mengangkat keluar tubuh majikannya yang sudah babak belur.
Dito memilih tidak menjawab "Tidak usah banyak tanya, kalian cepat bawa masuk" perintah Dito tegas.
Vivi ikut berjalan di belakang Dito.
Tangan Dito terangkat menekan bel.
Tak lama pintu mansion terbuka.
Ternyata Anin yang membuka pintu, dia sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sangat terkejut melihat tubuh Askara di bopong oleh para penjaga.
Di tambah kondisi wajahnya yang penuh luka lebam serta darah yang sudah mulai mengering.
Anin menutup mulutnya dengan kedua tangan yang bergetar.
"Astaga..Pak Askara" Pekik Anin mendapati wajah suaminya sudah babak belur.
__ADS_1