
"Operasi Anin berjalan lancar, suatu keajaiban karena Anin mau survive melawan masa kritisnya". ujar dokter Ziva bak angin segar bagi Askara dan yang lainnya.
Askara sangat bersyukur mendengar kondisi Anin.
"Alhamdulillah, terimakasih dok". ujar Mami Sandra menangis haru dan juga bahagia secara bersamaan dalam pelukan Papi Argio.
"Tapi meskipun Anin sudah melewati masa kritisnya, kita masih harus terus memantau kondisinya". tutur dokter Ziva.
"Apa Anin sudah bisa di pindahkan, dok?". tanya Askara sudah tidak sabar ingin melihat Anin.
" Iyya, sebentar lagi Anin akan kami pindahkan. kalau begitu saya pamit dulu".
"Terimakasih dok". senyum di wajah Askara akhirnya bisa terlihat kembali setelah melewati situasi yang begitu menegangkan.
Sementara itu di koridor rumah sakit, Dalila duduk seorang diri dengan tatapan lurus ke depan. entah apa yang Dalila fikirkan hingga tidak menyadari kehadiran Ken di sampingnya.
Ken berdehem cukup keras yang berhasil membuat Dalila tersentak dari lamunannya.
"Ken". seru Dalila
"Apa yang sedang kau fikirkan?." tanya Ken melirik Dalila lewat ekor matanya.
"Tidak ada". balas Dalila datar.
"Apa sekarang kau puas melihat keadaan Anin?". pertanyaan Ken sukses membuat Dalila menatapnya tajam.
"Apa maksudmu?".
"Sekarang kau bisa lihat sendiri kan?". tanya Ken lagi
"Apa maksudmu, Ken?". tanya Dalila lagi dengan suara lebih tinggi karena pertanyaan Ken yang terdengar ambigu.
"Sekarang kau bisa melihat dengan sendirinya bagaimana cinta Askara untuk Anin. bagaimana Askara begitu takut kehilangan Anin dalam hidupnya, semuanya sudah jelas terlihat di depan matamu Dalila, dan aku rasa itu sudah cukup menyadarkan mu akan perasaan Askara pada Anin, lebih tepatnya Askara sangat mencintai Anin dan keinginan mu untuk memiliki Askara hanyalah sebuah harapan semu". tutur Ken membuat Dalila terdiam sejenak.
"Lalu bagaimana dengan kau, Ken?. bukankah ini kesempatan yang bagus untukmu karena hubungan Askara dan Anin bisa aku jamin tidak akan sama lagi setelah kejadian ini". Dalila balik bertanya.
__ADS_1
Ken tersenyum tapi bukan senyum kebahagiaan, "Sejak awal aku tidak pernah memaksakan perasaanku pada Anin apalagi sampai menggunakan kejadian ini untuk kepentingan perasaanku. yang ingin aku lakukan saat ini adalah melindungi Anin dan juga kebahagian nya".
Dalila tersenyum sarkas, "Kau munafik Ken, kau dan aku tidak ada bedanya. sama-sama menginginkan orang yang kita cintai untuk hidup bersama meskipun tau itu salah. selama perasaan mu untuk Anin masih ada, maka itu adalah suatu kesalahan".
"Setidaknya aku bisa berbesar hati untuk merelakan Anin dengan kebahagiaannya. aku harap kau bisa sadar, Dalila.". Ken lalu berdiri meninggalkan Dalila karena baru saja mendapat pesan dari kakaknya bahwa operasi Anin sudah selesai dan akan segera di pindahkan.
Air mata Dalila jatuh dengan sendirinya selepas kepergian Ken. dia sadar bahwa hati Askara benar-benar bukan untuknya lagi, Dalila tidak pernah melihat Askara sekacau tadi.
Dada Dalila mendadak sesak, lorong rumah sakit yang sepi membuat suara tangisnya terdengar pilu. dia tidak pernah meminta untuk jatuh cinta pada Askara yang ternyata akan melukai perasaannya sampai sedalam ini.
*****
Setelah operasi Anin berjalan dengan lancar, wanita yang baru saja menyandang status ibu muda tersebut akhirnya di pindahkan ke ruangan perawatan.
Askara menggenggam tangan Anin sambil terus menerus menciuminya dan tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf meskipun Anin belum tentu mendengarnya.
"Dok, kira-kira kapan Anin akan sadar?". tanya Mami Sandra terus menatap Askara yang berada di sisi ranjang Anin.
"Meskipun Anin sudah melewati masa kritisnya tapi kami belum bisa memastikan kapan Anin akan sadar. kami hanya bisa terus memantau kondisinya, nyonya Sandra". jelas dokter Ziva.
"Lalu bagaimana dengan bayi Anin, dok. dia pasti butuh ASI". Mami Sandra sedih teringat cucunya yang baru lahir.
Mami Sandra pasrah tanpa bisa membendung air matanya.
"Terimakasih untuk kerja kerasnya, dok". ujar Mami Sandra.
"Sama-sama Nyonya Sandra, kalau begitu saya pamit". dokter Ziva meninggalkan ruang rawat Anin.
Mata Askara tidak pernah lepas dari wajah damai Anin yang tertidur sambil di bantu alat pernafasan dan alat-alat medis lainnya.
Askara merasa pria yang paling brengsek, karena dirinya lah penyebab Anin berakhir berbaring tak berdaya. bukan hanya luka fisik yang dirinya berikan tapi juga luka batin.
"Maafkan aku, Anin. maafkan aku, aku bukan suami yang baik untukmu". sesal Askara sambil terisak .
"Anin.., anak kita udah lahir. dia ganteng banget, Nin. wajahnya sangat mirip denganku, maafkan aku yang meragukan kehadirannya di awal pernikahan kita". Askara semakin merasa sesak ketika ingatannya melayang pada awal pernikahan mereka. Askara sempat meragukan anak yang di kandung oleh Anin bahkan sampai membuat perjanjian untuk bercerai setelah anak itu lahir.
__ADS_1
"Aku benar-benar pria brengsek, Nin. Ayo bangun dan pukul aku, pukul aku sepuasnya, Nin". racau Askara dengan punggung bergetar hebat.
"Mau kau menangis darah pun, keadaan tidak akan pernah kembali lagi seperti semula, Askara". ujar Mami Sandra menatap sendu Anin yang berada di atas ranjang rumah sakit.
"Mami tidak pernah setulus ini sayang pada orang lain sebelumnya. tapi saat pertama kali Mami melihat wajah Anin, entah kenapa Mami merasa ingin memeluknya. wajah teduh Anin membuat perasaan Mami nyaman seolah Mami mempunyai seorang anak perempuan. dan kehadiran Anin mampu membuat Mami bisa merasakan rasanya mempunyai seorang anak perempuan. Anin tidak pernah menuntut hal-hal aneh selama menjadi istri kamu, Askara. lalu kenapa Askara ?, kenapa kamu dengan teganya menyakiti Anin?".
"Maafkan Askara, Mi". tidak ada kata-kata penyesalan selain kata maaf yang bisa Askara lontarkan.
"Mami tidak mau kehilangan Anin". Mami Sandra kembali menangis.
"Mi, mami jangan berfikir seperti itu. Anin pasti secepatnya akan sadar". Papi Argio menenangkan istrinya, "Anin tidak akan mungkin meninggalkan bayi nya".
Dan sekarang, Askara sadar bahwa kesalahan bersumber pada dirinya. banyaknya hati yang dia sakiti adalah karena dirinya yang tidak pernah bisa membuat keputusan tegas sejak awal.
Askara merasa punggungnya di sentuh oleh seseorang.
"Papi". seru Askara menatap wajah pria yang menjadi panutannya selama ini.
"Sewaktu kecil kau pernah mengatakan bahwa Papi adalah panutan yang selalu menjadi sosok yang kau tiru, tapi Papi tidak pernah menjadi pria yang menyakiti perasaan seorang wanita, apalagi menyakiti Mamimu. Papi sangat marah Askara saat tau kau menjadi pria se brengsek ini, tapi kemarahan Papi sudah di wakilkan oleh Mami mu. satu hal yang ingin Papi sampaikan, saat Anin sadar nanti, tebus kesalahan mu seberat apapun itu". nasehat Papi Argio menepuk pundak putra semata wayangnya.
"Terimakasih, Pi".
"Sekarang temui anakmu, dia pasti ingin melihat ayahnya". titah Papi Argio.
Askara mengangguk pelan, "Aku titip Anin sebentar, Pi".
"Iyya".
Askara kemudian melangkah meninggalkan ruang rawat Anin dengan penampilan kacau. mata Askara jelas terlihat sembab dengan rambutnya yang acak-acakan, tapi Askara sama sekali tidak peduli akan hal itu.
Askara berdiri tepat di depan ruangan bayinya berada. Askara hanya bisa memandangi bayinya yang tengah tertidur lelap di dalam tabung inkubator lewat dinding kaca besar.
"Hai jagoan papa". sapa Askara bersamaan dengan air matanya yang jatuh.
"Maafin papa ya sayang, karena perbuatan papa kamu harus berpisah sementara dengan mama. tapi kamu jangan khawatir ya sayang, sebentar lagi pasti mama akan bangun dan kasi kamu ASI. Papa tau kamu anak yang kuat, sekuat mama Anin". perasaan Askara hancur karena kata-katanya sendiri. bayi yang seharusnya berada dalam dekapan hangat ibunya saat pertama lahir, justru harus terpisah karena perbuatannya.
__ADS_1
Askara duduk sendirian di depan ruangan bayinya sambil terus tertunduk menyesali semua perbuatannya pada Anin mulai dari awal mereka menikah begitu banyak luka yang dirinya torehkan di hati Anin.