
Setelah menempuh perjalanan udara selama 1 jam lebih, pesawat yang membawa Askara dan Anin akhirnya mendarat di Bali.
"Anin, bangun!.. kita sudah sampai" Askara menepuk pelan pipi Anin agar gadis itu bangun dari tidurnya.
Enggg...Anin melenguh saat merasakan tepukan pelan di wajahnya.
Anin membuka mata perlahan "Kita di mana mas?" tanya Anin masih setengah sadar.
"Kita sudah sampai di Bali" jawab Askara.
"Bali?" tanya Anin kemudian tersadar penuh "Kita sudah sampai yah?" gumam Anin menatap keluar jendela, mereka ternyata benar-benar sudah sampai.
"Apa tidurmu senyenyak itu?" tanya Askara melihat ekpresi linglung Anin, tadi.
Anin memasang wajah polos "Pundak mas Askara sangat nyaman soalnya" cengir Anin memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Kau merasa nyaman, dan sekarang aku merasa pegal" ujar Askara meremas pundaknya yang mati rasa karena 1 jam lebih menahan beban kepala Anin yang cukup berat.
"Tapi kan mas Askara sendiri yang menyuruhku tidur di bahu, tadi aku juga sudah menolak" ujar Anin membela diri.
Askara mendengus, Anin selalu saja menjawab.
"Sudahlah, sekarang ayo turun".
Anin mengikuti Askara yang berdiri lebih dulu untuk menuruni pesawat.
"Hati-hati" peringat Askara memegang tangan Anin untuk menuruni tangga pesawat.
"Iyya mas, makasih" balas Anin tersenyum.
Ternyata di bandara Ngurah Rai Bali, sudah ada seseorang yang menunggu kedatangan Askara dan juga Anin.
"Selamat datang tuan Askara dan juga nyonya muda. Mobil sudah kami siapkan, tuan Askara mau di supiri atau menyetir sendiri?" tanya pria berpakaian serba hitam tersebut.
"Aku mau menyetir sendiri" jawab Askara
"Baik tuan, ini kunci mobilnya" pria tersebut menyerahkan sebuah kunci mobil sport pada Askara.
"Ayo" ajak Askara menarik tangan Anin keluar bandara.
Anin menatap tangannya yang di genggam Askara, perlakuan Askara ini justru semakin membuat kacau hatinya.
Sepanjang jalan keluar bandara Anin terus memperhatikan punggung Askara yang di balut jaket berwarna hitam, hingga tanpa dia sadari mereka sudah sampai di luar bandara.
"Antar koper itu langsung ke resort" perintah Askara pada petugas tadi.
"Baik tuan". petugas tersebut pun segera berlalu.
"Mas, terus kita naik apa?" tanya Anin karena petugas tadi sudah pergi lebih dulu.
Askara menunjuk dengan dagu sebuah mobil Ferrari merah yang terparkir tidak jauh dari mereka.
Mulut Anin terbuka melihat mobil mewah di depannya. "Mas, mobil ini milikmu?" tanyanya tidak percaya.
"Hemmm" singkat Askara.
Anin semakin di buat tidak percaya dengan kekayaan yang di miliki keluarga Askara.
"Mas, sebenarnya jumlah kekayaanmu ada berapa sih?" tanya Anin dengan polosnya.
Askara beralih menatap Anin "Kekayaanku?" tanya Askara berpura-pura berfikir "Tak terhingga" lanjut Askara membuat Anin tercengang.
"Kau sekaya itu, Mas?"
"Maybe" jawab Askara mengedikkan kedua bahunya cuek.
Askara bukan tipe orang yang suka memamerkan kekayaannya, karena tanpa Askara lakukan pun semua orang sudah tau siapa dirinya.
"Ayo kita berangkat" ajak Askara pada Anin yang masih berdiri di tempatnya.
"Eh, Iyya mas" Anin mengikuti langkah Askara memasuki mobil tersebut.
Mobil yang di kendarai Askara melaju melesat membelah jalanan kota Bali.
"Ini baru kali pertama aku ke Bali, dan ternyata suasananya sebagus ini" ujar Anin memperhatikan sekelilingnya dari atas mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu.
__ADS_1
"Kau baru pertama kalinya ke sini?" tanya Askara yang tengah fokus menyetir.
Anin mengalihkan perhatiannya dari jendela mobil dan menatap Askara.
"Iyya mas, aku belum pernah ke tempat liburan seperti ini. almarhum ayah dulu selalu membawa aku liburan ke tempat wisata yang terdekat dari tempat tinggal kami, itupun ayah selalu memilih tempat yang biaya tiket masuknya murah. kadang aku heran dan bertanya pada ayah kenapa harus memilih tempat dengan tiket yang murah, dan beliau selalu menjawab, agar sisa uangnya bisa aku pakai jajan atau beli makanan nantinya". ujar Anin tersenyum simpul mengingat kenangannya dulu bersama mendiang ayahnya.
Askara tercekat mendengar cerita singkat Anin. ternyata Anin hidup begitu sederhana.
"Kau bahagia waktu itu?" tanya Askara membuat Anin kembali menatapnya.
"Jelas aku bahagia, karena walaupun tempatnya sederhana dan murah tapi aku bersama dengan orang yang aku sayangi, begitupun sekarang" jawab Anin tanpa sadar.
Anin refleks menutup mulutnya.
Tubuh Askara menegang mendengar perkataan terakhir Anin.
"Kau bilang apa?" tanya Askara memastikan.
"Anu mas, itu maksud aku kalau kita bersama dengan orang yang kita sayang, bagaimanapun tempatnya pasti kita akan merasa bahagia, itu maksud aku" jawab Anin gelisah, semoga saja Askara percaya.
"Termasuk sekarang, begitu?" tanya Askara dengan senyum penuh arti.
Anin merutuki dirinya dalam hati, kenapa dia bisa kecoplosan.
"Jadi, kau mulai sayang padaku?" tanya Askara lagi, dia selalu senang menggoda Anin.
"Apaan sih, Mas" ujar Anin mengalihkan wajahnya yang bersemu merah.
Askara tersenyum kecil melihat ekpresi malu-malu Anin.
Anin lebih memilih diam, takut jika nanti dia salah bicara lagi. dia kembali menikmati pemandangan jalanan Bali yang baru pertama kali di datanginya.
Akhirnya mobil yang di kendarai Askara sampai di sebuah resort mewah berlantai dua.
Pria yang bertugas mengantar koper Anin dan juga Askara sudah berdiri menyambut kedatangan mereka di depan resort.
"Selamat datang tuan, kopernya sudah saya simpan di kamar tuan dan juga nona muda. kalau begitu saya pamit tuan". ujar pria tersebut.
"Iyya" jawab Askara
Pria tersebut meninggalkan resort menyisakan Anin dan juga Askara.
Mata Anin menyusuri bangunan depan resort yang begitu mewah.
"Ayo masuk" ajak Askara
"Iyya mas" jawab Anin namun matanya masih asik meneliti bangunan resort.
Anin berdecak dalam hati, Askara memang benar-benar sekaya ini.
Saat pertama memasuki resort Anin di buat kagum dengan isinya, semuanya serba mewah. dinding bangunan yang hampir 80% memakai kaca, membuat Anin bisa melihat pemandangan luar hanya dari dalam ruangan.
"Kau hanya akan berdiri di situ terus?" tanya Askara yang sudah berada tangga.
"Mas mau kemana?"
"Ke kamar"
"Maksudnya kamar kita berdua?"" tanya Anin ragu.
"Memangnya kamar siapa lagi?" jawab Askara santai.
Glek, Anin menelan salivanya.
Entah kenapa dia menjadi khawatir jika sekamar dengan Askara, apalagi ini adalah agenda babymoon.
"Kenapa diam?"
"Tidak papa Mas, kau duluan saja. nanti aku menyusul" jawab Anin.
"Ya sudah" Askara kemudian menaiki tangga lebih dulu untuk menuju kamar yang akan dia tempati dengan Anin.
Anin menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum ikut menyusul Askara naik ke kamar.
"Tenang Anin, tenang.. semuanya akan baik-baik saja" ujarnya pada diri sendiri.
__ADS_1
Setelah merasa lebih baik, Anin akhirnya menyusul Askara ke atas.
Saat tiba di atas Anin terkejut melihat Askara yang berdiri di ambang pintu kamar dengan kedua tangan di lipat.
"Astagfirullah, Mas. kau mengagetkan ku" ujar Anin mengelus dadanya.
"Kenapa lama sekali" tanya Askara kesal.
"Kenapa mas menungguku?"
"Memangnya kau tau letak kamarnya?" tanya Askara balik.
Benar juga, batin Anin.
Anin menggeleng polos "Aku tidak tau, mas" ujar Anin yang baru sadar jika di lantai dua resort ini terdapat beberapa kamar.
Ceklek.
Askara membuka pintu kamar.
"Masuk" perintah Askara.
Anin ikut masuk ke kamar tersebut menyusul Askara. kamarnya sangat luas dan nyaman, Anin lagi-lagi berdecak kagum.
Askara menyibak gorden berukuran panjang yang berhadapan dengan tempat tidur.
Anin kembali di buat speechles melihat pemandangan luar kamarnya, terdapat sebuah kolam renang yang berukuran tidak terlalu besar tepat di depan kamar yang mereka tempati.
Tak hanya sampai di situ, dari posisinya berdiri pun Anin dapat melihat pemandangan pantai yang begitu indah, warna biru air laut yang terkena teriknya matahari, seolah menyilaukan mata.
"Woww, mas ini indah sekali" decak Anin kagum. kamar yang dia tempati berhadapan langsung dengan view kolam renang dan juga pantai.
"Kau suka?" tanya Askara.
"Suka banget mas" jawab Anin senang.
Askara menggeser jendela kamar yang terbuat dari kaca tersebut, ukurannya bahkan menyamai ukuran sebuah pintu.
Terdapat dua kursi panjang di bibir kolam renang. Askara membaringkan tubuhnya sambil menikmati terpaan angin di wajahnya.
Anin ikut duduk di kursi panjang sebelah Askara.
"Kau tau, bangunan resort ini yang desain adalah Mami" ungkap Askara menarik perhatian Anin.
"Benarkah?" tanya Anin tidak percaya.
"Mami itu orangnya sangat detail, jika dia tidak suka pada sesuatu maka pada saat itu juga dia akan meminta orang-orang untuk merombak sesuai dengan keinginannya". jelas Askara.
"Semuanya terlihat jelas sih dari karakter Mami" ujar Anin setuju, dia sedikit demi sedikit sudah mengetahui sifat mertuanya itu.
"Oh Iyya mas, apa kau lapar?" tanya Anin tiba-tiba. ini sudah siang hari dan memang sudah waktunya makan siang.
"Lumayan sih" jawab Askara.
"Bagaimana kalau aku memasak untuk makan siang kita". tawar Anin
"Boleh"
"Aku ke dapur dulu kalau begitu" ujar Anin.
"Kau tau kan letak dapur?" tanya Askara.
"Iyya mas, tadi aku sempat lihat".
Anin segera berdiri dari duduknya untuk menuju dapur.
Sedangkan Askara yang sudah merasa sangat gerah beranjak dari kursinya, dengan segera melepas pakaian yang di kenakannya hingga hanya menyisakan boxer berwarna hitam, Askara kemudian melompat ke dalam kolam renang sambil menunggu Anin selesai memasak.
Cuaca Bali yang terik di siang hari, memang cocok jika habiskan dengan berenang seperti yang Askara lakukan sekarang.
**Hi..hi readers tersayang.
author update untuk kalian yang masih setia sama cerita author.
Tunggu terus part selanjutnya karena author akan membuat hati kalian berbunga-bunga.
__ADS_1
Like, jgn lupa komen, dan vote terus karya author**.