Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 51


__ADS_3

Askara tersenyum menatap punggung polos Anin di balik selimutnya yang sedikit tersingkap. gadis itu masih tertidur lelap karena kelelahan.


Askara sendiri sudah bangun lebih dulu dan membersihkan diri, ada beberapa kerjaan yang harus di selesaikannya pagi ini juga.


Anin menggeliat dalam tidurnya, meraba tempat di sampingnya yang ternyata sudah kosong.


Perlahan Anin membuka mata, Askara sudah tidak ada di sampingnya.


"Aaakhhhh..." Ringis Anin merasakan kram di perut bawahnya.


"Mas...." teriak Anin memanggil Askara.


Askara yang sedang berkutat dengan laptopnya, terhenti karena mendengar panggilan Anin dari dalam kamar.


"Anin, kau kenapa?" tanya Askara melihat Anin menekuk tubuhnya di atas tempat tidur.


"Mas,, perutku sakit sekali" ujar Anin dengan suara tertahan.


Askara terlihat khawatir melihat Anin yang kesakitan.


"Bagian mana yang sakit?, kita ke rumah sakit saja yah?" panik Askara.


Anin menggeleng "Tidak perlu mas, tolong ambilkan aku air putih"


"Kau tunggu sebentar" Askara segera turun mengambil air untuk Anin.


Tak lama Askara kembali dengan segelas air putih di tangannya.


Askara membantu Anin untuk bangun "Kau minumlah dulu"


"Terima kasih mas" Anin kemudian menenggak habis airnya.


"Bagaimana? masih sakit?" tanya Askara memastikan.


"Sudah lebih baik mas, mungkin karena aku terlalu lelah. semalam kan ada yang terus menerus meminta jatah" ujar Anin terkekeh, menyindir Askara.


Rasa sakitnya berangsur-angsur menghilang.


Askara mendengus "Aku sedang serius Anin, jika kau masih merasa sakit, kita ke rumah sakit sekarang". tegas Askara.


"Aku sudah tidak papa Mas, sekarang aku hanya ingin mandi, badanku sudah bau dan lengket karena keringat" ujar Anin.


"Aku akan membantumu untuk mandi"


"Tidak perlu mas, aku bisa sendiri" tolak Anin, walau Askara sudah melihat tubuh polosnya, tetap saja dia masih merasa malu.


"Kau yakin?, kalau begitu aku bantu kau ke kamar mandi"


Anin mengangguk tersenyum.


Askara mengangkat tubuh polos Anin yang terbungkus selimut, menuju kamar mandi.


"Kau yakin tidak membutuhkan bantuan?" tanya Askara lagi memastikan saat sudah sampai di kamar mandi.


"Aku yakin mas, sekarang keluarlah. kau pasti sedang banyak kerjaan" usir Anin takut Askara akan kembali menerjangnya.


"Ya, baiklah. kalau kau butuh sesuatu panggil aku"


"Iyya, mas".


Askara harus mengalah, karena memang kerjaannya belum selesai.


Jika saja tidak deadline, Askara sudah pasti kembali menerkam tubuh Anin sekarang.


*****


Hari ini adalah hari terakhir Askara dan Anin di Bali, karena sore nanti keduanya sudah harus kembali ke Jakarta.

__ADS_1


"Mas, masih sibuk yah?" tanya Anin meletakkan secangkir kopi di dekat Askara.


"Hemm" jawab Askara tanpa melepaskan matanya dari layar laptopnya.


Anin ikut duduk menemani Askara yang sedang menyelesaikan pekerjaannya.


"Kenapa?, kau butuh sesuatu?" tanya Askara menatap Anin sekilas, wajahnya terlihat murung.


"Mas, boleh aku belanja sebelum pulang ke Jakarta? aku ingin membeli oleh-oleh untuk Mami, Vivi dan juga bi Ratih". ujar Anin.


Askara menatap Anin "Kau tidak perlu membeli apapun untuk Mami, aku yakin dia tidak butuh oleh-oleh, Mami itu bahkan sudah bosan bolak- balik ke Bali" ujar Askara yang hafal betul watak Maminya.


"Kalau begitu untuk Vivi dan bi Ratih saja" ujar Anin.


"Lalu untuk kau sendiri?" tanya Askara.


"Aku sama sekali tidak perlu mas, aku sudah punya semuanya. pemberian Mami Sandra selama ini sudah lebih dari cukup". ungkap Anin, pakaian dan perhiasan yang di berikan Sandra padanya sudah cukup baginya.


Apalagi black card yang di berikan oleh Askara, Anin bahkan bingung cara menghabiskannya.


"Kau ini, selalu saja mementingkan orang lain di banding diri sendiri" ujar Askara.


"Vivi bisa ngambek tujuh hari tuju malam kalau sampai tidak di bawakan oleh-oleh. sedangkan bi Ratih dia sudah sangat baik selama ini padaku"


"Baiklah, terserah kau saja. tapi kau harus bersabar menunggu sampai kerjaanku selesai" ujar Askara.


"Siap, mas" balas Anin tersenyum sumringah.


Anin berdiri dari duduknya, memilih menunggu Askara di dalam kamar sembari memainkan ponsel membuka media sosialnya, atau sekedar berbalas chat dengan Vivi.


****


Sesuai dengan janji Askara tadi, kini dia sedang mengajak Anin untuk berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Bali.


"Aku tunggu di sini, kau saja yang belanja" ujar Askara yang lebih memilih menunggu di salah satu kursi yang terdapat di dalam toko.


"Ambil ini" Askara menyerahkan sebuah kartu platinum pada Anin untuk dia gunakan berbelanja .


Kartu yang hanya di miliki oleh segelintir orang karena tidak mudah untuk mendapatkan kartu tersebut di karenakan persyaratan yang cukup ketat.


"Mas, aku masih punya kartu yang kau berikan. aku pakai itu saja" ujar Anin, satu kartu saja sudah pusing bagaimana cara menghabiskannya.


"Aku tidak menerima penolakan, ingat! ini adalah nafkahku untukmu" ujar Askara tak terbantahkan.


"Baik, mas. aku terima" mau tidak mau Anin mengambil kartu di tangan Askara.


"Aku belanja dulu"


"Hemm".


Anin mulai mengitari toko oleh-oleh tersebut, mengambil beberapa makanan khas Bali, aksesoris, beberapa lembar pakaian yang cocok untuk Vivi dan juga untuk bi Ratih.


Meskipun Askara berkata bahwa Sandra pasti tidak membutuhkan oleh-oleh, tapi tetap saja Anin membelikan beberapa barang untuk mertuanya itu.


Anin sama sekali tidak membeli barang untuk dirinya. setelah di rasa lengkap, Anin menuju ke kasir untuk melakukan pembayaran.


Anin berbelanja secukupnya, walau limit dari kartu yang berikan Askara sudah pasti bernilai banyak, Anin ingin bijak dalam membelanjakannya. baginya, mencari uang itu sangatlah susah.


"Terimakasih mbak" ujar pegawai kasir saat Anin selesai melakukan pembayaran.


"Sama-sama" balas Anin tersenyum.


Anin mencari keberadaan Askara di tempat duduknya, namun pria itu tidak ada.


Ternyata, Askara sedang berada di luar toko, tengah berbicara dengan seseorang, Anin tidak dapat melihatnya karena tubuh Askara yang menghalangi.


"Mas, rupanya kau di sini" ujar Anin menghampiri Askara.

__ADS_1


"Kau sudah selesai belanjanya?" tanya Askara.


"Sudah, mas"


"Hai Anin, kita ketemu lagi" sapa dokter Arga dengan senyum lebarnya.


Anin menatap terkejut kehadiran dokter Arga di sini.


"Dokter Arga, kok bisa ada di sini?" tanya Anin.


"Pasienku terlalu cerewet, jadi aku ke sini. aku butuh refreshing" cengir dokter Arga.


Anin membalas dengan senyum, yakin dokter Arga sedang bercanda.


"Kalian berdua sedang babymoon?" tebak dokter Arga.


"Iyya, dok" balas Anin dengan senyum malu-malunya.


"Bagaimana performa Askara?, durasinya pasti sebentar kan? dia ini memang pria yang payah" tanya dokter Arga membuat Askara menatapnya tajam.


Anin mengerutkan kening, tidak mengerti maksud pertanyaan dokter Arga.


"Maaf, aku tidak mengerti maksud dokter Arga"


Dokter Arga tertawa mendengar perkataan Anin.


"Ternyata kau sepolos itu, maksud aku itu..__


Askara menendang tulang kering dokter Arga membuat pria itu tidak melanjutkan perkataannya.


"Aww... sakit brengksek" ringis dokter Arga merasakan sakit di kakinya.


"Mas.." tegur Anin pada suaminya itu.


"Jangan merusak fikiran istriku dengan pertanyaan unfaedah Lo itu" ujar Askara tajam.


"Nggak asik, Lo" ujar dokter Arga.


"Sekarang Lo pergi dari sini, gue yakin cewek-cewek Lo sedang menunggu kedatangan peliharaan mereka" sindir Askara, tujuan Arga ke Bali hanyalah untuk bersenang-senang dengan pacar-pacarnya.


"Peliharaan?, Lo ngatain gue buaya?" tanya dokter Arga.


"Barusan Lo sendiri yang nyebut diri Lo buaya"


Skakmat. dokter Arga menjadi kesal.


"Mending gue buaya, bisa ngerasain indahnya cinta. dari pada Lo masih nunggu cewek yang belum jelas perasaannya sama Lo" ujar dokter Arga keceplosan.


Tubuh Askara menegang, menatap tajam Arga.


Dokter Arga menutup mulutnya, karena menyadari ucapannya.


Sedangkan Anin, raut wajahnya sudah berubah. Anin tau betul siapa wanita yang di maksud oleh dokter Arga.


Askara mengepalkan kedua tangannya,, siap melayangkan bogeman di wajah Arga.


"Gue cabut dulu, cewek gue udah nungguin. bye Anin" dokter Arga buru-buru meninggalkan Askara karena menyadari kemarahan pria itu.


Mobil dokter Arga melaju meninggalkan tempat tersebut.


"Mas, aku duluan ke mobil" ujar Anin dingin, hatinya mendadak sakit mendengar perkataan dokter Arga tadi.


Askara tidak bodoh, dia menyadari perubahan sikap Anin yang mendadak dingin.


Apa Anin tau siapa yang di maksud oleh Arga? batin Askara.


**Tinggalkan jejak

__ADS_1


Like, komen, dan vote**.


__ADS_2