Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 67


__ADS_3

"Ada yang ingin kau tanyakan?" Dito buka suara memecah keheningan di dalam mobil yang terus melaju.


Vivi menarik perhatiannya dari luar jendela mobil, beralih menatap sekretaris Dito.


"Tentang?" tanya Vivi balik.


"Aku tau, pasti banyak pertanyaan bersarang di kepalamu tentang kejadian hari ini" terang sekretaris Dito.


"Tanyakan saja, jangan sampai kau stress sendiri. membuat satu proposal saja sudah membuatmu setengah gila apalagi jika harus memendam keingintahuanmu itu" ledek sekretaris Dito.


Vivi tentu mendelik menatap sekretaris Dito.


Perkataan pria itu sukses membuatnya mencebikkan bibirnya kesal.


"Bisa tidak, kau lupakan saja masalah tugas proposal itu" geram Vivi.


"Baiklah. kalau begitu tanyakan apa yang mau kau tau, sebelum aku berubah fikiran"


Vivi nampak menimbang. "Aku tidak tau harus memulai bertanya dari mana". saking banyaknya pertanyaan yang berputar di kepalanya, gadis itu menjadi bingung sendiri.


Sekretaris Dito menghela nafas "Ya sudah, tidak usah bertanya kalau begitu" putus Dito.


"Eh.. tunggu.. aku akan menanyakan hal yang paling ingin ku ketahui saja"


"Tentang?"


"Tentang perkataanmu di makam ibumu mengenai wanita idaman untuk menjadi menantunya" Vivi menegakkan posisi duduknya lalu kembali melanjutkan perkataannya.


"Maksudku...Aku sebenarnya tidak mau ke GRan, tapi tadi di makam ibumu hanya ada aku, dan hari ini kau tiba-tiba mengklaim aku di depan Bibimu sebagai pacar, aku bingung maksud dari semua ini". Vivi menjelaskan dengan cepat agar Dito tidak menganggapnya terlalu percaya diri.


Dito menganggukkan kepalanya, sudah dia duga Vivi akan menanyakan hal ini dari sekian banyaknya pertanyaan di kepalanya.


"Kau sangat ingin tau?"


Vivi mengangguk cepat.


"Baiklah".


"Dulu, waktu SMP aku cukup nakal. sering bolos pelajaran, bertengkar dan sering keluar masuk BP. ibuku dulu kehabisan cara untuk bisa menghadapi tingkahku. makanya dari situ ibuku ingin aku mendapatkan istri yang galak, berani, agar bisa tahan menghadapiku nantinya".


"Kau ingat saat pertama kali kita bertemu di perusahaan tuan Askara?"


"Iyya aku ingat"


"Saat itu aku mulai tertarik padamu, tapi karena memang selama ini aku tidak pernah dekat lengan lawan jenis, aku bingung harus bagaimana".


Deg. jantung Vivi berdetak kencang saat Dito membuat pengakuan mengejutkan.


"Kau tertarik padaku?" tanya Vivi.


"Hemm...Karena sikap galakmu, dan yang pertama kali aku ingat saat itu adalah perkataan ibuku. aku melihat apa yang ibuku inginkan ada pada kau".


Vivi sulit mengartikan semua ini.

__ADS_1


Sekretaris Dito meraih tangan Vivi, membuat debaran di jantungnya berubah menjadi gemuruh yang hebat.


"Aku serius soal perkataanku pada bibi Rima tadi".


Dito tampak menarik nafas dalam.


"Aku ingin apa yang terjadi hari ini benar nyata adanya"


"Vi, apa kau bersedia untuk menjadi pacarku?" tanya Dito tidak ingin menyimpan rasa ini lebih lama lagi.


Tubuh Vivi menegang seketika. tenggorokannya mendadak terasa kering.


Untuk membuka mulut saja rasanya sangat susah.


"Beri aku waktu untuk memikirkan semuanya". ujar Vivi akhirnya, dia tidak ingin asal mengambil keputusan.


Sekretaris Dito menghargai keputusan Vivi, dia juga tidak ingin membebani gadis itu untuk menjawab terburu-buru.


******


Anin sedang duduk bersandar di atas tempat tidurnya. tangannya terus mengganti channel tv berharap mendapatkan tontonan yang menarik perhatiannya.


Sepulang dari rumah sakit, dia kira tidak akan merasa bosan lagi. tapi nyatanya, Askara dan juga Mami Sandra hanya membiarkannya beristirahat di kamar tanpa melakukan aktifitas apapun.


Anin memilih mematikan layar tv di depannya. ini sama saja seperti terkurung di dalam kamar seharian.


Pintu kamar terbuka, Askara masuk dengan kening berkerut saat melihat wajah Anin di tekuk.


"Ada apa? kenapa wajahmu di tekuk begitu?" tanyanya mengisi tempat kosong di samping Anin.


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan dengan kondisi seperti ini. sudahlah, kau bersabar saja sampai dokter Ziva mengatakan kau sudah bisa beraktifitas dengan normal kembali".


"Tetap saja mas, berada di dalam kamar seharian itu juga rasanya sangat-sangat membosankan".


"Lalu kau mau apa?". tanya Askara.


"Aku mau ke taman belakang" jawab Anin cepat.


"Boleh, tapi tunggu sebentar. orang yang ku tunggu belum datang".


"Memangnya mas mau ketemu sama siapa?".


"Seseorang" jawab Askara misterius.


Anin memicingkan matanya menatap wajah Askara.


Tak lama suara pintu kamar di ketuk.


"Nah itu dia, orangnya sudah datang". Askara beranjak turun dari tempat tidur untuk membuka pintu kamar.


"Siapa mas?" tanya Anin penasaran, pasalnya Anin tidak bisa melihat dengan jelas orang tersebut karena terhalang tubuh besar Askara.


Askara masuk bersama dengan orang tersebut yang mengekor di belakangnya.

__ADS_1


"Siapa mas?" tanya Anin lagi, dia memiringkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang.


"Selamat sore nona Anin" sapa seseorang tersebut menunduk hormat pada anin.


Anin terkejut melihat siapa yang sedang berdiri di depannya.


"Mia...?" seru Anin tidak percaya. "Kau kenapa bisa ada di sini?".


Mia tersenyum menatap wajah terkejut Anin.


"Mulai hari ini saya di tugaskan untuk menjaga nona Anin, atas perintah tuan Askara". terang Mia.


"Benarkah, mas?" tanya Anin menatap Askara.


"Hemm". balas Askara.


Seketika wajah Anin yang tadinya di tekuk karena merasa bosan, berganti dengan wajah cerah setelah melihat kehadiran Mia.


"Senang bertemu kembali denganmu Mia" ujar Anin sangat senang.


Terakhir, mereka bertemu saat Mia membantu merawatnya yang tengah demam sewaktu masih tinggal di apartement Askara.


"Sebuah kehormatan juga bagi saya bisa bekerja untuk nona Anin". balas Mia sopan.


"Kau tidak perlu kaku seperti itu, kita kan hanya beda beberapa tahun".


Mia tampak tidak enak mendengar ucapan Anin.


"Maaf nona, tapi bagaimanapun saya ini hanyalah seorang pelayan di sini. saya di bayar untuk menjaga dan memenuhi semua kebutuhan nona Anin".


"Aiisshh... apa kau di ancam oleh mas Askara?" tanya Anin menatap tajam Askara yang masih berdiri.


"Sama sekali tidak nona, semuanya memang sesuai prosedur yang ada" jelas Mia.


"Ya sudahlah, itu tidak penting. yang penting sekarang aku sudah punya teman di mansion ini". ucap Anin girang.


Mia merasa ikut senang karena Anin bisa menerimanya dengan baik.


"Kau senang sekarang?" tanya Askara.


"Iyya mas, terimakasih yah sudah membawa Mia ke sini".


"Hemm.. asalkan kau senang" balas Askara.


"Sekarang kau bisa ke taman bersama Mia, karena aku harus menyelesaikan pekerjaan di ruang kerjaku. Dito sedari tadi tidak mengangkat telfonku, entah kemana dia". Askara heran, baru kali Dito mengabaikan telfonnya.


"Baik, mas".


"Mia, kau tau tugasmu kan? ingat! jangan biarkan Anin beraktifitas tanpa menggunakan kursi rodanya".


"Baik, tuan. saya mengerti"


"Ya sudah, aku tinggal dulu".

__ADS_1


Askara keluar dari kamar tersebut sambil terus menenpelkan hanphone di telinganya untuk menghubungi sekretaris Dito.


"Ckk.. kemana Dito?". gumam Askara terus mengubungi nomor Dito.


__ADS_2