
Dari tempatnya berdiri, Askara hanya bisa memandangi kepergian Anin dari rumah sakit, tapi bukan pulang menuju mansionnya melainkan pulang ke rumah Vivi, itulah info yang Askara dapat.
Padahal Askara rela melepas paksa selang infusnya demi bisa bertemu dengan Anin tadi, tapi sayangnya kehadirannya kembali tak di sambut ramah oleh sang istri yang justru berakhir dengan perdebatan.
"Apa yang kau lakukan di sini?". Mami Sandra mendapati Askara berdiri seorang diri, sejak tadi ia mencari-cari keberadaan Askara karena tidak mendapatinya di ruangan dokter Arga.
"Aku mau pulang, Mi". ujar Askara namun sorot matanya masih menatap ke arah parkiran padahal mobil yang Anin tumpangi sudah meninggalkan rumah sakit beberapa saat yang lalu.
"Kembali ke ruangan dokter Arga, kau masih butuh perawatan setidaknya sampai keadaanmu menjadi lebih baik".
"Itu tidak perlu Mi, mau berapapun cairan infus yang masuk ke tubuhku itu tidak akan membuatku jauh lebih baik. karena nyatanya obatku yang sesungguhnya kini memilih untuk menjauh dan menjaga jarak denganku". tutur Askara dengan tatapan kosong.
Mami Sandra mengerti betul siapa yang di maksud oleh Askara. Anin adalah sesungguhnya obat dari segala rasa sakit yang Askara rasakan sekarang, tapi mau bagaimana lagi ia hanya bisa menghargai keputusan menantunya itu.
"Mami mengerti nak, tapi tolong dengarkan Mami kali ini. kau butuh pengobatan medis agar bisa memperjuangkan Anin kembali. jika kau saja tidak bisa menjaga kesehatanmu lantas bagaimana kau akan menjaga Anin terlebih lagi tanggungjawabmu sekarang sudah bertambah dengan adanya Jendra".
Askara menghela nafas kasar karena apa yang di Katakan oleh Maminya benar adanya.
"Panggil dokter Arga ke rumah". Askara langsung berlalu meninggalkan Mami Sandra yang tersenyum cerah karena Askara mau mendengarkan perkataannya meskipun Askara tidak ingin di rawat di rumah sakit lagi. tapi bagi Mami Sandra itu tidak masalah yang jelas Askara bisa mendapatkan perawatan.
Sementara itu Anin sudah sampai di rumah Vivi yang akan menjadi tempat tinggalnya untuk sementara waktu. ya, hanya untuk sementara waktu karena Anin memang tidak berniat untuk tinggal terlalu lama di rumah itu meskipun orang tua Vivi membebaskan Anin untuk tinggal selama yang dia mau.
__ADS_1
"Maaf ya Nin, rumahnya masih berantakan". ujar Vivi meletakkan barang-barang Anin ke lantai.
"Gapapa Vi, nanti biar gue sama ibu yang beresin". balas Anin mengamati setiap sudut rumah Vivi.
"Biar ibu yang beresin nak, kau istirahat saja". ujar Bu Risa tidak ingin membuat Anin kelelahan karena baru pulang dari rumah sakit.
"Anin gapapa kok Bu, kasian kan kalau ibu beresin ini semuanya sendirian".
"Tapi kau baru pulang dari rumah sakit nak, kata dokter kau harus banyak istirahat".
"Percaya sama Anin, Bu. Anin akan baik-baik saja". Anin meyakinkan ibunya agar tidak perlu terlalu khawatir dengan keadaannya.
"Baiklah". Bu Risa memilih mengalah
Selepas kepergian Vivi, Anin mengelilingi rumah berukuran minimalis yang terlihat nyaman itu meskipun sedikit agak berantakan karena sudah cukup lama tidak di tempati. letaknya pun berada di kawasan perumahan yang ketat akan penjagaan, jadi Anin tidak perlu merasa was-was jika hanya tinggal bersama Bu Risa dan juga Jendra.
Setelah membersihkan dan juga membereskan isi rumah, Anin mendudukkan tubuhnya di sofa untuk beristirahat sejenak. dari arah dapur Bu Risa terlihat datang membawa secangkir teh hangat yang kemudian di letakkan ke atas meja.
"Minum dulu teh nya, nak". ujar bu Risa ikut duduk bersebrangan dengan Anin.
"Makasih Bu". Anin tersenyum lalu menyeruput teh hangat buatan ibunya.
__ADS_1
"Boleh ibu bertanya sesuatu?". nada suara Bu Risa terdengar serius.
Anin mengangguk, "Ibu mau bertanya soal apa?".
"Ini soal rumahtangga kalian nak, jujur ibu kurang setuju melihat kalian hidup terpisah kayak gini, apa hubungan kalian memang sudah tidak bisa di perbaiki?". Bu Risa akhirnya menyuarakan kegelisahan yang selama ini mengganjal di hatinya.
Anin terdiam sejenak karena jika membahas persoalan hubungan rumah tangganya dengan Askara maka hatinya akan kembali terasa sakit.
"Ibu kenapa harus bahas hal itu sekarang sih?". ujar Anin tidak suka.
"Harus nak, ibu hanya tidak ingin melihat kalian berpisah di usia pernikahan yang baru seumur jagung. apalagi Jendra baru lahir dan sudah harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya berpisah, apa kau tidak memikirkan masa depan anakmu, Nin?, dia butuh sosok ayah untuk tumbuh besar".
"Bu, tanpa mas Askara pun Anin juga bisa besarin Jendra dengan baik. justru kalau Anin maksain hidup bareng mas Askara yang ada Anin akan makan hati terus. selama ini Anin sudah berulang kali kasi kesempatan mas Askara berharap dia bisa berubah tapi nyatanya apa Bu?, dia malah habis-habisan nyakitin Anin tanpa pernah peduli kalau Anin sedang mengandung anaknya". tutur Anin dengan nafas memburu.
"Membesarkan anak seorang diri tidak semudah apa yang kau bayangkan nak. apalagi jika Jendra tumbuh semakin besar dan dia akan semakin banyak ingin tau. apa yang nanti akan kau katakan padanya?, ibu paham apa yang kau rasakan tapi jika Askara meminta kesempatan untuk berubah lebih baik lagi, maka sisihkan sedikit nuranimu untuk memikirkan nasib anakmu ke depannya".
"Itu artinya ibu ngga ngerti apa yang Anin rasakan. ibu ngga ngerti gimana sakitnya melihat suami sendiri menginap di dalam kamar apartemen wanita lain, ibu ngga akan pernah ngerti gimana sakitnya Anin waktu itu karena ibu ngga pernah ngalamin itu". suara Anin meninggi di sertai dengan deraian air matanya.
"Itu karena kau belum mendengar penjelasan apapun dari Askara, nak. ibu tau kau sakit, ibu tau kau terluka tapi tolong jangan ikut tutup telingamu dari penjelasan Askara".
Anin menggeleng sebagai tanda penolakan.
__ADS_1
"Anin sama sekali tidak butuh penjelasan apapun, apa yang Anin lihat sudah cukup jelas membuktikan bahwa mas Askara mengkhianati Anin. keputusan Anin sudah bulat Bu, Anin tetap akan berpisah meskipun ibu tidak setuju dengan keputusan Anin".
Anin bangkit dari sofa yang dia duduki lalu melangkah meninggalkan Bu Risa yang masih terus memanggilnya. baginya tidak ada satu orang pun yang bisa menahannya untuk berpisah dari Askara termasuk ibunya sendiri.