Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 56


__ADS_3

Hari semakin siang, namun kesibukan Anin di toko kue malah semakin padat.


Terlihat beberapa kali Anin menarik nafas dalam saat rasa sakit di perut bawahnya terasa setiap 10 menit sekali.


Anin sendiri bingung karena biasanya setelah meminum air putih dan istirahat sebentar rasa sakitnya sudah hilang, namun kali ini justru terasa semakin intens.


"Nin, Lo nggak papa?" tanya Vivi melihat wajah Anin meringis menahan sakit.


"Ngga papa Vi" balas Anin kembali mengaduk bahan adonan cake.


"Lo yakin?, wajah Lo keliatan pucat. ini udah siang dan Lo juga belum makan. mending Lo ke basecamp deh,terus makan siang. biar gue yang gantiin" ujar Vivi merasa khawatir.


"Udah, gue nggak papa kok, ini bentar lagi juga selesai. kita makan siangnya barengan aja. nggak enak sama yang lain pada masih kerja" ujar Anin berusaha tersenyum agar Vivi tidak merasa khawatir.


"Tapi kalau capek bilang yah, jangan di paksa. ingat! Lo itu nggak sendiri" ujar Vivi berbisik di akhir katanya.


"Iyya...Iyya.. bawel banget sih". ucap Anin terkekeh.


Saat keduanya kembali sibuk, Ambar selaku owner toko kue, memasuki dapur ruang produksi mencari Doni.


"Doni mana, Nin?" tanya Ambar, saat tidak menemukan Doni di dapur.


"Kak Doni lagi keluar antar pesanan cake, emang kenapa kak?" tanya Anin.


"Itu loh, kakak baru selesai belanja bahan-bahan kue. terus masih ada di bagasi mobil, tadinya mau minta bantuan Doni buat ngangkatin masuk" ujar Ambar.


"Mmm..biar Anin aja yang bawa masuk kak" ujar Anin.


"Emang kamu kuat?, itu belanjaannya berat loh, Nin" ujar Ambar mengingatkan.


"Bisa kok kak, ya udah Anin keluar dulu"


"Makasih yah, kakak mau ke toilet dulu. kebelet pipis soalnya".


Anin menyimpan sejenak pekerjaannya kemudian keluar untuk mengambil bahan-bahan kue di bagasi mobil Ambar.


"Nin, mau kemana?" tanya Fika yang hendak masuk ke dapur membawa nampan kosong.


"Mau ambil belanjaan bahan kue di mobil kak Ambar. ujar Anin.


"Gue ajalah Nin yang ambil" sambar Vivi yang juga hendak masuk ke dapur.


"Nggak usah, mending Lo sama Fika lanjutin kerjaan gue di dalem" ujar Anin.


"Ya udah, kita ke dalam dulu" ujar Fika mengajak serta Vivi.


Anin kembali melanjutkan langkah kakinya keluar dari toko.


Anin membuka bagasi mobil, terdapat sebuah kardus yang berukuran cukup besar. isinya ada terigu, gula, mentega dan bahan-bahan pelengkap lainnya.


"Ternyata berat juga" gumam Anin saat mencoba mengangkat kardus tersebut.


Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Anin memaksakan diri mengangkat kardus tersebut.


Tubuh mungilnya nampak kesulitan berjalan memasuki toko.


"Permisi" seru Anin pada beberapa pelanggan toko untuk memberinya jalan.

__ADS_1


Bulir keringat keluar dari pori-pori kulit wajah Anin. perutnya tiba-tiba terasa sakit lagi.


"Sini gue bantu" ujar Vivi saat melihat Anin memasuki dapur dengan kardus besar di tangannya.


Vivi membantu Anin meletakkan kardus tersebut ke lantai.


"Makasih, Vi" ujar Anin menahan sakit di perutnya.


"Harusnya gue aja yang ngambil, ini berat banget tau Nin. kan gue udah bilang, minta bantuan gue aja kalau butuh apa-apa" cerocos Vivi kesal karena Anin tidak memperhatikan kehamilannya.


Anin yang sudah merasa sangat kesakitan, tidak mendengarkan Vivi yang sedang marah-marah.


"Aaaakkhh.... Vi, perut gue" ujar Anin tercekat, mencengkram ujung meja dapur.


Vivi yang masih asik menggerutu menjadi panik melihat Anin tengah kesakitan memegang perutnya.


"Nin, Lo kenapa?" tanya Vivi panik.


"Perut gue Vi, aaaakkhh... sakit banget" Anin sudah tidak tahan, rasanya perutnya seperti di remas dengan kuat.


"Lo yang tenang yah, gue ambil minum dulu" Vivi terlihat kalang kabut.


"Enggak, jangan tinggalin gue... aaakhh... aaaakkhh.. sakit banget Vi" ujar Anin menahan tangan Vivi, dia terus meringis menahan sakit yang begitu hebat di perutnya.


Tubuh Vivi menegang saat melihat darah keluar dari ************ Anin.


"Ya ampun Anin, Lo keluar darah" pekik Vivi kaget, tubuhnya gemetar melihat aliran darah yang mengucur dari sela kedua paha Anin.


Anin yang mengenakan dress selutut membuat aliran darah itu nampak semakin jelas.


"Vi, gue udah nggak kuat" ujar Anin tertahan, keringat membanjiri wajah pucatnya.


"Lo tunggu di sini" ujar Vivi meninggalkan Anin dan keluar untuk mencari bantuan.


Anin bertumpu pada meja dapur, memejamkan matanya menahan rasa sakit yang luar biasa.


"Fika.. Kak Doni.. kak Ambar.." teriak Vivi panik, air matanya terus berjatuhan.


"Ada apa Vi?, kenapa panik gitu" tanya Doni yang baru saja sampai di toko kue setelah mengantar pesanan.


"Iyya, ada apa sih Vi?" Fika ikut bertanya. karena melihat raut wajah panik Vivi.


"Anin kak...Anin pendarahan" ujar Vivi menangis.


"APAAAAA?" seru Fika dan Doni bersamaan, keduanya kaget mendengar pernyataan Vivi.


"Kamu kalo ngomong yang jelas Vi" ucap Doni merasa perkataan Vivi tidak masuk akal.


"Aku udah ngomong yang jelas kak, Anin emang pendarahan".


Doni dan Fika saling menatap, seolah mempunyai pertanyaan yang sama di kepala mereka.


"Ini sebenarnya ada apa sih, Vi? jangan buat kita bingung" tanya Fika menuntut penjelasan.


"Nanti aku jelasin semuanya ke kalian, sekarang yang penting kak Doni bantuin Anin, aku takut Anin kenapa-napa, hiks...hiks" Vivi terus menerus menangis.


Doni dan Fika segera masuk ke dalam dapur untuk memastikan kondisi Anin.

__ADS_1


"Ya ampun, Anin" pekik Fika menutup mulut melihat kondisi Anin yang sudah penuh dengan darah.


Sama halnya dengan Fika, Doni juga sama kagetnya melihat kondisi Anin yang mengerang kesakitan memegang perutnya.


"Anin Lo yang kuat yah.. kita ke rumah sakit sekarang" ujar Vivi menenangkan Anin.


"Gue udah nggak tahan Vi, sakit banget" ujar Anin yang kesadarannya mulai berkurang.


"Kak, tunggu apa lagi. angkat Anin ke mobil" teriak Vivi marah karena Doni hanya berdiri mematung.


Bukan tidak ingin membantu, tapi Doni dan Fika terlalu syok dengan apa yang mereka lihat.


"Iyya..iyaa.. maafin Kakak" ucap Doni tersadar dari keterkejutannya, dia segera mengangkat tubuh Anin keluar toko.


Vivi menyambar tas Anin kemudian berlari keluar toko mengikuti Doni yang membawa tubuh Anin.


Untung saja suasana toko sedang sepi karena jam istirahat.


"Pake mobil aku aja kak" ujar Vivi membuka pintu mobil bagian penumpang.


Doni membawa tubuh Anin yang sudah kehilangan kesadaran ke dalam mobil Vivi.


"Biar kakak yang nyetir, kamu duduk di belakang temenin Anin" ujar Doni.


"Iyya kak, ini kunci mobilnya" Vivi menyerahkan kunci mobilnya pada Doni kemudian ikut masuk ke dalam mobil.


"Fik, jaga toko yah. dan jangan lupa beritahu kak Ambar mengenai kondisi Anin" ujar Doni pada Fika yang terlihat khawatir.


"Iyya kak, hati-hati yah. jangan lupa kabarin kondisi Anin nanti" ujar Fika cemas.


"Iyya"


Doni segera memasuki mobil Vivi, menancap gas menuju rumah sakit.


"Semoga Anin baik-baik aja" Fika terus merapalkan do'a untuk keselamatan Anin.


Fika yang belum memberitahu Ambar soal kondisi Anin, memutuskan untuk kembali ke dalam toko.


Namun, langkah Fika terhenti saat sebuah mobil berhenti tepat di depan toko.


Terlihat Ken turun dari mobilnya.


"Siang Fika" sapa Ken saat melihat Fika berdiri di depan toko.


"Tumben di luar, yang lain mana?" tanya Ken melihat ke dalam toko yang pintunya terbuat dari kaca.


Sepi.


"Anu... kak Ambar ada kok di dalam di ruangannya, kalau kak Doni lagi nganter Anin kerumah sakit" ujar Fika dengan raut wajah sedih.


Mendengar nama Anin di sebut, perasaan Ken jadi tidak enak.


"Ke rumah sakit?, memangnya Anin kenapa?" tanya Ken dengan raut wajah khawatir.


"Aku juga kurang tau kak, yang jelas Anin banyak keluar darah" jelas Fika.


Tubuh Ken menegang mendengar penjelasan Fika.

__ADS_1


"Thanks infonya Fik, kalau gitu aku mau susul Doni ke rumah sakit". ujar Ken buru-buru memasuki mobilnya tanpa menunggu jawaban Fika.


Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. tujuannya adalah menuju rumah sakit tempat kakaknya bekerja, karena itu adalah rumah sakit paling terdekat dari toko kue.


__ADS_2