Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 74


__ADS_3

Anin sudah selesai dengan ritual mandinya. seperti pesan Askara tadi, hanya sekitar 15 menit Anin berada di dalam kamar mandi.


Bau buah Cherry menyeruak ke dalam Indra penciuman Askara saat Anin keluar dari kamar mandi dengan piyama melekat di tubuhnya.


"Anin, kemari". Askara menepuk sofa kosong di sampingnya memberi isyarat agar Anin duduk di sampingnya.


Tanpa bertanya, Anin segera mendekat dan duduk di samping Askara.


"Ada apa, Mas?" tanya Anin.


Satu tangan Askara beralih merangkul Anin agar semakin dekat dengannya.


"Ada yang ingin aku bicarakan". raut wajah Askara berubah serius.


"Tentang?".


"Soal pertanyaanmu di rumah sakit kemarin". ujar Askara.


"Pertanyaan yang mana mas?" kening Anin berkerut.


"Soal perasaanku, hari itu kau bertanya apa aku sudah cinta atau belum padamu". Askara menjeda perkataannya.


Anin yang sedang memainkan kancing baju Askara menjadi terhenti. wajahnya terangkat dan menatap Askara serius.


Anin hanya diam menunggu Askara melanjutkan perkataannya. terdengar helaan nafas dari mulut Askara sebelum akhirnya kembali bersuara.


"Aku ingin kau tau satu hal ini. Tepatnya kapan aku sendiri pun tidak tau, tapi saat ini aku merasa nyaman dan takut kehilanganmu apalagi saat mendapat kabar kau mengalami pendarahan. saat itu rasanya waktu yang berada di sekitarku mendadak berhenti berputar". terang Askara.


Anin mendengar dengan seksama, merekam tiap kata yang keluar dari mulut Askara di dalam memori ingatannya.


"Saat ini aku hanya ingin kau ada di dekatku, Nin. menemani hari-hariku". ucap Askara menatap dalam wajah Anin.


"Kau mau kan?" tanya Askara membuat Anin berfikir keras.


Sejujurnya, bahkan tanpa Askara minta, Anin pasti akan menjawab Iyya karena memang inilah yang dia harapkan. tapi ada hal yang mengganjal di hatinya, ini mengenai kesepakatan perpisahan mereka di awal pernikahan.


"Anin, kenapa kau diam?" tanya Askara lagi saat Anin hanya bungkam.


"Aku mau menemani hari-hari Mas Askara sampai tiba saatnya kita nanti kita berpisah". balas Anin sambil menggigit kecil bibir bawahnya, rasanya ada sesak di dadanya saat mengatakan hal itu.


"Siapa bilang kita akan berpisah?, kau lupakan kesepakatan konyol yang pernah kita buat. mari bangun rumah tangga normal seperti yang lainnya". sanggah Askara cepat.

__ADS_1


Jantung Anin berpacu saat mendengar perkataan Askara.


"M-mas..?, kau serius?" tanya Anin tak percaya.


"Hemm...sekarang aku belajar membuka hati, aku tidak menampik perasaan nyaman ini terus menginginkan kau berada di sisiku". ungkap Askara.


"Apa itu artinya Mas sudah cinta?". tanya Anin memberanikan diri.


"Cinta atau tidak itu hanya sebuah ungkapan bukan? aku lebih suka menunjukkan semuanya lewat perbuatan, aku tidak suka berbasa-basi lewat perkataan". ujar Askara membuat hati Anin berdesir.


"Seperti ini salah satunya?" tanya Anin mengecup singkat pipi kanan Askara membuat pria itu membeku.


"Kau lebih berani sekarang yah?" tanya Askara tajam tapi justru tidak membuat Anin takut.


"Biarin". Anin semakin menantang Askara.


"Okey, sepertinya kau ingin melanjutkan kegiatan kita yang sempat tertunda tadi". Askara tersenyum jahil.


Kini Anin berubah gugup. "Mas, kata dokter Ziva aku belum bisa melakukan itu". ujar Anin.


"Tidak masalah, aku bisa bermain dengan ini". Askara meremas gundukan di balik bra yang Anin kenakan.


"Akhh..Mas". pekik Anin saat Askara meremas kencang buah dadanya.


Askara memberi sedikit gigitan kecil di bibir untuk memberinya akses bermain lebih dalam lagi di mulut Anin.


Anin yang merasakan sensasi nikmat kini bergerak tidak karuan. kedua tangannya sudah menggantung di leher Askara. sesekali Anin menekan tengkuk suaminya serasa tidak ingin mengakhiri ciuman panas mereka.


Askara yang melihat Anin bergerak meliukkan tubuhnya, semakin gencar bermain di bagian sensitif Anin. mulai dari mengecup leher putih mulus Anin hingga meninggalkan bekas merah di sana.


"Mas...". seru Anin dengan suara serak menahan gejolak dalam tubuhnya.


Tangan Askara turun membuka satu per satu kancing piyama yang di kenakan oleh Anin membuat dua gundukan menyembul indah di balik bra yang Anin kenakan.


Karena merasa gerakannya terbatas, Askara mengangkat tubuh Anin ke atas tempat tidur.


Hingga kini Askara berada di atas tubuh Anin, menelusuri tiap inci tubuh atas Anin yang sudah bebas dari pakaian.


Suara ******* keluar dari bibir mungil Anin, apalagi saat Askara menggigit kecil pucuk dari buah dadanya membuat tubuhnya menggelinjang hebat.


"Akhhh ..Mas.." panggil Anin dengan penuh gairah.

__ADS_1


"Panggil namaku sayang". ujar Askara semakin bersemangat melihat ekpresi Anin.


"Mas Askara.. akhh". Anin bak cacing kepanasan saat Askara menghisap putingnya dengan rakus.


Askara menikmati setiap permainannya begitupun dengan Anin. Junior Askara di bawah sana sudah meronta. walau masih ingin bermain, Askara mengakhiri lebih dulu kegiatan panas mereka. terpaksa dia harus menuju kamar mandi untuk bermain solo karena kondisi Anin yang belum memungkinkan.


Anin yang di tinggal ke kamar mandi oleh Askara menatap penuh kehilangan. sejujurnya dia ingin bermain lebih tapi dia tidak ingin egois karena kondisinya belum pulih betul.


Dengan berat hati, Anin mengambil bajunya dan mengenakannya kembali sambil menunggu Askara keluar dari kamar mandi.


Askara keluar sambil tersenyum melihat Anin yang duduk bersandar di sandaran tempat tidur.


"Kenapa lama sekali mas?" tanya Anin lebih tepatnya protes pada Askara.


"Aku harus menuntaskan permainanku". jawab Askara ikut naik ke atas tempat tidur.


Anin menyandarkan kepalanya manja saat Askara sudah berada di sampingnya.


"Maafkan aku mas". ucap Anin.


"Kenapa kau harus meminta maaf?".


Anin mendongak. "Karena aku belum bisa memenuhi kebutuhan Mas Askara".


"Aku tidak masalah selama itu untuk kebaikanmu, lagi pula secepatnya aku akan mendapatkan itu kan?". Askara mencium lembut puncak kepala Anin.


"Anin". panggil Askara lembut.


"Kenapa Mas?".


"Maafkan atas perlakuanku di awal pernikahan kita. aku melakukan itu semua karena merasa belum siap dan itu terjadi terlalu tiba-tiba dalam hidupku". Askara kembali membuka lembaran kelam awal pernikahannya dengan Anin.


"Aku sudah memaafkan semuanya Mas, sekarang kita mulai semuanya untuk pernikahan kita yang lebih baik".


Askara menatap lurus ke depan sambil mendekap Anin. dia memutuskan untuk berdamai dengan perasaannya untuk orang yang berada di masa lalunya.


Seperti yang di katakan Anin, Askara akan mencoba memulai semuanya dari awal untuk pernikahan yang lebih baik.


Sebenarnya, Anin ingin menanyakan sesuatu mengenai perasaan Askara untuk Dalila, Anin hanya ingin tau apa memang nama wanita itu sudah berhasil di singkirkannya di dalam hati Askara atau belum.


Anin takut, Askara hanya menjadikan hubungan mereka sekedar pengalihan untuk sementara waktu.

__ADS_1


Anin berusaha menepis fikiran negatif itu, yang perlu dia lakukan sekarang adalah membuat perasaan itu tumbuh semakin kuat di hati Askara hingga tidak ada celah untuk Dalila lagi, bahkan saat wanita itu kembali sekalipun.


__ADS_2