Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 136


__ADS_3

Hati ibu mana yang tidak hancur melihat putri satu-satunya yang dia miliki terbaring lemah tak berdaya di bantu dengan peralatan medis dan belum juga ada tanda-tanda akan bangun.


Itulah yang kini di rasakan oleh Bu Risa saat melihat pertama kali melihat kondisi Anin. kakinya serasa tak bertulang saat pertama kali mendengar kabar kecelakaan yang menimpa Anin. dirinya pun langsung memutuskan untuk ke Jakarta saat itu juga.


Apalagi beberapa tahun terakhir, Bu Risa sempat memperlakukan Anin dengan begitu buruk. dan kini rasa bersalah itu pun kembali mencuat ke permukaan.


Askara hanya bisa bungkam sedari tadi sambil terus di liputi rasa bersalah karena sudah membuat banyak orang terluka akibat perbuatannya, termasuk Bu Risa. dia sudah menghancurkan kepercayaan wanita paruhbaya itu untuk menjaga putri satu-satunya.


"Maaf karena kami tidak bisa menjaga Anin". Mami Sandra buka suara, mengelus pundak besannya yang baru saja sampai beberapa saat yang lalu. perasaan Mami Sandra semakin hancur saat melihat Bu Risa tak henti-hentinya menangis di sisi tubuh Anin.


"Apa Anin akan baik-baik saja, Bu Sandra?". saat ini yang ada di fikiran Bu Risa adalah keadaan Anin, mengenai kapan anaknya itu akan bangun.


Mami Sandra mengangguk meskipun tidak terlihat oleh Bu Risa, "Secepatnya Anin pasti akan siuman, dia wanita yang sangat kuat apalagi ada bayinya yang menunggunya".


"Iyya, Anin memang anak yang sangat kuat". Bu Risa kembali terisak, mengingat bagaimana gigihnya Anin selama ini bekerja sambil kuliah untuk memenuhi kebutuhan dirinya, Bu Risa benar-benar merasa orang yang paling jahat saat ini.


Perasaan Bu Risa saat ini campur aduk, rasa kecewa, khawatir, sedih, dengan kondisi Anin tapi juga bahagia karena kehadiran cucunya. namun lebih di dominasi oleh rasa khawatir dan sedih tentang keadaan Anin.


Bu Risa menghapus sisa air mata di pipinya, "Lalu di mana bayi Anin?". tanya Bu Risa belum sempat menengok cucunya karena terlalu syok dengan kondisi Anin.


"Dia sedang berada di ruangan bayi, apa kau ingin melihatnya?". tanya Mami Sandra.

__ADS_1


Bu Risa mengangguk, "Aku terlalu khawatir dengan kondisi Anin hingga melupakan cucuku yang baru lahir".


"Mari kita lihat bersama, dia pasti sudah menunggu untuk di jenguk oleh Oma Risa nya". Mami Sandra mencoba membuat Bu Risa tersenyum kembali.


Bu Risa tersenyum simpul, dia sangat bersyukur Anin mempunyai mertua sebaik Bu Sandra. ternyata apa yang Anin ceritakan tentang ibu mertuanya selama ini bukanlah sesuatu yang di buat-buat. karena Bu Risa sendiri bisa melihat dengan mata kepalanya sehangat dan selembut apa perlakuan Bu Sandra pada anaknya.


Dua wanita paruhbaya yang sudah berstatus sebagai Oma itu pun berjalan bersama menuju ruangan bayi tempat bayi Anin berada.


*****


Hari demi hari berlalu namun kondisi Anin masih tetap sama. wanita itu masih enggan untuk membuka mata hingga sudah terhitung seminggu semenjak kecelakaan itu, Anin masih belum juga sadarkan diri.


Askara sendiri merasa semakin hampa dan hampir menggila karena tidak ada perkembangan yang signifikan mengenai kondisi Anin.


Di dalam ruang rawat Anin saat ini, Vivi sedang membersihkan tubuh Anin menggunakan kain basah. selama seminggu Anin tidak sadarkan diri, selama itu pula Vivi selalu berada di samping sang sahabat.


Sampai saat ini juga Vivi belum mau membuka mulut untuk sekedar berbicara dengan Askara meskipun mereka bertemu setiap hari.


Seperti saat ini, Askara hanya duduk diam dengan tatapan datarnya. penampilannya pun terbilang memprihatinkan, lingkar hitam di sekitar mata Askara nampak jelas terlihat, dia pun terlihat lebih kurus karena Askara tidak terlalu memperhatikan pola makannya karena terus berada di sisi Anin.


Kadang Mami sandra harus memaksa Askara untuk makan dengan alasan dia harus sehat untuk bisa menjaga Anin dan bayinya.

__ADS_1


Kedatangan dokter Arga membuat lamunan Askara buyar. Askara langsung berdiri begitupun dengan Vivi.


"Lo baik-baik aja?". sejak pertama masuk ke ruangan Anin, mata dokter Arga tak lepas dari Askara hingga membuatnya khawatir.


"Gue ngga baik". jujur Askara, "Sampai Anin belum membuka matanya maka gue ngga akan baik-baik aja, kenapa sampai sekarang dia belum sadar juga?". tanya Askara langsung karena kini Anin juga ikut di tangani oleh dokter Arga selaku dokter umum.


Sebelumnya, dokter Arga sudah menyatakan bahwa Anin mengalami koma. trauma akibat benturan yang cukup keras di kepala Anin akibat kecelakaan kemarin menjadi pemicu wanita itu belum sadar hingga saat ini.


"Semua di luar kuasa kami sebagai dokter, kami sudah melakukan yang terbaik untuk Anin. kami tidak bisa memprediksi kapan seorang pasien yang mengalami koma akan sadar, bisa ada yang hanya dalam hitungan hari tapi juga bisa sampai berbulan-bulan". tutur dokter Arga sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan selama dia menjadi dokter.


"Lo bilang apa, hah?". emosi Askara tiba-tiba meluap mendengar penjelasan dokter Arga, "Jadi maksud Lo, kemungkinan Anin juga akan mengalami hal seperti itu?". tanya Askara tidak terima jika Anin koma selama itu.


"Bukan begitu maksud gue, Askara. gue hanya mengatakan bahwa kita sebagai dokter tidak bisa memastikan kapan Anin akan siuman. yang bisa kita lakukan hanya terus memantau kondisi Anin agar tetap stabil". jelas dokter Arga agar Askara tidak salah paham akan maksudnya.


"Gue ngga mau tau, lakukan cara apapun untuk membuat Anin siuman. anak gue butuh ibunya, kalau rumah sakit ini tidak mempuni untuk Anin, segera katakan. gue akan bawa Anin keluar negeri untuk mendapatkan perawatan yang lebih bagus dari pada di sini". Askara menjadi kalut, fikirannya kacau. dia tidak ingin kehilangan Anin. saat Anin pertama kali di nyatakan koma, dunia Askara seakan runtuh hingga tidak ada aktivitas lain yang bisa dia lakukan, termasuk menjalankan perusahaannya yang kini dia serahkan pada Papi Argio dan juga sekretaris Dito.


"Lo ngga berhak nyalahin kinerja dokter ataupun kinerja rumah sakit. seharusnya Lo sadar bahwa semua ini terjadi karena Lo yang ngga mempuni jadi suami buat Anin". dokter Arga sedikit kesal saat Askara seolah-olah tidak percaya pada penjelasan dan juga tugasnya sebagai dokter.


Askara meremas rambutnya dengan wajah memerah menahan emosi. lelah fisik dan juga penghakiman dari orang-orang di sekitarnya membuat rasa bersalahnya pada Anin semakin bertambah hingga begitu mengganggunya.


Vivi melirik Askara yang kondisinya memprihatinkan, tidak bisa dia bisa pungkiri bahwa yang paling terlihat tersiksa saat ini adalah Askara. apalagi orang-orang di sekitarnya masih bersikap begitu dingin, termasuk dirinya. tapi Vivi masih tetap pada pendiriannya, selama Anin belum sadarkan diri, maka dia tidak akan mau berbicara pada Askara.

__ADS_1


__ADS_2