
Askara dan Anin kompak melipat kedua tangan sambil menatap dua pasangan yang duduk di seberang mereka yang baru saja terciduk jalan berdua.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Anin dan Askara menginterogasi Sekretaris Dito dan juga Vivi.
"Jadi...? nggak ada yang mau Lo jelasin ke gue, Vivi Rubyah?". tanya Anin penuh penekanan karena Vivi memilih diam sejak tadi.
"Dito..? kau sudah bekerja berapa tahun denganku?". kini giliran Askara yang bertanya di sertai tatapan mengintimidasi.
Vivi mengatupkan kedua mulutnya rapat-rapat menunggu Sekretaris Dito untuk buka suara lebih dulu. bahkan kaki Vivi yang berada di bawah meja sudah berulang kali menyenggol kaki sekretaris Dito agar mau memberi penjelasan.
"Kami berdua memang menjalin hubungan Tuan". jawab sekretaris Dito dengan wajah tenang.
Brakk... Vivi menggebrak meja hingga menarik atensi pengunjung restoran.
"Bohong.. dia bohong... tadi kita berdua tidak sengaja bertemu". sungut Vivi mengelak, bukan itu penjelasan yang dia mau, tapu dia ingin sekretaris Dito ikut membantah.
"Tapi kalian tadi bergandengan tangan, orang yang tidak sengaja bertemu tidak akan melakukan hal sejauh itu, kecuali kalau kalian benar-benar menjalin hubungan". Anin memicingkan matanya, "Akui saja kalau kalian berdua pacaran". desaknya.
"Aku mengenal baik Dito, dia tidak mungkin akan mengatakan omong kosong". Askara menimpali karena dia tau betul seperti apa sifat Sekretaris Dito yang tidak suka basa-basi dan menyimpan rahasia darinya.
"Gue kecewa sama Lo, Vi. Lo udah nggak nganggep gue sebagai sahabat lagi, hal semacam ini sampai-sampai Lo tutupin dari gue. terus buat apa gue selama ini selalu cerita sama Lo setiap gue ada masalah kalo Lo sendiri nggak terbuka sama gue". ujar Anin mendramatisir, air matanya bahkan sudah menggenang dan hendak keluar, mungkin karena perasaannya yang terlalu sensitif semenjak hamil, apalagi kali ini dia di bohongi oleh sahabatnya sendiri.
Vivi yang melihat bibir Anin bergetar serta matanya yang memerah, langsung berubah panik.
"Eh bukan gitu, bukan maksud gue buat nutupin ini semua dari Lo, Nin". Vivi menatap Askara tajam karena wajah pria itu terlampau santai padahal Anin sudah menangis.
Sedangkan Askara pura-pura mengecek ponselnya, membiarkan Vivi menenangkan Anin padahal dalam hati dia sedang menertawakan wajah panik Vivi.
"Sialan, kenapa dia malah santai sekali". gumam Vivi merasa geregetan dengan sikap santai Askara, bahkan terkesan acuh.
__ADS_1
"Pokoknya Lo jahat, Vi". Anin semakin mendramatisir.
Vivi jadi kalang kabut, "Kenapa sih harus pake acara ketemu bumil ini segala". lagi-lagi Vivi bergumam kesal. emosi Anin yang mudah berubah-ubah semenjak hamil membuatnya kadang kewalahan.
"Nin... udah yah, gue minta maaf". sesal Vivi berusaha menenangkan Anin.
"Lo udah berubah, Vi". suara Anin terdengar sesegukan, bahkan kini lengan kemeja Askara menjadi korban penistaan untuk mengelap air matanya.
"Sayang, kenapa ngelapnya pake kemeja aku?". protes Askara karena Anin tiba-tiba berubah menjadi wanita yang jorok.
Anin tersentak karena suara Askara yang meninggi. "Kenapa?, Mas Askara juga udah berubah sekarang?, masa cuman gara-gara kemeja aja Mas Askara sampai nge bentak aku". tangis Anin semakin menjadi-jadi.
Kini Askara yang berubah panik. "Bukan begitu sayang, aku sama sekali tidak marah kok. Nih, kalau kau mau lagi". Askara mendekatkan lengan kemejanya pada Anin sebagai bukti bahwa dia sama sekali tidak marah meskipun wanita itu menggunakan kemejanya lagi untuk mengelap air mata.
"Aku tidak mau". tolak Anin sambil menghapus sisa air matanya menggunakan jari jemarinya. "Aku ingin makan, aku lapar". dalam sepersekian detik mood Anin berubah lagi.
Ketiganya menatap takjub perubahan mood Anin, benar-benar luar biasa, fikir ketiganya.
"Makannya yang pelan-pelan, sayang". peringat Askara sambil tersenyum kecil melihat Anin begitu terburu-buru menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
"Anin". panggil Vivi di sela-sela acara makan mereka.
"Hemm". balas Anin singkat karena fokus pada makanannya.
"Lo udah nggak marah lagi kan?". tanya Vivi
Anin menghentikan gerakan tangannya, menatap wajah Vivi dengan tatapan datar. "Gue udah enggak marah kok, tapi Lo harus jelasin semuanya sejelas-jelasnya". ujarnya lalu tersenyum dan kembali menyendokkan makannya.
Vivi menatap ngeri perubahan sikap Anin yang kadang sedih, ceria, dan marah dalam satu waktu. tapi dia juga bernafas lega karena Anin sudah tidak marah lagi padanya.
__ADS_1
"Gue dan Dito emang menjalin hubungan. awalnya gue emang minta buat nutupin hubungan kita berdua, tapi bukan maksud gue buat bohong sama Lo, gue cuman butuh waktu yang pas aja". ujar Vivi.
"Kenapa kalian berdua tidak menikah saja?". pertanyaan tiba-tiba dari Askara membuat sekretaris Dito tersedak dengan minumannya.
"Iya, Mas Askara benar. lebih baik kalian menikah saja. umur sekretaris Dito juga udah matang banget buat nikah". Anin ikut setuju.
"Gue belum kepikiran buat nikah muda. gue berkaca dari hubungan rumah tangga kalian berdua". sindir Vivi membuat Askara menatapnya tajam.
"Memangnya kenapa dengan pernikahan kita berdua?". tanya Anin heran.
"Dikit-dikit berantem, dikit-dikit baikan. apalagi kalo cowoknya nggak bisa jaga hati untuk satu wanita dan masih mudah goyah sama godaan wanita lain". sindir Vivi habis-habisan membuat Askara berdehem tidak nyaman.
"Tapi sekarang hubungan kita sudah baik-baik saja. anggap saja yang kemarin-kemarin terjadi itu adalah ujian untuk naik ke level selanjutnya". ujar Askara membela diri.
"Berarti masih akan ada level selanjutnya yang lebih menyakitkan dong". ujar Vivi dengan smirknya.
"Level selanjutnya yang aku maksud itu adalah kebahagiaan karena sebentar lagi anak kita akan lahir". Askara tidak mau kalah walau Vivi terus memojokkannya. jika tidak mengingat fakta bahwa Vivi adalah sahabat Anin, maka sudah bisa di pastikan Askara akan membuat Vivi menyesal karena sudah berani padanya.
"Ya kita lihat saja nanti". ujar Vivi.
"Udah deh, kok malah jadi debat gini sih". lerai Anin karena jika Askara meladeni Vivi, maka perdebatan tidak akan ada habisnya.
"Lo janji sma gue yah, Nin. jangan tanya bokap nyokap gue dulu soal hubungan gue sama Dito". ujar Vivi mewanti-wanti.
Anin melirik sekretaris Dito yang hanya diam dan jadi pendengar obrolan mereka. "Memangnya sekretaris Dito setuju kalian jalin hubungan diam-diam kayak gini?".
Sekretaris Dito mengangguk. "Iyya, Nona. saya menyetujui apapun yang membuat Vivi nyaman. karena ini juga sifatnya sementara sampai kami berdua menemukan waktu yang pas untuk bertemu dengan kedua orang tua Vivi".
Anin mengangguk paham, dia juga tidak ingin ikut campur terlalu jauh dengan hubungan sahabatnya. "Sekretaris Dito harus janji buat jagain Vivi terus".
__ADS_1
"Tentu Nona". balas sekretaris Dito.