
"Tuan, berita tentang pernikahan anda di rilis oleh beberapa media dan sudah tersebar ke mana-mana". ujar sekretaris Dito menyerahkan tab di tangannya yang berisi berita tentang pernikahan Askara yang selama ini tidak ketahui oleh banyak orang.
Askara mengambil alih tab tersebut dengan wajah santai, tak terlihat gurat panik di wajahnya.
"Mereka penasaran dengan sosok istriku?". tanya Askara saat melihat beberapa komentar orang-orang yang penasaran dengan wajah istri dari seorang CEO muda yang terkenal di kalangan pebisnis dunia.
"Betul, tuan. lalu apa yang harus kita lakukan setelah berita ini terbit?". tanya sekretaris Dito.
"Cegah para wartawan untuk lebih dekat mencari informasi, tekan pemberitaan itu untuk tidak menyebar semakin luas, aku tidak ingin Anin panik dan berdampak pada kandungannya. Aku akan memperkenalkan Anin secara resmi saat pesta peresmian Mall terbaru Wira's Grup nanti ". jelas Askara.
"Baik, tuan. akan saya laksanakan. kalau begitu saya pamit".
"Hemm".
Sekretaris Dito keluar dari ruangan besar itu.
Askara menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. dia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya kemudian menghubungi Anin.
"Hallo, mas?". terdengar suara Anin dari balik sambungan telfon.
"Kau sedang apa?". tanya Askara.
"Aku sedang duduk di taman belakang bersama Mia sambil ngerujak. kebetulan tadi Vivi bawa banyak buah".
"Vivi sudah pulang?". tanya Askara.
"Iyya, sekitar setengah jam yang lalu. katanya ada kuliah".
Askara mengangguk seakan-akan Anin dapat melihatnya.
"Memangnya kenapa Mas? suaramu terdengar gelisah begitu. apa terjadi sesuatu di kantor?". tanya Anin karena tidak biasanya Askara menghubunginya jika sedang berada di kantor.
"Tidak ada apa-apa, Nin. kau baik-baik selama di mansion. ingat! kau tidak boleh ke mana-mana tanpa izin dariku".
Meskipun tidak yakin dengan jawaban Askara, Anin tidak ingin bertanya lebih jauh lagi.
"Iyya, Mas. lagi pula aku bisa ke mana jika mansion ini di jaga ketat oleh pengawal di depan sana". celetuk Anin.
"Aku suka kau yang penurut seperti ini. ya sudah, telfonnya aku tutup dulu, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan".
"Iyya Mas, dan cepatlah pulang. aku merindukanmu". ujar Anin manja.
"Jangan menggodaku sekarang Anin". suara Askara terdengar menekan perkataannya.
Anin terkekeh.
__ADS_1
"Baiklah Mas. selamat bekerja". ujarnya di sertai seulas senyum.
Setelah itu sambungan telefon terputus.
Anin meletakkan ponselnya di atas meja taman dan kembali menikmati rujak buah yang dia buat bersama Mia.
Keduanya kembali melanjutkan obrolan yang sempat tertunda karena Anin mendapat telefon dari Askara tadi.
Sedangkan di tempat lain, sebuah mobil baru saja meninggalkan bandara setelah menjemput seorang wanita cantik.
Di dalam mobil tersebut, wanita dengan rambut panjang sepunggung dengan sorot mata teduh itu, tengah membaca dengan seksama berita dari tanah air yang sedang menjadi perbincangan hangat hari ini.
Bibir tipisnya menyunggingkan senyum namun di dalam hatinya tengah menahan sesak.
"Ternyata aku terlambat". gumam wanita itu menutup berita yang dia baca.
"Pak. jangan langsung ke apartement, kita ke perusahaan Wira's grup". titahnya pada sopir yang membawanya.
"Baik, Non". jawab sang sopir.
Dia Dalila, wanita itu baru saja kembali dari Jerman. namun sangat di sayangkan, kepulangannya justru di sambut oleh berita kurang mengenakkan di hatinya, padahal itu adalah sebuah berita pernikahan sahabatnya yang seharusnya dia merasa bahagia.
"Maaf, aku baru menyadari semuanya Askara". gumam Dalila memakai kembali kacamata hitamnya dan membuang muka ke samping menatap keluar jalanan kota Jakarta yang sudah beberapa tahun ini di rindukannya.
Mobil yang membawa Dalila berhenti tepat di depan gedung Wira's Grup. di mana tempat orang yang sangat ingin di temuinya berada.
"Baik Non".
Dalila turun dari mobil masih mengenakan kacamata hitamnya. sedikit memperbaiki dress yang dia gunakan sebelum akhirnya melangkahkan kaki jenjangnya melenggang memasuki kantor Askara bak model.
Tidak salah memang, karena Dalila mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikannya di Jerman di bidang modeling yang selama ini di impikannya.
Langkah Dalila mengundang perhatian beberapa karyawan dengan bisik-bisik penasaran. siapakah gerangan wanita dengan paras cantik hampir sempurna memasuki kantor tempat mereka bekerja.
"Permisi, selamat siang". sapa Dalila dengan senyum ramahnya pada seorang resepsionis.
"Selamat siang Nona, ada yang bisa saya bantu?".
Tari yang memang masih bekerja sebagai resepsionis kini lebih memperbaiki performa kerjanya dengan menyambut Dalila dengan senyum yang tak kalah ramah.
"Saya ingin bertemu dengan CEO perusahaan ini. apa dia sedang di kantor?". tanya Dalila melepaskan kacamata hitamnya.
"Tunggu sebentar Nona. saya akan menghubungi sekretaris pribadi tuan Askara". ujar Tari.
"Hemm..baiklah".
__ADS_1
Tari kemudian menghubungi sekretaris Dito.
"Maaf Nona, atas nama siapa yah?". tanya Tari saat sekretaris Dito mempertanyakan siapa tamu perempuan yang ingin bertemu dengan Askara.
"Bilang saja, Dalila".
Tari kemudian kembali menyambungkan telefon, dan setelah menginformasikan bahwa yang bertemu dengan Askara adalah Dalila. tiba-tiba sekretaris Dito memutus sambungan telefon.
"Bagaimana? apa aku bisa bertemu dengan Askara?". tanya Dalila yang menyebut Askara tanpa embel embel tuan ataupun pak membuat Tari penasaran siapa kira-kira wanita cantik di depannya ini.
"Maaf Nona, tapi tiba-tiba sekretaris Dito memutus telfonnya". ujar Tari.
Dalila menghela nafas, tapi detik berikutnya dia berbalik saat seseorang menyuarakan namanya.
"Nona Dalila". seru sekretaris Dito baru saja keluar dari lift khusus petinggi perusahaan.
Sekretaris Dito berdiri dengan raut wajah tegang, bagaimana tidak, saat mendapatkan telefon dari Tari, dia buru-buru turun untuk memastikan apakah yang di maksud Tari adalah Dalila sahabat Askara atau bukan.
Dan kini dugaannya benar, wanita cantik itu tengah berdiri di depannya dan menyungginkan senyum manisnya. senyum yang tidak pernah berubah setelah beberapa tahun berlalu.
"Ckk .. kenapa kau lama sekali? apa boss mu itu terlalu sibuk untuk di temui?". tanya Dalila berjalan mendekati sekretaris Dito yang masih berdiri di tempatnya karena terkejut.
Sekretaris Dito menunduk memberi hormat saat tersadar sepenuhnya.
"Kapan Nona Dalila sampai?". tanya sekretaris Dito dengan wajah datarnya berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Baru saja. kau tau apa yang membuatku datang langsung ke sini selepas landing dan bukannya pulang ke apartemenku?". tanya Dalila.
"Maaf Nona saya tidak tau". balas sekretaris Dito.
Dalila menunjukkan ponselnya pada sekretaris Dito, di mana berita tentang pernikahan Askara yang baru terkuak memenuhi platform gosip.
"Kau lihat? bahkan dia menikah tanpa memberiku kabar, apa dia sudah tidak menganggap ku sebagai sahabat?". tanya Dalila namun tentu sekretaris Dito tidak bisa memberinya jawaban.
"Maaf Nona, itu bukan kapasitas saya untuk menjawab. dan soal pernikahan itu, mintalah penjelasan pada tuan Askara tapi tidak sekarang". terang sekretaris Dito.
"Kenapa? apa dia sesibuk itu? aku sudah jauh-jauh ke sini Dito. jadi jangan halangi aku untuk bertemu dengannya". Dalila bahkan sudah beranjak meninggalkan sekretaris Dito menuju lift untuk menemui Askara, meskipun Dalila tidak tau di lantai berapa ruangan Askara berada.
Sekretaris Dito menjadi panik, mau tidak mau mengejar Dalila yang sudah menekan tombol lift terlebih dahulu.
"Tunggu Nona". sekretaris Dito menahan pintu lift yang hendak tertutup menggunakan ujung sepatunya.
Sekretaris Dito ikut bergabung ke dalam lift membuat Dalila tersenyum penuh arti.
Di dalam hati sekretaris Dito terus berdoa, semoga dengan kedatangan Dalila tidak akan mengganggu ataupun menimbulkan kesalahpahaman di dalam pernikahan Askara dan juga Anin nantinya.
__ADS_1
Meskipun sekretaris Dito tau, Dalila adalah wanita yang baik tapi justru yang di takutkan sekretaris Dito adalah Askara. bagaimana jika belum sepenuhnya Askara melupakan perasaannya pada Dalila dan malah berpaling dari Anin.
Kepala sekretaris Dito mendadak berat memikirkan ini semua.