Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 3


__ADS_3

Suara tamparan yang baru saja mendarat di pipi Askara menggema mengisi ruangan. Anin menatap nyalang pada pria jangkung di depannya. Dito dan Vivi bahkan terjengkit kaget melihat aksi berani Anin.


"Beraninya kau menamparku" tampak mata Askara menatap tajam Anin.


Anin yang mendapatkan tatapan membunuh berusaha tidak goyah meskipun sebenarnya kakinya sudah lemas.


"Jangan karena tuan punya banyak uang sehingga semua masalah bisa di selsaikan dengan uang" Vivi berseru tidak terima karena harga diri Anin di samakan dengan uang.


Askara yang menyadari jika ternyata perempuan di depannya tidak datang dengan sendiri memberi kode pada Dito agar menarik Vivi keluar, dirinya ingin bicara empat mata dengan Anin.


"Mari ikut saya keluar nona"


"Kau saja yang keluar, aku tidak ingin sahabatku di perlakukan seenaknya oleh bos mu ini" Vivi menolak untuk meninggalkan Anin, Vivi tau betul sifat Anin yang lembut dan penurut, takut di manfaatkan oleh Askara.


Dito yang tidak ingin berdebat menarik paksa tangan Vivi untuk keluar dari ruangan tersebut.


" Lepasin tangan gue sekretaris sialan" Vivi berusaha memberontak dan hendak kembali masuk ke dalam ruangan tapi dengan cepat tangannya di tarik kembali oleh Dito.


"Lo sama aja tau nggak dengan bos Lo. sama-sama gila, arogan dan menyebalkan" tunjuk Vivi geram seakan ingin mencakar-cakar wajah Dito yang justru memasang wajah datar.


hawa mencekam begitu terasa di dalam ruang tunggu khusus tamu. Askara masih setia dengan tatapan membunuhnya.


"Sekarang katakan berapa yang kau inginkan, bukankah kedatanganmu ke sini untuk meminta imbalan?" Askara menampilkan senyum smirknya.


Anin yang mendengar perkataan Askara membuat amarah dalam tubuhnya bangkit.


"Jika aku butuh uangmu, sudah dari kemarin aku lakukan itu"


Askara tersenyum miring " Cihh... tidak usah banyak drama, wanita-wanita sepertimu memang akan selalu punya cara untuk menjebak mangsanya"


"Tutup mulutmu, aku bukan wanita seperti yang kau maksudkan" Anin tau betul wanita- wanita yang di sebut oleh Askara adalah wanita-wanita penghibur.


Askara mengeluarkan selembar cek dari dalam kantong jasnya.


"Kau mungkin malu untuk menyebut nominal uang yang kau mau, tapi dengan cek kosong ini kamu bahkan bisa menulis berapapun jumlah uang yang kamu butuhkan" Askara menyerahkan cek kosong tersebut pada Anin.


kilatan amarah tampak jelas di wajah Anin, dengan gerakan cepat Anin merobek cek kosong tersebut dan melempar tepat di depan wajah Askara.


" Berapapun nilai uang yang kamu berikan, bahkan berapapun banyaknya cek kosong yang kamu berikan itu tidak akan pernah merubah keadaan bahwa sedang ada janin yang tumbuh dalam rahimku" ucap Anin menatap marah Askara.

__ADS_1


Askara mematung mendengar perkataan Anin yang mengatakan bahwa dirinya tengah hamil. Askara memang masih mengingat jika orang pertama yang menyentuh Anin adalah dirinya karena saat itu dia melihat bercak darah tapi bisa saja setelah itu Anin melakukannya dengan pria lain, Askara berusaha menenangkan dirinya dengan kemungkinan-kemungkinan yang dia rangkai sendiri.


Askara tersenyum mengejek " Bisa saja itu bukan anakku, aku bahkan tidak tau dengan siapa saja kau pergi setelah kejadian malam itu" .


Hati Anin terasa remuk, penghinaan Askara telah menjatuhkan harga dirinya.


"Kamu bahkan sudah merenggut paksa masa depanku, dan dengan mudahnya kamu mengatakan aku adalah wanita gampangan"


"Lalu apa yang kamu inginkan dariku hah?" Askara mendekat semakin mengikis jarak antara mereka berdua.


Anin merasa gugup, karena jarak di antara mereka sangatlah dekat.


"Nikahi aku, dan tanggung jawab atas anak yang sedang aku kandung" ujar Anin mantap


"Ternyata fikiranmu memang licik yah, setelah menolak uang dariku kamu bahkan ingin menikah denganku, jangan pernah bermimpi".


Anin tidak ingin kalah, dirinya harus memperjuangkan hak anak dalam kandungannya.


"Kalau memang kamu tidak ingin bertanggungjawab tidak papa, tapi setelah ini akan aku pastikan reputasimu akan hancur karena tersebarnya berita bahwa kamu menghamili seorang wanita, apalagi aku sangat yakin jika anak dalam kandunganku adalah anakmu tuan Askara"


Anin berharap cemas setelah mengatakan semuanya, dirinya takut jika Askara tidak terpengaruh akan ancamannya.


"Aku tidak sedang mengancam tuan, aku hanya sedang memperjuangkan hak anakku. aku bahkan dengan susah menerima dan mengikhlaskan masa depanku yang kau renggut paksa, kuliahku yang harus aku sudahi dan sekarang aku bahkan sedang mempertahankan harga diriku sebagai seorang perempuan. jika boleh mengulang waktu, aku bahkan tidak pernah ingin bertemu dengan manusia angkuh dan arogan sepertimu" kali ini Anin benar-benar meluapkan semua perasaan marahnya yang tertahan.


Askara mengusap wajahnya kasar, dirinya tidak pernah membayangkan bahwa kejadian malam itu akan menghasilkan satu nyawa.


"Aku tetap tidak bisa menikahimu, hiduplah dengan tenang sampai anak itu lahir, aku akan menanggung semua kebutuhan kalian berdua bahkan sampai anak itu besar"


di dalam relung hati Askara masih ada satu nama yang dia tunggu kembali.


air mata Anin lolos mendengar ucapan Askara. betapa ringannya mulut Askara berkata demikian pada anak kandungnya sendiri yang bahkan belum melihat dunia.


"Lelaki macam apa kau yang lepas tangan dari tanggungjawab. ingat tuan kau yang telah memaksa dan merampas masa depan paling berharga dalam hidupku. di mana hati nuranimu hah?, kau bahkan lahir dari rahim seorang ibu tapi sungguh sifatmu seperti bukan manusia saja". cemooh Anin pada Askara. Anin dapat melihat perubahan wajah Askara setelah melayangkan perkataan tersebut.


"Baik, kita menikah cukup sampai anak itu lahir" putus Askara pada akhirnya.


Anin menatap Askara, meski berat untuk menyetujui tapi ini tidak lebih baik dari pada Askara tidak mau bertanggungjawab sama sekali. ini semua hanya untuk status pasti anaknya setelah lahir.


Askara tampak menelfon seseorang, tak lama kemudian muncul Dito dari balik pintu bersama Vivi.

__ADS_1


"Anin, kau baik-baik saja kan?" Vivi menghambur memeluk Anin karena begitu cemas.


"Aku baik Vi, jangan khawatir" balas Anin seadanya.


"Dito dengarkan aku, persiapkan pernikahanku seminggu dari sekarang"


Dito menatap kaget perkataan Askara begitupun dengan Vivi.


"Baik tuan" hanya itu yang Dito katakan, dirinya tidak berani bertanya lebih jauh lagi karena dirinya yakin sudah terjadi kesepakatan antara tuannya dan juga Anin.


"Tapi ingat Dito, kau hanya cukup mempersiapkan acara ijab kabul saja, tidak akan ada pesta pernikahan dan sebagainya. rahasiakan ini dari klien-klien kita"


"Tapi tuan, bagaimana dengan tuan besar dan nyonya besar?"


"Itu akan jadi urusanku, kau lakukan saja perintahku "


"Baik tuan"


Askara beralih menatap Anin


"Sesuai dengan kesepakatan kita, kau bisa membicarakannya lebih lanjut dengan sekretaris pribadiku". setelah mengatakan itu Askara keluar dari ruangan tersebut tanpa mengucapkan apapun lagi.


Anin hanya memandang datar punggung lebar Askara yang berjalan menjauh hingga hilang di balik pintu. entah akan seperti apa kehidupan pernikahannya nanti, melihat sikap Askara saja mustahil rasanya akan tumbuh perasaan di antara keduanya. Anin harus menguatkan diri, setidaknya pernikahan ini hanya akan berlangsung setahun sampai anaknya lahir.


"Dasar arogan" gumam Vivi.


Askara tidak pernah membayangkan jika seminggu lagi dirinya akan menikah dengan orang yang bahkan tidak dia cintai, berbicara soal cinta bahkan Askara pun tidak mengenal perempuan itu sebelumnya.


Askara memandangi fotonya dengan seseorang di layar ponselnya. senyum getir terbit dari bibirnya


"Andai saja hari itu kau tidak pergi tiba-tiba aku tidak akan berakhir dengan minum-minum. sekarang kau lihat karena dirimu aku bahkan akan menikah dengan wanita yang tidak aku cintai".


perasaan rindu Askara akan sosok perempuan itu semakin tak terbendung. dirinya terjebak dalam situasi rumit. Askara mencintainya tapi perempuan itu tidak lebih menganggap Askara hanya seorang sahabat. dan karena kepergian wanita itu, malam itu Askara harus berakhir di bar, minum tanpa berniat untuk berhenti sampai dirinya mabuk. dirinya yang berjalan sempoyongan memasuki lorong lantai apartemen tak sengaja tubuhnya di tabrak oleh seseorang, Askara melihat itu adalah Dalila wanita sekaligus sahabat yang meninggalkan dirinya, Askara hilang kendali dan menyeret perempuan itu yang tak lain adalah Anin, wanita yang baru saja datang meminta pertanggungjawabannya karena hamil.


"Aku harus bagaimana jika dirimu kembali ?" gumam Askara.


penasaran nggak sama kelanjutan ceritanya?


support slalu yah karya author

__ADS_1


__ADS_2