
"Tidak, Anin. tidak!, tolong jangan bicara soal perpisahan". Askara membalik tubuh Anin dan kini keduanya saling berhadapan. "Tidak akan pernah ada perpisahan di antara kita, kau jangan bicara sembarangan, Anin". wajah Askara berubah panik saat Anin mengutarakan keinginan untuk berpisah darinya.
"Kasi aku alasan kenapa aku harus mempertahankan pernikahan kita, Mas". ujar Anin menatap lekat wajah Askara.
"Kenapa kau berkata seperti itu, Nin. sampai kapanpun kita akan tetap bersama. sebentar lagi kita berdua akan menjadi orang tua". tutur Askara menangkup wajah Anin dengan kedua tangannya.
Anin menyingkirkan tangan Askara dari wajahnya.
"Tidak ada lagi yang bisa kita pertahankan, Mas. perasaanmu pada Dalila sampai kapanpun tidak akan pernah bisa berubah, dan aku di sini merasa seperti orang ketiga di antara kalian". Anin lebih memilih mengalah pada perasaannya dari pada harus terus menerus bertahan dalam pernikahan yang tidak bisa memberikan kebahagian pada satu sama lain.
"M-maksudmu apa, Anin?". tanya Askara tidak mengerti.
"Aku sudah dengar semuanya, Mas. pembicaraanmu dengan Mami Sandra, semuanya aku dengar. dan aku bisa menyimpulkan bahwa sampai kapanpun Dalila lah yang bertahta di hatimu, bukan aku. jadi untuk apa kita pertahankan hubungan ini". ungkap Anin dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Askara mengusap kasar wajahnya, Anin pasti hanya mendengar sepenggal pembicaraannya bersama Mami Sandra tadi.
"Kau tidak mendengarkan semuanya sampai akhir, Anin. karena jika kau mendengar semuanya, kau pasti tau siapa pemilik hatiku yang sebenarnya". Askara menarik kedua tangan Anin, di genggamnya dengan erat.
"Kau boleh tanya kebenarannya pada Mami nanti, tapi sebelum itu biarkan aku yang menjelaskan semuanya. memang benar aku marah karena Mami datang menemui Dalila tanpa sepengetahuanku, tapi itu bukan berarti bahwa aku masih punya perasaan pada Dalila. aku hanya tidak ingin harga diriku sebagai seorang lelaki jatuh di mata Dalila karena Mami harus ikut campur dalam permasalahan ini. dan hal penting yang tidak kau dengar adalah...". Askara menggantung ucapannya laku menarik tangan Anin. dia meletakkan tangan Anin tepat di dada kirinya.
"Di tempat ini hanya di huni oleh satu nama, yaitu Embun Anindira. bagaimana bisa aku memilih Dalila sedangkan aku mencintaimu, Nin". ujar Askara sungguh-sungguh.
Anin terdiam, dia bisa merasakan detak jantung Askara berdetak begitu kencang dan itu berhasil membuat hatinya ikut menghangat. tapi, dia tidak bisa percaya begitu saja pada Askara.
"Kau meragukanku, Nin?. apa di dalam lubuk hatimu yang paling dalam, kau memang sudah tidak mempercayai aku lagi?". tanya Askara dengan perasaan terluka karena di saat dia berusaha meyakinkan Anin, wanita itu justru meragukannya.
"Semua tidak semudah yang kau fikirkan, Mas. aku bisa saja memaafkanmu, tapi apa kau bisa berjanji bahwa setelah ini kau tidak akan melakukan kesalahan yang sama?, apa kau bisa jamin itu, Mas?". selama ini dia selalu percaya pada Askara, tapi untuk saat ini rasanya permintaan maaf Askara hanyalah sebuah ungkapan kata semata tanpa makna baginya, itu karena Askara sudah sangat sering melukai hatinya.
__ADS_1
"Lihat mata aku, Nin. lihat baik-baik, apa kau menemukan kebohongan di sana?". Askara meminta Anin menatap matanya untuk melihat kejujuran serta kesungguhan yang saat ini dia sampaikan.
Anin melakukan apa yang di minta oleh Askara. dia menatap dalam-dalam manik mata yang dulu selalu menatapnya dingin dan tajam namun kini sudah berubah menjadi tatapan hangat.
Semakin lama Anin menatap mata elang suaminya itu, semakin dalam pula rasanya dia terhanyut dalam kesungguhan perkataan Askara.
"Aku memberimu satu kesempatan lagi, Mas. jika kali ini kau mengulangi kesalahan yang sama, maka tidak akan ada yang bisa menghalangi aku untuk berpisah darimu". Anin membuat kesepakatan agar Askara menjadi pria yang bisa memegang komitmennya sendiri.
Senyum merekah terbit dari bibir Askara saat Anin memaafkannya, meskipun ini adalah kesempatan terakhirnya, dia tidak masalah akan hal itu, karena memang hatinya sudah benar-benar untuk Anin.
"Terimakasih sayang, aku janji akan menjadi suami dan juga ayah yang baik untukmu dan anak kita". ujar Askara menarik Anin dalam pelukannya. mencium puncak kepala istrinya itu berkali-kali saking bahagianya.
Anin membalas pelukan Askara sambil berdoa dalam hati untuk keutuhan rumah tangganya. semoga Askara tidak lagi menghancurkan kepercayaan yang dia berikan.
__ADS_1
Yakin nih, Askara bisa dengan komitmennya?