Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 4


__ADS_3

Sudah 4 hari berlalu semenjak pertemuan Anin dan Askara dan sebentar lagi mereka akan melangsungkan pernikahan lebih tepatnya hanya ijab kabul.


Beberapa persyaratan yang di ajukan oleh Dito sekretaris Askara terus memenuhi fikirannya. mulai dari dirinya yang harus pindah ke apartemen Askara setelah menikah, tidak boleh melibatkan perasaan, tidak boleh mencampuri urusan satu sama lain, merahasiakan pernikahan mereka, dan tidur di kamar yang berbeda. terlalu larut dalam fikirannya sehingga Anin tanpa sadar kehadiran seseorang.


"Astaga Anin, apa yang kamu pikirkan?" pekik Ambar mendapati Anin melamun membuat bahan adonan kue yang sedari tadi dia mixer terlalu mengembang dan hampir keluar dari wadah.


"Ah ya ampun, maafkan aku kak" Anin pun tampak kaget atas apa yang telah dirinya perbuat.


Anin buru-buru mematikan mixer dan memindahkan sebagian adonan ke tempat lain.


"Sekali lagi aku minta maaf kak" ulang Anin merasa tidak enak.


"Kamu lagi ada masalah?" tanya Ambar selaku pemilik toko kue tempat Anin bekerja part time untuk membiayai hidupnya kuliah di Jakarta.


Anin tampak gelalapan, tidak mungkin dia menceritakan permasalahannya pada Ambar.


"Ahh.. tidak ada kak, aku hanya memikirkan ujian Minggu depan" bohong Anin, justru pernikahannya lah yang ada minggu depan.


"Aku kira kau ada masalah apa sampai melamun seperti itu" Ambar tersenyum lega mendapati jawaban Anin


"Mmm..kak boleh aku minta izin untuk minggu depan?" tanya Anin hati-hati


"Ya boleh dong, toko juga nggak lagi rame-rame banget. kamu fokus aja yah sama ujian kamu, kakak nggak mau kejadian kayak tadi terulang, bisa-bisa kakak rugi hehehe" canda Ambar.


"Hehe.. terimakasih kak"


"Ya sudah lanjut kerja lagi yah"


setelah kejadian itu, Anin kembali fokus pada pekerjaannya dengan membuang jauh-jauh fikiran tentang pernikahan dirinya dan Askara.


******


Askara keluar dari toilet yang berada di dalam ruangannya, hampir setiap hari selama sebulan ini dirinya selalu memuntahkan sarapannya, itulah mengapa kadang Askara lebih memilih untuk tidak sarapan pagi di beberapa kesempatan berharap muaknya akan reda namun justru tetap saja sama.


"Apa tuan butuh sesuatu?" tanya Dito yang sedari tadi menemani Askara


Askara memijit pelipisnya untuk meredakan pusing di kepalanya yang tiba-tiba melanda.


"Ini rasanya aneh Dit, tapi entah kenapa aku ingin makan makanan yang asam dan pedas" membayangkannya saja Askara sudah meneguk air liurnya.


Dito membulatkan mata "Apa tuan sedang ngidam?"

__ADS_1


"Ngidam?" tanya Askara dengan kening berkerut.


"Memangnya aku ini perempuan hamil yang tiba-tiba ngidam" Namun selepas perkataannya Askara terdiam, fikirannya tertuju pada gadis yang empat hari lalu datang menemuinya dan mengatakan dirinya tengah hamil anaknya.


"Maaf tuan, tapi menurut informasi yang saya ketahui, bahwa seorang suami bisa saja mengalami ngidam saat istrinya hamil, apalagi kan tuan .." Dito tidak berani melanjutkan perkataannya karena melihat perubahan wajah dari Askara.


"Aku tau maksudmu Dit, dan soal tugas yang ku berikan kemarin,apa kamu sudah mendapatkan informasinnya?" Askara mengalihkan pembicaraan


"Sudah tuan"


Dito dengan segera membuka map berisi informasi yang di minta oleh Askara.


"Namanya Embun Anindira biasa di panggil Anin. dia anak tunggal dari pasangan pak Lubis dan Bu Risa, mahasiswa semester tiga fakultas ekonomi di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. dia asli orang Bandung, ayahnya meninggal setahun lalu, kini tersisa ibunya yang menetap di bandung. Nona Anin bekerja part time di salah satu toko kue di Jakarta untuk biaya kuliah, membayar kost dan juga menanggung biaya hidup ibunya di kampung.


Askara dengan seksama mendengarkan informasi yang di sampaikan oleh Dito, rupanya Askara diam-diam telah mencari latar belakang mengenai Anin.


"Ada lagi yang kurang tuan?" tanya Dito di akhir informasinya


"Lalu siapa gadis yang bersamanya kemarin?" yang di maksud oleh Askara adalah Vivi


"Namanya Vivi Rubiah tuan, sahabat nona Anin sejak SMP" jelas Dito


"Aku rasa itu cukup Dit, sekarang tugasmu persiapkan segala kebutuhan pernikahan ini minggu depan dan jangan lupa pulang dari kantor datangi tempat tinggal gadis itu"


"Baik tuan" Dito pun berlalu keluar dari ruangan menyisakan Askara.


selepas kepergian Dito, fikiran Askara melayang pada perkataan Dito soal ngidam yang lumrah di rasakan oleh seorang suami saat istrinya sedang hamil.


"Apa memang benar yang di katakan Dito, apa itu artinya aku memang ayah dari anak yang di kandung gadis itu?" sedikit terbuka keraguan di hati Askara untuk membenarkan, namun logikanya selalu menolak.


Anin memarkirkan motor maticnya di halaman kost, sepulang dari toko kue dirinya memutuskan untuk segera pulang, semenjak dirinya hamil badannya mudah merasa lelah.


" Ahhh...rasanya lelah sekali" Anin merenggangkan otot-otot badannya menaiki tangga kost.


"Terimakasih yah sayang kamu tidak rewel selama ada di dalam perut ibu" senyum Anin mengembang mengelus perut ratanya. dirinya sangat bersyukur karena tidak merasakan mual sama sekali, dirinya pun makan dengan normal hanya saja memang porsinya sedikit banyak. meski sempat heran mengapa dirinya tidak merasakan mual dan hal lainnya yang di rasakan oleh ibu hamil pada umumnya.


Anin memutuskan untuk membersihkan diri, badannya sudah sangat lengket dan membuatnya tidak nyaman.


"Segarnya" Gumam Anin yang sudah mengenakan baju piyama motif sapi kesayangannya.


Anin memutuskan untuk tidur sore, tapi

__ADS_1


baru 20 menit memejamkan matanya, suara ketukan pintu harus memaksanya bangun. dengan langkah malas Anin berjalan untuk membuka pintu.


"Siapa?" Tanya Anin dengan mata belum terbuka sempurna.


"Hemm" seseorang itu hanya berdehem karena melihat penampilan Anin yang hanya mengenakan piyama dan rambut sedikit berantakan.


Anin membuka mata sempurna dan betapa kagetnya melihat siapa yang tengah berdiri di ambang pintu


" Bagaimana anda bisa di sini" pekik Anin buru-buru merapikan rambutnya.


"Ada perlu apa anda kemari?" tanya Anin seteleh keterkejutannya.


"Saya Dito nona sekretaris tuan Askara" Dito memperkenalkan diri secara resmi pada Anin yang sebentar lagi akan menjadi nyonya Askara.


"Iyya aku masih mengenal wajahmu, tapi ada perlu apa pak Dito kemari?"


"Saya ingin menyerahkan ini nona" Dito memberikan dua paperbag besar pada Anin.


Anin menerima paperbag dari tangan Dito " apa ini?" tanya Anin dengan kening berkerut.


"Itu semua keperluan pernikahan anda nona, tuan Askara yang memerintahkan saya kemari" jelas Dito


Anin mengangguk paham "Terimakasih banyak pak Dito, maaf sudah merepotkan"


"Itu sudah tugas saya nona"


"Anda mau minum?, tapi maaf saya cuman punya teh manis dan air putih" Anin tersenyum kikuk pada Dito saat menawari minum.


"Saya masih banyak pekerjaan nona, tugas saya hanya mengantar semua keperluan pernikahan nona"


"Saya pamit dulu"


"Ah iya, terimakasih sekali lagi pak Dito"


selepas kepergian Dito, Anin buru-buru menutup pintu. perhatiannya kini tertuju pada paperbag di tangannya. Anin pun membuka paperbag tersebut yang ternyata berisi kebaya berwarna putih gading dan juga sepasang high heels berwarna senada.


Anin menatap dirinya di pantulan cermin tengah mencocokkan kebaya tersebut di badannya. perasaan sedih kemudian muncul, seharusnya pernikahan impiannya di hadiri oleh ibu dan juga keluarga besarnya namun kini justru semuanya harus di tutup rapat-rapat. perasaan bersalah menghimpit dada Anin hingga genangan air mata mengambang di pelupuk matanya. dia teringat almarhum ayahnya yang selama ini menjada dirinya dengan sepenuh hati justru harus menodai kepercayaan ayahnya meskipun ini semua bukanlah salah dirinya.


Anin menghela nafas berat, sekarang yang terjadi sudah terjadi, mungkin akan ada hal indah yang menanti dirinya ke depannya, semoga saja.


setelah melakukan ritual malamnya, Anin memutuskan untuk tidur lebih awal. badannya terasa remuk bekerja dari pagi sampai sore. Anin juga sudah memutuskan untuk mengambil cuti di kampus, setidaknya untuk setahun sampe dirinya sudah melahirkan jadi dia akan ke kampus di temani Vivi besok.

__ADS_1


__ADS_2