
"WHAAAATTTT... Istri ?" Arga setengah berteriak.
"Pelankan suaramu brengsek" ucap Askara.
Arga tidak peduli "Lo bercanda?" tanyanya lagi.
"Enggak" singkat Askara
"Are you serious?" Arga masih tidak percaya.
Askara menatap kesal Arga "serah Lo kalo nggak percaya"
"Tapi sejak kapan?, kenapa gue nggak di undang?" tanya Arga bertubi-tubi.
Askara memilih tidak menjawab, dia akan menjelaskan setelah Arga memeriksa keadaan Anin.
Mia keluar dari kamar Askara setelah selesai dengan tugasnya mengganti baju Anin.
"Pakaian nona Anin sudah saya ganti tuan" lapar Mia pada Askara.
"Tugasmu sudah selesai, pulanglah bersama Dito"
"Baik tuan"
Mia berlalu meninggalkan Askara, begitupun Dito berpamitan pada Askara sebelum keluar dari apartemen.
tersisa Askara dan Arga.
"Masuk dan periksa keadaannya" perintah Askara lewat ekor matanya pada Arga untuk mengikutinya ke kamar.
Arga pun berdiri dan melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar Askara.
Seorang perempuan tengah berbaring dengan selimut menutupi setengah tubuhnya.
Wajahnya terlihat damai seperti orang yang sedang tertidur pulas, padahal kenyataannya Anin masih dalam kondisi pingsan.
Arga mendekat ke tepi ranjang, memperhatikan wajah Anin.
Sejenak Arga tercekat melihat wajah cantik Anin. hidung mancung, bibir ranum, pipi mulus putih, serta alis yang tersusun rapi.
Bahkan kecantikan Anin tidak berkurang meski dengan wajah pucat.
tanpa sadar Arga bergumam "Cantik" yang masih dapat di dengar oleh Askara.
"Tugasmu di sini untuk memeriksa, bukan untuk memuji istri orang" ucap Askara dingin, entah kenapa ada rasa tidak suka di hatinya saat Arga melihat wajah Anin dengan intens.
Tersadar dari aktivitasnya "Sorry dude" cengir Arga.
segera Arga mengeluarkan alat tensi dan juga stetoskop dari dalam tasnya.
meneriksa tekanan darah Anin terlebih dahulu, kemudian beralih untuk memeriksa detak jantung Anin.
saat Arga akan menempelkan stetoskop pada dada Anin, Askara menahannya "Lo mau ngapain?" tanya Askara tidak suka.
"Ya mau gue periksa lah" kesal Arga karna Askara menahannya.
"Memang harus Lo periksa di bagian situ?" Askara merasa tidak senang.
Arga memutar bola mata jengah
"Ya terus mau di mana lagi, emang kalo meriksa detak jantung orang, Lo nempelin stetoskop ke pantat pasien gitu?" geram Arga.
Askara terdiam sejenak, tapi dia tetap tidak setuju jika Arga memeriksa detak jantung Anin.
Tidak ingin berdebat terlalu lama , Askara mengambil alih stetoskop di tangan Arga.
"Pakai ini di telinga Lo, biar ini bagian gue" Askara mengambil ujung stetoskop dan menempelkannya pada dada Anin, sedangkan Arga bertugas mendengar detak jantung Anin.
"Dasar suami posesif" jengkel Arga "Geser ke kiri sedikit, aku tidak dapat mendengar detak jantungnya" perintah Arga karena letak ujung stetoskop tidak tepat di posisi jantung Anin.
"Ckk" Askara berdecak kesal tapi tetap menuruti perintah Arga.
setelah rangkain pemeriksaan selesai Askara menanyakan keadaan Anin "Gimana keadaannya?"
"Biar ku tebak, Dia sedang hamil bukan? tebak Arga karena pada saat memeriksa Anin, Arga dapat merasakan tanda-tanda kehamilan di tubuh Anin.
Askara terdiam, dan itu sudah menjadi jawaban bagi Arga.
"Apa Lo memperlakukan dia dengan baik?" tanya Arga lagi tiba-tiba.
Askara bingung "Maksud Lo?"
"Selain karena demam, dia juga sepertinya banyak fikiran"
"Emang Lo paranormal"
"Hei, gue jadi dokter bukan baru satu dua hari, tapi sudah 6 tahun dan gue tau apa aja yang di alami pasien gue"
"Itu bukan urusan Lo"
"Jelas itu bukan urusan gue kalo sampai terjadi apa-apa sama istri atau anak Lo. karena jelas itu semua akan menjadi urusan Lo".
skakmat, Askara terdiam.
Arga menatap intens Askara .
"Tapi satu hal yang perlu Lo tau, seorang ibu hamil itu tidak boleh stres ataupun banyak tekanan dari orang-orang terdekatnya, gue kasi tau Lo hal ini, bukan karena gue seorang sahabat tapi karena gue seorang dokter"
"Gue bakal usahain" jawab Askara seadanya.
"Mungkin gue nggak tau apa-apa tentang cerita kalian, kenapa sampai akhirnya kalian bisa menikah. tapi yang gue yakin kesalahan pasti bermula dari Lo. gadis ini keliatannya juga anak baik-baik, so.. mulai sekarang berlakulah lebih baik terhadapnya" Arga mencoba memberi nasehat.
"Lo ngga tau apa-apa soal hidup gue"
"Tapi gue tau siapa orang yang Lo tunggu Askara"
"Tugas Lo udah selesai, silahkan keluar dari apartemenku" ucap Askara dingin karena pembicaraan mereka sudah mengarah ke hal yang sensitif bagi Askara.
__ADS_1
Arga menepuk bahu Askara saat akan melewatinya "Perasaan Lo bisa aja salah, kalopun dia kembali masa lalu nggak selamanya jadi pemenang" setelah mengatakan itu Arga pun keluar dari apartement Askara.
Tanpa keduanya sadari, ternyata Anin mendengar pembicaraan mereka.
Anin sudah siuman beberapa menit yang lalu, matanya hendak terbuka tapi urung di lakukan karena mendengar pembicaraan Askara dengan seorang pria.
Pertanyaan terakhir Arga membuat nyeri di hati Anin kembali terasa, tentang Askara yang masih menunggu kepulangan seseorang.
Mungkinkah itu alasan Askara menjadi dingin dan berusaha menjaga jarak darinya?
Harusnya dia tau pria tampan seperti Askara tidak mungkin jika tidak memiliki sosok wanita idaman.
Dirinya jelas tidak termasuk di dalamnya, lahir dari keluarga biasa dengan penampilan sederhana mana mungkin dirinya bisa bersanding dengan wanita impian Askara.
Terlebih mereka di pertemukan karena suatu kesalahan yang mau tidak mau membuat Askara bertanggungjawab atas dirinya.
Anin menangis dalam diam, enggan membuka mata, dia ingin tidur saja berharap semua yang terjadi pada dirinya hanyalah mimpi yang panjang.
Berharap bisa bangun dengan keadaan semula, berada di kost kecilnya, kuliah, dan bekerja setiap harinya.
Semoga saja, harap Anin semuanya hanya mimpi.
Askara memasuki kamarnya, mendekat ke arah ranjang. menatap wajah pucat Anin membuat perkataan Arga berputar di kepalanya.
Apa sikapnya pada Anin memang berlebihan?
tidak ! Askara tidak ingin tembok yang dia bangun di robohkan.
Lama Askara menunggu Anin bangun dari pingsannya, tapi sepertinya Anin terlelap terdengar dari deru nafasnya.
Malam semakin larut, Askara memilih membaringkan tubuhnya di sofa yang letaknya tidak jauh dari ranjang tempat Anin terlelap.
Pagi hari, Anin membuka kedua matanya. isi perutnya terasa di peras dan bergejolak minta di keluarkan.
Anin menyingkap selimut dan segera berlari menuju kamar mandi tanpa melihat Askara yang masih tidur di sofa panjang.
"Hoeek..hoeek..hoeek" Anin muntah tapi yang keluar hanya cairan bening.
Tidur Askara terusik karena mendengar suara seseorang yang tengah muntah-muntah.
Askara melihat ke arah ranjangnya, Anin tidak berada di sana.
"Hoeek..Hoek..hoekk" itu suara Anin, dengan cepat Askara berjalan menuju kamar mandi mengecek keadaan Anin yang sudah terduduk lemas di atas closed. bulir keringat tampak menghiasi wajah pucatnya padahal hari masih terlalu pagi.
"Kau tidak papa?" tanya Askara
Anin menggeleng lemah dengan mata terpejam, kepalanya terasa berat.
Anin berusaha berdiri dari duduknya, kakinya terasa sangat lemas seperti tidak bertulang.
"Biar aku bantu" Askara mengulurkan tangannya.
Lama Anin terdiam menatap tangan Askara yang terulur "Aku bisa sendiri pak" tolaknya.
Sayangnya, tubuh Anin masih terlalu lemas baru berjalan dua langkah badannya sudah limbung, dengan sigap Askara membopong tubuh Anin keluar menuju tempat tidur.
Askara tidak menerima penolakan "Diamlah"
Anin tidak mengeluarkan suara lagi, dia menggigit bibir bawahnya. sikap Askara yang perhatian lagi-lagi menimbulkan ritme di jantungnya.
Harus Anin akui setiap dekat dengan Askara jantungnya berdebar lebih kencang, apa memang Anin secepat ini jatuh dalam pesona suami dinginnya?
Askara membaringkan tubuh Anin di atas kasurnya.
Satu hal yang baru Anin sadari ternyata ini bukan kamarnya "Kenapa aku bisa di sini?, ini bukan kamarku" ujarnya baru sadar.
"Semalaman kau tidur di kamarku" jawab Askara
"Tapi kenapa bisa?" bingungnya
"Kau pingsan"
Anin mengingat-ingat kembali kemarin dia pulang menerobos hujan, alhasil dia pulang dalam keadaan basah di tambah kepalanya yang tiba-tiba sakit.
Menyadari jika pakaian yang di kenakannya sudah berganti Anin mendelik kaget "Si..siaa..pa yang mengganti pakaianku" ucap Anin gugup menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
Kepala Anin sudah di penuhi fikiran kotor, bagaimana jika Askara yang telah mengganti pakaiannya, berarti Askara sudah melihat semua aset pribadinya.
Anin menggelengkan kepala cepat, meskipun Askara sudah pernah melihat bahkan menikmati asetnya tapi itu adalah bentuk ketidaksengajaan.
"Itu bukan pak Askara kan?" tanya Anin berharap cemas.
"Memangnya siapa lagi?, apa ada orang lain yang tinggal di apartemen ini selain kita berdua?" jawab Askara, dia berniat mengerjai Anin.
Mata Anin membulat sempurna, menarik selimut menutupi sampai lehernya. benar, di sini cuman ada mereka berdua.
"Aa...paa pas Askara melihat iii.....tuuuu...aaa...nuuu" ucap Anin gugup, sungguh saat ini Anin ingin berteriak keras, ingin memukul wajah tampan Askara tapi badannya terlalu lemas.
Askara ingin tertawa melihat wajah polos Anin tapi di tahannya, pipinya bahkan terlihat memerah menahan malu.
"Aku punya mata, jelas aku bisa melihat semuanya". jawab Askara enteng.
Anin sudah tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
selimut yang tadinya berada di lehernya kini sudah menutupi wajahnya.
Askara tersenyum kecil sayangnya Anin tidak bisa melihat kesempatan langka itu.
"Buka selimutmu" perintah Askara
"Aku malu" ujar Anin di balik selimut.
"Bukan aku yang melakukannya, aku menyuruh Dito membawa seseorang untuk mengganti pakaianmu semalam, dan itu seorang perempuan"
Anin yang mendengar penjelasan Askara mulai bernafas lega, dia pun segera membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Maaf sudah merepotkan pas Askara" Anin merasa tidak enak, apalagi mengingat perkataan Askara kemarin bahwa dia tidak suka di repotkan apalgi jika itu dirinya.
__ADS_1
"Yah, kau memang merepotkan".
Anin mencebik, pria dingin ini ternyata juga punya mulut yang kejam.
"Apa kau sedang mengataiku?"
Anin kaget, bagaimana bisa Askara tau isi fikirannya "Tidak" bantahnya.
"Hari ini aku berbaik hati, istirahatlah di kamarku dengan catatan jangan menyentuh apapun, aku tau letak semua barang-barangku jadi bergeser sedikit saja dari tempatnya kau akan tau akibatnya".
Anin menatap malas Askara, kenapa pagi ini Askara berubah menyebalkan.
krukkk...suara perut Anin.
"Aku lapar" cicit Anin merasa di permalukan oleh perutnya.
"Sebentar lagi akan ada orang yang datang untuk membantu keperluanmu, kau bisa minta di buatkan sarapan padanya " ucap Askara.
"Baik" jawab Anin.
Askara meninggalkan Anin dan memasuki kamar mandi, dia harus segera berangkat ke kantor karna ada meeting dengan klien penting.
Tidak lama Askara keluar hanya dengan menggunakan handuk putih yang terlilit di pinggangnya.
Anin yang sedari tadi memainkan kuku tangannya karena merasa bosan menoleh saat merasa seseorang keluar dari pintu kamar mandi.
Glek... pemandangan menggoda iman terpampang jelas di depan matanya.
Kulit putih Askara terekspose, dereten roti sobek tercetak dengan jelas. wajah tegas itu terlihat sexy di tambah rambut basah yang acak-acakan.
Sungguh, nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan.
"Berhenti menatapku seperti itu, aku merasa sedang di kuliti hidup-hidup" ucap Askara yang tanpa Anin sadari sudah memakai setelan jas nya.
Damn
Anin terkesiap, mengalihkan wajahnya ke arah lain. pagi ini dia harus merasakan malu dua kali di depan Askara.
Askara memasang dasi tapi tampak agak sedikit kesusahan.
Anin yang memperhatikan mencoba menawari bantuan "Biar saya bantu memasangkan dasi pak Askara"
"Tidak perlu"
"Tolong jangan menolak, bagaimanapun itu juga adalah tugasku"
"Badanmu masih lemah"
seketika Anin menegakkan tubuhnya memasang senyum cerah agar terlihat lebih baik.
"Please yah, sepertinya juga aku sedang ngidam"
"Ngidam?" beo Askara
Anin mengangguk "Sebelumnya aku bahkan tidak pernah mual atau muntah seperti tadi, tidak pernah menginginkan hal aneh atau makanan tertentu lainnya, tapi baru hari ini aku mulai merasakan itu semua" jelas Anin.
Anin sepenuhnya tidak bohong, entah kenapa pagi ini dia tiba-tiba merasakan mual hebat.
Padahal selama dua bulan ini kehamilan Anin anteng sekali bahkan kadang dia merasa lupa jika sedang hamil saking kebo nya.
dan sekarang Dia ingin sekali memasangkan dasi Askara sebelum berangkat kerja.
Askara pun mengiyakan keinginan Anin setelah mendengar penjelasannya.
Satu hal yang di sadari Askara adalah semenjak kehadiran Anin dirinya hanya merasakan mual di hari pertama Anin tinggal di apartemennya, selebihnya sudah tidak lagi.
Dan kini keadaan justru berbalik pada Anin.
Anin bergegas berdiri, mendekati Askara dengan perasaan gugup.
Tangannya sempat terulur ragu tapi dengan telaten kemudian memasangkan dasi di leher Askara.
Askara tercekat menahan nafas merasakan jarak mereka sedekat sekarang.
Sesekali Askara terlihat mencuri pandang meneliti wajah teduh Anin, hati Askara tiba-tiba menghangat.
Perasaan apa ini? Askara bahkan merasa nyaman.
Anin dapat mencium bau maskulin dari tubuh Askara. perasaan gugup sedari tadi melandanya tapi sebisa mungkin Anin berusaha menetralkan debaran jantungnya.
"Sudah selesai" ucap Anin mengakhiri dengan merapikan kembali dasi hasil karyanya.
"Hemm" Askara berdehem, menetralkan ritme jantungnya "Aku berangkat" ucap Askara.
"Tunggu dulu" tahan Anin.
"Apa lagi" tanya Askara menaikkan sebelah alisnya
Anin meraih tangan kanan Askara, mencium punggung tangannya.
Perlakuan Anin kembali berhasil membuat perasaan Askara semakin tidak karuan.
Askara makin tidak ingin berlama-lama, tidak baik bagi kesehatan jantungnya.
"Aku berangkat" Askara kembali ke mode dingin.
"Hati-hati"
Anin tersenyum, dalam hati dia berharap semoga hari ini adalah awal hubungan yang baik bersama Askara.
Setidaknya Askara tidak komplen dan menuruti keinginannya pagi ini, meskipun hanya memasangkan dasi.
"Ada apa dengan jantungku?" gumam Askara merasakan hal aneh dalam dirinya.
"Apa ada yang ketinggalan tuan?" tanya Dito yang memperhatikan tingkah gusar Askara di balik kaca depan.
"Tidak ada, fokus saja menyetir" jawab Askara yang duduk di jok belakang.
__ADS_1
Dito mengangguk dan kembali fokus pada jalanan di depannya.