
Anin terus mondar-mandir di depan ruang tunggu dengan wajah gusar, wanita itu menunggu dengan cemas kabar dari Dalila yang sedang berada di dalam ruang pemeriksaan.
"Sekretaris Dito, apa Dalila akan baik-baik saja?". tanya Anin dengan gurat khawatir yang terlihat jelas di wajahnya.
"Semua akan baik-baik saja Nona. lebih baik anda duduk dulu. sudah sejak tadi anda berdiri terus". ujar sekretaris Dito.
Anin menuruti perkataan sekretaris Dito, wanita itu duduk di samping Mia.
Askara yang mendapat kabar bahwa Dalila di bawa ke rumah sakit baru saja sampai.
Langkah lebar Askara menyusuri lorong rumah sakit dengan rahang yang mengetat, dan perasaan khawatir yang terus meliputi fikirannya.
Askara semakin mempercepat langkahnya saat melihat keberadaan Anin, sekretaris Dito, dan juga Mia di depan ruang tunggu tempat di mana Dalila sedang di periksa keadaannya.
"Bagaimana keadaan Dalila?". suara Askara menarik atensi mereka semua yang sedang menunggu dengan cemas.
"Mas". seru Anin berdiri dari duduknya dan langsung menghambur memeluk tubuh suaminya.
"Anin, kau baik-baik saja?". tanya Askara juga khawatir melihat Anin yang sudah menangis dalam pelukannya.
"Bukan aku Mas, tapi Dalila. dia tiba-tiba sesak tadi". ujar Anin yang masih berada dalam pelukan Askara.
Askara mengelus lembut punggung Anin, menyalurkan ketenangan untuk istrinya itu. "Kau yang tenang yah, jangan terlalu di fikirkan. ingat kondisi kandunganmu, kau jangan terlalu stres".
"Tapi aku takut mas, Dalila tiba-tiba sesak setelah memakan kue buatanku". terang Anin membuat Askara terdiam sebentar.
Pria itu mengurai pelukannya mendengar penjelasan Anin.
"Katakan lebih detail, kenapa Dalila bisa seperti ini". tuntut Askara.
Mata teduh Askara kini berganti dengan tatapan tajam seolah mengintimidasi Anin.
"Katakan Anin". desak Askara.
"T-tadi sehabis membuat kue, Dalila tiba-tiba datang ke mansion dan ingin bertemu denganku, jadi tadi kami mengobrol sebentar dan aku menawari Dalila kue hasil buatanku, setelah memakan kue itu Dalila tiba-tiba terbatuk dan mulai merasa sesak dengan wajah yang memerah, aku sungguh tidak tau mas kenapa Dalila bisa seperti ini". jelas Anin
"Kue? kue apa Anin?". Askara memegang kedua bahu Anin dan menatap istrinya itu intens.
"Kue selai kacang, Mas". balas Anin lagi.
"Apa..?". suara besar Askara mengangetkan Anin.
Tubuh Askara menegang saat mendengar bahwa yang di makan oleh Dalila adalah kue selai kacang.
__ADS_1
"Apa kau tau hah? Dalila itu alergi kacang. bagaimana jika kondisinya semakin memburuk". Askara menggeram merasakan emosi mendengar pernyataan Anin. bahkan tanpa sadar, Askara mengcengkram kedua bahu Anin.
Anin meringis merasakan sakit di kedua bahunya. "Mas, sakit". keluh Anin.
"Rasa sakit ini tidak sebanding dengan apa yang di rasakan Dalila di dalam sana Anin, dan ini semua terjadi karena kau". tuduh Askara tak berperasaan.
Hati Anin mendadak seperti di hantam benda keras saat Askara melimpahkan semua tuduhan padanya atas kondisi Dalila saat ini.
"Mas, aku betul-betul tidak tau Dalila alergi kacang. Aku memang menawarinya tapi itu karena aku memang tidak tau jika Dalila punya alergi". ujar Anin membela diri, perasaannya sungguh sakit karena Askara menuduhnya.
"Bagaimana bisa Anin kau menawari Dalila tanpa bertanya terlebih dahulu apa yang tidak dan di sukai oleh dia". volume suara Askara semakin meninggi.
"Tuan, jaga emosi anda". sekretaris Dito mencoba meredam emosi Askara. dia takut Askara akan mengeluarkan kata-kata yang bisa lebih menyakiti Anin.
"Kau jangan ikut campur, Dito". sela Askara dengan suara dinginnya.
"Aku minta maaf, mas". Anin meraih tangan Askara tapi pria itu menepisnya.
"Permintaan maafmu tidak akan mengembalikan kondisi Dalila. kenapa bukan kau saja yang berada di dalam sana, Anin". teriak Askara penuh emosi sampai mengalahkan logikanya hingga kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulutnya.
"Tuan". peringat sekretaris Dito seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Askara.
Plak!. Satu tamparan mendarat di pipi Askara.
"Kau keterlaluan, Mas. hanya karena mengkhawatirkan kondisi Dalila, kau sampai berkata seperti itu padaku". Anin tersenyum kecut. "Sepertinya kau memang benar-benar belum melupakan rasa cintamu pada Dalila, Mas". suara Anin bergetar. sebentar lagi bulir-bulir bening akan berjatuhan membasahi pipinya
Askara menatap tajam Anin, tatapan yang seolah-olah menghunus jantung siapapun yang menjadi lawan bicara Askara saat ini.
"Kau berani menamparku, Anin?". tanya Askara dingin.
"Rasa sakit dari tamparanku tidak akan sebanding dengan rasa sakit di hati aku, Mas. kau lebih membela wanita lain dan bahkan menyumpahi aku yang notabene adalah istrimu mas, aku sedang mengandung anakmu, secara tidak langsung kau menginginkan aku dan anakmu berbaring tak berdaya di dalam sana. ayah macam apa kau Mas, menginginkan anak serta istrimu celaka?". teriak Anin sudah tidak bisa lagi menahan sakit di hatinya. air mata yang mati-matian dia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa di bendung lagi.
Vivi yang baru saja datang setelah mendapat kabar dari sekretaris Dito bahwa Dalila masuk rumah sakit setelah bertemu dengan Anin di mansion, mendengar dengan jelas perdebatan antara Anin dan Askara.
Vivi mengepalkan kedua tangannya yang berada di sisi tubuhnya, saat Askara lebih mengkhawatirkan Dalila daripada Anin, istrinya sendiri.
"Anin". Vivi hendak mendekat tapi Anin menaikkan tangannya di udara, memberi isyarat agar Vivi diam di tempatnya. dia belum selesai bicara dengan Askara.
Anin tersenyum getir melihat Askara yang hanya diam tidak menanggapi.
"Hidup dengan orang yang belum usai dengan masa lalunya, ternyata rasanya sesakit ini". ujar Anin dengan suara tercekat bersama dengan linangan air mata yang membasahi pipi mulusnya.
Setelah mengatakan itu, Anin berlalu meninggalkan Askara yang hanya berdiri mematung. bersamaan dengan dokter Arga yang keluar dari ruang pemeriksaan.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi, Dalila?". tanya Askara membuat Anin yang baru menjauh beberapa langkah menghentikan langkahnya. ternyata Askara lebih peduli pada Dalila di banding mengejar dirinya.
"Santai Askara, kondisi Dalila baik-baik saja. tidak ada perlu yang di khawatirkan. reaksi dari alerginya memang yang memicu sesak tapi kondisinya sudah baik-baik saja. sekarang dia sedang dalam masa pemulihan". terang dokter Arga.
"Apa sudah boleh di jenguk?". tanya Askara.
"Tunggu sampai kondis Dalila stabil". ujar dokter Arga. "Aku pamit ke ruangan ku dulu".
"Hemm".
Selepas kepergian dokter Arga, Anin kembali melanjutkan langkah kakinya. dia tersenyum getir, betapa Askara masih sangat mengkhawatirkan kondisi Dalila yang kini sudah baik-baik saja. langkah Anin semakin menjauh, dia ingin menenangkan dirinya.
Vivi yang sedari tadi menahan emosi di hatinya, akhirnya tidak tahan untuk tidak buka suara.
"Kau dengan sendiri kan? kondisi Dalila baik-baik saja?. wanita yang begitu kau sayangi dan cintai itu tidak sampai meregang nyawa, Askara. tapi kata-katamu pada Anin sudah sangat keterlaluan dan menyakiti hatinya. kau berdo'a saja semoga sumpahmu tadi tidak menjadi kenyataan, karena jika itu terjadi, mau kau menyesal pun tidak akan berguna lagi". celetuk Vivi dengan beraninya. dia sama sekali tidak merasa takut akan tatapan tajam Askara.
"Nona Vivi. jaga ucapan anda". peringat sekretaris Dito dengan bahasa formal karena memang mereka sepakat akan bersikap biasa saja jika di depan orang-orang, terutama di depan Askara.
"Untuk apa aku jaga ucapanku di depan pria brengsek seperti dia". dengan berani Vivi membalas tatapan tajam Askara. wanita itu segera berlalu menyusul Anin yang pergi entah kemana.
Askara mengusap wajahnya kasar. pria itu menyadari perkataannya yang begitu menyakitkan pada Anin.
Bagiamana sorot mata Anin penuh luka dan kecewa karena dirinya tidak bisa mengontrol emosinya.
"Arrgh.. ****, kau bodoh Askara ". umpat Askara meninju tembok rumah sakit dengan begitu keras hingga buku-buku tangannya lecet dan memerah.
"Tuan, jangan menyakiti diri anda seperti ini". sekretaris Dito menahan kepalang tangan Askara yang hendak kembali meninju tembok.
"Aku sudah keterlalun Dito. Anin pasti sangat kecewa kepadaku". tubuh Askara merosot ke lantai, menekuk kedua kakinya dan menjambak rambutnya.
"Kenapa tuan tidak menyusul nona Anin dan meminta maaf". usul sekretaris Dito.
"Aku harus menunggu Dalila dulu, lagi pula Anin pasti sedang terbawa emosi jadi biarkan dia meredam amarahnya dulu ". ujar Askara yang membuat sekretaris Dito tidak habis fikir dengan jalan fikiran Askara. kenapa di saat seperti ini pria itu justru masih terus mengkhawatirkan Dalila.
"Tapi, tuan__".
"Diamlah Dito". sergah Askara tidak ingin mendengar apapun lagi. fikirannya sungguh sangat kacau sekarang.
**Satu kata untuk Askara? hihi.
readers jangan pada emosi yah, Askara juga nanti bakalan kena karmanya kok.
jangan lupa like, komen, dan vote yah**.
__ADS_1