
Sejak kepulangannya dari Prancis seminggu yang lalu, tidak lantas membuat Askara bersantai-santai. dia harus kembali mengurus pekerjaan yang terbengkalai di Jakarta.
Tumpukan berkas menemani Askara selama seminggu ini dari pagi hingga larut malam. seolah tak kenal waktu, Askara bahkan sampai harus bermalam di kantor.
Askara menghentikan sejenak pekerjaannya, dia bisa gila jika terus menerus berhadapan dengan berkas-berkas yang tidak ada habisnya.
Selama dua Minggu di Prancis, Askara sangat jarang memegang ponsel karena pekerjaan di sana di luar dari ekspetasinya. banyak sekali kekacauan yang harus dia urus dan tangani langsung. jangankan untuk memegang ponsel, untuk beristirahat saja hanya beberapa jam dalam sehari, membuat tubuh Askara terlihat sedikit lebih kurus.
Askara melonggarkan dasinya kemudian mengecek ponselnya. jujur dia sangat merindukan Anin, beberapa kali juga Askara melihat panggilan masuk dari istirnya itu.
Bukan tanpa alasan Askara menahan diri untuk menghubungi Anin sampai hampir sebulan lamanya, dia takut mendengar suara Anin hingga tidak bisa menahan kerinduannya. hanya butuh waktu sedikit lagi, dia ingin fokus pada pekerjaannya hingga selesai lalu menjemput Anin.
"Tunggu sebentar lagi, Anin. aku akan menjemputmu. aku sungguh merindukanmu". gumam Askara yang terlihat seperti tak terurus. rambutnya tidak lagi tersisir rapi seperti biasanya.
Karena tidak fokus bekerja di kantor, Askara akhirnya memutuskan untuk pulang ke mansion setelah hampir satu Minggu lamanya menginap di kantor.
Dengan menentang jas di tangannya Askara melangkah memasuki mansion, namun langkah kaki Askara terhenti saat melihat keberadaan Dalila di ruang tengah.
"Askara, kau sudah pulang?". sapa Dalila beranjak dari duduknya lalu menghampiri Askara dengan senyum cerahnya.
"Hemm. kenapa kau bisa ada di sini?". tanya Askara dingin membuat Dalila heran dengan perubahan sikap Askara.
"Kau kelihatan lelah sekali, apa mau aku buatkan minum? atau kau mungkin mau makan?". Dalila bersikap seolah-olah istri Askara.
Tadinya Dalila ingin menanyakan kenapa Askara tidak pernah mengunjunginya lagi saat di rawat di rumah sakit sebulan yang lalu, tapi karena melihat wajah lelah Askara, dia mengurungkan niatnya.
"Ada apa kau ke sini, Dalila?". Askara tidak menanggapi tawaran Dalila.
"Aku ke sini karena mengkhawatirkanmu, kata Bi Ratih kau bermalam selama seminggu di kantor karena sedang banyak pekerjaan, apa pekerjaanmu sebanyak itu?".
"Hemm. dan aku butuh istirahat sekarang". Askara memijit pelipisnya.
Askara hendak pergi ke kamar tapi tangannya di cegat oleh Dalila. "Biarkan aku tinggal di sini sampai Anin kembali". Dalila dengan beraninya mengatakan hal tersebut.
Askara mengerutkan kening. "Maksudmu?".
"Biar aku yang mengurusmu selama Anin tidak ada. sebelumnya aku juga pernah tinggal di sini, kan?, jadi tidak ada salahnya aku membantu mengurus segala keperluanmu". Dalila tau permintaannya sudah kelewat batas, tapi dia hanya ingin dekat dengan Askara.
"Tidak perlu Dalila. ada bi Ratih dan Mia yang mengurus semua keperluanku". tolak Askara tidak ingin membuat semuanya semakin rumit, maaf dari Anin saja belum dia dapatkan sampai sekarang.
"Tapi Askara_".
"Pulanglah Dalila, aku ingin istirahat". potong Askara dengan cepat. ingin melangkah menuju kamarnya tapi Dalila langsung menarik tangannya lalu memeluknya.
"Aku merindukanmu, Askara". gumam Dalila memeluk erat tubuh Askara.
__ADS_1
"Saat aku menyatakan perasaanku di apartement waktu itu, kau belum memberikan jawaban padaku. apa perasaan itu masih ada untuk aku?, kau belum menjawabnya sampai sekarang". Dalila menagih jawaban Askara, dia tidak ingin berada di atas kebimbangan.
Askara terdiam, kenapa di saat-saat seperti ini Dalila malah menanyakan hal itu.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, Dalila". ujar Askara karena memang tidak mempunyai jawaban.
"Kenapa?, apa karena kau memang benar-benar sudah mencintai Anin?, bukankah dulu kau begitu menggilaiku Askara?, lagi pula dulu kau mengatakan akan sepakat bercerai dengan Anin jika anak itu lahir, kalian menikah hanya karena kehadiran anak itu kan, Askara?." Lirih Dalila.
Saat pertemuan pertama mereka di apartement, Askara benar-benar menceritakan semuanya pada Dalila, bahkan sampai pada rencana perceraian Askara yang dia ajukan kepada Anin di saat awal pernikahan.
Askara masih terdiam membuat Dalila terus berbicara.
"Sekarang kau tahu bahwa aku juga mencintaimu, kita bisa memulai semuanya dari awal setelah kau bercerai dari Anin". Dalila semakin gila dengan segala ucapannya.
Askara tidak membalas sampai suara tepuk tangan terdengar mengisi keheningan di dalam ruangan yang besar dan luas tersebut.
Perhatian Askara tertuju pada siapa yang baru saja datang, termasuk Dalila. Askara langsung melepas pelukan Dalila dari tubuhnya karena terkejut melihat kehadiran orang tersebut.
"Mami?".
"T-tante Sandra?".
Askara dan Dalila sama terkejutnya, melihat kedatangan Mami Sandra.
"Kenapa?, kalian terkejut?", sayang sekali bukan Anin yang melihat langsung pemandangan ini. sindir Mami Sandra sambil melepas kacamata hitamnya. meski usianya sudah menginjak kepala lima, namun penampilan Mami Sandra selalu modis dan stunning.
"Ya, bisalah anak bodoh. Mami ke sini pake pesawat, bukan pake ilmu sulap lantas bisa langsung berada di sini". kesal Mami Sandra melayangkan tatapan tajam pada putranya.
"Maksudku kenapa Mami tidak memberi kabar terlebih dahulu". ujar Askara.
"Kalau Mami kasi kabar sebelumnya, maka Mami tidak akan bisa melihat pemandangan seperti tadi, sungguh menggelikan". Mami Sandra tersenyum miring menatap lekat-lekat wajah Dalila.
"Tante Sandra apa kabar?, sudah lama kita tidak bertemu". sapa Dalila dengan wajah sumringah.
"Oh, hai Dalila. kau sudah kembali dari Jerman rupanya?". tanya Mami Sandra pura-pura tidak tau.
"Iyya, Tante". balas Dalila tersenyum.
"Dalila, boleh Tante tanya sesuatu?". ujar Mami Sandra dengan wajah seriusnya.
"Boleh, Tante mau tanya apa?".
"Kau ambil jurusan apa di Jerman?".
Meski cukup bingung dengan pertanyaan Mami Sandra, tapi Dalila tetap memberikan jawaban. "Aku ambil jurusan modeling, Tante".
__ADS_1
Mami Sandra mengangguk paham setelah mendengar jawaban Dalila. "Seharusnya saat ini kau sedang menjalani proefesimu sebagai seorang modeling, bukannya sebagai perebut suami orang". Sarkas Mami Sandra membuat Dalila tertegun sedangkan Askara membulatkan matanya sempurna.
"M-maksud Tante Sandra?, maaf aku tidak mengerti". ujar Dalila.
Mami Sandra tersenyum. "Kau tau betul apa Maksudku, Dalila. Jangan sampai kau susah payah sekolah sampai ke luar hanya untuk menjadi orang ketiga dan menjadi penghancur rumah tangga orang lain, itu sungguh memalukan". suara Mami Sandra terdengar begitu dingin.
"Mami, stop it". tegur Askara tegas, dia tau betul bahwa Maminya terang-terangan menuduh Dalila sebagai orang ketiga dalam hubungan rumahtangganya.
"Kau yang berhenti anak bodoh, sudah berapa kali Mami peringatkan untuk buang jauh-jauh perasaanmu itu. tapi kau tidak pernah mendengarkan ucapan Mami. sekarang kau jawab pertanyaan Mami, kau pilih Anin atau wanita ini". tunjuk Mami sandra geram pada Dalila.
Askara terdiam, bibirnya mendadak kelu karena pertanyaan Maminya.
"Kenapa kau diam saja, hah?. kau benar-benar sudah di buat gila oleh wanita ini. sekarang juga Mami tidak mau tau, jemput menantu kesayangan Mami untuk pulang". teriak Mami Sandra karena emosinya yang bergumul jadi satu.
"Tapi Mi, Anin sedang marah padaku. bahkan dia belum memaafkan aku sampai sekarang". ungkap Askara.
Mami Sandra memukul kencang lengan Askara. "Kau memang benar-benar bodoh, Askara. andai saja Mami punya banyak anak, maka dengan senang hati Mami akan mengumpankanmu ke kandang buaya biar kau jadi santapannya". Mami Sandra benar-benar geram.
"Apa kau tidak sadar kenapa Anin marah padamu?, itu karena kau yang terlalu bodoh masih menyimpan perasaan pada wanita ini. bahkan dengan kasarnya kau menyumpahi Anin celaka hanya karena Dalila masuk rumah sakit atas ketidaksengajaan yang di buat oleh Anin, di mana letak fikiran itu, Askara?."
Askara terkejut mendengar bahwa Maminya tau semua yang dia lakukan pada Anin.
"D-dari mana Mami tau?".
"Mami tau semuanya !, jadi sebelum Mami berubah fikiran dan benar-benar menyeretmu ke kandang buaya, jemput Anin sekarang juga dan bawa dia pulang". perintah Mami Sandra tak terbantahkan.
Askara menelan salivanya susah payah, Maminya tidak pernah main-main jika mengancam.
"I-iyya, Askara akan pergi". Askara segera beranjak dari sana meninggalkan Maminya dan juga Dalila. rasa lelahnya kini menguap entah kemana. dia harus segera menjemput Anin.
Kini tersisa Mami Sandra dan juga Dalila.
"Tante, Dalila bisa jelasin semuanya". ujar Dalila saat melihat tatapan kecewa dari Mami Sandra.
"Tidak ada lagi yang perlu di jelaskan Dalila. Tante kecewa sama kamu. tidak seharusnya kamu menempatkan Askara dalam pilihan yang sulit seperti sekarang. dulu kamu yang meninggalkan Askara saat dia memintamu untuk tetap tinggal bersamanya, bahkan kau tidak pernah tau sekacau apa Askara saat kamu pergi. Tante hampir kehilangan anak Tante satu-satunya. dan kini saat Askara mulai menemukan orang baru dalam hidupnya, kamu datang kembali dan menawarkan cinta, it's bullshit, Dalila.". Tutur Mami Sandra menahan air matanya untuk tidak jatuh karena teringat kembali masa-masa kelam dalam hidup Askara.
Dalila tertunduk sedih. "Maafkan Dalila, Tante. tidak ada maksud Dalila untuk membuat Askara dalam posisi yang sulit". Dalila hanya memperjuangkan perasaannya dan ingin menebus kesalahannya dulu pada Askara, tapi jalannya tidak seperti yang dia bayangkan.
Mami Sandra tersenyum sarkas. "Tante mohon sama kamu Dalila. selagi masih Tante bersikap baik, tolong jangan hancurkan Askara untuk yang kedua kalinya. biarkan Askara hidup tenang menjalani kehidupan rumahtangga nya bersama Anin. anggap kini kalian impas karena kamu sudah menyia-nyiakan Askara dulu".
Setelah mengatakan itu, Mami Sandra meninggalkan Dalila yang menangis. dulu dia menyayangi Dalila seperti dia menyayangi Askara. tapi sekarang, Dalila menjadi penghalang kebahagiaan Askara, dan dia tidak bisa diam saja melihat Askara di permainkan.
**Yuhu... siapa yang kangen Mami Sandra?
ayo angkat tangan, hihihi.
__ADS_1
Mami Sandra adalah Dewi penolong buat Anin.
jangan lupa like, komen, dan vote ya 😉😉**