
Hari dengan cepat berganti hingga tiba di mana pernikahan Anin akan di gelar, pernikahan yang sangatlah sederhana.
Seorang MUA yang di tunjuk oleh Askara jauh-jauh hari untuk mendadani Anin dengan serius memoles wajah mulus Anin.
Sesekali Anin menarik nafas dalam-dalam, rasa gugup tidak bisa dia hindari.
"Rileks aja mbak, pasti ijab Kabul nya berjalan lancar" Ucap sang MUA menyadari kegugupan calon pengantinnya.
Anin membalas dengan seulas senyum.
Vivi memasuki ruangan tempat Anin di make up.
"Belum selsai yah?" tanya Vivi
mendengar suara Vivi, membuat Anin merasa senang karena sahabatnya akhirnya tiba.
"Vi, Lo dari mana aja sih?" Anin bertanya gelisah
"Bukan Jakarta namanya Nin kalo nggak macet" Keluh Vivi dan langsung menghampiri Anin.
"Woww.. kau cantik sekali Embun Anindira" mulut Vivi sampai menganga melihat betapa cantiknya Anin hari ini.
"Ini karena mbaknya yang jago make up, wajah gue mah pas-pasan aja" ucap Anin
"Kata temennya bener kok mbak, make up yang cantik semakin cantik karena di tunjang sama wajah mbaknya yang cantik juga" balas mbak MUA tersenyum.
Anin hanya tertunduk malu mendengar pujian-pujian yang di lontarkan untuknya.
"Vi..gue gugup banget" Anin meremas tangan Vivi berharap bisa mendapatkan tambahan kekuatan.
"Wajar kok Nin, setiap orang yang ada di posisi loh pasti ngerasa deg-degan"
rasa gugup Anin bukan hanya karena hari ini akan menikah, justru terselip ketakutan di hati Anin jika Askara tidak akan hadir atau justru berubah fikiran untuk menikahinya.
"Nona Anin apakah sudah siap? tuan Askara dan penghulu sudah menunggu di ruangan"
Anin dan Vivi menoleh ke sumber suara, tampak Dito telah rapi mengenakan setelan jas berwarna navi.
Vivi tidak berkedip menatap Dito, menelan salivanya dengan susah payah.
"Ah..Anin sudah siap" ujar Vivi yang sudah tersadar dari aksi melamunnya.
"Ayo Nin kita keluar"
setelah mengucapkan terimakasih kepada MUA,
Anin berjalan perlahan keluar dengan di bantu oleh Vivi karena rok nya sedikit agak sempit apalagi dirinya mengenakan high heels.
Askara telah menunggu di dalam ruangan ijab kabul, perasaan gugup pun di rasakannya tapi tertutupi dengan sikap tenang dan dinginnya.
Dito datang dan mengatakan bahwa mempelai wanita sedang menuju ruangan membuat Askara menegakkan tubuhnya.
Anin pun memasuki ruangan, tatapan matanya bertemu dengan mata elang Askara, Anin terpaku menatap betapa sempurnanya wajah pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, jas hitam yang di gunakan Askara melekat sempurna di tubuh atletisnya.
Mata Askara tak berkedip memandang wajah Anin, make up flawles dan tidak terlalu tebal sangat cocok di wajahnya, semakin cantik di mata Askara karena Anin yang selalu tersenyum manis.
sepersekian sekian detik Askara sadar dengan apa yang dirinya fikirkan, dengan segera memutus kontak mata dengan Anin, pada saat itu juga Askara dapat melihat senyum Anin memudar karenanya.
Vivi menuntun Anin untuk duduk di sisi Askara setelah itu memasangkan kain penutup di kepala keduanya.
"Baiklah, ijab kabulnya bisa kita mulai sekarang" ujar penghulu.
dengan hanya satu tarikan nafas Askara telah sah menjadi suami dari Anin.
atas arahan pak penghulu Askara mendekatkan wajahnya untuk mencium kening Anin.
cupp
__ADS_1
jantung Anin rasanya ingin melompat dari tempatnya, ini kali pertamanya seorang pria yang telah berstatus suaminya menciumnya walau hanya di kening.
sekarang giliran Anin yang di suruh mencium tangan Askara sebagai tanda bakti pada suaminya. meskipun dengan ragu-ragu Anin meraih tangan Askara.
setelah acara selesai Vivi menghampiri Anin, memeluk sahabatnya yang sekarang sudah sah menjadi istri orang.
"Anin baik-baik yah di rumah suami Lo" ujar Vivi sedikit tidak rela.
Anin pun sama, rasanya sangat berat menerima kenyataan bahwa dirinya sudah menjadi seorang istri, bahkan calon ibu.
Air mata Anin sulit di tahan, dirinya pasti akan jarang bertemu dengan Vivi nantinya.
"Vi, Lo janji yah bakalan sering datang nengokin gue"
Vivi mengangguk di sertai deraian air mata "Gue janji, dan kalo ada masalah jangan di pendam sendiri, okey?"
keduanya kembali berpelukan, hingga tak sadar sedari tadi dua pria memperhatikan tingkah mereka.
"Hem. Hem.." Askara berdehem keras hingga membuat keduanya melepaskan pelukan.
apa kalian akan tinggal di sini hanya untuk berpelukan?" ucap Askara dingin
"Eh maaf, gue kira udah nggak ada orang " ucap Vivi.
Askara beralih menatap Anin "Kamu tau kan setelah ini harus pulang ke mana?"
Anin mengangguk lemah "Iyya saya tau pak"
jujur Anin sangat bingung harus memanggil Askara dengan embel-embel apa.
"Dito, antarkan dia ke apartemen" setelah memberikan perintah Askara pun meninggalkan ruangan
"Nin, gue juga mau balik yah, masih ada urusan di kampus soalnya"
"Hati-hati yah Vi, makasih udah datang hari ini" balas Anin dengan senyum.
Dito mengikuti arah pandang Vivi tepatnya di area asetnya, dirinya bergidik ngeri jika hal itu sampe terjadi.
"Baik nona" balas Dito seadanya, dia tidak ingin ada perdebatan.
Vivi pun meninggalkan ruangan di susul oleh Dito dan Anin.
"Pak Askara mana?" bingung Anin karena sudah tidak melihat keberadaan Askara.
"Tuan sudah kembali ke kantor nona, pekerjaan sudah menunggunya"
hati Anin mencolos, jika pengantin yang saling mencintai menikah pasti setelah acara pernikahan selesai mereka akan menyiapkan bulan madu, tapi berbeda dengan Anin, justru di hari setelah pernikahannya dirinya sudah di tinggal bekerja bahkan setelah ijab kabul selesai.
memang apa yang Anin harapkan, bahkan pernikahan ini hanya di dasari atas rasa keterpaksaan karena dirinya yang hamil.
Anin hanya menatap keluar jendela, banyaknya bangunan pencakar langit menghiasi jalanan padat kota Jakarta.
setengah jam berkendara, mobil yang di tumpangi Anin memasuki sebuah gedung apartemen mewah. Anin yakin orang orang yang tinggal di dalamnya adalah kebanyakan orang berduit seperti suaminya sekarang.
dengan susah payah Anin berjalan, dirinya yang masih mengenakan kebaya kesulitan menyamai langkah lebar Dito.
"Bisakah jalannya lebih pelan sedikit, aku kesulitan menyusul langkahmu" protes Anin pada Dito.
"Maafkan saya nona" sesal Dito
keduanya pun sampai di depan pintu apartemen yang di yakini Anin adalah milik Askara.
Dito membuka pintu melalui kartu.
ceklek, pintu terbuka.
suasana pertama yang di dapati Anin adalah kesan mewah dari desain interior ruangan apartemen. terdapat dua kamar, ruang tamu yang luas, juga terdapat set kitchen yang di dominasi warna nude.
__ADS_1
"Mari saya tunjukan kamar nona"
Anin mengikuti Dito, karena sesuai kesepakatan antara dirinya dan Askara setelah menikah mereka akan tidur di kamar terpisah.
"Mulai sekarang ini adalah kamar nona Anin, dan di sebelah itu adalah kamar tuan Askara" jelas Dito dan ingin segera berlalu
Anin mengangguk "Tapi tunggu dulu pak" tahan Anin saat Dito ingin keluar dari apartemen tersebut.
"Apa nona ada perlu?" tanya Dito
"Saya lupa mengambil barang barang saya di kost, bahkan selembar baju pun tidak aku bawa sekarang, jadi bisakah bapak antar saya ke kost?"
"Anda tidak perlu khawatir nona, semua barang barang anda sudah kami pindahkan ke dalam kamar nona, termasuk pakaian nona"
"apa?, tapi sejak kapan?" bukan hanya kaget, Anin juga merasa malu sekarang karena pasti barang barang pribadinya ikut terekspos.
"Mengenai kekhawatiran nona, yang membereskan semua pakaian nona adalah pegawai wanita yang sudah kami bayar" jelas Dito sebelum Anin salah paham terhadap dirinya.
"Ah syukurlah"
"Satu lagi nona, anda cukup panggil saya Dito. umur saya hanya terpaut dua tahun dengan tuan Askara"
"Eh Iyya ..Di....to" Anin tersenyum kikuk membiasakan diri memanggil Dito tanpa embel embel pak.
"Jika sudah selesai saya pamit balik ke kantor dulu nona, tuan Askara sudah menunggu saya"
"Terimakasih sudah mengantar"
Anin pun memasuki ruangan yang kini menjadi kamarnya, dan benar saja semua barang-barangnya yang berada di kost sudah di pindahkan kemari seperti yang di katakan Dito tadi.
tidak menunggu lama Anin segera melepas kebaya yang masih melekat di tubuhnya, kemudian membersihkan sisa make up-nya menggunakan kapas dan micelar water.
Anin mengambil baju kaos dan juga celana panjang dari dalam kopernya, setelah itu melangkah masuk menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa begitu lengket.
setelah membersihkan diri, Anin berjalan menuju dapur, tangannya beralih membuka kulkas dan hanya mendapati telur serta beberapa sayuran yang bahkan sudah layu.
"Mau masak apa kalo kulkasnya kosong begini" gumam Anin.
"Masak nasi goreng aja kali yah, besok baru belanja untuk keperluan di dapur". lanjutnya.
Anin memutuskan untuk memasak nasi terlebih dahulu, meskipun sempat kebingungan mencari di mana saja letak semua yang di butuhkannya, maklum dirinya orang baru jadi belum mengetahui tata letak barang-barang.
aroma harum masakan menyeruak dari dalam dapur. Askara yang memang baru pulang dari kantor mendapati suara dari arah dapur, kakinya pun menuntun dirinya untuk ke sana.
"Apa yang sedang kau lakukan?" ujar Askara dengan suara dinginnya
Anin yang sedang bersenandung kecil tiba-tiba berjengkit kaget karena suara Askara.
Anin berbalik dan mendapati Askara tengah menatapnya tajam.
"A..ku...aku sedang memasak" suara Anin terdengar gugup, pasalnya dirinya merasa sedikit takut dengan tatapan Askara, apalagi sekarang mereka sudah tinggal seatap membuat Anin harus mulai membiasakan diri dengan kehadiran Askara.
"Siapa yang menyuruh mu memasak?"
"Aku hanya inisiatif sendiri, aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang istri" jawab Anin dengan suara pelan.
"apa kau lapar?" dengan memberanikan diri Anin bertanya pada Askara .
"aku sudah makan di luar bersama Dito" setelah itu Askara berlalu meninggalkan Anin dan memasuki kamarnya.
"Huffttt" Anin mengelus dadanya, sedari tadi dia berusaha menetralkan detak jantungnya karena takut Askara akan marah.
Anin bisa sedikit mulai mengerti bahwa Askara memang lebih irit dalam hal bicara, atau mungkin Askara akan irit bicara jika hanya pada dirinya.
Anin pun menikmati nasi goreng buatannya dengan seorang diri. padahal dirinya sudah membuat untuk porsi dua orang. tapi tidak papa, Anin bisa menyimpannya karena semenjak hamil dirinya sering bangun tengah malam untuk makan lagi.
sudah pukul 10 malam, Anin bahkan tidak melihat lagi Askara keluar dari kamarnya semenjak pertemuan mereka di dapur tadi.
__ADS_1
merasa mengantuk, Anin memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.