
"Dito, cari tau siapa pria yang bersama Anin di toko kue tadi" ujar Askara yang baru saja keluar dari ruang meeting.
"Baik tuan" jawab sekretaris Dito berlalu menuju ruangannya.
Sepanjang jalannya meeting tadi, Askara lebih banyak diam. raganya berada di kantor namun fikirannya tertuju pada Anin yang tertawa lepas bersama seorang pria di toko kue tadi.
Askara membuka ponsel Anin yang masih berada di saku jasnya, kebetulan ponsel gadis tersebut tidak ter lock.
Askara mengotak-atik ponsel Anin dengan senyum mengembang, setelah itu tangannya langsung meluncur ke galeri Anin.
Terdapat banyak foto-foto Anin dan juga Vivi dengan berbagai pose. Askara sempat mencibir gaya berfoto keduanya yang sok imut.
Askara semakin menscroll ke bawah galeri foto Anin yang berisi ribuan foto. Askara bingung kenapa begitu banyak foto, jika di bandingkan dengan ponselnya bahkan foto-foto Askara sendiri bisa di hitung jari.
Ya bedalah bambang, kan situ kanebo kering, batin author. hehehe.
Mata Askara membulat sempurna saat melihat begitu banyak foto-foto pria berkulit putih dengan mata sipit, bahkan ada beberapa foto di mana Anin mengedit fotonya dan foto pria tersebut dalam satu frame.
Siapa pria ini?, kenapa fotonya banyak sekali di galeri Anin.
Askara yang memang tidak mengetahui siapa itu idol maupun oppa-oppa korea yang di gandrungi banyak gadis muda, kini ia berubah marah dan menjadi emosi. Askara berfikir bahwa Anin punya main di belakangnya.
Maklum saja, circle kehidupan Askara dari kecil sampai sekarang hanyalah tentang bisnis. Tontonan Askara pun adalah berita tentang bisnis dan semua buku-bukunya pun tentang bisnis, jadi Askara mana tau apa yang sedang trend dan di gandrungi anak muda jaman sekarang.
Tapi ada satu yang membuat Askara semakin panas, saat foto-foto Anin yang hanya menggunakan tank top dengan rambut di cepol asal membuat leher putihnya terekspose dengan jelas. Foto tersebut di ambil saat Anin masih tinggal di kostnya.
Askara melonggarkan dasinya, sesuatu di bawah sana bangkit hanya dengan melihat foto tersebut. Dia menyudahi dan menutup ponsel Anin, Askara takut melihat hal yang bisa membuat dirinya semakin gerah.
Melirik jam di pergelangan tangannya. sebentar lagi sudah waktunya jam makan siang, Askara segera memanggil Dito ke ruangannya.
Tak lama Dito memasuki ruangan Askara.
"Ada apa tuan memanggil saya?" tanya sekretaris Dito.
"Aku punya tugas untukmu, sekarang kau pergi ke restorant yang sering aku tempati makan. pesan makanan olahan ikan salmon terbaik di sana dan pastikan hidangannya harus benar-benar matang dan juga sayurannya harus lengkap, lalu antarkan makanan itu untuk Anin" jelas Askara yang kini lebih banyak tau makanan yang baik untuk ibu hamil karena hasil searchingnya dari Mbah Google.
Dito cukup kaget mendengar ucapan Askara yang begitu perhatian pada Anin hingga dari makanannya saja Askara memberikan yang terbaik.
Sepertinya Askara memang mulai peduli terhadap Anin dan juga kandungannya.
"Baik tuan, ada lagi?" tanya sekretaris Dito sebelum beranjak dari ruangan Askara.
"Oh iya, minumannya jangan lupa jus buah yang masih segar dan sekalian bawakan ponsel Anin" Askara menyerahkan ponsel Anin pada Dito.
Sekretaris Dito hendak pergi saat ponsel Anin sudah di kantonginya.
"Dan satu lagi" ujar Askara membuat langkah Dito terhenti.
"Jangan pernah berniat membuka ponsel Anin" peringat Askara tegas karena isi ponsel Anin sangat bahaya bagi pria-pria berumur sepertinya dan juga Dito.
"Saya tidak mungkin lancang melakukan itu tuan" jawab sekretaris Dito.
"Bagus, kalau begitu cepatlah berangkat. jangan sampai Anin sudah makan siang lebih dulu"
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi"
"Hemm".
Dito pun segera meninggalkan ruangan Askara.
****
"Anin, ayolah temenin gue" sedari tadi Vivi terus merengek pada Anin minta untuk di temani belanja ke mall.
Selepas jam kuliahnya habis, Vivi langsung menemui Anin di toko kue.
__ADS_1
"Vi, gue nggak bisa. habis ini gue harus langsung pulang" Ini sudah sekian kalinya Anin menolak Vivi, namun gadis itu terus saja merengek padanya.
Vivi mencebikkan bibirnya "Sebentar doang Nin, gue yakin, Lo udah di rumah sebelum Askara pulang kerja" berbagai rayuan Vivi lontarkan agar Anin mau menemaninya.
"Tetep aja gue nggak bisa"
"Gue traktir novel inceran Lo deh" goda Vivi membuat Anin kini menatapnya.
"Lo serius?" tanya Anin, kini dia mulai tertarik.
Vivi mengangguk cepat "Iyya"
"Berapapun?" tanya Anin antusias.
Vivi mendengus kesal "Lo kalo di traktir novel aja cepet, gini amat hubungan pertemanan kita" gerutu Vivi.
"Kalo ada yang gratis kenapa tidak di manfaatkan" cengir Anin tanpa dosa membuat Vivi merengut kesal.
"Dasar, suaminya kaya raya tapi istrinya suka yang gratisan" cibir Vivi.
"Nggak suka? ya udah gue berubah fikiran nih" ancam Anin.
"Iyya..Iyya.. sorry deh, Tapi Lo janji yah hari ini temenin gue" ujar Vivi merengut
"Siap boss, kan udah di sogok" balas Anin tersenyum lebar.
"Anin, gue laper nih. pesen makan yuk" seloroh Vivi yang mendudukkan tubuhya di kursi coffeshop, begitupun dengan Anin.
"Boleh, tapi pake ponsel Lo ajah, punya Gue ketinggalan di mobil pak Askara tadi pagi" ungkap Anin.
"Oke" balas Vivi membuka aplikasi grabfoodnya.
Namun kehadiran sekretaris Dito yang memasuki toko kue menarik atensi Anin dan juga Vivi.
"Permisi nona Anin" sapanya pada Anin.
"Maaf karena kehadiran saya yang tiba-tiba, saya di sini atas perintah tuan Askara untuk mengembalikan ponsel nona Anin dan juga memberikan ini" Sekretaris Dito menyerahkan paperbag di tangannya pada Anin.
"Apa ini?" tanya Anin dengan kening berkerut melihat paperbag yang sudah berpindah ke tangannya.
"Makan siang nona Anin, itu khusus di pesan oleh tuan Askara" jawab sekretaris Dito.
"Tapi aku baru saja memesan makanan" ujar Anin menatap Vivi.
"Biar saja nona Vivi yang memakan semuanya nona, makanan itu sudah tuan Askara pertimbangkan nilai gizinya untuk anda nona. tuan Askara juga tidak membiarkan anda memesan makanan sembarangan dari luar " jelas Askara.
Namun berbeda dengan Anin yang senang mendapat perhatian Askara , Vivi merengut kesal saat sekretaris Dito menyuruhnya memakan semua makanan yang terlanjur di pesannya.
"Kau ingin membuatku gendut hah?" tanya Vivi marah.
"Saya tidak bermaksud seperti itu nona, tapi melihat dari postur tubuh nona Vivi sepertinya makan dua porsi makanan pasti sanggup" jelas sekretaris Dito membuat kepala Vivi bertanduk.
"Kau..." geram Vivi hendak mencakar wajah sekretaris Dito.
"Vi udah deh, nggak malu apa di liatin orang-orang" ujar Anin menahan tangan Vivi. pengunjung coffeshop mulai memperhatikan mereka.
Vivi membuang nafas kesal "Untung ada Anin, kalo nggak, habis kau"
"Sekretaris Dito terimakasih sudah mengantar ponsel dan juga makanan untukku, sekarang kembalilah ke kantor dan sampaikan terimakasihku pada pak Askara" Anin segera menyuruh sekretaris Dito pergi dari sana, takut Vivi benar-benar menghajarnya nanti.
"Baik nona, jangan lupa makanannya di habiskan" ujarnya menyampaikan pesan Askara sebelum dia pergi dari sana.
"Iyya"
"Awas kau" ujar Vivi masih marah melihat kepergian sekretaris Dito.
__ADS_1
****
Jam kerja Anin akhirnya selesai, sekarang waktunya menemani Vivi ke mall. sebenarnya Anin cukup malas karena pasti akan sangat melelahkan tapi mau gimana lagi, dia tidak bisa menolak sogokan Vivi.
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan toko kue.
"Non Anin yah?" tanya seorang pria paruh baya yang baru saja turun dari mobil tersebut.
Anin yang hendak membuka pintu mobil Vivi menjadi terhenti "Iyya saya Anin, bapak siapa yah?" tanya Anin dengan kening berkerut.
"Siapa Nin?" tanya Vivi melihat Anin berbicara dengan pria paruh baya tersebut.
"Gue juga nggak tau" jawab Anin.
"Maaf non, sebelumnya saya mau memperkenalkan diri. saya pak Hilman supir pribadi pak Askara yang mulai sekarang di tugaskan untuk menjemput non Anin" jelas pak Hilman membuat Anin mengingat isi perjanjiannya dengan Askara kemarin.
Anin menatap Vivi kemudian beralih pada pak Hilman "Duh gimana yah pak, saya udah janji sama teman saya, ini mau nemenin dia belanja. pak Hilman pulang aja biar nanti saya yang bicara sama pak Askara" jelas Anin tidak mungkin membatalkan janjinya pada Vivi.
"Tapi non..."
"Nggak papa pak, biar nanti saya yang telfon pak Askara" ujar Anin padahal kenyataannya dia tidak punya nomor Askara.
"Ya sudah non, bapak pamit dulu"
"Iyya pak". pak Hilman pun meninggalkan Anin dan juga Vivi.
Mobil Vivi melaju menuju pusat perbelanjaan yang ingin di tuju.
Setengah jam berkendara mobil Vivi memasuki area parkiran gedung mall.
Anin dan Vivi turun dan mulailah mereka berjalan ke sana kemari, lebih tepatnya Vivi yang menyeret tangan Anin keluar masuk toko dengan brand-brand ternama.
"Vi kaki gue pegel" keluh Anin, ini adalah toko yang kesekian kalinya di masuki Vivi.
"Lo istirahat aja dulu, gue masih belum nemu pakaian yang gue mau" ujar Vivi, tangannya masih sibuk memilih pakaian yang menggantung rapi.
Anin mendudukkan bokongnya di salah satu kursi yang terdapat di dalam toko tersebut. Anin melirik jam di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul lima sore
Ya ampun Askara pasti sudah pulang. gusar Anin
Ponsel di dalam tas Anin berdering. dia membuka tas untuk melihat siapa yang menelfonnya.
Kening Anin berkerut saat tertera nama 'Suamiku' di layar panggilan masuk ponselnya.
Anin membolak balikkan ponselnya, mengecek apakah benar ini ponselnya atau bukan. pasalnya Anin tidak pernah menyimpan kontak atas nama 'suamiku' di ponselnya.
"Ini ponselku atau bukan sih?" gumam Anin berfikir bahwa sekretaris Dito mungkin salah memberikan ponsel.
"Tapi bener kok, ini ponselku" jawabnya lagi setelah memastikan bahwa yang di tangannya memang benar-benar ponselnya.
Panggilan masuk terus berlangsung, mau tidak mau Anin memberanikan diri mengangkat telfonnya.
"Hallo" sapa Anin pelan.
"Kau di mana? kenapa belum berada di rumah, kenapa tidak pulang bersama pak Hilman" deretan pertanyaan di lontarkan seseorang di balik telefon yang sedang tersambung.
Mata Anin membulat sempurna "Pak Askara" gumam Anin menjauhkan ponselnya. ternyata nama kontak tersebut adalah nomor Askara.
Tapi seingat Anin, dia belum pernah bertukar nomor dengan Askara.
Apa jangan-jangan Askara mengotak-atik ponselnya.
Ya ampun Anin ceroboh sekali, ponselnya kan memang tidak pernah dia kunci.
Lanjut nggak nih?
__ADS_1
kalau mau lanjut jangan lupa like,komen dan share karya author yah.