
Hari libur memang menjadi hari bermalas-malasan bagi beberapa orang. entah yang kerja, sekolah, atau yang kuliah. Mereka masing-masing mempunyai cara untuk menghabiskan waktu libur tersebut.
Namun berbeda halnya dengan Vivi, dia sudah bangun pagi-pagi sekali dengan sedikit paksaan dan melakukan olahraga pagi di sebuah taman yang tidak jauh dari lokasi apartementnya.
"Ini semua gara-gara sekretaris kaku itu, secara nggak langsung dia body shaming ke gue,..apa katanya? gue bisa ngabisin dua porsi makanan sekaligus? itu secara nggak langsung udah ngatain kalo gue gendut" gerutu Vivi di sela-sela break olahraganya. dia kesal jika mengingat perkataan Dito beberapa hari yang lalu di toko kue.
Padahal badan Vivi termasuk badan ideal, dia tinggi namun memang jika di bandingkan dengan Anin, hanya terdapat sedikit perbedaan di mana dia terlihat lebih berisi di banding Anin yang memang bertubuh mungil.
Inilah alasan mengapa Vivi rela bangun lebih pagi dan berakhir di taman ini. Padahal Vivi adalah salah satu kaum rebahan di hari Minggu.
"Gila.. capek juga" ujar Vivi mendudukkan tubuhnya di salah satu bangku dengan meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal.
"Ternyata buat kurus nggak semudah yang gue bayangin, terus apa kabar netizen yang sering body shaming ke orang-orang yah" tanya Vivi lagi, dia kesal jika mengingat komentar orang-orang di media sosial yang dengan mudahnya mereka lontarkan pada orang yang berbadan gemuk ataupun kurus.
Sebenarnya Vivi mensyukuri semua yang ada pada dirinya, hanya saja dia kesal pada sekretaris Dito.
Vivi melepas headset yang menyumpal telinganya sedari tadi. kemudian dia letakkan tepat di sampingnya bersama ponselnya.
"Tapi nggak rugi juga sih tiap Minggu ke sini, secara udara paginya segar begini. jarang-jarang di Jakarta bisa menghirup udara pagi tanpa karbondioksida seperti ini" ujar Vivi memejamkan matanya, menengadahkan wajahnya untuk merasakan terpaan angin pagi.
Tanpa Vivi sadari, seeorang pria berdiri tidak jauh dari tempat duduknya tengah memperhatikan gerak-geriknya. Matanya sedari tadi fokus pada ponsel Vivi yang di letakkan tepat di samping tubuhnya.
Melihat Vivi yang lengah, pria tersebut mulai melancarkan aksinya. dia berjalan mendekat dengan mata yang tetap mengawasi kondisi taman yang ramai tapi hanya di beberapa titik.
Dengan gerakan lincah pria tersebut mengambil ponsel Vivi dan segera berlari kencang.
Vivi membuka matanya saat merasakan sebuah pergerakan di sampingnya.
Mata Vivi membulat sempurna saat ponselnya sudah tidak ada di sampingnya bersamaan dengan seorang pria yang menggunakan topi hitam berlari menjauh darinya dengan memegang ponsel Vivi di tangannya.
"Maling...tolong... maling... berhenti woii.. balikin hp gue" teriak Vivi kencang berlari mengejar pria yang sudah mencuri ponselnya dengan nafas terengah-engah. tenaganya sudah banyak berkurang karena terkuras setelah berolahraga tadi.
Vivi kewalahan mengimbangi langkah lebar pencuri tersebut.
"Berhenti.. balikin hp gue" Vivi terus berteriak mengejar pencuri tersebut.
Sialnya, pencuri tersebut berlari ke arah yang sepi pengunjung, menjadikan Vivi tidak tau harus meminta tolong pada siapa.
Namun Dewi Fortuna masih berpihak pada Vivi. seseorang tiba-tiba menghadang dengan mencegal kaki pencuri tersebut hingga terjatuh ke aspal.
"Balikin ponselnya" ujar pria berhoodie hitam tersebut.
Anin terdiam di tempatnya, dia hanya bisa melihat punggung orang tersebut karena kepalanya tertutup jaket hoodie.
"Siapa Lo" ujar pencuri tersebut yang mulai beringsut hendak kabur namun dengan cepat kerah bajunya di tarik oleh pria berhoodie hitam tersebut.
Bukkk. satu bogeman mentah mendarat mulus di wajah pencuri itu.
"Berikan ponselnya atau kau berakhir di kantor polisi, kau tinggal memilih" ujar pria tersebut dingin memberikan opsi pada pencuri tersebut.
__ADS_1
"Ini bang ponselnya saya balikin asal jangan laporin saya ke polisi" pencuri tersebut memberikan ponsel Vivi dengan tangan gemetar karena takut.
"Pergi dari sini, jangan sampai aku melihatmu lagi" ujar pria tersebut melepas dengan kasar cengkramannya pada pencuri tadi.
Pencuri tersebut kabur mengambil langkah seribu. dari tempatnya berdiri, Vivi menarik nafas lega karena melihat pria tersebut berhasil mengambil ponselnya dari tangan pencuri tadi.
Vivi berjalan mendekat pada pria yang masih berdiri memunggunginya.
"Terimakasih su...." ucapan Vivi terhenti saat pria yang sudah menolongnya berbalik badan.
"Kau.." tunjuk Vivi dengan mulut setengah terbuka.
"Ponselmu" pria tersebut menyerahkan ponsel Vivi, yang ternyata adalah Dito. Pria yang membuat Vivi berada di tempat ini karena ucapannya tempo hari.
Vivi menerima ponselnya dari tangan Dito "Makasih" ujar Vivi.
"Hemm" balas Dito singkat dan ingin melanjutkan olahraga paginya.
"Tunggu dulu" tahan Vivi membuat Dito berhenti.
"Kenapa?"
"Sebagai ucapan permintaan maaf, aku mau traktir kau sarapan. aku tidak mau berhutang budi pada orang apalagi padamu" ujar Vivi cepat karena takut Dito berfikir yang aneh-aneh.
Cara bicara Vivi pun sudah mulai berubah.
"Tapi aku memaksa" kekeh Vivi.
"Aku menolak" balas Dito.
"Tapi aku tidak menerima penolakan, cepat ikut aku" Vivi dengan cepat menarik pergelangan tangan Dito agar pria itu berjalan mengikutinya.
Dito menatap tangannya yang sedang di tarik oleh Vivi. perasaannya mendadak berubah.
Vivi sampai di penjual bubur ayam gerobak, yang parkir tepat di depan taman.
"Mas, bubur ayamnya dua. Yang satu kecap sama sambelnya pisah" ujar Vivi memesan bubur ayam.
"Kalau seleramu bagaimana?" tanya Vivi pada Dito karena tidak tau selera bubur ayam pria itu seperti apa.
Namun Dito hanya diam menatap Vivi tajam.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
Dito menatap ke bawah, menunjuk lewat dagu tangannya yang masih setia di genggam oleh Vivi.
"Maaf..maaf, aku tidak sadar" ujar Vivi buru-buru melepaskan tangannya. Vivi merutuki dalam hati kebodohannya karena sudah mempermalukan dirinya sendiri.
"Mas, bubur ayamnya kasi sama yang tadi aja yah" ujar Vivi buru-buru duduk dan memainkan ponselnya agar tidak mati gaya.
__ADS_1
Dito ikut duduk tepat di depan Vivi.
Duh, kenapa harus duduk di depan gue sih, batin Vivi.
"Ini neng bubur ayamnya" ucap sang penjual meletakkan dua mangkok bubur ayam di meja.
"Makasih pak" Vivi segera menyantap sarapannya untuk mengisi tenaganya yang hilang karena mengejar pencuri tadi.
"Di makan sarapannya, hargai orang yang traktir kali" seloroh Vivi karena Dito hanya menatap bubur ayam di depannya.
"Aku tidak suka bubur ayam" jujur Dito membuat Anin membulatkan matanya.
"What..Kenapa kau tidak bilang sedari tadi?" ujar Vivi kesal.
Lalu siapa yang akan memakan bubur tersebut.
"Kau tidak bertanya kan aku suka apa, lagi pula kau yang menarik tanganku seenaknya hingga sampai ke sini" balas Dito membuat Vivi terdiam, apa yang di katakan Dito benar. dia dengan seenaknya membawa Dito ke sini tanpa menanyakan terlebih dahulu apa yang di sukai pria tersebut.
"Seharusnya kau bisa mencegahku tadi, lalu kenapa kau tidak melakukan itu" ujar Vivi masih mencari pembelaan.
"Tanganku saja baru kau lepaskan" balas Dito.
"Lalu siapa yang akan menghabiskan semua ini?" tanya Vivi karena bubur ayamnya sendiri pun belum habis.
"Siapa lagi kalau bukan kau, dua porsi bubur ayam bukan hal yang sulit untuk kau habiskan" jawab Dito tanpa beban.
Vivi mencengkram kuat sendok di tangannya menahan kesal, buku-buku tangannya terlihat memutih. bahkan jika bisa di lihat, telinga Vivi sudah mengeluarkan asap karena emosi mendengar perkataan Dito.
Brakk... Vivi menggebrak meja di depannya membuat Dito dan orang-orang yang berada di sekitarnya kaget.
"Asal kau tau, seharusnya pagi ini aku hanya tidur-tiduran sambil menikmati drakor kesayanganku bukannya malah berolahraga di sini. tapi karena ucapanmu beberapa hari yang lalu di toko kue, membuatku harus berakhir di tempat ini dan karena itu juga ponselku hampir saja raib di curi orang". teriak Vivi menggebu-gebu meluapkan semua kekesalannya pada Dito. dadanya bahkan naik turun mengatur nafas karena menahan emosinya sejak tadi.
Dito mengerjapkan matanya berulang-ulang, dia masih tidak percaya bahwa Vivi akan mengambil hati ucapannya di toko kue tempo hari.
"Kau sangat menyebalkan" hardik Vivi meninggalkan Dito yang masih menatapnya cengo'. bahkan bubur ayamnya juga belum habis. selera makan Vivi tiba-tiba hilang karena ucapan yang sama kembali keluar dari mulut Dito seperti di toko kue beberapa hari yang lalu.
Dito tidak tau saja, membicarakan berat badan pada wanita yang sedang berniat untuk kurus adalah hal yang sangat sensitif. meskipun Dito tidak mengatakannya secara langsung tapi perasaan wanita sangatlah peka.
Dito menghela nafas, ternyata perempuan sangatlah ribet dalam segala hal, itulah mengapa sampai sekarang dia masih memilih untuk sendiri.
**Gimana gaes part ini?
awas loh Dito nanti jodohnya malah Vivi yang super duper riweuh.
dukung terus cerita author yah.
like, komen, dan vote.
sampai jumpa di part selanjutnya**.
__ADS_1