Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 16


__ADS_3

Anin sudah rapi dengan pakaiannya siap berangkat kerja.


Perutnya tiba-tiba kembali bergejolak, Anin berlari memasuki toilet dan memuntahkan cairan bening.


Menghidupkan kran air, Anin membasuh mulutnya dan mengeringkannya dengan tissue.


"Kenapa akhir-akhir ini kau rewel sekali nak" Anin mengelus perutnya.


"Mama mau kerja, kamu baik-baik yah. jangan nyusahin mama" ucapnya lagi.


Kemudian berjalan keluar dengan lemas karena perutnya belum terisi makanan.


Anin malas memasak, dia akan membeli sarapan dalam perjalan menuju toko nanti.


Soal Askara, Anin tidak mau ambil pusing. semalam dia tanpa sengaja melihat sarapan buatannya berakhir di tempat sampah.


Jadi percuma saja dia membuat sarapan untuk Askara.


Mengambil tas di atas kasur dan menyampirkannya di bahu, Anin berjalan keluar kamar.


Tanpa sengaja bertemu Askara yang juga sudah siap dengan setelan jas nya.


Mengalihkan wajah, Anin tidak ingin melihat Askara.


"Kau masih berani bekerja?" tanya Askara melihat Anin sudah rapi.


"Bukankah kita tidak boleh mencampuri urusan masing-masing?" Anin balik bertanya tanpa melihat wajah Askara.


"Jelas itu menjadi urusanku, jika terjadi apa-apa aku juga yang akan kau repotkan" sinis Askara.


Anin mendesah, menatap Askara datar


"Jika pak Askara tidak ingin di repotkan, maka tidak usah peduli"


Anin pun meninggalkan Askara tanpa sepatah kata lagi.


Saat keluar apartemen Anin sempat berpapasan dengan Dito.


"Selamat pagi nona Anin" sapa Dito seperti biasa


Anin hanya menatap sekilas Dito dengan ekspresi datar tanpa menjawab, jika biasanya dia akan membalas dengan ramah namun kali ini berbeda, mood nya berubah buruk karena bertemu Askara.


Dito mengerutkan kening, tidak biasanya nona Anin bersikap acuh.


"Sepertinya ada yang tidak beres" Gumam Dito.


Tak lama Askara juga keluar dengan wajah dinginnya.


Dito semakin yakin jika hubungan keduanya sedang tidak baik.


Anin sampai di toko kue bersamaan dengan Doni.


"Morning kak" ujar Anin menyambut Doni yang turun dari motornya.


"Pagi juga, yuk masuk" ajak Doni yang sudah mengeluarkan kunci dari dalam tasnya.


Satu kantong plastik berisi dua bungkus bubur ayam Anin tenteng masuk ke dalam saat Doni sudah membuka pintu.


Tadi dia sempat singgah di jalan membeli sarapan.


"Udah sarapan belum kak?" tanya Anin meletakkan tas, dan kantong kresek yang di bawanya.


"Kebetulan sih belum" Doni duduk di salah satu bangku pelanggan.


Anin memberikan sebungkus bubur ayam pada Doni.


"Nih aku beli dua, kita sarapan bareng"


"Wah, makasih yah. kamu tuh emang yang paling pengertian" sumringah Doni.


Keduanya menikmati sarapan bersama.


"Kak Ambar belum balik yah?" tanya Anin karena Ambar pemilik toko kue tempatnya bekerja sudah seminggu berada di luar kota.


"Katanya sih lusa, kenapa emang?"

__ADS_1


"Ngga papa, cuman nanya aja sih"


"Oh, kalo gitu lanjut makan lagi, pekerjaan kita sudah menanti nona" canda Doni membuat Anin terkekeh.


"Siap pak boss" Anin mengangkat tangan layaknya sedang memberi hormat.


Anin menyelesaikan sarapannya dengan segera, pegawai yang toko yang lain pun sudah mulai datang satu per satu.


Total ada lima orang pegawai lagi, di luar hitungan Anin dan Doni.


Mereka di tempatkan di posisi yang berbeda-beda.


Di tempat lain,


Seorang wanita paruh baya tengah berjalan keluar dari bandara.


Lengkap dengan kacamata hitam dan juga tas branded di tangannya.


Penampilannya terlihat elegan.


Wanita itu adalah Sandra, Mami Askara.


Ternyata dia betul-betul datang ke Indonesia tanpa memberi tahu Askara maupun Dito sekretaris anaknya.


"Antar aku ke apartemen putraku" ucapnya pada pak Hilman, supir pribadinya yang bekerja di mansionnya sudah lebih dari 20 tahun lamanya.


"Baik Nyonya" Hilman membukakan pintu mobil untuk Sandra kemudian memasukkan koper majikannya itu ke dalam bagasi.


Mobil pun melaju menuju apartemen Askara.


Sandra melepas kacamata hitamnya.


"Jadi Askara tidak pernah datang ke mansion?" tanya Sandra yang mendapatkan informasi jika Askara tidak pernah menginjakkan kakinya ke mansion.


"Sudah setahun terakhir setelah nona Dalila ke Jerman, tuan Askara tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di mansion Nyonya" jawab pak Hilman.


Sandra menghela nafas


"Kenapa Askara masih mengharapkan wanita itu, seperti tidak ada wanita lain saja" Terdengar nada tidak suka dari Sandra saat menyebut nama Dalila.


"Cepat lajukan mobil ke apartemen Askara, aku tidak sabar ingin membuat anak itu terkejut dengan kedatanganku" Sandra tersenyum penuh arti.


****


Seperti biasa, Anin sibuk melayani pembeli yang berdatangan silih berganti.


"Aniiiiin" Terdengar suara teriakan Vivi dari arah pintu masuk.


"Vivi" seru Anin melihat kehadiran Vivi.


Vivi menghambur memeluk tubuh Anin


"Gue kangen banget sumpah"


Anin memukul-mukul tangan Vivi yang memeluknya terlalu kencang


"Lepasin, gue nggak bisa nafas. Lo mau bikin mati muda apa" gerutu Anin melepas pelukan Vivi.


"Askara jadi duda dong, hahaha" spontan Vivi.


Anin menatap tajam Vivi.


Vivi menutup mulutnya menyadari ucapannya


"Ups, sorry.. kebiasaan nih mulut" cengirnya.


Untungnya semua sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing jadi tidak ada yang mendengar ucapan Vivi.


Tak lama Doni keluar dari dapur membawa cake yang baru saja di buatnya.


"Loh ada Vivi di sini" ujarnya melihat kehadiran sahabat Anin.


"Iyya kak, mau numpang WiFi" ucapnya bergurau, Doni sudah sangat hafal dengan watak Vivi.


Mereka sudah saling kenal dengan Vivi, begitupun dengan Ambar dan pegawai lain.

__ADS_1


Vivi sering datang ke toko semenjak hari pertama Anin bekerja. Dia juga sering bantu-bantu di coffeshop.


"Nin, gimana hubungan Lo sama Askara" bisik Vivi pada Anin yang sedang menata kue yang di bawa Doni ke etalese.


Anin sebenarnya malas membahas Askara.


"Gitulah Vi, makin rumit"


"Kenapa?" kepo Vivi


"Nanti gue ceritain, mending sekarang Lo bantuin gue supaya kerjaan gue cepat kelar"


Vivi mendengus, mengambil alih nampan dari tangan Anin.


"Sini biar gue yang selsain, Lo istirahat aja"


Tersenyum sumringah Anin segera mendaratkan bokongnya pada di kursi, kakinya memang sudah pegal sejak tadi.


"Makasih ya Vivi cayanggg" ucap Anin dengan wajah sok imut membuat Vivi mendengus.


Kedatangan Vivi sangat banyak membantunya.


Apalagi kondisinya yang tengah hamil muda, dia cepat merasakan lelah.


Sandra sudah sampai di depan kamar apartement Askara.


Tangannya mengambil key card dari dalam tas nya.


Jika ada yang bertanya kenapa Sandra bisa punya key card apartement Askara, itu bukanlah perkara sulit bagi Sandra mengingat betapa banyaknya orang-orang hebat yang bekerja padanya.


Sandra tau Askara pasti masih di kantor, jadi dia memutuskan akan menunggu anak itu di sini sampai dia pulang.


Askara pasti akan sangat terkejut mengetahui keberadaannya. batin Sandra


Sandra tidak tau saja, siapa yang akan di buat terkejut saat memasuki apartement nantinya.


Dengan menyeret kopernya Sandra memasuki apartement Askara yang tidak banyak berubah.


Anaknya itu masih menyukai warna abu-abu.


Sandra memutar knop pintu kamar yang berada di sebelah kamar Askara, yang tidak lain adalah kamar Anin.


Kakinya berjalan masuk, merasa seperti ada yang berbeda.


Bau parfum cherry khas perempuan tercium di dalam kamar ini.


Sandra menjelajah setiap sudut kamar, matanya menangkap beberapa peralatan make up di atas meja tepat di samping ranjang.


Berjalan ke arah lemari pakaian, Sandra segera membuka dan kaget saat mendapati banyak pakaian wanita menggantung.


Dia semakin tercengang, kenapa begitu banyak pakaian dan juga peralatan wanita di dalam kamar ini.


Melangkah keluar dari kamar tersebut, Sandra beralih ke dalam kamar Askara.


Tidak menemukan kejanggalan, kamar Askara masih sama dan tidak banyak berubah.


Sandra segera melangkah ke dapur, mengecek tempat sampah.


Ternyata banyak sampah bekas makanan maupun sampah sayur-sayuran yang belum di buang.


Apa ini, Askara tidak mungkin memasak.


Apa Askara mempekerjakan seorang pembantu dan membiarkannya tinggal di sini? tapi mana mungkin, Sandra tau betul sifat Askara tidak mungkin satu atap dengan orang asing apalagi jika status orang itu hanya asisten rumah tangga.


Namun, satu hal yan membuat Sandra semakin kaget, dia menemukan box susu ibu hamil.


"Apa-apaan ini" kepala Sandra sakit, siapa sebenarnya yang Askara bawa tinggal bersama di apartemennya.


Sandra segera menghubungi Dito, dia butuh kejelasan.


Telefon Sandra tersambung.


"Suruh Askara pulang sekarang juga, aku tidak menerima penolakan, atau apartementnya aku hancurkan sekarang juga" ucap Sandra penuh penekanan di akhir kata saat Dito menjawab telfonnya, tidak memberi kesempatan Dito untuk membalas perkataannya.


Sambungan telefon di matikan oleh Sandra.

__ADS_1


Sandra memijit pelipisnya


"Aku yang ingin membuat anak itu terkejut dengan kedatanganku, justru aku yang di buat terkejut dengan semua ini" gumam Sandra menatap box susu ibu hamil di tangannya.


__ADS_2