Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 82


__ADS_3

"Ternyata benar, Dalila sudah kembali". gumam Sandra memperhatikan foto-foto yang baru saja di kirimkan oleh Mia.


Yah, memang benar. Sandra juga menjadikan Mia sebagai orang kepercayaan selain untuk mengawasi kehamilan Anin, juga untuk mengawasi perkembangan hubungan Askara dan Anin.


Termasuk saat ini. Sandra memperhatikan dengan tatapan tidak suka bagaimana Dalila ikut sarapan bersama Anin dan Askara di mansion. Foto tersebut di ambil oleh Mia secara sembunyi-sembunyi kemudian di kirimkan padanya.


Awalnya Sandra sendiri tidak menyangka Dalila sudah kembali ke Indonesia secepat ini.


"Awas tekanan darah Mami naik kalo terus menggerutu seperti itu". peringat Argio yang melihat istrinya menahan kesal karena melihat foto kiriman dari salah satu pelayan di mansion.


Argio yang sedang berada di ruang kerjanya terpaksa menghentikan pekerjaannya karena Sandra datang dan memperlihatkan foto-foto Dalila yang berada di mansion. karena foto itu pula yang membuat Argio berkali-kali mendengar gerutuan dari istrinya itu.


"Bagaimana Mami tidak kesal Pi, Dalila kembali dan dengan akrabnya mendekatkan diri pada Anin dan Askara ". ujar Sandra meletakkan ponselnya dengan kasar.


Argio mengeryit dengan satu alis terangkat "Bukannya dulu Mami menyukai Dalila? lalu kenapa sekarang sikap Mami berbeda".


Sandra menatap suaminya serius.


"Papi lupa apa yang terjadi sama Askara beberapa tahun silam?. Mami waktu itu sangat ketakutan melihat Askara yang seperti tidak ada semangat hidup karena di tinggal Dalila. coba Papi bayangin, andai Askara terus terpuruk dan tidak bisa bangkit seperti sekarang, siapa lagi yang kita punya Pi, Askara itu anak kita satu-satunya dan yang Mami mau sekarang adalah Askara bisa hidup lebih tenang tanpa bayang-bayang Dalila lagi". terang Sandra hanya menginginkan ketenangan untuk Askara dalam berumah tangga.


Argio melepas kacamata bacanya dan mengambil posisi lebih dekat dengan istrinya.


"Sekarang Papi mau tanya. Mami percaya tidak sama Askara?". tanya Argio.


"Mami percaya sama Askara". jawab Sandra lebih tenang.


"Kalau begitu Mami tidak perlu khawatir. Askara itu sudah dewasa, umurnya sudah sangat matang untuk mengerti permasalahan. jadi Mami jangan ikut campur terlalu dalam di rumah tangga Askara dan Anin. Papi tau Mami sangat sayang pada Anin, tapi kita sebagai orang tua punya batasan untuk ikut berkomentar apalagi ikut campur dalam kehidupan mereka". ujar Argio bijak.


"Tapi Askara itu plin-plan, Pi. dia belum bisa memilih dengan tegas untuk siapa perasaannya".

__ADS_1


"Perjalanan orang itu beda-beda Mi. ada yang dengan mudah mengerti perasaannya untuk siapa, tapi ada juga seseorang yang harus melewati banyak hal untuk menentukan siapa sebenarnya pilihan hatinya. dan jika Askara berada di opsi kedua, maka Askara akan banyak belajar sepanjang melewati jalan itu".


Sandra menghela nafas pelan, kata-kata suaminya ada benarnya juga. Dia harus memberi Askara kepercayaan untuk menjalani dan menyelesaikan permasalahan dalam rumah tangganya, selebihnya dia hanya perlu mengawasi.


"Kali ini Mami setuju dengan Papi. tapi secepatnya kita harus ke Indonesia, memangnya Papi tidak mau melihat kelahiran cucu pertama Papi?".


"Jelas mau dong Mi, tapi tunggu pekerjaan Papi selesai dulu, setelah itu baru kita berangkat".


"Ya sudah, kalau begitu Mami mau istirahat dulu. Papi abis ini nyusul ke kamar yah, jangan kerja sampai larut malam". ujar Sandra karena memang waktu di Inggris sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Iyya Mi". balas Argio kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


****


Matahari sore memantulkan cahayanya pada jendela ruangan Askara yang terbuat dari kaca tebal dan khusus anti peluru.


Askara menyelesaikan sisa-sisa pekerjaannya untuk hari ini. meskipun di rasanya bahwa pekerjaannya setiap hari tidak akan ada habisnya dan malah rasanya terus bertambah.


Bukan niat Askara menutupinya, tapi dia hanya mencari waktu yang tepat untuk memberitahu Anin. tapi di luar dugaannya, Dalila malah datang ke mansionnya dan memberikan jam tangan yang tidak sengaja dia tinggalkan di apartement secara terang-terangan di depan Anin.


"Arrrghh,,,,sial... kenapa semuanya jadi kayak gini". Askara mengerang frustasi.


Askara melempar asal ballpoint di tangannya hingga tak sengaja mengenai sekretaris Dito yang bersamaan masuk ke dalam ruangannya.


Sekretaris Dito tersentak saat ballpoint melayang tepat mengenai wajahnya. dia berfikir keras, apa lagi kesalahannya kali ini?.


"Permisi tuan". seru sekretaris Dito.


"Hemm". singkat Askara tanpa minat.

__ADS_1


"Persiapan pesta grand opening mall terbaru kita hampir rampung, kira-kira sudah sekitar 80%. jadi kemungkinan acara akan berlangsung besok lusa". lapor Sekretaris Dito mengabaikan kejadian tadi.


Askara hanya mendengarkan dengan wajah datarnya, lalu detik berikutnya dia berdiri dari kursinya memasang kancing jas bagian bawahnya.


"Kau urus semua persiapannya, aku ingin pulang sekarang".


"Tapi tuan, masih ada satu jam lagi". sekretaris Dito melirik jam di pergelangan tangannya dan biasanya Askara akan pulang tepat di jam 5 sore.


"Kenapa? kau melarangku untuk pulang?". sensi Askara karena memang fikirannya tidak sinkron antara Anin, Dalila dan juga pekerjaannya.


Sekretaris Dito menunduk. "Maaf tuan, saya tidak bermaksud seperti itu".


Sekretaris Dito lebih memilih mengalah daripada di penggal hidup-hidup oleh Askara. terlihat dari raut wajahnya, sepertinya Askara sedang banyak fikiran.


Sebelum meninggalkan ruangan, Askara kembali berpesan. "Ingat! pastikan pesta itu meriah". karena pesta itu bukan hanya sebagai acara pembukaan mall terbaru Wira's grup, tapi sekaligus pesta untuk memperkenalkan Anin secara resmi sebagai istrinya.


"Baik tuan". balas sekretaris Dito.


Askara melenggang keluar ruangannya tanpa sepatah kata lagi. meninggalkan sekretaris Dito yang sedang marapalkan do'a untuk di beri kasabaran melimpah menghadapi tuannya yang sifatnya kadang tidak bisa di tebak.


Askara menyusuri lobbi kantor dengan wajah dingin di sertai langkah lebarnya, membuat para karyawan menatap sang CEO dengan tatapan bertanya-tanya. hendak kemana pria tampan itu?.


Tapi pertanyaan para karyawan itu harus berakhir di dalam benak mereka masing-masing. karena Askara adalah orang yang sangat dingin dan irit bicara membuat mereka segan bahkan untuk menyapa saja rasanya mereka semua tidak punya banyak keberanian.


Askara membawa mobil seorang diri membelah jalanan ibu kota Jakarta yang sebentar lagi akan di padati para pengguna jalan yang pulang dari tempat kerja mereka masing-masing.


**Haii.. para readersku.. author balik update lagi.


Kemarin super sibuk banget soalnya author lagi wisuda.. yeaayy akhirnya sarjana juga. ehh kok malah curhat hihihi..😁😁

__ADS_1


Stay terus nunggu part selanjutnya ❤️**


__ADS_2