Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 104


__ADS_3

"Alhamdulillah, bude seneng banget liatnya. akhirnya hubungan kalian bisa seperti dulu lagi". ujar bude Yuni setelah tau bahwa Risa dan Anin sudah saling memaafkan.


"Iyya bude, Aku juga senang akhirnya ibu mau maafin aku". balas Anin tak kalah senangnya.


Saat ini mereka semua sedang berkumpul di ruang rawat Bu Risa. Anin sedang menyuapi ibunya makan siang yang di bawanya tadi.


Askara dan sekretaris Dito berdiri karena kursi tidak cukup. maklum, kamar rawat yang di tempati oleh Bu Risa bisa di bilang kecil sesuai dengan kondisi perekonomiannya.


"Kamar rawat ini tidak cocok untuk ibu di tempati, aku akan siapkan kamar yang lebih luas dan fasilitas yang lebih lengkap agar ibu bisa nyaman". celetuk Askara yang mulai merasa kepanasan karena ruangan itu tak ber AC.


Semua menatap ke arah Askara.


"Tidak perlu nak, ini saja sudah cukup". tolak Bu Risa karena tak enak.


"Iyya nak Askara, kami tidak enak jika harus merepotkan". timpal Bude Yuni.


"Tidak merepotkan sama sekali. ibu adalah ibu mertuaku, tidak sopan rasanya jika aku membiarkan ibu menempati ruang rawat sesempit ini dengan peralatan yang seadanya, padahal aku lebih dari mampu, bu". ujar Askara.


"Tapi nak___".


"Sudah, terima saja Bu. Akan lebih baik jika ibu mendapatkan perawatan yang terbaik pula, aku ingin ibu cepat sembuh dan pulang ke rumah". Anin membujuk ibunya, lagi pula percuma saja menolak karena dia tau seperti apa watak suaminya.


"Ya sudah, terserah kalian saja". putus Bu Risa akhirnya.


"Dito, kau urus semuanya". titah Askara yang langsung di laksanakan oleh sekretaris Dito.


****


Setalah Bu Risa di pindahkan ke ruangan VIP, Anin terpaksa harus pulang karena bude Yuni dan Bu Risa kasihan melihat kondisi Anin yang hamil besar tapi harus ikut berjaga di rumah sakit.


Askara juga ikut memaksa Anin karena tidak ingin istrinya itu kecapean dan berdampak pada kandungannya nanti.


Sepanjang perjalanan pulang, Anin yang satu mobil dengan Askara hanya diam karena masih merasa kesal saat Askara ikut-ikutan menyuruhnya pulang padahal dia masih ingin menjaga ibunya, di tambah memang Anin masih belum sepenuhnya memaafkan Askara.


Dua mobil mewah berhenti tepat di pekarangan rumah Anin yang cukup luas. Vivi dan sekretaris Dito satu kendaraan yang membuat mereka menjadikan itu kesempatan untuk berpacaran.

__ADS_1


"Ayo masuk". ajak Anin setelah turun dari mobil.


Askara memperhatikan keseluruhan rumah Anin yang terlihat begitu sederhana, tidak terlalu besar namun sangat bersih dan teduh karena terdapat pepohonan di sekitarnya, dan juga banyak tanaman hias seperti bunga-bunga yang sepertinya koleksi ibu Anin.


"Ibumu suka tanaman hias?". tanya Askara memperhatikan jejeran pot bunga di pekarangan rumah Anin.


"Hemm.. dia sangat suka". balas Anin.


"Berarti dia satu circle sama Mami dong". celetuk Askara.


Mengingat Mami Sandra, Anin jadi merindukan mertuanya itu. "Iyya, kalau Mami Sandra sudah balik, kapan-kapan akan aku ajak bertemu dengan ibu".


"Ide bagus". setuju Askara.


"Sekretaris Dito, ayo silahkan masuk. maaf rumah saya kecil dan keadaannya yah begini". Anin agak sungkan karena takut rumahnya tidak nyaman di tempati sekretaris Dito terlebih lagi untuk Askara.


"Tidak papa Nona, saya juga berasal dari keluarga yang sederhana". ungkap sekretaris Dito.


Vivi tersenyum mendengar pengakuan sekretaris Dito tentang kehidupannya yang juga berasal dari keluarga yang sederhana.


"Ngapain Lo senyam-senyum". tanya Anin melihat tingkah aneh Vivi.


"Enggak, siapa juga yang senyum? udah ah, gue mau masuk duluan". Vivi segera melangkah masuk, dia yakin pasti sekretaris Dito sekarang sedang menertawakannya.


"Aneh". gumam Anin kemudian ikut masuk di susul oleh Askara dan sekretaris Dito.


Askara lagi-lagi memperhatikan isi rumah Anin, terdapat dua kamar serta sofa yang sudah terbilang tua di ruang tamu. banyak foto-foto menggantung di dinding, salah satunya foto Anin sewaktu kecil dulu dari masa ke masa.


"Lucu". gumam Askara sambil tersenyum memperhatikan satu per satu foto Anin. mulai dari TK sampai foto semasa Anin SMA dulu, ada juga foto bersama Vivi. ternyata keluarga Anin suka mengabadikan tiap momentnya.


"Apa ini ayahmu?". tanya Askara tertarik saat melihat foto keluarga Anin.


"Hemm.. itu Alm. ayah". jawab Anin.


"Mirip denganmu". ujar Askara.

__ADS_1


Anin tidak menjawab, dia memilih masuk ke dalam kamarnya untuk menyimpan tasnya. Askara menatap kepergian Anin, sikap istrinya itu masih saja dingin padanya.


Askara menyusul Anin ke dalam kamarnya meninggalkan sekretaris Dito sendirian di ruang tamu.


"Rumit". gumam sekretaris Dito melihat Askara menyusul Anin ke dalam kamar. Sekretaris Dito juga menyadari bahwa sikap Anin masih dingin pada Askara. dan menurutnya, itu memang pantas di lakukan oleh Anin karena perkataan Askara di rumah sakit sangatlah menyakitkan.


"Kau masih marah padaku, Nin?." tanya Askara memeluk tubuh Anin dari belakang.


Anin cukup kaget saat tiba-tiba Askara memeluknya dari belakang.


"Mas, lepas!, nggak enak nanti di liat sama sekretaris Dito ataupun Vivi". Anin bergerak tidak nyaman.


"Aku tidak peduli, toh kita suami istri jadi wajar".


"Aku bilang lepas, Mas!". tegas Anin.


Askara mau tidak mau melepas pelukannya, dia tidak ingin terjadi keributan antara dirinya dengan Anin.


"Minggir, aku mau ke dapur". titah Anin karena Askara menghalanginya.


"Aku tidak mau sebelum kau memaafkan ku". Askara masih dengan pendiriannya.


Anin menatap jengah dengan sikap Askara yang bgitu suka memaksa.


"Jangan memaksa, Mas. tidak semuanya harus sesuai kehendakmu". ujar Anin dengan wajah datar, perkataan Askara di rumah sakit terlalu menyakitkan.


Askara mengusap wajahnya kasar. "Aku sungguh menyesal Anin, lagi pula sekarang kau lihat sendiri kan? aku tidak menemani Dalila di rumah sakit, aku lebih memilih menyusulmu ke sini".


Anin menatap Askara. "Tapi nyatanya, aku tetaplah opsi kedua setelah Dalila, mas". ujar Anin meninggalkan Askara yang terdiam.


Anin masuk ke dapur dengan wajah di tekuk membuat Vivi yang sedang membuat minum untuk sekretaris Dito, mengeryit heran. "Tuh muka kenapa di tekuk gitu?, suami Lo ngapain Lo lagi?". Vivi bisa menebak bahwa Askara lah penyebab wajah murung Anin.


"Enggak papa". balas Anin "Buruan bawa minumnya keluar, kasian sekretaris Dito di luar sendirian".


"Iyya..Iyya.. ini juga udah mau gue bawa kok". Vivi keluar membawa minum untuk sekretaris Dito

__ADS_1


Sedangkan Anin memilih berdiam diri di dapur, mengerjakan apa saja yang bisa dia kerjakan untuk menghindari Askara. karena pasti suaminya itu akan terus menuntut untuk di maafkan, dan itu membuat kepalanya semakin pusing.


Anin yang tadinya berharap bisa menenangkan diri di kampung halamannya dari bayang-bayang Askara, justru harus menghadapi kenyataan bahwa pria itu ikut menyusulnya, di luar dari perkiraannya.


__ADS_2