
Untuk memastikan bahwa perkataan Mami Sandra saat di restoran tadi semuanya salah dan tidak berdasar, Dalila akhirnya memutuskan untuk menemui Askara di kantornya.
Selama ini Askara memang tidak pernah menjawab secara pasti untuk siapa perasaannya sekarang. Dalila tau bahwa sikapnya kali ini bertolak belakang dari apa yang pernah dia katakan dulu bahwa dia tidak ingin mengganggu kehidupan rumah tangga Askara dan Anin. tapi, sikap Askara yan selalu perhatian padanya, membuat perasaan yang selama ini dia putuskan untuk kubur dalam-dalam menjadi mencuat kembali dan menuntut kepastian.
Sedangkan, Askara yang berada di dalam ruangannya menjadi tidak fokus bekerja karena terus menerus memikirkan Anin. berkali-kali dia mengecek ponselnya menunggu kabar dari Maminya tentang Anin namun tidak juga muncul membuat dia makin gelisah.
"Aku tidak bisa begini terus". ujar Askara bangkit dari duduknya lalu memakai jas nya yang menggantung di kursi kerjanya, dia memutuskan untuk pulang lebih awal, karena percuma dia berada di kantor jika fikirannya terus tertuju pada Anin.
Namun kedatangan Dalila menahan langkah Askara.
Askara berdiri menatap Dalila dengan wajah datarnya.
"Ada perlu apa kau kemari?". tanya Askara dengan wajah dinginnya. bukannya tidak suka, tapi saat ini dia memang menghindari untuk bertemu dengan Dalila, dia takut akan terjadi kesalahpahaman lagi, di tambah hubungannya dengan Anin belum membaik. tapi sepertinya, mulai sekarang dia memang harus menjaga jarak dengan Dalila agar keadaan kembali seperti semula.
"Kau seperti tidak suka aku ada di sini". ujar Dalila bisa merasakan ketidaksukaan Askara akan kedatangannya.
"Bukan begitu, Dalila. tapi saat ini aku sedang tidak mau membahas apapun, kalau ada yang ingin kau bicarakan, nanti di lain waktu saja. aku harus pulang dan mengecek keadaan Anin". Askara memang sedang tidak mood untuk membicarakan apapun itu.
__ADS_1
Askara kembali melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan ruangannya tidak peduli akan Dalila.
"Tante Sandra baru saja menemuiku secara pribadi". ujar Dalila membuat langkah kaki Askara spontan terhenti. "Aku yakin kau akan tertarik mengenai hal ini". Dalila tersenyum karena berhasil menahan Askara. pria itu pasti penasaran kenapa Mami Sandra datang menemuinya.
Askara berbalik dan menatap Dalila tanpa ekspresi. "Katakan apa yang ingin kau katakan". desak Askara, tadinya dia ingin acuh tapi saat mendengar nama Maminya di sebut, tentu pasti ada kaitannya dengan Anin.
Sebenarnya Dalila tidak punya niat untuk mengatakan pada Askara tentang pertemuannya dengan Mami Sandra, tadinya dia hanya ingin bertanya pada Askara bagaimana perasaan pria tersebut pada dirinya, tapi karena melihat sikap acuh Askara, mau tidak mau dia harus mengatakan semuanya agar Askara mau bicara padanya.
"Aku akan bicara tanpa basa-basi. Tante Sandra menemuiku dan dia menyuruhku untuk menjauhimu, aku tidak tau apa permintaan Tante Sandra itu berasal dari dirinya sendiri atau karena permintaan dari Anin". tuduh Dalila membawa-bawa nama Anin.
Askara cukup terkejut mendengar pernyataan Dalila. mungkin saja Maminya memang datang menemui Dalila karena dia tau betul seperti apa watak Maminya. tapi, jika Dalila mengatakan bahwa semua itu mungkin saja atas perintah Anin, rasanya tidak mungkin.
"Kita tidak pernah tau sifat seseorang, Askara. apalagi jika sudah terbakar api cemburu, dia bisa saja menghalalkan segala cara, salah satunya menggunakan Tante Sandra untuk menekanku". Dalila semakin gencar menyudutkan Anin.
"Cukup, Dalila. aku tidak ingin membahas hal tidak penting seperti ini". putus Askara tidak suka mendengar Dalila menjelek-jelekkan Anin.
"Jelas ini penting, Askara. ini menyangkut perasaanku yang seperti di tarik ulur olehmu. kau selalu bersikap peduli padaku tapi aku sendiri tidak tau hatimu itu sebenarnya memihak siapa. atau mungkin benar yang di katakan oleh Tante Sandra, bahwa selama ini rasa kasihanlah yang membuat kau selalu peduli padaku dan bukannya karena cinta". ungkap Dalila membuat Askara terdiam, ternyata Mami nya juga mengatakan hal yang membuat hati Dalila terluka.
__ADS_1
Tapi jika boleh jujur, Askara sendiri bingung untuk menjawab. jika dulunya dia bisa dengan yakin mengatakan bahwa hatinya masih untuk Dalila, tapi sekarang, jelas ini adalah sebuah pilihan yang sulit untuknya.
"Aku rasa semua ini salah, Dalila. kita sudah berada di jalur yang tidak seharusnya".
Perkataan Askara seolah mendukung pernyataan Mami Sandra dan sukses membuat hati Dalila sakit.
"Hubungan kau dan Anin tidaklah lebih dari sebuah keterpaksaan. dulu aku yang begitu kau cintai dan gilai, Askara. tapi kenapa sekarang saat aku mempunyai rasa yang sama terhadapmu, kau tidak bisa membalas perasaan itu, padahal Anin hanyalah orang baru, sedangkan aku adalah orang yang sudah belasan tahun bersamamu, aku bahkan tau kalau kau sudah menyukaiku sejak kita masih kecil, dan dengan mudahnya rasa yang sudah bersemayam di hatimu selama belasan tahun itu hilang hanya karena satu nama, yaitu Anin". Dalila sudah tidak bisa menahan uneg-uneg yang dia pendam selama ini.
"Dulu memang aku tidak menampik bahwa hanya kau yang menjadi pusat perhatianku walaupun banyak wanita di luar sana yang mendekat, tapi kenyataan yang ada sekarang tidak bisa kita rubah Dalila, aku dan Anin sebentar lagi akan menjadi orang tua, aku tidak bisa jika Anin terus menerus salah paham dan marah lagi padaku. jadi maaf, mungkin ini adalah jawabanku atas pertanyaanmu tempo hari". Askara sudah memutuskan bahwa Anin lah yang bertahta di hatinya saat ini.
Dalila terdiam di tempat, tidak menyangka bahwa Askara akan memilih Anin dan melupakan dirinya yang sudah menemani pria itu tumbuh dengan hari-hari yang menyenangkan meskipun dirinya sempat melakukan hal bodoh dengan meninggalkan Askara.
"Maaf, aku harus pergi". Askara tidak bisa berlama-lama lagi. dia lantas meninggalkan Dalila yang masih terpaku di tempatnya.
Askara juga merasa lebih plong setelah mengatakan bahwa dia lebih memilih hidup bersama Anin dan memperbaiki hubungannya dengan wanita yang sedang mengandung anaknya itu.
"Kau jahat Askara". teriak Dalila yang masih berada di dalam ruangan Askara. air matanya jatuh tanpa bisa di hentikan, apa seperti ini rasa sakit yang dulu di derita oleh Askara saat dirinya mengacuhkan perasaan pria itu.
__ADS_1
Sekarang Dalila merasa begitu bodoh, menyia-nyiakan cinta Askara yang bgitu tulus padanya dulu.