
Vivi menendang keras ban mobilnya sambil terus mengumpat mengeluarkan hampir seluruh nama-nama di kebun binatang. yah, begitulah Vivi jika sedang kesal.
Pagi ini entah kenapa nasib sial menimpanya. ban mobilnya tiba-tiba pecah di saat-saat genting seperti ini.
"Akhhh... sial.. kenapa harus pecah sih?". teriak Vivi frustasi, pasalnya pagi ini dia ada presentase di kampus.
Vivi mengacak rambutnya hingga berantakan, matanya melirik jam di pergelangan tangannya. setengah jam lagi kelas akan mulai dan jika dia terlambat, maka nilainya akan tamat kali ini.
"Nyesel gue bawa nih mobil. kalo tau milih naik taxi online aja tadi". Vivi masih terus menggerutu sambil mengotak-atik ponselnya, hendak memesan taxi online. meskipun harus menunggu lagi tapi setidaknya dia harus sampai ke kampus saat ini juga.
Suara klakson mobil menghentikan jadi jemari Vivi yang akan memesan taxi online. sebuah mobil hitam mewah berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Sekretaris Dito turun dari mobilnya, berjalan mendekat ke arah Vivi.
"Kenapa?". tanya sekretaris Dito to the point.
"Liat aja sendiri, ban nya pecah". jawab Vivi dengan sisa kekesalannya.
Sekretaris Dito berjongkok untuk mengecek kondisi ban mobil Vivi.
"Sepertinya ban dalamnya sudah robek, lebih baik di bawa ke bengkel". ujar sekretaris Dito berdiri dari posisi jongkoknya.
"Aku juga tau itu, masalahnya aku harus ke kampus sekarang. aku ada presentase hari ini". gerutu Vivi dengan wajah di tekuk.
"Biar aku antar".
"Hah? kau mau membawaku satu mobil dengan Askara, begitu? ". tanya Vivi tidak percaya menatap mobil hitam yang di pakai sekretaris Dito. pasti di dalam sana suami dari sahabatnya itu sedang duduk dengan wajah dingin dan datarnya.
"Aku tidak mau, lebih baik aku pesan taxi online". lanjut Vivi menolak . Vivi tidak bisa membayangkan satu mobil dengan dua pria dengan sifat yang tidak ada bedanya sama sekali.
"Aku tidak bersama tuan Askara, dia sudah berangkat ke kantor lebih dulu". balas sekretaris Dito. yah, pagi tadi Askara menghubunginya dan memerintahkan Dito untuk mengecek lokasi tempat pesta akan berlangsung nanti. jadilah Askara berangkat ke kantor seorang diri.
"Kau bilang tidak punya banyak waktu lagi, lebih baik kau terima tawaranku". lanjut sekretaris Dito.
Vivi tampak menimbang, "Tapi mobilku bagaimana? tidak mungkin aku tinggalkan di sini".
"Orang suruhanku akan mengurusnya, lebih baik kau ikut denganku dari pada kau menunggu taxi di sini".
"Ya sudah, tapi tunggu sebentar". Vivi akhirnya mengiyakan tawaran sekretaris Dito. tapi sebelum nya Vivi masuk ke dalam mobilnya untuk mengambil tas serta bahan untuk presentasenya nanti.
__ADS_1
"Ayo". sekretaris Dito menggenggam tangan Vivi untuk memasuki mobilnya. jantung Vivi berdetak kencang. matanya turun memperhatikan tangannya yang di genggam erat oleh sekretaris Dito.
"Jantungku". gumam Vivi dengan suara pelan. ini adalah pertemuan mereka kembali selepas sekretaris Dito membawa vivi ke makam ibunya, dan sampai detik ini juga Vivi belum memberikan jawaban untuk sekretaris Dito.
****
Di dalam sebuah ruangan lebih tepatnya sebuah studio foto, tampak Dalila sedang melakukan pemotretan perdananya setelah kembali dari Jerman.
Dengan menggunakan gaun terbuka hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang super sexy, Dalila berpose tanpa canggung di depan sang fotografer.
"Oke cukup". teriak sang fotografer menandakan pemotretan selesai.
"Gimana hasilnya Ken? bagus?". tanya Dalila menghampiri pria tampan yang beberapa tahun lebih muda darinya.
Yah, pria itu adalah Ken. Dalila dan Ken terlibat kerja sama dengan sebuah management yang menaungi Dalila berkarir sebagai model di Indonesia.
"Bagus, bagus banget malah". puji Ken tidak bohong.
Serasa tidak percaya mendengar pujian dari Ken, Dalila mendekat ingin melihat hasilnya secara langsung.
"Biarkan aku melihatnya secara langsung". Dalila mengambil duduk tepat di samping Ken.
Cantik. satu kata yang dapat menggambarkan Dalila di mata Ken.
"Wah.. hasilnya benar-benar bagus". seru Dalila antusias melihat hasil pemotretannya.
Ken tersadar dari lamunannya. dia kemudian tersenyum kaku pada Dalila "Itu karena kau yang jago berpose". ujar Ken.
"Ya ampun Ken, kau terus saja memujiku. jangan sampai aku besar kepala nanti, ini baru debut pertamaku tau". Dalila merasa tidak enak terus di puji oleh Ken karena memang ini adalah awal dia memulai karir.
Dalila kembali fokus melihat hasil foto-fotonya. hingga tanpa sadar dress dengan model belah samping cukup tinggi di bagian depan yang dia kenakan memperlihatkan dengan jelas paha mulusnya.
Ken yang notabene adalah laki-laki normal merasa cukup terganggu dengan pemandangan di depannya. atas inisiatifnya, Ken mengambil jaketnya yang tergeletak di atas kursi yang tidak jauh darinya.
"Hemm.. Dalila, pakailah ini". Ken menyerahkan jaketnya yang berwarna hitam tersebut pada Dalila.
Dalila menatap bingung "For what Ken?. tanyanya
Ken menggeser posisinya lebih dekat "Sorry, tapi tubuh kamu berharga". ujar Ken seraya menutupi paha Dalila yang terekspose.
__ADS_1
Dalila tertegun melihat sikap Ken yang di rasanya gentlemen. meski baru kenal, Dalila bisa melihat Ken adalah tipe pria yang menjaga wanitanya. entah kenapa ada debaran aneh di jantungnya saat ini.
"Ken, tapi ini sama saja tidak ada bedanya dengan pekerjaanku yang sebagai model". ujar Dalila menatap jaket hitam Ken yang sepenuhnya sudah menutupi paha mulusnya.
Ken tersenyum simpul mendengar perkataan Dalila. Ken tau apa yang di fikirkan wanita berdarah blasteran di depannya ini.
Dalila pasti menganggap bahwa image seorang model akan selalu melekat dengan pakaian sexy yang mengekspose tubuh indah mereka.
"Aku tau apa yang kamu fikirkan, model adalah pekerjaanmu. di luar dari itu semua, kamu adalah kamu. karena tidak selamanya kok pekerjaan itu berbanding lurus sama pribadi kita. kadang pekerjaan bisa memaksa kita untuk menampilkan bahkan yang sebagian bukan diri kita yang sebenarnya". ungkap Ken membuat Dalila speechles.
Ken adalah pria kedua setelah Askara yang dia temui yang begitu menghargai seorang wanita. tapi itu sebelum Askara merenggut kehormatan Anin secara paksa dan sepertinya posisi Askara tergeser sekarang. Dalila akui Ken adalah pria yang lebih tenang jika di bandingkan dengan Askara.
"Kau berbicara seperti itu seolah-olah sudah mempunyai seorang kekasih. apa kau juga begitu menjaganya?". tanya Dalila penasaran.
Ken tersenyum kecil mendengar pertanyaan Dalila.
"Aku berkata seperti itu karena mempunyai seorang kakak perempuan, dan meskipun aku adalah seorang adik, tapi aku sebagai seorang laki-laki yang tentunya bertugas menjaga dan melindungi kakakku".
"Wah, tenyata aku salah sangka. aku kira kau sudah mempunyai kekasih. kau tampan dan berbakat dalam bidangmu, wanita mana kira-kira yang tidak suka denganmu Ken?". tanya Dalila tidak percaya.
Ken terdiam sejenak, ingatannya kembali pada Anin. satu pertanyaan tiba-tiba terlintas di benaknya, bagaimana kabar Anin sekarang? terakhir mereka bertemu saat Anin di rawat di rumah sakit.
"Ken? kenapa diam? pertanyaan aku buat kau tidak nyaman yah?" tanya Dalila dengan raut wajah tidak enak.
Ken buru-buru mengubah raut wajahnya "Tidak sama sekali Dalila, aku hanya teringat seseorang". entah kenapa Ken rasanya ingin berbagi cerita dengan Dalila.
"Seseorang? apa dia orang yang sedang memenuhi fikiranmu saat ini?". tebak Dalila, karena saat membicarakan tentang seorang kekasih, ekspresi Ken tiba-tiba berubah.
"Aku pernah mencintai seorang wanita yang sudah bersuami ". ungkap Ken terang-terangan. Ken sendiri bingung kenapa dengan mudahnya dia menceritakan semuanya pada Dalila.
"What? kau gila yah?". pekik Dalila tidak percaya. dia menatap tajam wajah Ken.
"Yah, cinta memang gila bukan? semuanya terjadi karena kesalahpahaman, awalnya aku kira dia belum menikah, nyatanya dia hanya belum sempat menceritakan yang sebenarnya, itu juga salahku karena terlalu cepat jatuh cinta padanya". Ken tersenyum hambar jika mengingat semuanya.
"Sudahlah, sekarang dia sudah bahagia dengan pria pilihannya, dia sudah menikah dan bahkan sekarang sedang mengandung". lanjut Ken tidak ingin berlarut-larut, apalagi setelah melihat tatapan kasihan dari Dalila.
"Lalu caramu mengubur perasaanmu sendiri bagaimana?". Dalila ingin tau apa yang membuat Ken begitu tegar menceritakan kisah cintanya.
"Cinta selamanya nggak harus memiliki kan? kadang melihat dia bahagia itu rasanya sudah cukup. memaksakan kehendak pun tidak akan ada gunanya kalau hatinya memang bukan untuk kita". Ken berusaha ikhlas melepas Anin tapi dia tidak berjanji jika Askara menyakiti Anin, dia akan merebut Anin dari tangan Askara.
__ADS_1
Dalila merasa tersentil lewat perkataan Ken barusan. kurang lebih kisah percintaan mereka sama, dia baru menyadari perasaannya pada Askara setelah pria itu beristri, meskipun tidak ada niatan di hati Dalila untuk merebut Askara dari Anin tapi rasanya tetap saja sesak jika mengingat kenyataan Askara sudah menikah.