
Sesuai kesepakatan Anin dan Askara beberapa hari yang lalu, kini Anin berakhir berangkat kerja dan satu mobil dengan Askara.
Anin sedari tadi hanya diam, begitupun dengan Askara yang hanya menatap lurus ke depan dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.
Sedangkan sekretaris Dito lebih memilih untuk fokus menyetir.
Ponsel Anin berdering memecah suasana hening. tangannya merogoh tas untuk mengambil ponsel.
Askara sempat melirik dari ekor matanya siapa yang menelfon Anin di pagi hari begini.
Kening Anin berkerut, Doni menelfonnya padahal dia sudah menuju ke tempat kerja sekarang.
"Hallo kak" sapa Anin saat sudah mengangkat telfon.
"Anin, kamu di mana?" tanya Doni di seberang telfon.
"Aku lagi di jalan, kenapa? kakak butuh sesuatu?" tanya Anin karena biasanya Doni nitip bubur ayam untuk sarapan.
"Enggak, kakak cuman mau bilang kamu cepetan ke sini, soalnya hari ini kita ada pemotretan produk kue terbaru untuk di upload di Instagram pribadi toko kue kak Ambar" jelas Doni
"Ohh..gitu, ini Anin juga udah di jalan kok, 10 menit lagi nyampe".
"Ya udah, kamu hati-hati"
"Iyya kak" Anin kemudian menutup telfonnya.
"Siapa?" tanya Askara tiba-tiba. Anin yang hendak memasukkan ponselnya ke dalam tas menjadi terhenti mendengar Askara bertanya.
"Teman kerja" jawab Anin .
"Cewek atau cowok" tanya Askara lagi.
"Cowok, namanya kak Doni"
"Akrab banget kelihatannya" nada bicara Askara terdengar tidak suka.
"Kan temen kerja" jawab Anin, dia heran melihat sikap Askara.
"Beda, kan itu cowok" lanjut Askara, dia merasa tidak terima Anin dekat dengan teman kerja apalagi itu adalah lawan jenis.
"Pak Askara cemburu?" selidik Anin menahan senyum.
"Buat apa aku cemburu, aku tidak punya perasaan apapun padamu" ketus Askara mengalihkan wajahnya.
Perkataan Askara sukses membuat Anin terdiam, Anin kembali pada kenyataan yang ada bahwa Askara dan dirinya hanyalah dua orang asing yang di persatukan karena sebuah kesalahan.
"Sekretaris Dito, tolong berhenti di sini saja" ujar Anin. Askara sempat melirik Anin sekilas, kenapa dirinya kini merasa bersalah pada Anin atas perkataanya tadi.
Sekretaris Dito menghentikan mobil tepat di mana Anin meminta Askara menurunkannya kemarin.
"Kenapa Nona?, toko kue kan masih di depan" tanya sekretaris Dito heran.
"Aku turun di sini saja, nanti orang lain bisa curiga jika melihatku turun dari mobil ini" jawab Anin, dia malas memikirkan jawaban jika teman-teman kerjanya bertanya yang aneh-aneh.
"Baiklah Nona" Dito mengiyakan, dia hendak keluar untuk membukakan pintu pada Anin namun di tahan oleh Anin.
"Tidak perlu bukakan pintu untukku sekretaris Dito, aku bisa sendiri" kini Anin sudah membuka pintu mobil.
"Hemm" Askara berdehem keras, sepertinya Anin melupakan sesuatu.
"Pak Askara kenapa?" tanya Anin.
Askara menjulurkan tangannya, karena Anin lupa pamit dan salim padanya.
"Maaf aku lupa" Anin meraih tangan Askara "Aku pamit" lanjutnya berlalu meninggalkan Askara dan juga sekretaris Dito.
Setelah mengantar Anin,mobil yang di kendarai sekretaris Dito pun melaju menuju kantor.
Di tengah perjalanan menuju kantor, dering ponsel seseorang menggangu fokus Askara yang sedang membuka berkas-berkas keperluan meetingnya.
Askara melirik kursi bekas Anin tadi, ternyata ponsel Anin tertinggal. Tertera nama 'Kak Doni' yang melakukan panggilan masuk.
Ternyata pria itu lagi, batin Askara.
"Dito, putar balik mobilnya" perintah Askara membuat Dito menatap bingung.
"Kenapa tuan?" tanyanya.
"Ponsel Anin tertinggal"
__ADS_1
"Tapi pagi ini kita ada meeting, kita bisa terlambat tuan" ungkap Dito.
"Kau undur meetingnya satu jam" perintah Askara.
"Baik tuan" mau tidak mau Dito menuruti kemauan Askara dan menginformasikan pada klien mereka bahwa meeting di undur satu jam.
Sekretaris Dito merasa Askara sekarang mulai peduli pada Anin, bahkan dari pembicaraan Anin dan Askara tadi tentang siapa yang menelfon Anin,sepertinya Askara mulai merasakan yang namanya cemburu.
Tangan Anin mendorong pintu toko, dia baru saja sampai.
"Udah sampe? Baru aja aku nelfon kamu lagi" ujar Doni saat melihat kehadiran Anin.
"Kak Doni menelfonku? kok aku nggak denger" Anin kemudian merogoh tasnya untuk mengecek ponselnya, tapi matanya membulat saat ponselnya tidak berada di dalam tasnya.
"Ya ampun, ponselku ketinggalan" pekik Anin hendak keluar mengejar mobil Askara, pasti ponselnya tertinggal di sana.
"Eh mau ke mana?" Doni menahan Anin yang hendak pergi.
"Aku mau ambil ponselku kak, ketinggalan di mobil" ujar Anin.
"Nanti pasti tukang grab nya ngebalikin kok, kita udah nggak ada waktu. photografer buat pemotretan kue-kue kita juga udah dateng dari tadi" jelas Doni.
"Tapi kak.."
"Kakak yakin, nanti pasti abangnya ngebalikin kok" ujar Doni meyakinkan.
"Ya udah deh" pasrah Anin, lagi pula ponselnya kan tertinggal di mobil Askara jadi pasti aman, bukan tertinggal di mobil taxi online seperti perkiraan Doni.
"Masuk ke dalam, kak Ambar udah nungguin" ujar Doni
"Iyya"
Anin berjalan mengekori Doni dari belakang.
Anin memasuki ruangan Ambar untuk membicarakan perihal konsep pemotretan. meskipun hanya foto kue tapi Ambar ingin menampilkan yang terbaik sehingga pelanggannya juga bertambah banyak.
"Permisi kak" ujar Anin saat pertama kali memasuki ruangan Ambar, photografer yang di pilih oleh Ambar juga sudah berada di sana, hanya saja posisinya sedang memunggungi Anin.
"Kebetulan kau sudah sampe, ayo duduk ada hal yang perlu kita bicarakan dulu sebentar sebelum acara foto-fotonya di mulai" ujar Ambar.
Pria yang sedari tadi duduk membelakangi Anin menoleh dan menatap Anin.
"Ken?, kok bisa di ada di sini?" tanya Anin bingung.
Ken mengangangkat kamera di tangannya "Aku seorang photografer, kalau kau lupa" ujarnya kembali mengingatkan Anin.
"Ya ampun, aku baru ingat" seloroh Anin. pada pertemuannya di lapangan kemarin, Ken sempat memberitahunya.
Ken terkekeh "Aku tidak heran, ingatanmu kan memang payah" godanya pada Anin.
Anin mencebikkan bibirnya "Nyindir kamu?"
"Kalian berdua sudah saling kenal" tanya Ambar yang sedari tadi memperhatikan interaksi Anin dan Ken.
"Lebih tepatnya baru kenal sih kak, kita baru bertemu beberapa kali" jawab Anin.
Ambar membulatkan mulutnya membentuk huruf O "Baguslah kalau kalian sudah saling kenal, jadi kerjanya pasti lebih nyaman juga"
"Oh Iyya Anin, Kakak mau minta tolong sama kamu untuk ikut andil dalam pemotretan kue-kue kita hari ini"
"Aku?" tunjuk Anin pada dirinya
Ambar mengangguk "Iyya, dari beberapa pegawai wanita di sini, cuman kamu yang punya wajah menjual. Iyya kan Ken?" tanya Ambar pada Ken selaku photografer, jadi Ken pasti tau tipe wajah-wajah yang menjual.
"Aku sangat setuju dengan pilihan kak Ambar, wajah Anin memang cantik" jawab Ken menatap Anin dengan senyum di bibirnya.
Blush, wajah Anin memerah malu.
"Oke, kayaknya kita udah bisa mulai. dan Anin kamu ganti baju dulu yah, kakak udah nyiapin baju yang akan kamu pake" ujar Ambar.
"Baik kak"
"Kalau gitu aku tunggu di luar yah kak" pamit Ken karena Anin akan berganti pakaian.
Ken berjalan keluar meninggalkan ruangan Ambar.
Kini Anin mulai berganti pakaian di bantu oleh Ambar, Anin memakai dress selutut simple, motif kotak-kotak dengan aksen pita di kedua sisinya.
Anin merasa dress tersebut agak sempit di bagian pinggangnya karena memang postur tubuhnya yang mulai berubah karena kehamilannya.
__ADS_1
Namun Anin berusaha menahan nafas agar perutnya terlihat seperti ukuran normal.
"Badanmu agak berisi yah Nin" seloroh Ambar merasa badan Anin sedikit berubah, apalagi di bagian pinggangnya.
Anin tercekat, ternyata Ambar menyadari perubahan tubuhya.
"Anu kak, Aku banyak makan makanan manis akhir-akhir ini" jawabnya asal.
"Awas gendut loh" peringat Ambar.
Anin hanya tersenyum kaku.
"Sudah selesai" ucap Ambar saat dress pilihannya melekat sempurna di tubuh Anin.
"Tunggu dulu, wajahmu terlalu polos jadi harus di tambahkan make up sedikit" Ambar mengambil alat make up yang berada di dalam tasnya.
Anin hanya diam dan menuruti semua yang di lakukan Ambar.
Wajah Anin mulai di make up oleh Ambar, hanya make up tipis-tipis yang masih sesuai dengan usia Anin yang masih sangat muda.
"Selesai" ucap Ambar "Kau memang cantik Anin" puji Ambar melihat wajah Anin semakin cantik di balut hasil make up-nya.
"Terimakasih kak"
"Ayo kita keluar" ajak Ambar.
Kedua wanita berbeda usia itu pun berjalan keluar menemui Ken.
Ken yang tengah serius memotret beberapa jenis kue yang sudah di tata sedemikian rupa, kini mengalihkan pandangannya pada Anin yang baru saja keluar bersama Ambar.
Pandangan Ken tertuju hanya pada Anin, kecantikan Anin seolah menghipnotis dirinya. Jantungnya kembali berdetak kencang.
"Ken, ini Anin sudah siap" ujar Ambar membuyarkan lamunan Ken.
Namun mata Ken masih tertuju pada Anin, membuat Anin merasa salah tingkah.
"Tunggu yah kak, ini bentar lagi selesai" ujar Ken pada Ambar.
Setelah Ken selesai pada kue-kue tadi, kini tibalah giliran Anin.
"Jadi konsepnya, Anin ini sebagai pelanggan yang lagi makan kue di sini, jadi nantinya aku akan bantu arahin kamu" jelas Ken pada Anin.
Anin mengangguk mengerti, mereka pun segera memulai.
Pose pertama, Anin sedang duduk di meja dengan sepotong kue di depannya, Anin seolah-olah bergaya candid sedang menyendokkan potongan kue tersebut ke dalam mulutnya.
"Oke bagus, ganti gaya lagi Nin" perintah Ken.
Pose kedua, di mana Anin sedang menghadap ke kamera dengan mengangkat piring kecil berisi potongan cake di tangan kirinya, dan sendok kecil di tangan kanannya. Anin tersenyum manis ke arah kamera.
Ken memuji kinerja Anin yang cepat mengerti, bahkan Anin beberapa kali bergaya tanpa di arahkan oleh Ken.
Bagian terakhir, Ken meminta Anin untuk berfoto di depan toko kue, untuk mengambil keseluruhan toko beserta namanya.
Kini Anin sudah berdiri di depan toko.
"Aku harus berpose seperti apa Ken?" tanya Anin yang mulai kehabisan gaya.
Ken mendekat untuk mengarahkan Anin.
"Sorry yah" ujar Ken saat tangannya memegang lengan Anin untuk mengarahkannya berpose.
Tangan Anin bergerak kaku, membuat keduanya tertawa.
Tanpa Anin sadari, seseorang di balik mobil hitam yang berhenti tidak jauh dari toko kue Ambar tengah memperhatikan interaksinya bersama Ken dengan tangan terkepal menahan emosi.
Askara yang tadinya ingin mengembalikan ponsel Anin harus melihat Anin yang tertawa lepas dengan pria lain. apalagi penampilan Anin saat ini terlihat begitu cantik di matanya.
"Tuan, biar saya saja yang turun mengembalikan ponsel nona Anin". ujar Dito menyadari keadaan Askara sekarang.
"Tidak perlu" jawabnya dingin "Kita kembali ke kantor" lanjut Askara berusaha menahan amarahnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Dito segera melajukan mobilnya kembali ke kantor.
Kira-kira gini yah dress yang pakai Anin tadi.
jangan lupa like,komen, dan saran-saran kalian.
__ADS_1