Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 129


__ADS_3

Malam pun tiba, Anin memakai gaun yang di kirim oleh Askara tadi siang dengan bantuan Mami sandra. perutnya yang semakin membesar membuat geraknya menjadi semakin terbatas.


"Makasih, Mi". tak lupa Anin mengucapkan terimakasih pada ibu mertuanya setelah selesai membantu menutup resleting bagian belakang gaunnya.


"Sama-sama sayang, malam ini kau benar-benar cantik. Askara pasti tidak bisa mengenalimu". tutur Mami Sandra melihat hasil polesan MUA kepercayaannya.


"Tapi aku merasa tidak percaya diri pake gaun seperti ini, Mi. justru aku terlihat gendut dengan perut yang membesar". Anin menatap dirinya lewat pentulan cermin. tidak di pungkiri bahwa berat badannya melonjak drastis selama kehamilannya.


"Siapa bilang sayang, justru kau terlihat semakin seksi. Mami yakin Askara tidak akan berkedip melihat penampilan mu malam ini". Mami Sandra meyakinkan Anin agar percaya diri dengan penampilannya.


Dering ponsel Anin menghentikan sejenak obrolan antara mertua dan menantu tersebut.


"Tunggu sebentar yah, Mi". Anin meraih ponselnya yang berada di atas meja rias.


"Mas Askara, Mi". Anin menunjukkan layar ponselnya pada Mami Sandra sebelum mengangkat telfon dari suaminya itu.


"Hallo, Mas. aku baru saja ingin menelfonmu, kau hampir sampai?". tanya Anin karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam lewat beberapa menit.


"Seharusnya Iyya, tapi ternyata jalanan cukup padat". suara Askara terdengar gelisah.


"Begini saja, aku akan menghubungi Dito untuk menjemputmu di mansion, kebetulan Dito sedang berada di luar dan posisinya lebih memungkinkan karena dekat dari mansion. kita langsung bertemu saja di tempat yang sudah aku siapkan, sayang. tidak apa-apa kan?". Askara mencoba mencari jalan tengah, dia fikir kondisi jalanan tidak akan sepadat ini. yang tadinya dia berharap bisa pulang kerumah dan menjemput Anin tapi semua di luar prediksinya.


"Tidak apa-apa, Mas. aku berangkat bersama sekretaris Dito saja, tapi ingat Mas Askara jangan ngebut bawa mobilnya". pesan Anin.


"Iyya sayang, sampai ketemu nanti yah, bye". Askara pun mematikan sambungan telfon dan kembali fokus menyetir.


"Apa kata Askara?". tanya Mami Sandra begitu Anin selesai telfonan dengan Askara.


"Mas Askara nggak bisa jemput karena katanya jalanan cukup padat dan pasti akan memakan waktu banyak kalau mas Askara harus ke sini untuk jemput Anin lagi. tapi katanya sekretaris Dito sedang menuju kemari". jelas Anin.


"Ya sudah, Askara mungkin tidak ingin membuat kau menunggu terlalu lama".


Anin mengangguk mengiyakan.


Setelah menunggu sekitar lima belas menit, sekretaris Dito akhirnya tiba di mansion. Anin pamit pada Mami sandra dan juga pada Papi Argio yang baru pulang sehabis mengunjungi cabang kantornya yang juga masih berada di daerah Jakarta, itulah kenapa papa mertuanya itu tidak terlihat di mansion seharian ini.


Anin menatap pemandangan malam kota Jakarta lewat kaca jendela mobil. fikirannya mengelana tentang apa yang Askara siapkan untuknya malam ini.


"Sekretaris Dito". panggil Anin pada Dito yang sedang fokus menyetir.


"Iyya Nona".


"Apa kau tau apa yang sedang Mas Askara siapkan?". tanya Anin penasaran.


"Maaf Nona, tapi saya di suruh untuk tutup mulut oleh tuan Askara. Nona Anin akan tau karena sebentar lagi kita akan sampai".


"Hemm, baiklah". pasrah Anin.


Mobil yang di kendarai oleh sekretaris Dito akhirnya sampai di sebuah hotel mewah berbintang lima.


Sekretaris Dito turun terlebih dahulu membukakan pintu untuk Anin.

__ADS_1


"Apa ini tempatnya?". tanya Anin celingak-celinguk mencari keberadaan Askara. "Tapi aku tidak melihat mobil Mas Askara".


"Sebentar lagi tuan Askara akan sampai, lebih baik nona Anin masuk lebih dulu. angin malam tidak baik untuk ibu hamil".


Anin dan sekretaris Dito menaiki lift untuk menuju lantai paling teratas dari hotel tersebut.


"Silahkan masuk, Nona". Sekretaris Dito menuntun Anin memasuki sebuah ruangan yang sangat luas dengan kaca jendela yang begitu besar.


Anin menutup mulut tak percaya saat di depan matanya tersaji sebuah kejutan berupa makan malam romantis yang posisinya berdekatan dengan jendela besar. dari posisinya berdiri saja, Anin sudah bisa melihat gemerlapnya lampu-lampu gedung yang berseberangan dengan gedung hotel tempatnya berada sekarang.


"A-apa semua ini Mas Askara yang menyiapkan?". tanya Anin dengan perasaan campur aduk. gugup, senang, dan juga sedih menjadi satu saat ini.


"Iyya Nona". balas sekretaris Dito. "Silahkan duduk dan menunggu tuan Askara, hubungi saya jika nona butuh sesuatu".


"Terimakasih sekretaris Dito". ujar Anin tulus.


Sekretaris Dito pun pamit dan meninggalkan Anin seorang diri.


Askara sebentar lagi akan sampai di hotel tempat dia dan Anin akan melangsungkan dinner romantis.


Ponselnya yang dia letakkan di jok samping terdengar berdering beberapa kali. Askara melirik lewat ekor matanya, tertera nama Grace di sana. tapi dia memilih untuk mengabaikannya karena baginya panggilan itu tidak penting.


Tapi sepertinya Grace tidak menyerah menghubunginya, membuat Askara mau tidak mau mengangkat telfonnya dengan perasaan kesal.


"Ada apa?". ujar Askara ketus tanpa berbasa-basi.


Terdengar suara panik dari Grace yang membuat Askara mengerem mendadak, untung saja tidak ada mobil lain di belakangnya.


Anin melirik jam pada lock screen ponselnya. sudah terhitung setengah jam dia menunggu Askara tapi suaminya itu belum juga datang.


"Sabar Anin, mungkin Askara terjebak macet". Anin menenangkan dirinya dari rasa gundah yang menyerangnya.


Askara sampai di club sesuai yang di kirimkan oleh Grace. dia berjalan memasuki tempat yang begitu riuh dan ramai akan manusia yang sedang asik berjoget, minum, dan juga saling bercumbu.


Mata Askara mengedar mencari keberadaan Grace. samar-samar Askara melihat seseorang melambaikan tangan padanya. dia memicingkan mata untuk memastikan apaka itu Grace karena kondisi club yang cukup gelap.


"Akhirnya kau datang juga". suara lega keluar dari mulut Grace saat Askara menghampirinya.


"Ada apa ini?." tanya Askara to the point'.


Grace menggeser tubuhnya agar Askara bisa melihat Dalila yang menidurkan kepalanya di atas meja.


"Dia mabuk berat, sedari tadi dia juga nyebut nama Askara dan Askara. Dalila kayaknya kacau banget, dia bukan tipe orang yang suka ke club sebelumnya". jelas Grace memperhatikan kondisi Dalila yang bisa di bilang tidak baik-baik saja.


Askara ikut prihatin melihat Dalila yang menidurkan kepalanya di atas meja.


"Lalu kenapa kau menelfonku?, kenapa tidak langsung membawa dia pulang?". tanya Askara dengan wajah datarnya.


"Dalila tidak ingin pulang kalau bukan kau yang datang ke sini. aku sudah coba berkali-kali mengajak dia pulang tapi dia menolak".


Askara menghela nafas kasar, menyuruh Grace untuk menyingkir. Askara membantu Dalila untuk bangun.

__ADS_1


"Ayo pulang". ujar Askara membuat Dalila yang hampir kehilangan kesadarannya beralih menatap wajahnya dengan kening berkerut serta mata yang memicing.


"Apa ini benar Askara?". tanya Dalila mencubit pipi Askara, detik berikutnya Dalila tertawa karena Askara benar nyata ada di depannya.


"Ternyata ini benar Askara. Grace, akhirnya Askara datang juga ke sini, padahal aku mengira dia tidak akan datang menemuiku lagi, itu artinya dia masih peduli padaku, Grace. Askara masih cinta padaku". Dalila kembali meracau, sesekali tertawa dengan tubuh yang sudah sempoyongan.


Grace yang melihat kondisi Dalila hanya bisa meringis kecil. Dalila tidak pernah menyentuh alkohol sebelumnya jadinya dia tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Ayo pulang Dalila". Askara cukup kewalahan karena tubuh Dalila yang memberat dan sesekali hilang keseimbangan.


"Aku hanya ingin pulang bersamamu. aku tidak ingin pulang bersama Grace atau siapapun". Dalila hendak mencium bibir Askara namun dengan cepat pria itu menghindar.


"Kenapa, kenapa kau menghindari ku?." teriak Dalila seperti orang gila.


Askara tidak menjawab, kondisi Dalila benar-benar kacau sekarang.


Mau tidak mau Askara mengangkat tubuh Dalila ala karung beras. sedangkan Grace buru-buru memunguti tas dan juga ponsel Dalila kemudian mengikuti Askara keluar dari club tersebut.


Dalila yang berada di atas gendongan Askara merasa perutnya begitu mual, belum sempat Askara menurunkan Dalila, wanita itu sudah lebih dulu memuntahkan isi perutnya.


"****". umpat Askara karena jas nya menjadi kotor karena muntahan Dalila. padahal jas itu sengaja dia siapkan untuk dinner dengan Anin malam ini. mengingat Anin, Askara buru-buru menurunkan Dalila.


"Grace, antar Dalila pulang. aku harus menemui Anin".


Grace yang melihat jas Askara penuh dengan muntahan Dalila, menatap jijik dan menutup hidungnya.


"Aku tidak mau, bagaimana kalau Dalila kembali muntah. badan Dalila juga berat sedangkan apartemennya ada di lantai atas". tolak Grace dengan cepat, bahkan dia ikut mual melihat kondis jas Askara.


"Kau ini sahabat macam apa, hah?". geram Askara.


"Ini beda cerita Askara, kau saja yang mengantarnya pulang. dia pasti akan langsung tidur sesampainya di apartemen, setelah itu kau bisa pergi menemui Anin".


Askara menghembuskan nafas kasar, tidak ingin berdebat lebih lama lagi dengan Grace, dia akhirnya membawa Dalila ke mobilnya, menidurkan nya di jok belakang. sebelum memasuki kursi kemudi, Askara melepas jasnya yang sudah kotor dan berjalan mendekati tong sampah. Askara dengan enteng nya membuang jas mahal tersebut ke dalam tempat sampah.


Grace menyerahkan tas dan ponsel Dalila pada Askara. kemudian pria itu melajukan mobilnya meninggalkan club.


Sedangkan di dalam ruangan yang sudah di hias begitu indah, Anin mulai bergerak gelisah. mengecek ponselnya berkali-kali. mencoba menghubungi nomor Askara tapi tidak ada jawaban.


Anin menggigit kecil ujung jarinya, perasaan khawatir mulai menderanya. akhirnya dia memutuskan untuk memanggil sekretaris Dito.


"Kenapa Askara belum datang juga sekretaris Dito?". tanya Anin dengan raut wajah khawatir.


"Saya akan coba menghubungi tuan Askara, Nona". sekretaris Dito mengeluarkan ponselnya, namun beberapa kali dia menelfon Askara, hasilnya tetap sama yaitu tidak ada jawaban.


"Tuan Askara tidak menjawab panggilannya Nona".


Anin semakin khawatir, dia bergerak ke sana kemari dengan wajah cemas.


"Kau di mana, Mas?". gumam Anin cemas.


__ADS_1


__ADS_2