
Anin mengendarai motornya tanpa tujuan, ingin pulang ke toko pun tidak mungkin dalam keadaan kacau seperti sekarang.
Teringat perlakuan Askara di restoran membuat hatinya kembali sakit. dirinya di rendahkan dan di permalukan di depan banyak orang.
Siapa yang tidak sakit hati di perlakukan seperti itu? apalagi statusnya sebagai istri, harga diri Anin benar-benar tidak ada apa-apanya di mata Askara.
Saat ini Dia ingin menangis meluapkan kesedihannya, Dia butuh tempat yang tenang dan sepi.
Dia tau harus ke mana. Anin pun menancap gas motornya mendatangi tempat yang selalu di datangi tiap kali merasa sedih.
Motor Anin berhenti di sebuah padang rumput yang cukup luas, sekelilingnya terdapat beberapa pepohonan dengan daun rindang, cocok untuk berpiknik atau sekedar duduk sore menikmati semilir angin.
Tempat itu tadinya hanyalah sebuah lahan kosong yang cukup luas namun seiring berjalannya waktu mulai di tumbuhi oleh rumput liar dan beberapa bunga liar lainnya, salah satunya bunga rumput dandelion.
Orang kadang menyebutnya dengan sebutan Randa tapak yang artinya bunga-bunga kecil yang dapat terbang ketika tertiup angin.
Namun berbeda dengan Anin, dandelion mempunyai arti yang istimewa dalam hidupnya.
Anin duduk menekuk kedua kakinya di bawa rindangnya pohon, memperhatikan anak-anak yang sedang asik bermain bola.
Tempatnya yang jauh berada di pinggir ibu kota jakarta menjadikan suasananya sangat tenang, siapa saja yang berada di sana bisa duduk betah berlama-lama.
Anin menengadahkan wajahnya, membiarkan angin sore membelai mesra wajahnya. berharap kesedihannya bisa menguap terbawa bersama angin.
Suara tawa riang anak-anak yang tengah asik bermain bola sedikit menghangatkan hatinya, Anin seperti ingin kembali ke masa-masa itu.
Hidup hanya dengan bermain tanpa harus merasakan sakit hati seperti yang tengah di rasakannya.
Benar kata orang, menjadi itu dewasa sangatlah lucu. kita di paksa terlihat baik-baik saja di depan banyak orang. Anin ingin kembali ke masa kanak-kanak, menangis kapan saja tanpa harus bersembunyi dari orang banyak.
Namun sekarang berbeda, Dia hanya akan berani menangis dalam kegelapan, meringkuk memeluk diri sendiri tak tau harus mengadu pada siapa.
Bayangan wajah Askara kembali muncul, hatinya kembali sedih mengingat kejadian tadi siang.
"Kenapa pak Askara jahat padaku?" tanya Anin pada dirinya sendiri.
Sekuat apapun Anin menahan air matanya, tapi perlakuan Askara terlalu membekas di hati.
Anin menundukkan kepala, membiarkan rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya, dia ingin menangis tanpa di lihat orang orang.
"Kalo mau tidur jangan di sini" ucap seorang pria dan berdiri tepat di samping Anin yang masih menundukkan kepalanya, mengira Anin sedang tertidur.
Merasakan kehadiran seseorang di sampingnya, Anin mendongakkan kepala, memicingkan mata untuk melihat lebih jelas wajah pria yang berdiri tepat di atasnya yang terkena silau cahaya matahari.
Sepersekian detik, Anin dapat melihat wajah pria tersebut.
Menyadari kehadiran pria asing di dekatnya, Anin mengalihkan wajahnya ke arah lain, menghapus sisa air mata di kedua pipinya.
"Aku sudah melihatnya, jadi tidak usah malu" ucap pria tersebut saat melihat Anin buru-buru menghapus air matanya.
Anin merutuki dirinya sendiri "Aku tidak menangis" lanjutnya berbohong.
Pria itu terkekeh "Boleh aku duduk?" tanyanya.
Anin menggeser tubuhnya, menjaga jarak dari pria yang tidak di kenalnya.
"Duduklah, ini tempat umum jadi tidak ada larangan" jawabnya tanpa menatap wajah pria yang sudah duduk di sampingnya.
"Sore ini cerah yah" pria itu mencoba berbasa-basi pada Anin.
"Hemm" singkat Anin.
"Tapi sayang di sampingku lagi mendung" ujarnya yang di tunjukan pada Anin.
"Aku tidak menangis" elak Anin tidak berani menatap pria di sampingnya.
"Kalau mau nangis yaa nangis aja, manusiawi kok" lanjutnya.
Anin terdiam, merasa sedikit kesal dengan pria sok tau di sampingnya itu "Jangan sok tau jadi orang" ucapnya tidak suka
"Aku berbicara berdasarkan apa yang aku lihat". balas pria itu.
Dengan menghela nafas berat, Anin memberanikan diri menoleh pada pria yang duduk di sampingnya. jaraknya tidak sampai satu meter dari tempatnya duduk.
Mata keduanya bertemu, Anin mengerutkan kening seperti merasa familiar dengan wajah itu.
"Kita bertemu lagi" ucap pria itu melihat ekpresi kebingungan Anin.
"Kita?" tunjuk Anin pada dirinya "Memagnya kita pernah bertemu sebelumnya? Tapi di mana?" tanyanya.
"Ternyata ingatanmu payah yah" ledek pria tersebut.
"Aku bertemu dengan banyak orang setiap hari, tidak mungkin menghafal wajah mereka satu per satu" ketus Anin, tidak mungkin juga dia akan melakukan itu.
"Minimarket" ucap pria itu hanya dengan satu kata.
Anin terdiam, otaknya berfikir keras "Kau" tunjuk Anin " Kau yang membantu membawa barang belanjaan ku waktu itu kan?" akhirnya Anin mengingat pria di sampingnya.
Pria itu tersenyum "Aku kira ingatanmu benar-benar payah"
__ADS_1
Anin mencebik "Sudah aku bilang, aku tidak mungkin mengingat wajah semua orang yang aku temui"
"Ya..ya..ya.. perempuan memang selalu benar" ucap pria itu mengalah.
Keduanya kembali terdiam, larut dalam fikiran masing-masing mencari topik pembicaraan di tengah suasana yang berubah canggung.
"Btw, kita belum sempat kenalan" Pria tersebut buka suara terlebih dulu "Aku Ken Mahendra panggil saja Ken" ucapnya mengulurkan tangan pada Anin.
Anin menyambut ragu uluran tangan Ken "Embun Anindira, kau bisa memanggilku Anin" setelah memperkenalkan diri Anin melepaskan jabatan tangan mereka lebih dulu.
"Namanya cantik, secantik orangnya" gombal Ken tersenyum
Anin memutar bola mata jengah "Baru kenal udah gombal"
"Siapa yang gombal" seru Ken tidak terima "Aku bicara sesuai fakta"
"Ya..ya..ya baiklah, anggap saja aku mengiyakan perkataanmu" putus Anin karena tidak ingin berdebat.
Ken pun tersenyum dan menatap lurus ke depan anak-anak yang sedang kejar-kejaran merebut bola "Kau sering datang ke sini?" tanya Ken mulai membuka topik pembicaraan.
"Tidak juga, hanya pada saat ada masalah saja" jujur Anin, tempat ini memang selalu menjadi tujuannya jika sedang sedih atau terpuruk.
"Kenapa begitu?"
Tersenyum getir sejenak "Karena hanya di tempat ini aku bisa menangis dan berteriak tanpa harus bersembunyi lagi" jelas Anin dengan wajah sendunya.
"Aku juga suka tempat ini, hampir setiap hari aku ke sini" ucap Ken menatap lurus ke depan.
Anin beralih menatap Ken "Setiap hari?" tanyanya tidak percaya.
"Hemm, aku seorang fotografer dan tempat ini salah satu tempatku untukku mencari inspirasi" ucap Ken mengeluarkan kamera dari dalam tas nya yang sedari tadi berada di sampingnya.
Anin menatap tidak percaya "kau seorang fotografer? kenapa tampanmu tidak meyakinkan?" kekeh Anin.
"Kau tambah cantik jika tertawa seperti itu" Ken tiba-tiba mengarahkan kameranya dan memotret Anin yang sedang tertawa kecil.
Anin refleks menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena malu "Kenapa kau memotretku, wajahku sedang jelek" kesal Anin karena Ken mengambil gambarnya tanpa permisi.
"Lihatlah" Ken menyerahkan kameranya
Anin membuka tangannya, mengambil kamera di tangan Ken, tanpa sadar dia tersenyum "Wah..hasilnya bagus sekali, ternyata kau memang jago yah" puji Anin membuat hati Ken berdebar.
"Itu karena orangnya yang memang cantik" Puji Ken tulus.
Anin memukul lengan Ken pelan "Berhenti menggombal"
Ken menatap lengannya yang di pukul Anin.
"Eh maaf, aku refleks" ucap Anin tidak enak, tangannya sudah lancang padahal mereka baru saja kenal.
Anin mengembalikan kamera Ken. Suasana kembali canggung.
Tapi Ken yang memang tidak suka berdiam lama-lama kembali mencari cara untuk bisa kembali berbicara dengan Anin.
Matanya menangkap bunga rumput dandelion di depannya, Ken memetiknya "Jangan bersedih atau menangis lagi" tangannya terulur memberikan setangkai dandelion kering pada Anin.
Anin meraihnya "Untukku?" tanyanya
"Kau tau filosofi dandelion?" tanya Ken
Anin mengangguk.
"Tetaplah tumbuh kuat di manapun angin membawamu terbang jauh" Ucap Anin dan Ken bersamaan.
Keduanya tertawa menyadari tingkah konyol mereka yang berucap secara bersamaan.
Ken menatap lekat wajah Anin, hatinya terasa hangat melihat senyum terbit di wajah gadis cantik di sampingnya.
"Kau juga tau kata-kata itu?" tanya Anin membuat Ken mengalihkan wajahnya, tidak ingin ketahuan jika diam-diam memperhatikan gadis itu.
"Iyya..Almarhumah ibuku yang mengatakan itu. saat aku terpuruk dan merasa putus asa beliau selalu menyemangatiku dengan kata-kata itu" Ken menerawan ke depan, mengingat sisa kenangan bersama ibunya.
Anin terdiam, ternyata dia tidak sendiri ternyata Ken juga sudah kehilangan salah satu orang tuanya.
"Mendiang ayahku juga seringan mengatakan itu, dia selalu berkata padaku jadilah seperti Bunga dendelion. sejauh apapun angin membawanya terbang tetapi dia selalu bisa tumbuh di tempat baru, berdiri tegak meski di antara rumput-rumput liar, meski begitu dia tetap hidup". ucap Anin dengan wajah sedih mengingat kenangan bersama ayahnya.
Ken mendengar dengan seksama
"Hal itu yang membuat aku kuat dan berdiri kembali tidak peduli berapa kali pun aku harus terjatuh, meski di antara banyaknya rintangan sekalipun" lanjut Anin.
Ken makin merasa kagum pada Anin, di jaman sekarang Anin adalah satu wanita dengan pemikiran dewasa yang pernah dia temui.
"Kau benar, maka dari itu berhenti menangis dan jangan datang ke tempat ini hanya karena kau sedang merasa sedih, datanglah ke sini dengan perasaan senang" sindir Ken telak membuat Anin merengut.
"Kau menyindirku?" sinis Anin namun kemudian tertawa "Baiklah, mulai sekarang aku akan datang ke sini dengan perasaan senang, puas?" tanyanya beralih pada Ken.
"Begini lebih baik" ucap Ken tersenyum.
Ponsel Anin bergetar, dia kemudian membuka tasnya, kedua matanya membulat sempurna. sudah banyak panggilan tak terjawab dari Doni sedari tadi.
Anin menepuk jidat "Astaga..Kenapa aku jadi berlama-lama di sini" paniknya kemudian berdiri menepuk rumput kering yang menempel di celananya.
__ADS_1
"Ada masalah?" tanya Ken ikut panik.
Anin menyampirkan tas di bahunya "Aku harus kembali ke toko"
Ken ikut berdiri "Biar kau antar" ucapnya menawari Anin tumpangan.
"Tidak perlu, aku membawa motor. aku duluan yah" Anin bergegas dan meninggalkan Ken yang menatap kepergiannya.
"Hati-hati" teriak Ken yang di angguki oleh Anin.
Anin merutuki dirinya, kenapa dia bisa lupa waktu. jika Doni tidak menghubunginya dia pasti akan berada di sana sampai malam tiba.
Anin tiba di toko tepat jam 5 sore. Doni sudah menunggunya di depan toko dengan wajah cemas "Kau dari mana saja Nin?" khawatir Doni saat melihat kehadiran Anin.
"Maaf kak, tadi Anin ada urusan mendadak terus lupa hubungi kak Doni" jawab Anin bohong.
Doni menghela nafas lega "Syukulah, aku kira kau kenapa-napa, aku menghubungi ponselmu berkali-kali tapi tidak ada jawaban"
Anin semakin tidak enak hati "Hp nya aku mode silent"
"Ya sudah, yang penting kamu udah di sini. sana masuk, bentar lagi kita harus tutup toko"
"Baik kak"
Anin dan Doni memasuki toko untuk beres-beres karena sebentar lagi mereka akan menutup toko kue yang hanya buka sampai jam lima sore saja.
Anin meregangkan otot-ototnya saat motornya sampai di basement apartemen. dia baru sampai pukul 7 malam karena jalanan Jakarta yang macet di sore hari.
Sebelum menaiki lift, Anin menguatkan hatinya untuk bertemu Askara.
Pintu apartemen terbuka saat Anin menempelkan key card yang di bawanya.
Apartemen masih gelap ternyata Askara belum pulang, fikir Anin.
Tiba-tiba lampu menyala membuat Anin tercekat.
"Sudah jam berapa ini? dan kau baru pulang" suara Askara terdengar mengintimidasi. posisinya sudah berdiri di depan Anin.
Anin menatap Askara datar "Kenapa kau harus peduli?" rasa sakit hati Anin kembali muncul saat melihat wajah dingin Askara berdiri dengan tangan di masukkan ke dalam saku celananya.
"Istri macam apa yang baru pulang saat suaminya sudah berada di rumah"
Anin tersenyum sinis mendengar perkataan Askara "Istri kau bilang?, kau baru saja menyebutku sebagai istri setelah mempermalukan ku didepan banyak orang. apa kau sudah lupa?" sarkas Anin menatap mata Askara yang sudah menunjukkan kemarahan.
Kemarahan Askara mencuak, Anin sudah berani menentangnya "Kau sudah berani sekarang yah?" Askara berjalan mendekat membuat Anin mundur perlahan.
"Kau mau apa?" suara Anin bergetar "Jangan macam-macam"
Duk..tubuh Anin menubruk tembok, Askara semakin mendekatkan tubuhnya.
"Kau tau, hal itu memang pantas kau dapatkan" Anin dapat merasakan deru nafas Askara karena posisi mereka yang begitu dekat.
Anin mendorong tubuh Askara menyingkir dari hadapannya "Kau benar-benar manusia tidak punya hati"
"Beri aku alasan kenapa aku harus bersikap menggunakan hati padamu? karena kau istriku? karna kau sedang hamil anakku? begitukah?" ucap Askara.
"Semua itu tidak akan merubah sikapku padamu" lanjutnya lagi.
Fisiknya sudah lelah bekerja seharian, sekarang hatinya harus di hantam dengan kata-kata menyakitkan dari Askara "Terserah pak Askara, aku lelah aku ingin istirahat" ucap Anin.
"Berhenti bekerja dari tempat itu, diamlah di apartement sampai anak itu lahir"
Kuping Anin terasa panas mendengar ucapan Askara "Aku tidak mau, kau tidak berhak melarang ku melakukan apapun"
"Kau sangat pembangkang yah"
"Terserah apa kata pak Askara, pekerjaan itu satu-satunya sumber kehidupanku sekarang dan dengan seenaknya pak Askara menyuruhku untuk berhenti, aku tidak mau" keputusan Anin tetaplah sama.
"Lalu kau akan menunjukkan perut besarmi itu nanti pada semua orang, bahwa kau hamil anak seorang pengusaha kaya raya, begitu?"
"Aku tidak seperti yang pak Askara fikirkan"
"Maka dari itu berhenti bekerja dan tinggallah diam di apartement ini. aku akan menggajimu dan memberimu uang berapa pun jumlah yang kau inginkan asal kau menuruti perkataanku".
Anin menatap nanar Askara "Bagimu uang adalah segalanya, tapi kau lupa tidak semua hal bisa kau beli dengan uang, simpan saja uang pak Askara, aku tidak butuh itu semua"
"Itu hanya alibi mu, wanita miskin sepertimu mana mungkin bisa menolak jika sudah di hadapkan dengan uang banyak"
Plaakk ... Anin menampar Askara, hatinya benar-benar sakit mendapatkan penghinaan kedua kalinya dari Askara.
"Kau berani menamparku" kilatan amarah terlihat di mata Askara.
"Memang itu yang pantas pak Askara dapatkan" Anin mengembalikan kata-kata Askara tadi.
"Ku pastikan kau akan menyesal Anindira" ucap Askara tajam.
Anin tidak mengindahkan perkataan Askara, dia benar-benar lelah hari ini. tidak hanya fisik tapi juga batinnya. Anin meninggalkan Askara tanpa membalas perkataan pria itu lagi.
Menutup pintu kamarnya dengan cukup keras membuat suara dentuman memekakkan telinga.
"Kau akan merasakan lebih dari ini Anin" gumam Askara mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Gimana part ini? Kata-kata Askara masih pedas yah?
#Jangan lupa dukung terus karya author. like dan komet yah 🥰🥰