
Askara duduk termenung di sofa setelah mendapatkan pengusiran dari Anin tadi, apalagi wajah istrinya itu terlihat sangat kecewa padanya, bahkan melihatnya pun, Anin rasanya enggan untuk menoleh.
"Tuan, apa ada yang mengganggu fikiran anda?". tanya sekretaris Dito yang diam sedari tadi karena tidak tau harus berbuat apa melihat Askara yang hanya bungkam sejak tadi.
"Tidak Dito, tidak ada yang perlu kau cemaskan". jawab Askara tidak ingin sekretaris Dito tau bahwa Anin mengusirnya.
Mendengar jawaban Askara, sekretaris Dito tidak banyak bertanya lagi.
Saat Askara dan sekretaris Dito kembali diam, Vivi juga keluar dari kamar tempat Anin berada.
Askara lantas bangkit dan langsung bertanya. "Bagaimana, Anin?".
"Anin sedang makan di dalam, di suapi sama Tante Sandra". jawab Vivi dengan wajah datarnya, dia masih kesal dengan Askara. "Sekalian aku juga mau pamit pulang". ujar Vivi.
"Ayo, Dit". ajak Vivi pada sang kekasih.
"Saya pamit pulang dulu, tuan". ujar sekretaris Dito yang di angguki oleh Askara.
__ADS_1
Namun, sebelum melangkah pergi, Vivi mengatakan sesuatu hal yang membuat Askara terpaku. "Oh Iyya, Anin nitip pesan untuk tidak membiarkan kau masuk ke dalam, dia butuh waktu buat nenangin diri". ujar Vivi menyampaikan pesan dari Anin.
Askara tidak menjawab, bahkan sampai Vivi dan sekretaris Dito melangkah pergi, pria itu masih berdiri di tempatnya.
Ini semua salahnya, dan sekarang Anin tidak ingin bertemu dengan dirinya.
Sedangkan di dalam kamar, Anin baru saja menyelesaikan makan malamnya meskipun tidak dia habiskan karena perutnya rasanya mual.
"Kau pindah saja yah, sayang. kamar tamu tidak akan nyaman buatmu". ujar Mami Sandra karena Anin mengatakan ingin tetap di sana.
"Tapi sayang__".
"Mi... Aku mohon. aku mau di sini saja". wajah Anin memelas agar Mami Sandra mengizinkannya untuk menempati kamar tamu.
Mau tidak mau Mami Sandra mengiyakan. "Baiklah, kalau itu maumu. tapi, izinkann Mami untuk temani kau di sini, yah". Mami Sandra tidak ingin meninggalkan Anin sendirian.
Anin menggeleng, bukannya menolak atau tidak ingin satu kamar dengan mertuanya itu, tapi dia benar-benar butuh waktu untuk sendiri.
__ADS_1
"Maaf Mi. bukannya aku menolak, tapi saat ini aku benar-benar butuh waktu untuk sendiri. lebih baik Mami istirahat, kesehatan Mami juga penting". tutur Anin hati-hati agar tidak membuat mertuanya itu tersinggung.
Mami Sandra tersenyum simpul. "Tidak apa-apa, sayang. Mami mengerti perasaanmu saat ini, tapi kalau kau butuh sesuatu panggil Mami atau bi Ratih atau juga Mia". Mami Sandra mengelus lembut pipi Anin. "Ya sudah, kalau begitu kau istirahat, yah".
Mami Sandra menarik selimut untuk Anin, lalu keluar dari kamar tersebut setelah memastikan Anin mulai terlelap.
Askara yang melihat Maminya keluar dari kamar Anin, langsung berdiri dan menghampiri Maminya.
"Mi, apa kata Anin?, dan kenapa dia tidak kembali ke kamar?, apa Anin masih marah?". Askara terus memberondong Maminya dengan beberapa pertanyaan.
Sedangkan, Mami Sandra hanya memasang wajah datarnya, dia terlampau kesal dengan kelakuan putra semata wayangnya itu.
"Lebih baik kau kembali ke kamarmu, Anin sudah istirahat dan tidak mau di ganggu. Mami rasa Vivi juga sudah memberitahumu tadi bahwa Anin tidak ingin bertemu denganmu. kali ini Mami dukung keputusan Anin". ujar Mami Sandra yang memihak pada Anin. bahkan dirinya pun benar-benar ingin memberi pelajaran pada Askara.
Askara yang mendengar Maminya lebih memihak pada Anin lantas menjadi kesal. "Aku ini anak Mami, seharusnya Mami bujuk Anin buat mau maafin aku bukannya malah balik jadi sekutu dengan Anin". ujar Askara tidak terima.
"Diam kau Askara!". sentak Mami Sandra menatap tajam putranya. "Saat dalam keadaan terpojok seperti sekarang kau baru memohon-mohon pada Mami agar membujuk Anin untuk mau memaafkanmu, padahal dulunya Mami selalu memohon agar kau tidak berhubungan lagi dengan Dalila agar kejadian seperti ini tidak terjadi. sekarang kau lihat sendiri kan akibatnya?, ini karena kau tidak pernah mau mendengar perkataan Mami, jadi selesaikan sendiri urusanmu dengan Anin, Mami tidak mau ikut campur apalagi membantumu". putus Mami Sandra melangkah meninggalkan Askara. dia tidak peduli jika nantinya Askara malah membencinya.
__ADS_1