Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 73


__ADS_3

Tari dan juga satpam yang memperlakukan Anin tidak ramah tadi, baru saja keluar dari ruangan Askara dengan di ikuti suara hembusan nafas lega.


Keduanya bersyukur, Askara tidak jadi memecat mereka karena kemurahan hati istrinya.


Tari jadi sangat menyesal karena sudah memperlakukan Anin dengan tidak sopan tadi. dia pun sudah berjanji ketika di dalam ruangan tadi, dia akan lebih menghargai orang lain tidak peduli status ataupun kasta, seperti pesan Anin tadi di dalam.


"Kau tidak papa aku tinggal sendiri?". tanya Askara yang sudah bersiap menuju ruang meeting. hari ini dia punya dua jadwal meeting dan itu semua penting dia hadiri.


"Tidak papa, Mas. aku bisa bermain ponsel atau menonton drama jika merasa bosan". balas Anin


"Baiklah. kau jangan kemana-mana selama aku meeting. sebentar lagi makanan pesananmu juga akan segera datang". ujar Askara menatap lekat wajah Anin.


Sesaat sebelum kedatangan Tari dan juga satpam ke ruangannya untuk meminta maaf. Askara sempat bertanya Anin ingin makan apa, hingga berakhir perdebatan dan Askara yang harus mengalah karena kali ini Anin menginginkan junk food yang notabene kurang baik apalagi untuk ibu hamil.


Tak lama sekretaris Dito masuk dengan membawa pesanan makanan Anin.


"Nona, ini pesanannya". Sekretaris Dito meletakkan paperbag yang di bawanya di atas meja tepat di depan Anin.


"Terimakasih banyak sekretaris Dito, maaf sudah merepotkan". ujar Anin sumringah, tangannya sudah membuka bungkusan tersebut.


"Sama-sama Nona, itu sudah tugas saya".


"Ingat!, jangan kemana-mana. kau tetap di sini dan nikmati makananmu". peringat Askara sebelum meninggalkan ruangannya.


"Iyya, Mas". jawab Anin tanpa menoleh ke Askara, wanita hamil itu sudah melahap makanannya dengan hati senang karena keinginannya di turuti oleh Askara.


Askara hanya menggeleng kecil melihat Anin makan dengan sangat lahap. Tanpa sepatah kata lagi, Askara serta sekretaris Dito meninggalkan ruangan tersebut menyisakan Anin sendirian.


Anin menghabiskan makanannya tanpa sisa. mulai dari kentang goreng, hotdog, serta burger dan jus buah yang sengaja di pesan oleh Askara habis tak tersisa.


Senyum bahagia terbit di wajah cantik Anin, dia mengelus perut buncitnya dengan lembut. dia sangat kenyang sekarang.


Anin menyandarkan tubuhnya di sofa, setelah merasa sangat kenyang, matanya juga ikut memberat. hingga tadinya, Anin yang ingin menonton drama Korea favoritnya, kini memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Dengan satu tangannya yang di jadikan sebagai bantalan, Anin perlahan menutup matanya. di tambah cahaya langit sore yang masuk menembus kaca tebal ruangan Askara menjadikan suasana terasa lebih hangat untuk Anin menyelami alam bawah sadarnya.

__ADS_1


Askara melonggarkan dasinya, beberapa menit yang lalu meeting baru selesai. Di ikuti sekretaris Dito di belakang, Askara memasuki ruangannya.


Hal pertama yang Askara dapati adalah Anin yang tengah tertidur lelap di atas sofa sambil menekuk kakinya.


Sekretaris Dito juga ikut memperhatikan Anin yang tengah tertidur di atas sofa, sepertinya istri dari tuannya itu kekenyangan hingga terlelap di sofa.


Askara memperhatikan bekas makanan Anin di atas meja yang habis tak tersisa di makan oleh Anin.


Perlahan Askara berjongkok tepat di depan wajah Anin yang tengah terlelap. tangan Askara terangkat menyingkirkan rambut Anin yang menutupi wajahnya.


"Nin.. bangun, ayo kita pulang". ucap Askara lembut di sertai tepukan pelan di wajah istrinya.


Anin hanya melenguh kecil, namun tidak juga terbangun. justru Anin bergerak mencari posisi yang lebih nyaman.


Bukannya kesal karena Anin tak kunjung bangun, Askara justru tersenyum kecil melihat wajah lucu Anin yang semakin berisi itu.


"Dito, bawa kursi roda Anin turun. sepertinya dia tidak akan bangun". ucap Askara berdiri dari jongkoknya dan segera melepas jas yang dia kenakan kemudian menyerahkannya pada sekretaris Dito.


Sekretaris Dito meraih jas Askara kemudian keluar dari ruangan tersebut membawa kursi roda Anin.


Askara melepas kancing tangan kemejanya kemudian menggulungnya sampai ke siku. dengan gerakan hati-hati Askara mengangkat Anin yang tertidur nyenyak di atas sofa.


"Kau semakin berat yah sekarang". gumam Askara saat Anin sudah di angkatnya ala bridal style.


Tanpa sadar Anin mengalungkan kedua tangannya di leher Askara. wajahnya bahkan sudah di benamkan di dada bidang Askara. Anin merasa semakin nyaman.


Dengan langkah lebar, Askara berjalan santai keluar dari kantornya di iringi tatapan berbagai arti dari para karyawannya.


Askara hanya cuek, lagi pula sekarang pasti berita bahwa dirinya yang sudah menikah sudah tersebar luas, bukan hanya di dalam lingkaran karyawan perusahaannya, tapi juga pasti di kalangan rekan bisnisnya.


Sekretaris Dito yang melihat Askara menggendong Anin keluar dari perusahaan segera membukakan pintu mobil.


Dengan hati-hati, Askara meletakkan Anin di kursi belakang. kemudian Askara juga ikut masuk dengan menjadikan pahanya sebagai bantal untuk Anin. Mobil pun melaju meninggalkan perusahaan yang di dalamnya ramai dengan karyawan yang saling saut menyaut bergosip tentang pernikahan CEO mereka.


Kondisi jalanan kota Jakarta yang kebetulan tidak macet sore ini, membuat mobil yang membawa Askara sampai di mansion dengan cepat.

__ADS_1


Askara merebahkan tubuh Anin ke atas tempat tidur mereka, kemudian menarik selimut menutupi sampai perut Anin.


Askara menatap intens wajah Anin, baru kali ini dia meneliti dengan jelas wajah cantik Anin. mulai dari hidung bibir serta bulu mata Anin semuanya cantik di mata Askara.


Jantung Askara berdetak kencang, dia merasakan gejolak aneh ini semenjak hubungannya dengan Anin semakin membaik dan dekat.


Setiap harinya pun Askara selalu mencari arti perasaannya untuk Anin. dan sepertinya Askara memang mulai mencintai Anin dan takut untuk kehilangan Anin.


Satu ciuman mendarat di kening Anin, ciuman penuh kasih sayang. setelah itu, Askara memutuskan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


Pukul 7 malam, Anin baru bangun dari tidurnya. badannya terasa lebih enak dan segar. semenjak hamil, Anin memang jarang tidur siang maupun sore hari.


"Kenapa aku bisa di sini?" Anin menyadari bahwa dia sudah berada di kamarnya. seingatnya tadi dia tertidur di ruangan Askara menunggu suaminya itu selesai meeting.


Belum habis rasa penasarannya, pintu kamar terbuka, Askara masuk dengan membawa segelas susu di tangannya.


"Kau sudah bangun?" tanya Askara mendekat ke tempat tidur.


"Mas, seingatku tadi aku tertidur di kantor. lalu kenapa tiba-tiba aku sudah berada di kamar?". tanya Anin.


"Aku yang membawamu pulang, kau bahkan tidak ingin bangun dari tidurmu. andai aku tidak berbaik hati, mungkin sekarang kau masih tertidur di kantorku" canda Askara.


Anin membulatkan matanya. "Jadi, Mas yang membawaku pulang? tapi kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali".


"Tidurmu sangat nyenyak".


"Maaf sudah merepotkan Mas".


"Kau sama sekali tidak merepotkan. sekarang minum susu mu". Askara menyerahkan segelas susu yang di bawanya pada Anin.


Anin tersenyum lembut "Terimakasih Mas". dia banyak bersyukur sekarang, Askara sudah lebih perhatian.


"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu, setelah itu mandilah bersihkan dirimu tapi ingat jangan terlalu lama berendam".


"Iyya mas, terimakasih". Anin kembali menenggak susu nya hingga habis. Askara sudah berdiri dari tempat tidur dan menuju kamar mandi menyiapkan air untuk Anin.

__ADS_1


__ADS_2