
Dalila berdiri dari duduknya setelah hampir satu jam bertukar cerita dengan Askara.
"Biar aku yang mengantarmu pulang". Askara menawarkan diri.
"Tidak perlu, lagi pula katamu pekerjaanmu sedang banyak hari ini sampai-sampai menolak bertemu denganku tadi". tolak Dalila karena tidak ingin merepotkan.
"Ada Dito yang mengurus semuanya, kau lupa aku adalah boss di sini. bisa melakukan apapun atas perintahku".
Dalila memutar bola mata malas, Askara ternyata tidak banyak berubah.
"Tapi sungguh, kau tidak perlu mengantarku. aku bisa memesan taxi online".
"Memangnya kau bisa?".
Dalila terdiam sejenak, dia baru ingat jika baru kembali dari luar negeri, otomatis dia belum menginstal kembali aplikasi untuk memesan taxi online.
"Kau terima saja tawaranku, aku tidak suka penolakan". Askara sudah bersiap-siap dan mengambil kunci mobilnya yang lain yang selalu terparkir di basement kantor.
"Ayo". Askara menarik tangan Dalila.
Mau tidak mau Dalila mengikuti langkah Askara meninggalkan ruangan tersebut.
Mobil Askara melaju membelah jalanan kota Jakarta yang cukup padat siang ini.
"Kau tidak ingin singgah untuk membeli sesuatu? atau mungkin untuk sekedar makan siang?". tanya Askara pada Dalila yang duduk di sampingnya.
"Sepertinya tidak, aku ingin langsung pulang ke apartement". balas Dalila namun fokus pada layar ponselnya, dia tengah mengobrol dengan seseorang via chat.
"Kau sedang berbalas pesan dengan siapa? apa kekasihmu?". tanya Askara terselip nada tidak suka.
Dalila mendelik kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
"Aku tidak punya pacar". balas Dalila yang entah kenapa justru Askara merasa lega mendengarnya.
"Lalu?". tanya Askara penasaran.
"Ini soal pekerjaanku di sini, beberapa hari lagi aku akan ada pemotretan jadi aku bertukar kabar dengan fotografer yang akan memotretku nanti". jelas Dalila jujur.
"Oh.." Askara hanya membalas singkat.
__ADS_1
Dalila sendiri heran, kenapa sikap Askara begitu posesif layaknya seorang pacar. Dalila sempat berfikir apa Askara masih punya rasa terhadapnya.
Tidak .tidak ..Dalila buru-buru menepis fikirannya. Askara sekarang sudah punya istri dan bentuk kepedulian Askara saat ini adalah bentuk penjagaannya terhadap dirinya seperti janji Askara waktu mereka masih kecil dulu.
Sekitar setengah jam berkendara, mobil Askara memasuki basement apartement Dalila.
Dengan gerakan cepat Askara turun lebih dulu mengitari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Dalila.
"Thanks". ucap Dalila yang mendapat perlakuan manis dari Askara.
Keduanya menaiki lift menuju lantai di mana apartement Dalila berada.
Dalila berjalan lebih dulu, di ikuti Askara di belakangnya.
Tampak di depan pintu apartementnya, terdapat koper yang berukuran tidak terlalu besar, itu adalah kopernya yang di antar oleh sopir pribadinya atas perintahnya tadi.
Dalila mengeluarkan kartu akses dari dalam tansya untuk membuka pintu apartementnya.
"Biar aku saja". tahan Askara saat Dalila ingin menyeret masuk kopernya ke dalam apartement.
"Maaf merepotkan". ujar Dalila saat kopernya sudah berpindah tangan ke Askara.
"It's oke. kayak sama siapa aja". ujar Askara kemudian ikut masuk ke dalam apartement Dalila.
"Kenapa diam? ayo masuk". ujar Dalila saat Askara hanya berdiri mematung.
"I-iyya". balas Askara.
"Maaf yah, kondisinya masih berantakan. kau tau sendiri kan aku bahkan langsung menuju ke kantormu jadinya tidak sempat-sempat beres". ujar Dalila sembari menuangkan minuman dingin untuk Askara.
Meskipun apartementnya di tinggalkan cukup lama tapi Dalila mempekerjakan orang untuk membersihkan apartementnya setiap seminggu sekali. bahkan Askara sendiri punya akses keluar masuk. bagaimana tidak, apartement ini adalah pemberian Askara saat dia berulang tahun dulu.
Itulah mengapa Dalila tidak terlalu kaget saat Askara menceritakan semuanya, termasuk insiden yang terjadi beberapa bulan lalu semuanya juga terjadi di sini. karena Askara punya akses keluar masuk di apartementnya.
"Minumlah dulu". Dalila meletakkan dua minuman dingin di atas meja. di mana Askara sudah lebih dulu duduk di sofa.
Askara menenggak minuman buatan Dalila hingga tersisa setengahnya.
"Kau teringat perbuatan bejatmu di sini?". sindir Dalila yang melihat perubahan wajah Askara.
__ADS_1
Askara menatap tajam Dalila yang justru tidak membuat wanita itu merasa takut sama sekali.
"Sepertinya aku harus mengganti bedcover, atau mungkin merubah desain kamarku ini. ya ampun, ternyata kamarku sudah di pakai bercinta oleh pria di depanku ini". Dalila semakin gencar menyindir Askara yang hanya menatapnya tajam.
"Kau tidak perlu mendramatisir begitu, semuanya bahkan sudah di ganti saat itu juga, jadi berhenti menyindirku seperti itu". tajam Askara.
"Tapi tetap saja, kamar ini begitu berkesan bagimu. apalagi notabene kau melakukan di kamar seorang wanita yang bahkan belum pernah menikah".
Askara memijit pelipisnya "Sejak kapan berubah menjadi cerewet seperti ini".
"Sejak dulu dan itu hanya ku lakukan padamu". Dalila tersenyum.
Jantung Askara kembali berdetak kencang, merasakan getaran yang sudah bertahun-tahun tidak di rasakannya.
"Sekarang karena kau sudah di sini, bantu aku membersihkan apartementku, kebutulan orang suruhanku berhalangan hadir hari ini".
"Apa? aku tidak salah dengar?". tanya Askara tidak percaya Dalila menyuruhnya untuk membereskan apartementnya.
"Iyya.. hitung-hitung ini sebagai permintaan maafmu padaku karena su_...". belum selesai Dalila melanjutkan perkataannya, Askara lebih dulu menyanggah.
"Ya...ya..ya, Baiklah. kau tidak perlu melanjutkan perkataanmu lagi". Askara tau, Dalila pasti akan kembali menyudutkannya.
Dalila tersenyum penuh kemenangan, apalagi saat Askara sudah berdiri dari duduknya dan melepas jas yang melekat di tubuhnya. pria itu melonggarkan dasinya kemudian menggulung lengan kemejanya hingga siku.
Dalila bahkan sempat terpana melihat betapa tampannya Askara, bahkan dulu saat dia meninggalkan pria ini rasanya belum setampan sekarang.
"Hei, jangan menatapku seperti itu. aku tidak ingin kejadian beberapa bulan yang lalu kembali terulang di sini dengan wanita yang berbeda". celetuk Askara karena melihat Dalila menatapnya tanpa berkedip.
"Sialan, buang jauh-jauh fikiran kotormu itu". protes Dalila, meskipun di dalam hatinya berkata lain.
Keduanya kini terlihat sibuk membereskan apartement Dalila di sertai canda tawa di antara mereka.
Di mansion.
Hari sudah malam, Anin menyibak gorden jendela kamarnya untuk melihat keluar pagar mansion, biasanya jam segini Askara sudah pulang.
Anin menghubungi nomor Askara, namun sejak tadi sore nomor suaminya itu tidak aktif. kini dia berubah khawatir, apalagi siang tadi Askara sempat menghubunginya namun suaranya terdengar gelisah.
Setelah merasa lelah menghubungi Askara, tangan Anin bergerak mencari nomor sekretaris Dito untuk menanyakan keberadaan Askara.
__ADS_1
Namun belum sempat Anin menghubungi nomor sekretaris Dito, sebuah mobil terlihat memasuki mansion. Anin yakin itu adalah suaminya.
Dengan gerak cepat, Anin keluar dari kamar dan turun untuk menyambut kepulangan Askara.