Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 97


__ADS_3

Karena terus menerus di serang oleh Askara semalam, pagi ini Anin harus bangun telat. tepat di pukul 09 pagi, wanita itu baru bangun dari tempat tidur.


Askara sendiri sudah berangkat lebih dulu ke kantor, karena tidak tega membangunkan Anin yang terlihat kelelahan, jadilah Askara menitip pesan pada Mia untuk menyiapkan sarapan jika Anin bangun dan memberitahukan jika dirinya sudah berangkat ke kantor.


Anin menyeret kakinya masuk ke dalam kamar mandi bersama dengan selimut yang menggulung tubuhnya. ya, Anin masih polosan.


"Aku sudah melakukannya berkali-kali dengan Askara, tapi kenapa rasanya masih saja sakit". keluh Anin yang perlahan menenggelamkan tubuhnya ke dalam bathtub berisi air hangat.


Bagian intinya masih terasa perih setelah melakukan pergulatan panas bersama Askara. apalagi permainan Askara di atas ranjang patut di acungi jempol. Anin bahkan bisa di buat tak berdaya karenanya.


Anin memilih berendam sekitar 15 menit menikmati sensasi menenangkan dari wangi sabun cherry yang dia tuangkan ke dalam bathtub.


****


Anin menuruni anak tangga dengan tubuh yang lebih segar dan wangi tentunya. tapi perutnya merasa keroncongan meminta untuk di isi.


"Mia". panggil Anin mencari asisten pribadinya itu.


Mia yang mendengar namanya di panggil, datang dari arah belakang.


"Nona Anin memanggil saya?". tanya Mia berdiri tak jauh dari Anin.


"Siapa yang menyiapkan keperluan Mas Askara tadi pagi?". tanya Anin karena saat dirinya bangun Askara sudah tidak ada. iyyalah tidak ada, dia saja bangun jam 9 pagi, dan Askara tidak pernah berangkat ke kantor setelat itu.


"Sepertinya tuan Askara sendiri, nona. karena saat turun sarapan tadi, tuan Askara sudah rapi dan juga menitip pesan pada Nona Anin untuk segera sarapan saat bangun nanti". jelas Mia.


"Hemm.. oke, aku memang sudah sangat lapar. bisa tolong ambilkan sarapan untukku?".


"Baik, Nona. saya permisi ke dapur". pamit Mia mengambil sarapan untuk Anin.


Anin menyandarkan tubuhnya pada kepala kursi, dia sekarang sedang memikirkan apa yang akan dia perbuat selama di mansion. ponselnya sudah hancur karena di lempar oleh Askara semalam. sedangkan suaminya itu sudah berjanji untuk mengganti ponselnya, tapi nyatanya sampai pagi ini, Anin sama sekali tidak melihat ganti dari ponsel lamanya.


Tak lama, Mia datang membawa sarapan untuk Anin. karena sudah sangat lapar, wanita yang tengah hamil tersebut menyantap sarapan yang sebenarnya sudah tidak bisa lagi di sebut sebagai sarapan karena hari sudah menjelang siang. salahkan Askara yang membuatnya tak berdaya semalaman hingga bangun kesiangan.


Setelah perutnya kenyang terisi, Anin memikirkan kembali apa yang harus dia lakukan untuk mengusir rasa bosan berada di mansion seluas ini.


"Lebih baik aku membuat cake saja, kebetulan kemarin saat di dapur aku lihat bahan-bahannya lengkap". Gumam Anin, tercetus ide di kepalanya untuk membuat kue, menghabiskan waktu di dapur pasti akan terasa lebih menyenangkan. apalagi tak sengaja kemarin dia melihat bahan-bahan untuk membuat cake tersedia lengkap di dapur.


Hampir 2 tahun dirinya bekerja di toko kue Ambar, membuat Anin jadi tau banyak resep untuk membuat cake, dia juga sudah pernah mencoba membuatnya sendiri tanpa bantuan kak Doni.


Anin segera bangkit dari duduknya dan langsung menuju dapur.


Satu per satu bahan untuk membuat Cake, Anin keluarkan dari lemari pendingin. sebelumnya, Anin sudah memakai apron untuk melindungi pakaiannya agar tidak kotor jika terkena terigu atau yang lainnya.


"Nona Anin sedang apa?". tanya Mia yang baru saja kembali dari taman belakang. wanita itu mengeryit heran saat melihat nona mudanya berada di dapur dan terlihat begitu antusias.


"Kebetulan kau ada di sini, aku sedang ingin membuat cake, bisa kau bantu aku?."


"Tentu saja Nona, dengan senang hati".


"Kalau begitu cuci tanganmu terlebih dahulu, setelah itu pakai apronmu dan bantu aku". titah Anin membuat Mia segera menuju ke westafel untuk mencuci tangannya.


Setelah semuanya siap, Anin di bantu oleh Mia mulai menimbang satu per satu bahan untuk membuat cake agar rasa dan takarannya pas. Apalagi dia tau, suaminya bukan penyuka makanan-makanan yang terlalu manis.


"Kira-kira Mas Askara suka nggak yah nanti sama cake bikinan aku?". tanya Anin di sela-sela aktivitasnya mencampurkan semua bahan ke dalam wadah mixer. dia sedang meminta pendapat Mia.


"Sudah pasti tuan Askara akan suka, Nona. apalagi di buatnya pakai cinta". gurau Mia.


Anin terkekeh mendengar jawaban Mia. "Kau ini bisa saja, Mia. tapi seperti perkataanmu tadi, aku akan membuat cake ini dengan penuh cinta untuk Mas Askara agar rasanya enak". Anin begitu bersemangat.


"Iyya Nona". balas Mia.


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam, Anin akhirnya selesai dengan hasil kue buatannya yang tak kalah cantik dengan yang biasa dia jual di toko kue Ambar.


Ternyata menghabiskan waktu di dapur berhasil mengusir rasa bosannya. Anin jadi berfikir, kenapa tidak dari kemarin-kemarin dia melakukan hal ini. membuat kue setiap hari di temani oleh Mia, selain bisa memangkas rasa bosannya, Anin juga sebenarnya bisa membuka usaha toko kue online dengan memasangnya di media sosial, tapi untuk opsi kedua itu rasanya pasti sulit untuk di wujudkan karena Askara sudah jelas akan melarangnya dan berkata dengan nada dingin andalannya 'apa uang bulanan dariku belum juga cukup?'. memikirkan akan hal itu membuat Anin mengurungkan niatnya untuk membuka toko kue online.

__ADS_1


Anin melepas apron yang melekat di tubuhnya bersamaan dengan Bi Ratih yang datang ke dapur dengan langkah tergopoh-gopoh.


"Ada apa, Bi?, kenapa kayak di kejar gitu?". tanya Anin


"Di depan ada Nona Dalila. katanya mau ketemu Non Anin". ujar Bi Ratih.


Anin mengerutkan keningnya mendengar Dalila datang ke mansion dan untuk apa wanita itu datang mencarinya.


"Mia, tolong kau bereskan sisanya, yah". titah Anin sebelum meninggalkan dapur untuk menemui Dalila.


"Baik, Nona".


Anin beralih pada bi Ratih. "Bi, tolong siapkan minum untuk Dalila dan bawakan juga kue yang baru saya buat".


"Iyya Non".


Anin kemudian meninggalkan dapur menuju ruang tengah di mana Dalila berada.


Benar saja, Anin melihat seorang wanita duduk membelakanginya di sofa ruang tengah, dan itu adalah Dalila.


Dalila tersenyum melihat kehadiran Anin.


"Hemm..Kak Dalila mencariku? maaf aku sedang berada di dapur tadi, aku sedang membuat kue di belakang". ujar Anin saat bokongnya mendarat di sofa yang posisinya berseberangan dengan Dalila. Anin sengaja memanggil Dalila dengan sebutan kak karena menghormati wanita itu yang lebih tua beberapa tahun darinya.


Dalila memperhatikan penampilan Anin yang memang terlihat sedikit agak berantakan, tapi ada satu yang mengganggu penglihatannya. yaitu bekas kissmark di leher putih Anin. bekas kemerahan seperti bekas ******* itu semakin terlihat jelas karena Anin mengikat rambutnya.


Melihat hal itu, hati Dalila tiba-tiba merasa sedikit sesak karena bisa di bayangkan bekas kissmark di leher Anin adalah hasil perbuatan Askara, membayangkannya saja membuat Dalila langsung menggelengkan kepala mengusir fikirannya tentang seperti apa bayangan pergulatan panas mereka semalam.


"Kau bisa membuat kue?". tanya Dalila antusias menutupi rasa sakit di hatinya yang tiba-tiba muncul saat melihat bekas kissmark di leher Anin.


Anin mengangguk. "Sebelumnya aku pernah bekerja di toko kue". balas Anin.


"Wah.. aku tidak tau kalau kau pernah bekerja di toko kue, pasti kue buatanmu rasanya enak". terang Dalila.


"Benarkah? aku jadi tidak sabar ingin mencobanya. dari dulu aku selalu ingin belajar memasak ataupun membuat kue, tapi Askara selalu melarangku ke dapur". ungkap Dalila yang membuat wajah Anin berubah datar. "Apa dia tidak melakukan hal yang sama padamu?, apalagi saat ini kau sedang hamil?".


Anin tersenyum mendengar pertanyaan Dalila. "Tentu Mas Askara melarangku, Kak Dalila saja yang notabene adalah sahabatnya tapi mas Askara melarang keras, apa lagi aku istrinya yang sedang mengandung. tapi aku bukan tipe wanita yang terlalu suka di perlakukan manja. meskipun mas Askara sudah melarangku tapi tetap saja aku akan sesekali turun langsung ke dapur tapi saat pria itu sedang berada di kantor tentunya". balas Anin membuat Dalila tersenyum kikuk karena merasa sedikit tersindir dengan perkataan Anin.


Dalila memasang senyum manisnya walau merasa sedikit tersentil dengan ucapan Anin. "Oh Iyya, aku sampai lupa maksudku datang kemari. terus terang aku ingin meminta maaf padamu, Anin".


Satu alis Anin terangkat. "Minta maaf soal?". tanyanya bingung.


"Soal kejadian di mall kemarin, aku datang ke sini karena takut terjadi kesalahpahaman di antara kau dan Askara. aku merasa tidak enak saja, karena posisinya waktu itu aku benar-benar tidak tau harus mengajak siapa, dan cuma Askara satu-satunya orang dekatku di sini". jelas Dalila


"Soal itu kak Dalila tidak perlu khawatir, aku dan mas Askara baik-baik saja. kita sama sekali tidak bertengkar atau yang lainnya. aku akui sih emosi ku memang kadang naik turun, tapi itu karena hormon kehamilanku saja dan biasanya akan cepat membaik karena mas Askara pandai melihat suasana dan mengembalikan mood ku". jelas Anin yang lagi-lagi membuat hati Dalila merasa tidak suka saat Anin menceritakan bagaimana perlakuan Askara padanya.


"Baguslah kalau begitu, tadinya aku sudah sangat khawatir". ujar Dalila tersenyum.


Di sela-sela obrolan mereka, bi Ratih datang membawa minuman serta kue yang sudah Anin buat tadi.


"Permisi, ini minumnya non Dalila". ujar Bi Ratih meletakkan secangkir minuman dan juga kue buatan Anin ke atas meja.


"Terimakasih, bi". ujar Dalila.


"Sama-sama non".


Bi Ratih kemudian pamit kembali ke dapur.


"Itu adalah kue buatanku, kak Dalila bisa coba". ujar Anin melirik kue di atas meja yang baru saja di sajikan oleh Bi Ratih.


"Suatu kehormatan bisa langsung mencicipi kue ini di depan chef-nya langsung". canda Dalila membuat Anin terkekeh kecil. "Aku coba yah".


"Hemm... silahkan".


Dalila mengambil satu potong kue dan langsung melahapnya. Anin terlihat harap-harap cemas, pasalnya dia belum sempat mencicipinya sama sekali karena kedatangan Dalila.

__ADS_1


"Bagaimana?". tanya Anin saat Dalila baru saja menghentikan kunyahannya.


"Rasanya enak, manisnya pas Anin. kue ini pasti akan di sukai oleh Askara karena dia tidak suka yang makanan yang terlalu manis. kue ini tipe Askara sekali". ujar Dalila kembali mencoba potongan kedua kue buatan Anin.


Anin tentu senang mendengarnya, karena itu artinya dia berhasil dan sudah tidak sabar menunggu Askara pulang dari kantor dan menyuruh suaminya untuk mencoba kue buatannya.


"Uhuuk..uhukk .uhuk". Dalila tiba-tiba terbatuk.


"Kak Dalila minum dulu". ujar Anin membantu Dalila minum. wajah wanita itu terlihat memerah.


"Terimakasih, Nin". balas Dalila setelah meletakkan cangkir minumannya.


Namun, perasaan aneh tiba-tiba meliputi Dalila. tenggorokannya terasa tercekat membuat dadanya terasa sesak seolah oksigen tidak terpasok dengan sempurna di tubuhnya.


Dalila memegangi dadanya karena rasa sesak semakin menghimpit dadanya.


Anin menjadi panik. "Kak Dalila.. kau kenapa?". tanyanya gusar.


"D-dada..ku ra..saa..nya se..sak, Nin". Dalila dengan susah payah berbicara.


Anin semakin panik lalu berteriak memanggil bi Ratih dan juga Mia.


Bi Ratih dan Mia datang dari arah dapur dengan wajah khawatir karena mendengar teriakan Anin.


"Ada apa, Non?". tanya bi Ratih khawatir.


"Bi.. Dalila bi. tiba-tiba dia sesak". ujar Anin memperlihatkan kondisi Dalila.


Bi Ratih menutup mulutnya terkejut melihat Dalila terlihat menahan sesak dengan wajah yang sudah merah padam.


"Ya ampun, Non Dalila. kenapa bisa begini?". bi Ratih tak kalah paniknya lalu mendekat pada Dalila.


"Mia, suruh pak Hilman menyiapkan mobil. kita harus segera membawa Dalila ke rumah sakit". titah Anin dengan wajah pucat pasihnya karena melihat kondisi Dalila.


"Baik Nona". Mia segera berlari keluar mansion.


Sekretaris Dito yang di perintahkan oleh Askara untuk membawakan ponsel baru sebagai ganti ponsel Anin yang dia rusak semalam, tak sengaja


berpapasan dengan Mia yang terlihat buru-buru dengan wajah paniknya.


"Mia, kau kenapa?, kenapa wajahmu panik begitu?" tanya sekretaris Dito membuat langkah Mia terhenti.


"Non Dalila tuan, non Dalila tiba-tiba sesak". ujar Mia dengan wajah paniknya.


"Dalila ada di sini? lalu di mana dia sekarang".


"Ada diruang tengah, tuan".


Sekretaris Dito langsung berlari menuju ruang tengah di susul oleh Mia di belakangnya.


Saat sampai di ruang tengah, sekretaris Dito melihat Anin dan juga bi Ratih yang terus memanggil-manggil nama Dalila. wajah panik mereka tidak dapat di sembunyikan.


"Apa yang terjadi dengan Non Dalila?". tanya sekretaris Dito langsung.


Anin langsung menghampiri sekretaris Dito.


"Tolong bawa Dalila ke rumah sakit, sekretaris Dito. dia tadi tiba-tiba merasa sesak, aku sendiri tidak tau kenapa Dalila bisa seperti ini". jelas Anin dengan air mata yang sudah menggenang di matanya.


Tanpa banyak tanya lagi, Sekretaris Dito meletakkan paperbag yang dia bawa kemudian langsung mengangkat tubuh Dalila keluar dari mansion.


"Mia, kau ikut aku. dan Bi Ratih tolong jaga mansion sekalian kabari Mas Askara". titah Anin.


"Iyya, Non. jangan lupa kabari bibi yah". bi Ratih tak kalah khawatirnya melihat kondisi Dalila.


Anin langsung menarik tangan Mia, menyusul sekretaris Dito yang sudah lebih dulu membawa Dalila keluar.

__ADS_1


__ADS_2