Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 151


__ADS_3

"Thanks ya Ken udah mau di repotin sampai nganter pulang ke rumah segala". ujar Anin setelah turun dari mobil Ken.


"Santai, Nin. aku ngga ngerasa di repotin sama sekali yang ada aku malah senang".


"Mau mampir ngga?". tawar Anin.


"Memangnya boleh?".


"Boleh, kan ada ibu juga di dalam". ujar Anin tidak masalah, beda halnya jika dia tinggal sendiri, dia tidak akan mungkin berani menawari pria lain untuk bertamu di rumahnya. bagaimanapun dia masih istri sah Askara.


Anin hanya ingin berterimakasih pada Ken karena pria itu benar-benar mentraktirnya makan dan mengantarnya pulang. di perjalanan pulang tadi pun Anin sempat memberitahu Ken bahwa dia tidak tinggal di mansion Askara lagi. Ken pun mengerti dengan keputusan Anin yang mungkin merasa sakit hati atas perlakuan Askara selama ini. dan soal kelanjutan hubungan Anin dan Askara, Ken tidak ingin lancang menanyakan hal itu.


"Assalamualaikum Bu". ujar Anin memasuki rumahnya.


"Waalaikumsalam , sudah pulang nak?". jawab ibu Risa berjalan dari arah dalam.


"Iyya bu, di anter sama temen". tunjuk Anin pada Ken


"Ini...?". Bu Risa memperhatikan wajah Ken, dia merasa familiar dengan wajah tampan pria di depannya saat ini.


"Ini Ken, Bu. adiknya dokter Ziva, dia juga pernah jenguk Anin di rumah sakit". ujar Anin mengingatkan ibunya.


"Ah Iyya, maaf ya nak Ken ibu sampai lupa, maklum sudah berumur". seru bu Risa setelah mengingat wajah Ken.


Ken tersenyum simpul, "Tidak papa Bu".

__ADS_1


"Silahkan duduk nak, Ken".


"Iyya bu".


"Nak Ken mau minum apa? teh, kopi, atau minuman dingin?". tanya Bu Risa.


"Teh aja Bu, makasih sebelumnya". ujar Ken tersenyum manis.


"Ya sudah kalau begitu ibu tinggal ke dalam sebentar ya". Bu Risa pun meninggalkan Ken dan Anin berdua di ruang tamu.


Ken mengamati tempat tinggal baru Anin yang merupakan rumah dari orang tua Vivi, itulah yang dia ketahui dari Anin saat mengobrol di perjalanan pulang tadi.


"Kau nyaman tinggal di sini?". tanya Ken setelah matanya puas menyapu setiap sudut rumah yang di tinggali Anin saat ini.


"Harus di buat nyaman sih". balas Anin tersenyum, karena selain rumahnya di Bandung, mansion adalah tempat tinggal yang nyaman untuknya sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari sana. dan kini dia harus membiasakan diri di tempat baru lagi.


"Sebelumnya aku dan ibu juga sudah terbiasa tinggal berdua setelah ayah meninggal, bahkan saat aku memutuskan untuk kuliah di Jakarta, ibu tinggal sendirian di bandung".


"Kalian dua wanita yang hebat". puji Ken tersenyum, saat itu juga bu Risa datang dari arah dapur dengan membawa nampan berisi minuman .


"Silahkan nak Ken di minum, anggap saja seperti rumah sendiri". Bu Risa mempersilahkan Ken untuk menikmati minumannya setelah dua cangkir teh dia letakkan di atas meja.


"Terimakasih Bu, maaf merepotkan".


"Tidak sama sekali nak, Ken. tapi maaf ya ibu harus permisi ke belakang sebentar soalnya masih banyak pekerjaan yang harus ibu selesaikan".

__ADS_1


"Silahkan Bu, terimakasih atas minumnya". ujar Ken yang di balas senyum di sertai anggukan dari Bu Risa.


Selepas kepergian bu Risa, Ken dan Anin kembali melanjutkan obrolan mereka yang sempat terhenti tadi.


"Lalu bagaimana dengan Jendra?, apa setelah Jendra keluar dari rumah sakit kalian masih akan tetap tinggal di sini?". tanya Ken karena rumah yang Anin tempati saat ini jauh berbeda dengan mansion mewah yang selama ini dia tinggali bersama Askara.


"Untuk sementara waktu aku dan Jendra akan tetap tinggal di sini sampai aku mendapatkan rumah untuk kita tempati nanti. meskipun orang tua Vivi membebaskan untuk tinggal selama yang aku mau, tapi tetap saja aku merasa tidak enak". terang Anin yang tidak ingin merepotkan orang-orang di sekitarnya.


"Tapi kenapa Anin?, apa kau benar-benar berniat untuk tidak kembali lagi ke mansion Askara?".


Anin terdiam sebentar, Ken pun menyeruput minumannya sembari menunggu jawaban Anin.


"Aku dan Askara akan bercerai". terang Anin dengan keputusannya.


Pernyataan Anin tentu sukses membuat Ken tersedak minumannya, pria itu terbatuk beberapa kali sambil tangannya memukul pelan dadanya.


"Kau baik-baik saja?". tanya Anin panik.


"It's oke, aku ngga papa". Ken menenangkan sejenak jantungnya yang berdebar. " tapi soal perceraian yang baru saja kau katakan, apa kau benar-benar serius?". Ken syok karena tidak menyangka Anin akan mengambil keputusan berani seperti itu.


"Aku tidak main-main Ken, selama ini aku sudah bertahan semampu yang aku bisa, tapi nyatanya Askara menyakiti lebih dari kemampuan aku bertahan selama ini. lebih baik aku mundur dan memulai hidup baru dengan Jendra". Anin terdengar begitu mantap dengan keputusannya.


"Tapi Anin, membesarkan anak seorang diri itu susah. apa kau benar-benar sudah yakin?". tanya Ken memastikan. entah dia harus merasa senang atau sedih mendengar berita ini, tapi dalam lubuk hati Ken yang terdalam, dia juga manusia biasa yang senang saat mendapatkan peluang besar dalam hidupnya.


"Tidak ada yang bisa mengganggu keputusan aku, Ken". pungkas Anin.

__ADS_1


"Aku doakan yang terbaik untukmu, termasuk keputusanmu itu". Ken menyemangati Anin. meskipun rasa senang tidak dapat dia pungkiri, tapi dia tidak ingin terburu-buru apalagi menunjukkan perasaannya kembali pada Anin. karena dia tau, luka yang di torehkan oleh Askara pada wanita itu begitu dalam hingga mungkin butuh perjuangan cukup keras untuk bisa meluluhkan hati Anin kembali.


__ADS_2