Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 25


__ADS_3

Anin keluar dari ruang ganti mengenakan piyama berwarna merah, sangat kontras dengan kulit putihnya.


Dia melihat Askara masih duduk di tempatnya tadi, kali ini dia sedang fokus dengan laptop di pangkuannya.


Syukurlah, setidaknya ia tidak harus menjadi pusat perhatian Askara lagi.


Anin berjalan santai untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas.


Mata Askara mencuri pandang memperhatikan Anin dengan piyama merah menyala, meskipun tertutup tapi tetap saja ada dalam diri askara yang bergejolak aneh, apalagi tubuh Anin terlihat makin berisi semenjak hamil.


Sial, juniornya memberontak di bawah sana. dia jadi tidak fokus kerja.


Tok..tok..tok.


Suara pintu kamar di ketuk.


Anin bergegas untuk membuka, sedangkan Askara pura-pura kembali fokus pada laptopnya.


Pintu kamar terbuka menampilkan Bi Ratih.


"Ada apa Bi?" tanya Anin melihat kehadiran Bi Ratih.


"Waktunya makan malam non, nyonya besar sudah menunggu tuan dan juga non Anin di bawah" ujar Bi Ratih yang mendapat perintah untuk memanggil Askara dan Anin turun makan malam.


"Sebentar lagi saya turun bi, terimakasih yah" ucap Anin, ia akan memberitahu Askara terlebih dahulu.


"Kalau begitu bibi permisi dulu non" pamit bi Ratih.


Pintu kamar kembali tertutup.


Anin berjalan menghampiri Askara yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Mami nyuruh kita turun buat makan malam" ujar Anin tapi Askara masih saja sibuk.


"Kau duluan saja" jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari laptopnya.


Karena kebetulan perutnya sudah meronta meminta untuk di isi Anin memilih segera turun lebih dulu.


Anin berjalan menuruni anak tangga dengan langkah pelan agar tidak membuat Mami Sandra khawatir lagi.


"Loh, Askaranya mana Nin?" tanya Sandra saat melihat Anin turun seorang diri.


"Nanti nyusul kok Mi, lagi nyelsain kerjaan" jawab Anin mengambil duduk di seberang sandra.


Tak lama Askara juga ikut turun. ia segera megambil posisi duduk di tengah, menandakan ia sebagai kepala keluarga.


"Kita mulai makan malamnya yah, Anin ambilkan makan untuk Askara" ucap Sandra membuat Anin tercekat. jika di ingat-ingat ini adalah moment pertama kali dirinya makan satu meja dengan Askara.


Namun Anin harus menuruti permintaan Sandra karena ini juga merupakan kewajibannya. Anin melirik sekilas wajah Askara yang tampak tenang dan tidak ada penolakan.


Dengan ragu Anin meraih piring kosong di depan Askara. mulai menyendokkan nasi ke atas piring tersebut.


"Pak Askara mau lauknya yang mana?" tanya Anin karena tidak tau sama sekali makanan kesukaan Askara.


"Terserah" jawabnya singkat.


Huufft.. Askara ini seperti wanita kebanyakan jika di tanya mau makan apa jawabannya terserah.


Akhirnya Anin memilih cumi dan juga ayam goreng untuk Askara.


Sandra tersenyum, semoga hubungan Anin dan juga Askara semakin baik ke depannya.


"Anin kamu makan yang banyak yah sayang, ibu hamil harus banyak komsumsi makanan dengan protein tinggi" jelas Sandra.


"Iyya Mi" balas Anin mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


Ketiganya pun makan dalam diam, hanya Sandra yang sesekali buka suara.


"Oh Iyya, Mami sampai lupa. besok kalian berdua ikut mami ke rumah sakit yah" Sandra kembali buka suara.


Alis Askara berkerut "Rumah sakit, siapa yang sakit?" tanyanya bingung karena setaunya tidak ada anggota keluarga mereka yang masuk rumah sakit.

__ADS_1


Sedangkan Anin hanya mendengarkan saja.


"Nggak ada yang sakit, kalian lupa yah mami bilang apa waktu di apartement? Mami mau bawa Anin periksa kandungannya" ujar Sandra mengingatkan keduanya.


"Kenapa aku harus ikut, lagian besok aku harus masuk kerja" seloroh Askara.


Anin merasa sedikit kecewa saat Askara menolak untuk menemaninya memeriksakan kandungan.


Sandra memukul keras lengan Askara membuat putranya itu mengaduh kesakitan.


"Awww...sakit Mi" kesal Askara mengelus lengannya yang baru saja di pukul.


Sandra menatap jengkel Askara "Kau ini bicara apa hah?, kau itu Daddy nya memangnya kau tidak mau melihat seperti apa perkembangan anakmu, kau tidak mau mendengar detak jantungnya untuk yang pertama kalinya" Sungut Sandra.


"Semua orang tua menantikan moment itu, jangan sampai kau menyesal nantinya" Sandra menyumpahi Askara.


Anin menatap haru bagaimana Sandra begitu menyayanginya dan anaknya yang bahkan belum lahir.


"Lagi pula kau mau masuk kerja dengan wajah babak belur mu itu?, kau pasti akan di cap negatif oleh para karyawanmu melihat boss mereka ternyata tukang berantem" lanjut Sandra memanas-manasi Askara, ia paling tidak suka mendapatkan image buruk oleh para karyawan maupun kolega-kolega bisnisnya.


Askara nampak berfikir, benar juga kata Maminya.


"Ya sudah aku ikut" pasrahnya.


"Bagaimana Anin, kau bisa kan?" kini Sandra beralih pada Anin.


Anin tampak berfikir sejenak, lagian mulai besok Iyya juga akan mulai bekerja part time seperti saat dia masih kuliah, semua di lakukannya agar tidak ada yang curiga bahwa ia sebenarnya mengambil cuti. itu semua karena kecurigaan Doni kemarin.


"Anin bisa kok Mi, lagian besok juga Anin kerjanya udah part time" jawabnya menyetujui.


Sandra tersenyum penuh arti mendengar jawaban Anin.


"Duh.. jadi nggak sabar deh mau lihat cucu Mami" girang Sandra yang memang sudah lama menantikan seorang anak dari Askara.


Anin tersenyum bahagia melihat antusias Sandra, berbeda dengan Askara yang memilih diam dan menghabiskan makanannya.


Setelah acara makan malam selesai Anin memutuskan untuk langsung naik ke kamar, ingin segera tidur.


Setelah lama menimbang Anin akhirnya memutuskan untuk tidur di sofa panjang yang tidak jauh dari ranjang.


Mengambil selimut yang tidak terlalu tebal di dalam lemari dan juga satu buah bantal, ini sudah cukup.


Anin bersiap untuk tidur tapi kehadiran Askara membuatnya menunda tidurnya.


"Aku akan tidur di sini, jadi pak Askara bisa tidur di atas ranjang" celetuk Anin padahal Askara sama sekali tidak bertanya.


Askara menatap Anin "Baguslah, kau tau di mana tempatmu seharusnya" ucapnya kemudian berlalu menaiki tempat tidurnya.


Anin hanya bisa mengelus dada, harus siap menerima kata-kata Askara yang selalu saja berhasil membuat sakit hatinya.


Matanya yang tadinya mengantuk mendadak menjadi segar alhasil dia mengambil ponselnya dan membuka sosial medianya yang akhir-akhir ini jarang di buka.


Anin melihat Vivi baru saja membuat insta story di Instagramnya mengenai penayangan drakor terbaru. tangan Anin dengan lincah menari di atas keyboard kemudian mengomentari story Vivi.


Keduanya akhirnya tanpa sadar saling berbalas chat hingga tengah malam, sesekali Anin tertawa dengan suara pelan membaca chat Vivi, takut tidur Askara terganggu.


Vivi mengakhiri obrolan mereka terlebih dahulu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sedangkan Anin sama sekali belum ada tanda-tanda akan tertidur.


Dia kembali melanjutkan menscroll beranda Instagramnya sekedar melihat postingan para artis-artis ibu kota ataupun oppa-oppa koreanya.


Kruk..kruk..kruk.


Tiba-tiba perutnya berbunyi.


Anin meringis, sekarang dia mudah merasa lapar saat tengah malam. Tapi kali ini entah kenapa dia sangat ingin makan mie ayam dekat kampusnya.


Baru membayangkannya saja sudah membuatnya ngiler.


Anin melihat jam di ponselnya yang suda menunjukkan pukul 11 malam.


"Kira-kira masih buka nggak yah?" tanyanya, baru kali ini dia benar-benar menginginkan makan mie ayam langganannya dengan Vivi.

__ADS_1


Anin mendudukkan tubuhnya, melihat Askara yang sepertinya sudah terlelap , terdengar dari deru nafasnya yang beraturan. ia takut membangunkan Askara.


Dengan berbagai pertimbangan, Anin berdiri dari duduknya, membuka lemari pakaian untuk mengambil cardigan dan juga tak lupa mengambil dompetnya. ia akan berangkat seorang diri menggunakan taxi online.


Anin berjalan dengan pelan takut ketahuan oleh Askara. dia sudah berhasil sampai di pintu, Anin perlahan memutar knop pintu agar tidak menghasilkan suara, namun...


"Mau kemana kau malam-malam begini" suara berat Askara mengagetkan Anin.


Tubuhnya menegang. ia memberanikan diri untuk berbalik.


Dan ternyata Askara sudah berdiri di belakangnya dengan kedua tangan bersedekap dan menatapnya intens.


Anin meneguk salivanya dengan susah payah "A...ku..aku mau keluar mencari makan" jawab Anin yang tenggorokannya terasa kering seketika karena menahan rasa takutnya.


"Kau tidak lihat ini sudah jam berapa?" tanya Askara tajam, ia juga tidak habis fikir bukannya tadi Anin sudah makan malam? dia saja masih merasa kenyang.


"Iyya aku tau ini sudah tengah malam, tapi entah kenapa tiba-tiba aku ingin sekali makan mie ayam dekat kampusku, mungkin ini bawaan bayi". ungkap Anin.


Askara membulatkan keduanya matanya, makan mie ayam tengah malam begini, yang benar saja.


"Boleh yah aku pergi?" pinta Anin dengan wajah memelas.


"Kau tidak boleh pergi" larang Askara.


Bahu Anin merosot, matanya berkaca-kaca karena sepertinya akan gagal menyantap mie ayam favoritnya malam ini.


Askara memperhatikan raut wajah kecewa Anin, dia seperti merasa bersalah.


Anin berjalan gontai hendak akan kembali tidur di sofa namun langkahnya terhenti "Tunggu" tahan Askara.


"Apa lagi?" Anin menatap kesal Askara.


"Kau berani menatapku seperti itu?" hardik Askara, tubuhnya mendekat membuat Anin beringsut mundur.


"Aku minta maaf" cicitnya.


"Tadinya aku ingin berbaik hati untuk mengantarmu tapi karena kau sudah membuatku kesal aku tarik kembali keinginanku itu" ungkap Askara yang tadinya ingin mengantar Anin karena merasa kasihan, lagi pula sejak tadi dia memang tidak tidur sama sekali, bahkan dia mendengar jelas Anin tertawa cekikikan menatap ponselnya.


Anin yang mendengar perkataan Askara menatap tak percaya. dia merutuki kebodohannya, padahal jika saja dia lebih bersabar sedikit pasti sekarang di menyantap mie ayam favoritnya. ia menyesal sekarang.


"Aku minta maaf, aku tadi terbawa emosi" Anin merapatkan kedua tangannya memohon agar Askara bisa berubah fikiran.


Askara mengalihkan wajahnya"Tidak semudah itu" ucapnya.


"Lakukan sesuatu agar aku bisa berubah fikiran kembali" lanjut Askara membuat kening Anin berkerut.


Anin tampak berfikir, ia harus melakukan apa agar Askara bisa berubah fikiran.


"Ayo cepat kenapa lama sekali" desak Askara.


Anin menggigit ujung jarinya, takut apa yang akan di lakukannya ini justru akan membuat Askara marah, tapi hanya cara ini yang ada di kepalanya saat ini.


Anin mendekat pada Askara yang memalingkan wajahnya karena menunggu apa yang akan ia lakukan.


Tubuh Anin berjinjit, sedetik kemudian...


cup..


Anin mendaratkan ciuman di pipi Askara setelah gadis bertubuh mungil itu mengumpulkan banyak keberanian.


Lutut Anin gemetar, ia kemudian menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang merasa sangat malu.


"Aku tunggu pak Askara di bawah" serunya buru-buru meninggalkan kamar, wajahnya sekarang sudah seperti kepiting rebus saking malunya.


Sedangkan tubuh Askara masih berdiri mencerna apa yang baru saja Anin lakukan. ia menyentuh pipinya yang baru saja di cium oleh Anin.


Apa? gadis itu baru saja menciumnya? Berani sekali dia, Askara memegang dadanya yang bergemuruh seakan ingin meloncat. ada apa dengan jantungnya, kenapa berdetak tidak karuan.


Askara menyadari jika Anin sudah tidak berada di dalam kamar.


"Awas kau Embun Anindira" kesal Askara kemudian menyambar asal kunci mobilnya, menyusul Anin yang sudah lebih dulu kabur ke bawah.

__ADS_1


__ADS_2