Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 60


__ADS_3

Askara mengangkat tubuh Anin ala bridal style keluar dari toilet ruang rawat setelah membantu Anin buang air kecil.


Jantung Anin terus berdetak kencang apalagi saat di dalam toilet tadi, Askara sempat membantunya untuk buang air kecil karena gerakannya yang terbatas akibat selang infus yang menancap di tangannya.


Askara membawa tubuh Anin ke atas tempat tidurnya kembali dengan gerakan hati-hati seolah Anin adalah barang yang mudah pecah.


"Terimakasih mas" ujar Anin dengan wajah masih menahan malu karena teringat di dalam toilet tadi.


"Sekarang kau makan, aku dengar dari Vivi kau bahkan belum sempat makan siang tadi" ujar Askara.


Anin mengangguk karena memang dirinya merasa sangat lapar.


Askara meraih nampan berisi semangkok bubur, potongan buah-buahan, jus buah, serta segelas air putih yang di bawa oleh perawat 15 menit yang lalu.


"Aaaaaa' .." ujar Askara menyuapkan satu sendok bubur ke dalam mulut Anin.


Anin menyambut suapan Askara.


"Gimana? enak?" tanya Askara saat melihat Anin perlahan mengunyah makanannya.


"Lumayan" ujar Anin, setidaknya makanan rumah sakit tidak terlalu buruk seperti yang dia fikirkan.


"Kau harus habiskan semuanya, setelah itu minum obat yang sudah di resepkan oleh dokter Ziva" ucap Askara.


"Iyya, mas" balas Anin, dia termasuk pasien yang tidak banyak protes.


Dengan telaten, Askara menyuapkan sesendok demi sesendok makanan ke dalam mulut Anin hingga akhirnya tandas tak tersisa.


Askara tersenyum saat melihat Anin menghabiskan makanannya tanpa sisa.


"Kau tidak seperti orang yang sedang sakit" sindir Askara melihat mangkok di tangannya sudah kosong.


"Mas..." ujar Anin menahan malu.


Askara terkekeh melihat wajah malu-malu Anin.


"Sekarang minum obatmu" Askara membuka satu per satu obat Anin kemudian menyerahkannya pada gadis itu.


Anin memasukkan sekaligus obat tersebut ke dalam mulutnya kemudian menenggak air di tangannya.


Askara membereskan sisa-sisa makanan Anin, lalu pria itu menarik kursi untuk lebih dekat dengan Anin. Ada hal yang harus dia bicarakan.


"Hemm.. ada hal yang perlu aku sampaikan" ujar Askara dengan wajah seriusnya.


"Tentang?" tanya Anin was-was melihat wajah serius Askara.


"Keadaanmu" singkat Askara.


"Aku kenapa mas?, bukannya kata dokter Ziva aku baik-baik saja, bahkan anak kita juga"


Askara mengangguk "Memang benar, tapi ini mengenai kondisimu ke depannya".


"Katakan mas, jangan buat aku khawatir".


"Mulai sekarang kau tidak bisa beraktivitas berat, ini demi keselamatan janinmu. untung saja Vivi membawamu tepat waktu, jika terlambat sedikit saja, dokter Ziva mengatakan janinmu tidak bisa di selamatkan" ungkap Askara.


Anin membekap mulutnya tak percaya mendengar penjelasan Askara.


Askara meraih kedua tangan Anin.


"Anin maafkan aku" ujar Askara tulus.


Anin menatap dalam mata Askara yang menyiratkan rasa penyesalan.


"Minta maaf untuk apa mas?" tanya Anin.


"Maaf untuk perlakuanku sejak di resort kemarin, aku benar-benar menyesal. aku sudah berlaku kasar, aku bukanlah suami yang baik seperti janjiku saat kita di pantai kemarin" ujar Askara menahan rasa sedihnya.


Anin tersenyum lembut "Mas, aku sudah pernah bilang kan?, aku bahkan sudah lebih dulu memaafkan semua kesalahanmu sebelum kau meminta maaf" ucap Anin.


"Aku janji, akan menjadi suami yang baik mulai sekarang. akan menjadi orang pertama yang selalu ada untuk kau dan juga anak kita" ujar Askara.


"Jangan cuma berjanji mas, tapi kau harus berusaha untuk mewujudkan itu semua" balas Anin tersenyum.


Askara mengangguk tersenyum "Aku akan berusaha"


"Satu hal lagi, Anin" lanjut Askara.


"Kenapa mas?"


"Mulai sekarang kau harus berhenti bekerja, seperti janjimu sendiri. jika terjadi sesuatu maka kau akan berhenti dengan sendirinya. ingat! sekarang kau tidak bisa beraktivitas yang berat-berat apalagi sampai mengangkat-angkat barang berat seperti kemarin" ujar Askara dengan wajah tidak ramahnya.


Anin terdiam, tampak menimbang. tapi dia juga tidak boleh egois.


"Aku bersedia, mas" ujar Anin mantap.


"Kau serius?" tanya Askara memastikan.


Anin mengangguk tanpa ragu sedikit pun "Aku tidak ingin menjadi ibu yang egois hingga harus menjadikan keselamatan anakku sebagai taruhannya"

__ADS_1


"Aku suka kau yang penurut seperti ini" ujar Askara tersenyum.


"Tapi, mas..._" perkataan Anin menggantung,


"Kenapa?" tanya Askara.


"Apa orang-orang di tempat kerjaku sudah tau yang sebenarnya mengenai keadaanku?" tanya Anin, ini adalah salah satu ketakutan terbesarnya.


"Maybe yes, pria yang bernama Doni juga ikut mengantarmu kemari" jelas Askara.


"Ken juga ada di sana" lanjut Askara membatin.


Anin menghembuskan nafas kasar "Aku takut mas, mereka pasti sangat kecewa sekarang"


"Kenapa harus takut?, justru Doni menitipkan salam untukmu, katanya akan mengunjungimu setelah keadaanmu memungkinkan untuk di jenguk" ungkap Askara agar Anin tidak banyak fikiran sekarang.


"Tetap saja mas, mungkin kak Doni bisa menerima keadaanku tapi yang lain? mereka pasti akan merasa kecewa karena sudah aku bohongi selama ini"


"Aku yakin Vivi bisa meluruskan semuanya, kau tidak perlu khawatir. jangan banyak fikiran sekarang, itu juga salah satu pemicu kau mengalami pendarahan"


"Tapi mas..."


"Tidak ada tapi-tapian Anin, sekarang istirahat yah. sebentar lagi dokter Ziva akan datang untuk memeriksa keadaanmu" ujar Askara.


"Baik mas" ujar Anin mengalah.


Askara membantu Anin untuk berbaring, bersamaa dengan itu pintu ruang rawat Anin terbuka.


"Anin...Anin... mantuku sayang...Bagaimana keadaanmu? kenapa hal ini bisa terjadi padamu"


Sandra memasuki ruang rawat Anin dengan raut wajah khawatir, menghambur memeluk tubuh Anin membuat gadis itu terkejut mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Sandra.


Askara sendiri sudah menghela nafas berat melihat tingkah maminya.


"Mi, biarkan Anin istirahat dan jangan memeluknya terlalu kencang, nanti perut Anin terhimpit" Askara mendekat dan melepaskan pelukan Maminya.


Puk..puk..puk..


Sandra memukul kencang lengan Askara membuat pria itu mengaduh kesakitan.


"Aww..aww..sakit Mi" kesal Askara mengelus lengannya.


"Lagian kenapa kau melerai pelukan Mami, kau tidak tau betapa khawatirnya mami saat Dito memberitahu mami bahwa Anin mengalami pendarahan? Mami syok" ujar Sandra.


Anin hanya tersenyum melihat perdebatan antara Askara dan mertuanya.


"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Sandra beralih menatap wajah Anin yang masih terlihat pucat.


"Bagaimana Mami tidak khawatir kalau tau hampir kehilangan calon cucu Mami" ujar Sandra dengan mata memerah.


Askara lebih memilih duduk di sofa di banding harus melihat Maminya mulai mendramatisir.


"Tapi sekarang Anin baik-baik saja, kandungan Anin juga selamat Mi" balas Anin tersenyum.


"Lain kali, Mami tidak mau dengar keadaan seperti ini lagi, mulai sekarang berhenti dari pekerjaanmu itu. Askara bisa menafkahi mu tanpa harus takut kekurangan. kalau perlu geruk saja hartanya" ujar Sandra memberi saran pada Anin.


Anin hanya menahan senyum mendengar ucapan mertuanya, apalagi saat melihat Askara memijit pelipisnya.


"Mami, berhenti mengajari Anin hal yang biasa Mami lakukan pada papi" peringat Askara yang tengah berbaring di atas sofa saat dia mendengar Sandra mulai mencemari fikiran Anin.


"Lagian memangnya kenapa?, kekayaanmu tidak akan habis kan?" elak Sandra.


Askara lebih memilih diam dan memejamkan matanya.


"Oh ya sayang, kau sudah makan?" tanya Sandra.


"Sudah Mi, Anin juga baru selesai minum obatnya"


"Syukurlah, Mami sangat khawatir mendengar keadaanmu dari Dito"


"Maaf sudah membuat Mami khawatir" ujar Anin dengan rasa bersalah.


"Ini bukan salahmu sayang" ujar Sandra mengelus pipi Anin.


"Mami ke sini sama siapa?" tanya Anin.


"Sama sekretaris Dito, tuh dia" ujar Sandra saat melihat sekretaris Dito baru saja masuk bersama dengan dokter Ziva di belakangnya.


"Selamat malam nyonya Sandra" sapa dokter Ziva ramah.


"Selamat malam dok" balas Sandra.


Sekertaris Dito berlalu untuk meletakkan baju ganti untuk Askara dan juga Anin di atas meja sofa.


Sedangkan Askara, dia sudah bangkit dari posisi tidurnya saat mendengar kedatangan dokter Ziva.


"Saya periksa keadaan Anin dulu yah" ujar dokter Ziva.


"Silahkan dok" ujar Sandra.

__ADS_1


Dokter Ziva pun melakukan serangkaian pemeriksaan pada Anin, terakhir dia akan melakukan USG untuk mengetahui keadaan janin Anin setelah terjadi pendarahan tadi.


"Maaf yah" permisi dokter Ziva saat akan mengangkat baju Anin.


"Tunggu dulu dok" tahan Askara.


"Kau ini kenapa sih, Askara?" tanya Sandra bingung.


Dokter Ziva pun sama bingungnya menatap Askara.


"Dito, balik badan" perintah Askara pada sekretaris Dito yang juga berada di dalam ruangan Anin.


Askara tidak ingin Dito melihat kulit perut Anin yang tereskpose saat dokter Ziva melakukan USG nanti.


"Baik tuan" dengan pasrah Dito membalikkan badannya.


"Dokter Ziva bisa memulai melakukan USG nya" ujar Askara membuat dokter Ziva menahan senyum.


Askara ternyata sangat posesif.


"Ada-ada saja kau ini" gumam Sandra, namun Askara hanya memasang wajah datar.


"Alhamdulillah, semuanya dalam kondisi baik" ujar dokter Ziva yang matanya fokus ke layar monitor.


Anin tersenyum menatap Askara yang juga menatapnya sedari tadi.


"Terakhir kita akan mendengar detak jantungnya bersama-sama" lanjut dokter Ziva.


Tubuh Askara kembali menegang saat satu ruang rawat Anin di penuhi dengan suara detak jantung calon anaknya.


Hatinya menghangat saat mengetahui calon anaknya bertahan dengan sangat baik.


Sandra terus tersenyum kala melihat dan mendengar perkembangan calon cucunya di balik layar monitor.


Bagitupun dengan Anin, tidak ada yang lebih membahagiakan di banding mengetahui anaknya dalam keadaan baik-baik saja.


Semua yang ada di sana mengembangkan senyum bahagia, termasuk Dito.


"Syukurlah, detak jantungnya normal. semuanya normal, hanya saja memang Anin untuk masa pemulihan nanti harus mengurangi atau bahkan tidak beraktivitas yang berat-berat" jelas dokter Ziva setelah selesai memeriksa kandungan Anin.


"Lalu untuk aktivitas di ranjang bagaimana, dok?" tanya Askara dengan polosnya.


Pertanyaan Askara sukses membuat wajah Anin memerah menahan malu.


Sandra bahkan sudah menahan senyum mendengar pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Askara.


Bagitupun dengan Dito, pria itu sudah berbalik karena pemeriksaan Anin sudah selesai.


"Mas, di sini masih ada Mami dan sekretaris Dito ." ujar Anin merasa malu, Askara bertanya tidak melihat situasi dan kondisi.


"Kenapa dengan ekspresi wajah kalian?, memangnya pertanyaanku salah?" tanya Askara menatap satu per satu ekspresi orang di dalam ruangan tersebut.


"Kau ini, istrimu sedang dalam masa pemulihan tapi yang ada di otakmu itu hanya fikiran mesum" kesal Sandra.


"Kok Mami marah sih, Askara kan cuman nanya"


"Memangnya pertanyaan saya salah dok?" tanya Askara beralih pada dokter Ziva yang sejak tadi ikut tersenyum mendengar pertanyaannya.


"Tidak ada yang salah pak, ini juga termasuk pertanyaan yang bagus. jadi, selama proses pemulihan nanti, Anin memang tidak bisa terlalu capek. dan untuk masalah itu, bisa di lakukan dengan catatan kondisi Anin sudah jauh lebih membaik dan juga harus di lakukan dengan posisi yang aman dan senyaman mungkin" jelas dokter Ziva membuat Anin seketika ingin lenyap dari dalam ruangan tersebut.


Askara mengangguk paham "Terimakasih untuk penjelasannya dok" ujar Askara tersenyum.


"Sama-sama pak, kalau begitu saya pamit permisi. jika butuh sesuatu atau ada keluhan, segera kabari saya" ujar dokter Ziva meninggalkan ruang rawat Anin dengan senyum tertahan karena tingkah Askara.


Selepas kepergian dokter Ziva, semua memandangi Askara dengan tatapan berbeda-beda.


"Kau sudah berani menatap seperti itu padaku, Dito?" ujar Askara karena Dito sudah berani menatapnya intens.


"Maafkan saya tuan" sesal sekretaris Dito kemudian menundukkan wajahnya.


"Kau ini" gemas Sandra menarik kulit perut Askara.


"Aww... sakit Mi" ringis Askara merasakan perih di kulit perutnya.


"Kenapa jadi Mami yang kesal, memangnya pertanyaanku tadi salah? malah kata dokter Ziva itu pertanyaan yang bagus" seloroh Askara.


"Pertanyaanmu tidak salah, hanya saja waktunya tidak tepat. kau tidak lihat wajah istrimu sudah seperti kepiting rebus tadi" ujar Sandra karena Askara tidak peka.


"Yaa.. maaf" ucap Askara.


Sandra lagi-lagi memukul lengan Askara "Jangan meminta maaf pada Mami, minta maaf pada istrimu"


Askara beralih menatap Anin "Maafkan aku" ujar Askara


"Iyya mas" balas Anin yang kini merasa kasian melihat Askara menjadi bulan-bulanan Mami Sandra.


Askara menekuk wajahnya kesal, dia tidak bisa berkutik jika berada di depan Maminya.


Sekretaris Dito sedari tadi menahan senyum melihat boss nya yang biasa terlihat dingin dan arrogant jika berada di kantor, kini berubah seperti anak ayam yang takut pada induknya.

__ADS_1


Kapan lagi bisa melihat wajah tertekan Askara.


Katakanlah, Dito ini adalah sekretaris laknat. tertawa di atas penderitaan Askara.


__ADS_2