
Asakara merasa frustasi saat Anin mendiamkannya sejak kejadian di restorant kemarin. Seperti pagi ini, Anin mempersiapkan semua kebutuhannya tanpa membuka suara sedikit pun.
"Anin, aku minta maaf". entah ini sudah permintaan maaf yang ke berapa kalinya. yang jelas Askara hanya mengucapkan tiga kata itu sedari tadi dan tidak di tanggapi sama sekali oleh Anin.
"Tolong jangan diamkan aku seperti ini". Askara menatap Anin dengan tatapan sedih, dia tidak bisa melihat Anin mengabaikannya.
Tangan Anin terus bergerak menyiapkan pakaian Askara tapi telinganya dapat mendengar jelas setiap permintaan maaf Askara.
Jujur sebenarnya Anin merasa kasihan karena tidak sepenuhnya semua ini salah Askara. mulut Grace saja yang sangat keterlaluan dan tidak bisa di filter jika berbicara.
Anin menyerahkan kemeja putih di tangannya pada Askara yang masih bertelanjang dada.
"Aku tidak akan ke kantor". Askara menolak memakai kemeja yang di berikan Anin.
Satu alis Anin terangkat, "Kenapa?". tanya Anin akhirnya setelah lama membungkam mulutnya.
"Aku tidak akan ke mana-mana sampai kau memaafkan aku". putus Askara.
"Ya sudah, Mas Askara tidak usah ke kantor". balas Anin menggantung kembali kemeja putih Askara di lemari.
Hap. Askara memeluk Anin dari belakang.
"Mas, lepas !". Anin berusaha menyingkirkan tangan Askara dari perutnya.
"Mau sampai kapan kau akan mendiamkan ku. lagi pula ini bukan sepenuhnya salahku. aku tidak sengaja bertemu mereka kemarin saat kau ke toilet. apa kau tidak kasihan padaku, Nin?". tanya Askara dengan nada memelas. berharap Anin mau mengerti.
Anin menghembuskan nafas lelah, apalagi saat Askara semakin menyelundupkan kepalanya di tengkuknya seperti seorang anak kecil.
"Lepaskan dulu baru kita bicara". ujar Anin karena merasa kesulitan bergerak.
Mendengar perkataan Anin, Askara akhirnya melepaskan pelukannya.
"Mas ingin di maafkan?". tanya Anin setelah berbalik badan menatap Askara.
__ADS_1
Askara mengangguk cepat seperti anak kecil yang bgitu patuh saat di beritahu ibunya. sangat lucu di mata Anin tapi dia berusaha untuk tidak tertawa di depan Askara.
"Cepat pakai kemeja Mas Askara lalu berangkat ke kantor". Anin menempelkan kemeja putih yang masih di hanger tersebut tepat di depan dada bidang Askara.
Askara memasang wajah cengo' karena dia fikir akan ada persyaratan khusus yang akan di berikan oleh Anin.
"Hanya itu?". tanya Askara meyakinkan.
"Apanya?". tanya Anin dengan satu alis terangkat.
"Aku kira kau akan mengajukan syarat yang aneh-aneh, tapi ternyata kau memang istri yang sangat baik dan tidak ingin menyusahkan suamimu". Girang Askara hendak memeluk Anin namun aksinya cepat di tahan oleh Anin.
"Eitsss... tunggu dulu. siapa bilang aku tidak punya syarat apapun". ujar Anin dengan senyum yang sulit di tebak.
Askara meneguk salivanya susah payah. dia berdoa dalam hati semoga saja Anin tidak macam-macam.
"Lalu apa? cepat katakan". Askara sudah tidak sabaran.
"Mas Askara harus puasa selama 1 Minggu". ujar Anin tersenyum penuh arti.
"Ihh.. bukan puasa itu Mas, tapi puasa minta jatah". final Anin.
Askara membulatkan matanya sempurna mendengar syarat yang di ajukan oleh Anin. dia harus menahan hasratnya selama satu Minggu? oh tidak, itu sama saja dengan menyiksa dirinya lebih kejam lagi.
"Kenapa tidak yang lain saja Nin? misalnya kau meminta aku memberikanmu tas, sepatu, atau perhiasan. berapun harganya pasti akan aku sanggupi tapi tolong jangan yang satu itu. kau tau sendiri kan aku tidak bisa untuk yang satu itu apalagi selama satu Minggu, ganti saja yah syaratnya". Askara berusaha melobi Anin agar mau berubah fikiran.
Anin menggeleng sebagai tanda penolakan "Ya sudah kalau mas Askara tidak setuju, aku juga tidak akan keberatan".
Askara mendengus kesal "Iyyah..Iyya.. terserah kau saja. asal jangan mendiamkan ku lagi". pasrah Askara lebih memilih memendam hasratnya selama seminggu daripada terus di diamkan oleh Anin.
"Bagus, tunggu apa lagi. sekarang Mas Askara pakaian lalu berangkat ke kantor". titah Anin.
Askara bergerak malas "Sekarang aku jadi benar-benar malas ke kantor". ujarnya namun tak urung memasang kemeja pemberian Anin.
__ADS_1
Anin berusaha untuk tidak tertawa melihat wajah Askara yang sudah di tekuk dan telihat lesu seperti baju yang tidak di setrika. dia memilih memaafkan Askara karena memang itu bukan sepenuhnya salah pria itu, tapi entah kenapa Anin masih kesal jadilah dia memaafkan Askara tapi dengan mengajukan syarat yang membuat kepala Askara seketika pusing tujuh keliling.
Anin membantu memasang dasi Askara, yang masih setia memasang wajah masamnya.
"Mukanya jangan di tekuk begitu Mas, nanti karyawannya pada kabur loh kalo muka mas asem kayak gitu". ucap Anin bermaksud menggoda Askara.
"Bukan urusanmu". ketus Askara menatap wajah Anin yang terlihat menahan senyum.
"Oh Iyya, nanti siang suruh pak Hilman untuk mengantarkankanmu ke butik, alamatnya nanti akan aku kirim". ucap Askara di sela-sela kekesalannya.
Anin yang sudah selesai memasang dasi di leher Askara menatap suaminya "Ke butik? untuk apa mas?". tanyanya merapikan sedikit dasi Askara yang miring.
"Kau lupa? nanti malam akan ada pesta grand opening untuk mall terbaru Wira's grup di rangkaikan dengan memperkenalkan kau sebagai istriku". tidak ada lagi nada kesal di perkataan Askara kali ini.
Anin mendadak diam. dia ingat pembicaraannya dengan askara tempo hari, dan sebentar malam adalah waktunya.
"Mas, aku takut dan juga gugup". jujur Anin. meskipun dia sudah mempersiapkan diri tapi tetap saja dirinya merasa gugup dan takut juga.
"Kenapa hemm? aku sudah bilang kan kau itu istriku jadi tidak akan ada yang berani menyakiti maupun merendahkanmu". Askara meyakinkan Anin agar tidak merasa kecil di pesta nanti.
Anin menatap mata Askara, mata itu memancarkan harap begitu besar padanya.
"Baiklah Mas". ujar Anin tersenyum, dia harus bisa menempatkan dirinya. dia istri seorang Askara dan sebentar lagi semua orang akan tau hak kepemilikan atas Askara sepenuhnya adalah dirinya.
"Kita akan bertemu di butik saat jam makan siang. jadi jangan terlambat". pesan Askara.
"Iyya Mas".
Askara sudah siap dengan pakaian kantornya. sebelum benar-benar meninggalkan kamarnya, tak lupa Askara mencium kening Anin lalu turun mencium perut Anin.
"Papi berangkat dulu yah sayang". ujar Askara pada calon anaknya di dalam perut Anin.
"Kau hati-hati di mansion, sampai bertemu nanti siang". ujar Askara lagi lalu meninggalkan kamarnya. untuk sarapan Askara memilih sarapan di kantor karena dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan hingga bisa menghadiri pesta tepat waktu.
__ADS_1
Haii ..ada yang kangen auhor? heheh.