Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 10


__ADS_3

asal kau tau, istri saya ini sedang hamil, apa permintaan maaf kamu cukup kalo sesuatu terjadi pada istri dan calon anak saya?"


perkataan itu terus terngiang di kepala Askara, terus berputar memenuhi fikirannya. ada penyesalan di dalam hati Askara karena telah mengatakan itu semua di luar kendalinya.


"Arrghh..sial, kenapa aku bisa mengatakan itu" Askara menjambak rambutnya yang sudah basah karena keringat.


pagi-pagi sekali Askara memutuskan untuk lari pagi di sekitar taman apartemennya kebtulan dirinya juga sedang libur, tujuan utama Askara adalah untuk mengusir fikiran tentang kejadian kemarin sore, namun ternyata sama saja.


sejak semalam Askara memutuskan untuk tidak keluar kamar, bahkan dirinya pun sengaja cepat bangun pagi untuk menghindari Anin.


Askara tidak ingin Anin berfikir bahwa dirinya mulai peduli ataupun mulai membuka hati. tidak, sampai kapanpun Askara tidak akan membiarkan hal itu.


orang yang dia tunggu akan segera kembali, sebentar lagi. dan sampai hari itu tiba Askara memastikan tidak akan ada hati yang berat untuk melepas di antara dirinya dan Anin.


merasa sudah terlalu lama di luar, Askara memutuskan kembali ke apartemen untuk membersihkan badannya yang lengket karena keringat hasil olahraga paginya.


di meja makan, Anin sendiri sudah menyiapkan sarapan simple, cukup dengan dua buah sandwich untuknya dan Askara. Anin fikir karena hari ini libur jadi mungkin Askara tidak ingin sarapan yang terlalu berat.


Anin sisa menunggu Askara keluar dari kamarnya, tapi selang beberapa menit kemudian Askara justru muncul dari pintu masuk apartemen dengan memakai pakaian olahraga dengan rambut acak-acakan basah karena keringat, penampilan Askara justru terlihat sexy di mata Anin.


Anin meneguk salivanya dengan susah payah, debaran jantung Anin bahkan sudah tidak bisa di kondisikan hanya dengan melihat wajah Askara yang di banjiri peluh keringat.


"A..ku kira pak Askara masih tidur" bahkan untuk berkata saja Anin sudah gugup sendiri.


namun tidak ada jawaban dari Askara.


Anin pun berinisiatif menawarkan sarapan yang sudah di buatnya.


"Oh Iyya, aku sudah buat sandwich telur untuk sarapan, pak Askara makanlah dulu" ucap Anin tersenyum manis.


"Simpan saja, nanti ku makan" jawab Askara dingin.


"Atau mau aku bawakan ke kamar pak Askara?" tanya Anin yang sudah mengambil piring berisi sandwich buatannya dan berjalan menghampiri Askara, untung saja kakinya sudah membaik.


"tidak perlu, nanti aku ambil sendiri" jawab Askara tanpa melihat Anin


"biar aku bawakan saja yah, sepertinya pas Askara juga capek habis olahraga"


Anin bersikukuh tetap ingin mengantar sarapan tersebut ke kamar Askara, bahkan Anin sudah ingin melangkah. tapi yang terjadi justru Askara melempar sarapan yang buat Anin


"Praaaanggggg"


piring di tangan Anin jatuh ke lantai bersamaan dengan meledaknya amarah Askara.


"apa telingamu sudah tidak berfungsi dengan baik hah?" bentak Askara dengan suara tinggi dan mata yang memerah.


Anin sangat kaget, telinganya bahkan sudah berdengung.


Askara menatap Anin yang terlihat takut


"Apa kau mulai merasa bahwa aku peduli padamu karena kejadian kemarin?" tanya Askara sinis


"kembali ku ingatkan, anak yang kau kandung hanyalah satu alasan kau bisa berada di sini. jika ku katakan tidak berarti aku menolak, aku paling tidak suka di paksa". tegas Askara


air mata Anin lolos, padahal agendanya pagi ini pun ingin meminta maaf pada Askara, ternyata harapan Anin salah.


"Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri" ucap Anin tertunduk, dia tidak berani menatap mata Askara.


"supaya apa?, supaya kau bisa perlahan masuk ke dalam hidupku? jangan mimpi" tanpa Askara ketahui perkataannya sudah membuat hati dada Anin sesak seperti di himpit. "hanya karena perkataan ku kemarin kau sekarang merasa lebih dekat denganku dan menganggap bahwa pernikahan ini normal heh?" Askara tertawa mengejek.


"Jangan berkhayal terlalu tinggi, aku mengatakan itu semua agar kau tidak selalu menyusahkan ku, aku tidak suka di repotkan apalagi orang itu adalah kau" putus Askara memasuki kamarnya dan membanting pintu keras.


Anin berjengkit kaget rasa sakit di dadanya membuat air matanya lolos membasahi pipi mulusnya.


di tatapnya piring sarapan Askara yang sudah hancur berserakan begitupun dengan sandwich buatannya.


Anin berjongkok memungut satu per satu per satu pecahan piring.


"Awww..." pekiknya saat tangannya tak sengaja terkena pacahan piring dan mengeluarkan darah segar.


Anin menatap tangannya dan tersenyum mengejek yang di tujukan pada dirinya sendiri "Memang benar kata pak Askara, aku ini orang yang ceroboh"


"Hiks..hiks .hiks..hiks.." tangis Anin terdengar pilu, bahkan rasa perih di tangannya tidaklah seberapa dengan luka di hatinya.


Anin mengelus perutnya, menyalurkan kekuatan pada janinnya.


"Kamu yang kuat yah nak, kita berjuang bersama-sama untuk bisa lebih dekat dengan papa" satu hal yang membuat Anin kuat adalah anak yang di kandungnya, hadir dari kesalahan bukan alasan Anin membencinya, meskipun mendapat perlakuan dingin dari Askara.


Askara berendam di dalam bathtub sambil memejamkan matanya. ingatannya kembali pada kejadian yang baru saja terjadi antara dia dan Anin.


entah kenapa mencuak sedikit rasa bersalah di hati kecilnya tapi secepat mungkin di tepisnya, dirinya tidak boleh menaruh rasa kasihan ataupun rasa peduli terhadap Anin. begitu lebih baik fikir Askara


Askara keluar dari kamar dengan setelan baju santai, celana pendek selutut dan juga baju kaos berwarna hitam dengan rambut yang masih basah.


berjalan menuju kulkas, Askara haus.


Sepi, itu yang Askara lihat. Anin pasti sedang berada di kamarnya. untuk apa juga Askara mencari keberadaannya.


biarkan saja, Askara juga sedang tidak ingin melihat wajahnya.


Askara lebih memilih masuk ke ruang kerjanya menyelesaikan beberapa kerjaannya dan juga beberapa berkas meeting besok.


Anin menatap bangunan 3 lantai yang menjadi tempat tinggalnya 1 setengah tahun belakangan ini. bangunan yang terdiri dari beberapa petak pintu, Anin sedang berada di kostnya lebih tepatnya bekas kost.


setelah memastikan kakinya sudah bisa di pakai berjalan dengan normal, Anin pun bergegas mengunjungi kostnya untuk mengambil motornya.


"Eh dek Anin, kok baru keliatan?" tanya seorang perempuan penghuni salah satu kost tersebut saat baru melihat kehadiran Anin.


Anin tersenyum ramah pada perempuan tersebut "Anin kemarin sibuk banget kak soalnya lagi ujian, jadi nginep beberapa hari di apartemen Vivi sekalian belajar bareng" bohong Anin.


"Tapi kemarin ada beberapa orang yang kakak liat ngangkut barang-barang kamu, kakak kira kamu udah nggak nge kost di sini lagi" yang di maksud adalah orang suruhan Dito yang di perintahkan untuk mengemasi barang-barang Anin kemarin saat pernikahannya dan Askara berlangsung.


Anin tersenyum kikuk otaknya berfikir untuk merangkai jawaban yang tepat " itu asistennya Vivi kak, dan aku juga emang bener udah nggak nge kost di sini lagi kak. ke sini cuman mau ambil sisa barang yang ketinggalan di kamar sama ngambil motor"


"Loh kenapa pindah Nin?"


Anin semakin bingung harus menjawab apa "Mmm..itu kak.. Vivi maksa ngajak aku tinggal bareng di apartemennya katanya nggak enak sendiri" jawab Anin seadanya.

__ADS_1


"Oh gitu yah, ya udah kamu jaga diri baik-baik yah"


"Iyya kak, makasih. kalo gitu aku naik dulu yah"


Anin bernafas lega, setidaknya dia percaya dengan omongannya.


ceklek..


hal pertama yang Anin rasakan saat pintu kamar kostnya terbuka adalah perasaan rindu. bayangan dirinya dan Vivi yang sering menghabiskan waktu bersama, bernyanyi bersama, masak bersama, bahkan saling mendadani satu sama lain dan hari ini semuanya tinggal kenangan.


Anin duduk di atas kasur kecilnya yang sering membuatnya bertengkar dengan Vivi karena berebut tempat tidur.


tanpa terasa air mata Anin jatuh, lagi-lagi karena merasa hidup tidak adil bagi dirinya.


yang dia inginkan hanya ingin kuliah sampai selesai, mencari kerja, dan membangun rumah tangga dengan orang yang di cintai dan mencintainya.


namun semua tinggallah angan, Anin harus kuat hati untuk menjalani hidupnya sekarang, yakin Allah punya rencana indah untuknya.


Anin kemudian membereskan beberapa baju dan juga buku-buku mata kuliahnya dan memasukkannya ke dalam paperbag.


mendirikan kasurnya ke tembok takut nantinya tikus membuang kotoran di atas sana. menyapu lantai kamar kostnya untuk yang terakhir kali. setidaknya dia meninggalkan kostnya dalam keadaan bersih sebelum di huni oleh orang lain.


setelah semua di rasa beres, Anin mengambil kunci motornya yang menggantung di belakang pintu. menutup pintu kostnya dan menguncinya.


Anin segera turun tak lupa menitipkan kunci kamarnya pada perempuan yang menyapanya tadi untuk di serahkan pada ibu kost.


motor Anin keluar dari garasi, ternyata hari sudah sore.


Anin mengendarai motornya dengan kecepatan sedang sambil menikmati pemandangan sore hari.


kali ini hembusan angin sore terasa begitu dingin menusuk kulit lengan Anin, cerobohnya Anin tidak memakai jaket ataupun sweater karena dirinya naik taxi online menuju kost tadi jadi tidak sempat membawa sweater.


gerombolan awan hitam mulai memenuhi langit yang tadinya terlihat cerah. Anin menengadahkan wajah ke atas menatap sekeliling dan memang benar sepertinya hujan akan turun.


Anin pun menambah sedikit kecepatan motornya.


tes..


tetes air hujan mulai jatuh menyentuh kulit tangan Anin "Yah hujan" gumam Anin


hujan turun semakin intens membuat Anin mau tidak mau menepikan motornya untuk memakai mantel.


"Kok nggak ada?" bingung Anin saat membuka bagasi motornya dan tidak mendapati jaket mantelnya. "perasaan nggak pernah di keluarin deh" lanjut Anin.


Anin coba mengingat-ingat dan ternyata mantelnya di pakai teman sekelasnya waktu berkunjung ke kost.


"Duh gimana nih, mana hujannya makin deras lagi. kalo di tungguin nanti sampe apartemen bisa kemalaman, tapi kalo di terobos udah pasti basah kuyup, nanti kalo pak Askara marah lagi gimana?" bimbang Anin mencari solusi di antara dua pilihan.


lama berfikir Anin akhirnya memutuskan "Terobos ajalah" ucapnya kemudian menaiki motornya dan melajukan dengan pelan karena curah hujan yang cukup deras.


bagi Anin pulang telat atau pulang dengan keadaan basah kuyup dua-duanya sama saja. sama-sama akan membuat Askara marah, mungkin.


tubuh Anin sudah menggigil kedinginan tapi sedikit lagi dia sudah akan sampai di apartemen.


motor Anin memasuki basement apartemen dan memakirkan motornya khusus di parkiran untuk motor.


"Nggak mungkin naik lift dalam keadaan basah kuyup kayak gini" meskipun Anin sudah mengeringkan badannya dengan handuk tapi tetap saja tetes air hujan masih merembes dari pakainnya.


"Naik tangga darurat ajah deh" putus Anin akhirnya memilih menaiki anak tangga dengan membawa paperbag di tangannya.


baru menaiki tangga kedua Anin sudah ngos-ngosan, kepalanya pun terasa sedikit pusing dan badannya semakin menggigil.


Anin mencoba menahan rasa sakit di kepalanya dan terus menaiki satu per satu anak tangga.


Askara yang memang baru keluar dari ruang kerjanya setelah berjam-jam menyelesaikan pekerjaannya mengernyit bingung saat keadaan apartemen begitu sepi. biasanya jam segini Anin sudah berada di dapur dan memasak.


hanya suara gemuruh hujan yang terdengar. dalam hati Askara bertanya kemana gadis itu.


kaki Askara melangkah menuju kamar Anin, memberanikan diri memutar knop pintu dan hasilnya kosong, bahkan kamar tidur Anin masih rapi.


tak berselang lama pintu apartemen di buka, Askara dapat melihat penampilan Anin yang sudah basah kuyup, rambut basah, bibir yang sudah membiru bergetar menahan dingin.


Anin yang melihat Askara berdiri di depan pintu kamarnya langsung meminta maaf


"Ma..a..f a..ku.. _ " belum selsai Anin dengan ucapannya tubuhnya sudah limbung dan hilang keseimbangan. sayup-sayup sebelum kesadaran Anin benar-benar hilang Anin dapat melihat Askara yang berlari ke arahnya dan meneriaki namanya.


"Anin..bangun..heii" panik Askara yang sudah menopang tubuh Anin.


Askara dapat merasakan suhu tubuh Anin yang begitu panas.


"Anin..bangun" Askara menepuk-nepuk pipi Anin, dapat Askara lihat dengan jelas wajah pucat Anin seperti tak di aliri darah sama sekali.


dengan sigap Askara mengangkat tubuh mungil Anin tapi tanpa sadar Askara melewati kamar Anin justru membawa Anin masuk ke dalam kamarnya.


di letakkan tubuh Anin perlahan di atas tempat tidurnya.


raut wajah panik masih tercetak jelas di wajah Askara.


Askara menyambar ponselnya yang sedari tadi berada di nakas dan menelfon seseorang.


"Haloo..Dito, ke apartemenku sekarang juga" ucap Askara langsung saat Dito sudah mengangkat sambungan telefon.


"Anda baik-baik saja tuan? kenapa suara anda terdengar cemas" tanya Dito di seberang telfon.


"Ck.. tidak usah banyak tanya, kau ke apartemenku sekarang dan jangan lupa bawa asisten yang pernah kau perintahkan untuk membereskan barang-barang Anin di kostnya" ucap Askara


meskipun Dito masih sangat bingung tapi dia tetap mengiyakan perintah Askara "Baik tuan saya akan segera ke sana" rasa penasaran Dito akan terjawab sesampai di apartemen nanti.


setelah sambungan telfonnya dengan Dito terputus Askara beralih menghubungi seseorang.


Askara semakin gusar karena orang yang di hubunginya tak kunjung mengangkat telfon.


di cobanya sekali lagi.


"Hallo" jawab orang itu saat telfon sudah tersambung.


"Sial..kemana saja kau baru mengangkat telfonku brengsek" geram Askara tapi orang di sebrang telfon justru hanya terkekeh.

__ADS_1


"santai bro, gue lagi ada pasien tadi" jawab orang tersebut.


"Ke apartemen gue sekarang juga. kalo dalam waktu sepuluh menit Lo nggak sampai, gue pastiin aset Lo tinggal nama" ancam Askara.


Askara memutus sepihak teleponnya kemudian mendudukkan badannya di kursi yang tak jauh dari tempat tidur.


sekitar 15 menit mobil Dito memasuki basement apartemen dengan membawa asisten perempuan di sebutkan Askara di telfon tadi.


Dito turun dari mobil bersamaan dengan masuknya mobil sport berwarna merah yang di kenalinya.


Dito sempat bingung kenapa orang itu bisa ada di sini.


"Selamat malam dokter Arga" sapa Dito saat sang pemilik mobil tersebut turun masih dengan jas putih khas kedokteran yang melekat di badannya.


dia Arga, sahabat sekaligus dokter pribadi Askara.


"Hei Dit, kau habis ketemu sama Askara?" tanya Arga mengira Dito sudah akan pulang.


"Justru saya baru akan menemui tuan Askara dok, tiba-tiba tuan Askara menelfon saya tadi" jelas Dito.


Arga mengeryit " Aku juga dapat telfon dari Askara, si brengsek itu bahkan menyuruhku untuk buru-buru" kesal Arga


mendengar perkataan Arga, Dito yang tadinya bingung kenapa Askara tiba-tiba menelfonnya kini berfikir jika Askara sedang sakit atau kemungkinan besar adalah nona Anin.


"Kita naik sama-sama saja dok, kita akan tau setelah sampai di kamar apartement tuan Askara"


"Baiklah...tapi siapa ini?" tanya Arga menyadari ada seorang perempuan yang datang bersama Dito.


"ini asisten rumah tangga yang biasa di panggil tuan Askara jika sedang dalam keadaan genting, keberadaannya di sini juga karena permintaan tuan Askara untuk membawanya, untuk alasannya saya sendiri belum tau dok" jelas Dito.


Arga mengangguk paham "si brengsek itu menyusahkan saja" gumam Arga, ketiganya berjalan bersama memasuki lift menuju lantai kamar apartement Askara.


Askara berjalan bolak-balik di ruang tamu apartement seperti setrika.


"Ckk..kenapa mereka lama sekali" gusar Askara.


tidak lama bel apartement berbunyi, Askara buru-buru untuk membuka.


ceklek, pintu terbuka dan menampilkan Arga, Dito dan juga satu asisten perempuan.


"Hei bro.." Arga hendak berpelukan ala pria tapi di tepis oleh Askara.


"masuklah, ini bukan waktunya basa-basi brengsek" perintah Askara kesal.


ketiganya pun masuk "So.. untuk apa Lo manggil gue malam-malam ke apartemenmu dude?" Arga bertanya.


"Diamlah" sergahnya pada Arga "Dito, ikut aku dan bawa asisten itu masuk ke kamarku"


"Eh tunggu dulu" tahan Arga pada ketiganya "Kau tidak akan macam-macam pada dia kan?" Arga memicingkan mata pada Askara dan Dito, dirinya sudah berfikir aneh-aneh.


"Buang fikiran kotormu itu" Askara menatap jengah Arga. "kalian berdua ikut aku, abaikan saja manusia itu"


"Sialan, dia yang mengajakku kemari dia juga yang menistakan" gumam Arga sepeninggal Askara dan Dito.


Dito dan asisten tersebut mengikuti Askara meninggalkan Arga yang kesal dan masih kebingungan sebenarnya ada apa.


pintu kamar terbuka, hal pertama yang di dapati oleh Dito adalah Anin yang tidur dengan baju yang basah sudah basah kuyup.


"Dia pingsan.."Askara buka suara menjawab kebingungan Dito.


"Kenapa bisa tuan?"


"Aku juga tidak tau, tiba-tiba dia pulang sudah dalam keadaan basah lalu pingsan" jelasnya.


"dan kau" tunjuk Askara pada asisten yang di bawa oleh Dito.


"Iyya tuan" jawab Mia


"Kau bantu ganti semua pakaiannya, aku dan Dito akan menunggu di luar, tapi sebelumnya pakainnya ada di kamar sebelah"


satu hal yang baru Askara sadari tadi adalah, bisa-bisanya membawa tubuh Anin masuk ke dalam kamarnya.


"Dito, antar dia ke kamar Anin untuk mengambil baju, aku akan keluar menemui Arga"


"Baik tuan"


Dito pun segera keluar dan mengarahkan Mia ke kamar Anin.


Arga yang melihat Dito dan Mia keluar tapi kemudian masuk ke dalam kamar yang tidak jauh dari kamar Askara semakin bingung dan berfikiran aneh.


"Sudah gue bilang buang jauh-jauh fikiran kotor Lo itu" ucap Askara tiba-tiba saat menyadari tatapan aneh Arga pada Dito dan Mia.


Arga menatap Askara dengan perasaan dongkol "Lalu gue harus berfikiran apa kalo sedari tadi gue sendiri nggak tau keberadaan gue di sini untuk apa"


"Nanti lo akan tau sendiri"


bersamaan dengan itu Mia keluar dengan sepasang piyama di tangannya, kemudian memasuki kamar Askara kembali sedangkan Dito memilih bergabung bersama Askara dan Arga.


"Ini sebenarnya ada apa sih?" geram Arga yang sudah sangat penasaran.


Askara dan Dito hanya diam.


"Dit, jelasin ke gue" Arga menatap Dito menuntut jawaban.


sedangkan Dito menatap Askara yang masih diam" Ini bukan kapasitas saya dok untuk menjawab"


Arga beralih menatap Askara "Sekarang jelasin sama gue, ini sebenarnya ada apa hah?"


Askara memijit pelipisnya, Arga ini sangat rewel melebihi bayi.


"Di dalam ada istri gue" jawab Askara santai


1 detik


2 detik.. masih hening, dan...


"WHAAAATTTT...." ucap Arga setengah berteriak

__ADS_1


__ADS_2