
Sepanjang perjalan pulang, Anin memaki dalam hati karena ulah Vivi sekarang dirinya baru sampai di mansion pukul 8 malam.
Askara pasti akan memakannya hidup-hidup, apalagi saat menelfon tadi suara Askara terdengar marah.
Anin perlahan membuka pintu kamar, ternyata lampu kamar sudah mati. apa Askara sudah tidur? cepat sekali, fikir Anin.
Dengan mengendap-endap seperti seorang maling, Anin melangkah memasuki ruang ganti ingin mengambil pakaian. Namun baru beberapa langkah lampu kamar tiba-tiba menyala.
"Dari mana saja kamu?" terdengar suara dingin Askara membuat bulu kuduk Anin berdiri.
Dengan menelan salivanya susah payah, Anin berbalik menatap Askara yang kini sudah berdiri tepat di belakangnya dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celananya.
Anin menampilkan senyum semanis mungkin berharap Askara tidak akan memarahinya.
"Kenapa baru pulang jam segini?" suara Askara terdengar pelan tapi nadanya begitu dingin.
"Maaf, Jakarta macet" jawab Anin yang keluar dari mall setengah jam setelah Askara menelfonnya tapi karena sudah sangat sore, jalanan Jakarta sangatlah macet.
"Kenapa kau tidak pulang bersama pak Hilman?"
"Vivi memaksaku menemaninya belanja"
"Kau bisa menolaknya" potong Askara cepat. "Oh atau kau di sogok oleh Vivi?" lanjut Askara lagi menyelidik.
Anin menganggukkan kepalanya lemah "Iyya"
"Di sogok apa sampai-sampai kau lebih mementingkan Vivi di banding perintah suamimu" hardik Askara.
Anin menatap mata Askara sebentar, namun buru-buru menunduk lagi.
"Novel" jawab Anin pelan, bahkan novelnya pun tidak sempat dia beli karena sudah harus pulang.
"Cih.. murahan" cibir Askara.
Anin mengangkat wajahnya kesal, apa katanya? murahan.
"Pak Askara sudah selesai kan bicaranya? aku mau mandi" ujar Anin karena badannya sudah sangat lengket. Rasa tidak nyamannya sudah dia tahan sejak tadi.
Anin berlalu meninggalkan Askara sebelum pria tersebut membuka suara, sungguh badannya sangat lelah dan hanya berendam air hangat lah yang Anin butuhkan saat ini.
"Anin" geram Askara karena Anin berlalu meninggalkannya begitu saja bahkan sebelum dia selesai bicara.
*****
Anin keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar, badannya terasa begitu enteng sekarang.
Mata elang Askara terus memperhatikan Anin yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Aku belum selesai bicara dan kau sudah berani-beraninya nyelonong begitu saja" hardik Askara membuat Anin menatapnya dengan senyum lebarnya.
"Heheh..maaf, badanku terasa sangat lengket tadi" cengirnya.
"Pijat aku" perintah Askara membuat Anin menatapnya cengo'.
"Pijat?" beo Anin.
"Iyya pijat, itu hukuman karena hari ini kau menyalahi aturan kesepakatan kita" jelas Askara.
Mau tidak mau Anin mengiyakan dari pada nanti Askara lebih marah padanya "Iyya, baik"
Anin merangkak naik ke ranjang besar Askara, tangannya mulai memijat punggung dan juga kepala Askara.
Mata Askara terpejam merasakan enaknya pijatan Anin.
"Agak kencang" perintah Askara saat pijatan Anin mengendor.
"Iyya, ini juga udah kencang kok" jawab Anin, tangannya sudah terasa sangat pegal, sedari tadi memijat badan kekar Askara namun pria tersebut tidak ada tanda mau berhenti.
Ponsel Anin yang tergelatak di atas nakas berdering.
Anin menghela nafas lega karena akhirnya dia punya alasan untuk berhenti memijit Askara.
__ADS_1
"Kenapa berhenti?" ketus Askara.
"Itu ponselku bunyi, siapa tau penting"
"Palingan juga Vivi, tidak perlu di angkat, lanjutkan kerjamu sampai aku bilang berhenti" tekan Askara.
Anin mencebikkan bibirnya kesal, tangannya sudah sangat lelah.
Dering ponsel Anin kembali terdengar.
"Maaf pak sepertinya itu memang penting"ujar Anin.
Askara berdecak "Angkatlah, setelah itu lanjutkan lagi kerjamu"
Anin pun turun dari ranjang Askara untuk mengangkat telefon.
Namun Anin terdiam sebentar. dia menatap ponselnya dan Askara secara bergantian.
Setelah beberapa minggu berlalu, Risa baru menghubungi Anin lagi. Yah, yang menelfon adalah Risa, ibu Anin.
Askara menatap Anin "Kenapa belum di angkat?, katanya penting" ujar Askara karena Anin hanya menatap ponselnya dengan wajah yang gusar.
"Aku permisi ke balkon sebentar" ujar Anin menjauh untuk mengangkat telfon dari ibunya.
Alis Askara berkerut saat melihat Anin menjawab telfon dengan menjauh darinya.
Ingatan Askara kembali pada foto-foto pria yang di lihatnya di galeri ponsel Anin. Askara yakin pasti yang menghubungi Anin adalah salah satu dari mereka itu sebabnya Anin menjauh darinya.
Askara bangkit dari kasurnya, dia ingin tau apa saja yang di bicarakan oleh Anin.
"Hallo Bu" sapa Anin saat telefon sudah tersambung.
"Dari mana saja kamu, kenapa baru angkat telfon ibu" nada suara Risa terdengar ketus.
"Maaf, Anin tadi lagi mandi jadi nggak denger telefon ibu" jawab Anin berbohong.
Terdengar suara decakan dari Risa "Alasan, kamu pasti menghindari telfon ibu"
"Ibu butuh uang" jawab Risa to the point. seperti dugaan Anin.
Hati Anin mencolos, bahkan Risa tanpa basa-basi atau sekedar menanyakan kabarnya terlebih dahulu.
"Tapi kan beberapa minggu yang lalu Anin udah kirimin ibu"
"Itu sudah habis, semua bahan makanan di sini harganya naik" alasan Risa.
"Ya sudah, ibu butuh berapa?" tanya Anin.
"10 juta" ujar Risa membuat Anin memekik kaget.
"Apaaa..? 10 juta? Bu, dari mana Anin dapat uang sebanyak itu" ujar Anin kaget, tidak habis fikir.
"Itu bukan urusan ibu" ujar Risa tidak mau tau.
"Bu, uang 10 juta itu uang yang jumlahnya besar buat Anin. bahkan Anin harus kerja selama 5 bulan untuk bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. belum lagi biaya hidup, kuliah dan bayar kost Anin" jelas Anin berharap ibunya mau mengerti.
"Pokoknya ibu tidak mau tau, ibu butuh uang itu"
"Bu,mungkin Anin bisa kirimin uang tapi dengan jumlah yang biasa Anin kirim, kalo seperti yang ibu minta Anin nggak punya uang sebanyak itu".
"Kamu ini anak yang tidak tau di untung sekali. ibu sudah susah payah membesarkanmu bahkan nilai uang yang ibu minta tidak akan sebanding dengan besarnya perjuangan ibu membesarkanmu" Hardik Risa membuat hati Anin sakit.
Air mata di pelupuk Anin mulai menggenang "Bu..bukan begitu maksud Anin" suara Anin tercekat.
"Sudahlah, pokoknya ibu tunggu besok" Risa mematikan telfonnya dengan perasaan kesal pada Anin.
"Hiks..hiks .hiks.." Anin sudah tidak sanggup menahan air matanya.
Anin mendudukkan tubuhnya di kursi balkon kamar Askara. jangan tanya perasaan Anin saat ini, setiap kali ibunya menelfon Anin selalu berakhir dengan air mata karena kata-kata Risa selalu berhasil membuatnya sedih.
"Andai Ayah masih ada di sini" suara Anin terdengar pilu.
__ADS_1
Askara yang berdiri sedari tadi mendengarkan di balik pintu balkon percakapan Anin dengan seseorang yang di panggilnya 'Ibu' sukses membuat emosinya memuncak.
Apalagi mendengar Anin menangis setelah sambungan telefon di tutup semakin membuatnya marah.
Askara menggeser pintu balkon membuat Anin kaget dan buru-buru menghapus air matanya.
"Pak Askara kenapa bisa di sini?" tanya Anin tanpa melihat wajah Askara.
"Ini masih area kamarku" jawab Askara mengambil duduk di samping Anin.
Anin terdiam, dia tidak siap berdebat dengan Askara.
"Ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Askara membuat Anin beralih menatapnya.
"Maksud pak Askara?" bingung Anin. tapi detik berikutnya Anin tersadar akan sesuatu.
"Jangan bilang pak Askara mendengar semua pembicaraanku di telefon tadi?" tebak Anin tidak percaya.
"Hemm, pintu balkonnya terbuka sedikit dan suaramu terlalu kencang jadi jangan salahkan aku jika mendengar semuanya" ujar Askara padahal dirinya memang sengaja mencuri dengar.
Anin tersenyum getir "Itu bukan hal yang penting"
"Kalau tidak penting kenapa kau menangis?" tanya Askara membuat Anin memalingkan wajahnya.
"Aku tidak menangis" bantah Anin kembali menghapus sisa air matanya.
Lama keduanya terdiam, Anin hanya menatap kosong pemandangan malam dari tempatnya duduknya.
"Semenjak Ayahku meninggal setahun yang lalu, sikap ibuku mulai berubah khususnya padaku" Anin mulai membuka suara, hati kecilnya merasa percaya dan ingin menceritakan hal yang dia pendam setahun ini pada Askara.
Askara menatap wajah Anin dari samping. dia tidak membuka suara karena ingin mendengar Anin bercerita.
"Setiap harinya ibuku selalu marah tanpa alasan, bahkan setiap apa yang aku lakukan selalu salah di mata ibu. Dia selalu mengungkit perjuangannya membesarkanmu dari kecil hingga sebesar ini". Anin mengambil nafas sejenak, dadanya sesak jika mengingat itu semua.
"Selama aku kuliah dan kerja di Jakarta , tiap kali ibu menelfon bukan untuk menanyakan kabarku tapi untuk meminta uang yang kadang dalam jumlah yang tidak bisa aku sanggupi, itulah mengapa sampai sekarang aku masih ngotot untuk bekerja karena Ibu. Walau kadang aku bingung dengan perubahan ibuku, tidak ada lagi tatapan hangat yang biasa dia berikan padaku seperti saat Ayah masih ada" ujar Anin tersenyum getir.
"Awalnya aku tidak ingin kuliah, namun karena ayah pernah berpesan padaku sebelum dia meninggal akhirnya aku mau ke Jakarta dan mendaftar kuliah bersama Vivi. Berbicara soal Vivi, dia juga membantuku sangat banyak selama aku merantau ke jakarta itulah mengapa kadang aku tidak bisa menolak permintaannya walaupun kadang aneh-aneh"
Askara mendengarkan dengan seksama setiap cerita Anin, hatinya mendadak merasa iba mendengar kisah hidup Anin yang ternyata sangatlah berat.
"Namun, hal terberat dalam hidupku bukan hanya itu, pak Askara tau? saat pertama kalinya aku mengetahui bahwa aku hamil , aku marah dan juga takut. Aku memikirkan bagaimana reaksi Ibuku, bagaimana kuliahku, pekerjaanku, dan juga aku marah karena aku tidak bisa menjaga amanat Ayah untuk menjadi wanita terhormat bagi suamiku nantinya. Tapi di keadaan itu bahkan tidak terlintas dalam fikiranku untuk melenyapkan maupun menggugurkannya" Anin mengusap perutnya yang kini mulai sedikit membuncit.
Anin menangis, mengingat semua yang terjadi padanya "Aku kadang marah, kenapa hanya hidup aku yang seperti ini, kenapa aku tidak bisa seperti orang-orang di luar sana" suara Anin bergetar menahan tangisnya, namun sekuat apapun dia menahan bendungan air matanya tetap saja lolos.
Askara menarik tubuh Anin ke dalam pelukannya. Rasanya Askara ikut merasakan penderitaan Anin dan dia pun ikut andil dalam hancurnya masa depan Anin.
"Maaf" hanya itu yang bisa Askara sampaikan, karena ulahnya beban hidup Anin semakin bertambah.
Tangis Anin semakin pecah dalam pelukan Askara. saat ini dia merasa nyaman dan ingin meluapkan perasaannya yang bahkan Anin tidak pernah ia sampaikan pada Vivi, sahabatnya.
Askara mengelus lembut surai hitam Anin, membuat gadis tersebut larut dalam kenyamanan.
Suara nafas yang teratur membuat Askara mengurai sedikit pelukannya, ternyata Anin tertidur.
Askara mengangkat tubuh Anin ala bridal style memasuki kamarnya.
Tangan kekar Askara membawa tubuh Anin ke atas ranjang besarnya. di baringkannya tubuh Anin dengan pelan agar tidak menggangu tidur gadis tersebut.
Askara menghapus sisa jejak air mata di wajah Anin.
"Maafkan aku, mulai saat ini aku akan berusaha menjadi suami yang layak untukmu" ujar Askara menarik selimut untuk Anin.
Setelah itu, Askara kembali ke balkon untuk menyesap rokoknya. Fikirannya malam ini di penuhi oleh cerita hidup Anin yang baru saja di ketahuinya.
Askara sendiri bingung dengan perasaannya, akhir-akhir ini dia sudah lebih bisa menerima kehadiran Anin dan juga anak yang di kandungnya namun masih besar harapannya pada seseorang yang sedang berada di negara orang.
Sedih nggak dengar kisah hidupnya Anin?
kalo author sih sedih 😟
Btw jangan lupa like,komen, dan share karya author yah gaess
__ADS_1